
Setelah mendengar pengakuan dari Andrian, Indah langsung mencium bibir suaminya itu lembut. Andrian yang merasa senang dengan inisiatif istrinya, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Andrian membalas ciuman Indah, memegang tengkuk istrinya untuk memperdalam ciuman mereka.
Cukup lama mereka saling memagut, bertukar saliva dengan gairah. Hingga napas keduanya habis, Indah lebih dulu melepaskan ciuman dan menyatukan dahi mereka.
"I Love you too kakak.." mereka sama-sama tersenyum dengan perasaan bahagia.
Indah mengambil jarak dengan suaminya. "Mana aja yang di sentuh sama wanita itu!" seru Indah. "Kalau aja buka wanita sakit, udah aku hajar tuh cewek!"
"Kenapa tadi gak di hajar aja?" goda Andrian.
"Kakak pikir aku orang gila apa, sampe ngehajar cewek sakit begitu!!"
Andrian terkekeh melihat istrinya emosi. "Aku senang kamu cemburu, aku kira kamu gak bakalan cemburu. Beruntung juga sih Olivia godain aku, aku jadi bisa tahu kalau ternyata istriku mencintaiku." memeluk pinggang dan mencium pipi istrinya.
"Senang juga kan liat yang polos-polos!" seru Indah dengan melirik tajam suaminya yang sedang bersandar di bahunya.
"Seneng. Apa lagi kalo yang polos itu kamu." tangan Andrian mulai nakal, masuk ke balik piama yang Indah kenakan.
"Kakak iihh lepas!" Indah berusaha melepaskan tangan Andrian dari tempat favorit suaminya.
"Bantuin ya yank, aku udah on lho tadi." rengek Andrian, mencium leher sang istri yang masih saja berusaha melepaskan diri.
"Yang bikin on kan buka aku! jadi kenapa aku yang harus nuntusin!"
"Kamu mau emang, kalo aku nuntasinya sama Olivia?"
"Lakuin aja sana! biar besok pagi surat panggilan dari pengadilan ada di meja kamu."
Andrian langsung membelalakan matanya mendengar ancaman sang istri. "Makanya, ayo puasin aku malam ini yank."
Indah mengerang saat Andrian mengangkat tubuhnya dan meletakannya di atas tempat tidur.
"Bukan cuma malam ini! tapi tiap malam juga selalu minta di puasin!" gerutu Indah saat suaminya mulai menghimpit tubuhnya.
Andrian terkekeh dan langsung menyatukan bibir mereka. Menjadi awalan untuk kegiatan panas mereka malam ini. Kegiatan yang Andrian tidak pernah merasa bosan untuk melakukannya dengan sang istri. Candu dan rutinitas baginya sebelum tidur setiap malamnya.
***
Hari ini Indah memutuskan untuk tidak ikut suaminya ke kantor. Indah masih sangat lelah dan mengantuk karena melayani suaminya hingga hampir subuh.
"Pagi papa.." sapa Indah saat melihat suaminya sudah rapi keluar dari ruang ganti.
__ADS_1
Mereka berdua sama-sama terkekeh dengan panggilan Indah.
"Pagi mama.. pagi baby-nya papa.." Andrian mendekat mencium dahi istrinya dan beralih mencium perut istrinya dan mengusapnya sayang.
"Kamu tidur lagi aja. Biar aku sarapan di kantor nanti." ujar Andrian saat melihat istrinya akan bangun.
"Siapa juga yang mau bikinin sarapan! udah cape ngelayanin di ranjang. Jadi pelayanan perutnya libur dulu lah." menaikkan selimut dan membawanya berdiri.
"Mau mandi?"
Indah hanya mengangguk, tapi saat suaminya akan menggendongnya Indah langsung menutup hidungnya dan berlari ke kamar mandi melupakan selimut yang menutupi tubuhnya.
Indah memuntahkan semua isi perutnya pagi ini. Selama kehamilan, baru kali ini Indah mengalami mual.
Andrian yang panik langsung mengikuti istrinya dan membantu memijat tengkuk sang istri.
"Bau parfumnya gak enak banget sih kak." protes Indah setelah membasuh mulutnya.
Andrian mencoba mengendus bau di tubuhnya, dan merasa tidak ada yang aneh. "Ini kan parfume yang biasa."
"Tapi aku gak suka. Ganti baju sana! gak usah pake parfumen!"
"Tapi sayang. Aku udah terlambat." Andrian melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Ya udah sana berangkat! mual aku ciumnya."
Andrian mencium dahi istrinya dan beranjak pergi. Sedangkan Indah melanjutkan untuk membersihkan dirinya.
***
Saat keluar kamar, Indah mendapati Olivia yang sedang termenung di sofa.
Indah yang niat awalnya ingin ke dapur mencari makanan untuk sarapan terurungkan dan memilih duduk menghampiri Olivia.
"Kenapa kak?"
Olivia mendongak saat mendengar suara Indah. "Gak papa Ndah." jawab Olivia dan tersenyum.
Meskipun geram dengan sikap Olivia, tapi Indah tidak bisa membenci wanita itu. Kalau dirinya yang ada di posisi Olivia juga mungkin tidak akan kuat menghadapi kenyataan. Jadi wajar saja Olivia mengharapkan kekuatan dari suaminya, karena satu-satunya orang yang pernah peduli kepada wanita itu hanya Andrian.
"Apa kamu bahagia Indah, hidup seperti ini?"
__ADS_1
"Eh?" Indah bingung maksud pertanyaan Olivia.
"Hidup memang kadang tidak adil kan? kita yang lama menemani pria kita, tapi wanita lain yang malah berbahagia bersamanya."
Indah yang masih belum mengerti maksud Olivia hanya diam mendengarkan.
"Mungkin orang lain akan menganggap aku egois karena mencoba mendapatkan Andrian kembali. Tapi, apa mereka pernah berfikir jika mereka berada di posisiku sekarang?" Olivia menatap Indah dengan senyuman getir.
"Apakah kamu juga akan menilai aku jahat jika aku merebut Andrian dari wanita yang di cintainya."
Indah terdiam dengan tubuh yang sedikit menegang.
"Huh. kau pasti juga menganggap aku wanita egois yang mementingkan diri sendiri."
Bisa Indah lihat jika Olivia sedang berusaha keras menahan emosinya.
"Aku memang wanita egois. Aku mementingkan kebahagiaanku sendiri, tidak peduli itu menyakiti Andrian atau wanita itu. Tapi jika bukan aku yang peduli, siapa lagi yang akan peduli pada wanita sepertiku?"
Bi Yani mengantarkan minuman untuk kedua wanita yang sedang berada pada suasana tegang itu.
"Kamu enak, ada orang tua yang menyayangi kamu. Jadi walau pun suamimu meninggalkan kamu, duniamu tidak akan hancur kan? masih ada mereka yang siap menopang segala keadaanmu." meraih gelas yang tadi di bawakan bi Yani.
"Tapi jika aku yang kehilangan Andrian, siapa yang menguatkan dan mendampingi aku menjalani hidup ini? siapa yang akan peduli padaku lagi?" menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Indah.
"Maafkan aku tentang kejadian semalam Indah."
"Sudahlah kak. Aku udah gak mikirin masalah semalam lagi. Tapi aku mohon sama kakak untuk jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi. Yang ada bukannya kak Rian kembali, tapi dia semakin menganggapmu rendah." meraih tangan Olivia untuk ia genggam.
"Kita hidup di adat ketimuran, jadi tolong hargai budaya kita disini."
Olivia tertawa. "Mau sampai kapan kalian seperti ini?"
Indah mengernyitkan dahinya bingung.
"Apa kamu bisa mengantarku bertemu orang tua Andrian?" tanya Olivia, tidak ingin menjelaskan maksudnya.
"Aku ingin menagih janji mereka untuk menikahkan aku dengan Andrian setelah dia lulus S2." Olivia berdiri ."Dan aku harap, kamu bisa melepaskan Andrian untuk kembali lagi padaku." imbuh wanita itu membuat Indah tercekat.
Jadi Olivia sudah tahu? Sejak kapan? banyak pertanyaan berkecamuk di pikiran Indah mengiringi tubuh Olivia yang memasuki kamarnya.
*
__ADS_1
*
*