My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Histeris


__ADS_3

..."Lucu sekali saat kau mengenal seseorang begitu lama dan mereka berubah tepat di hadapanmu." - Karina Barton...


Sebulan sudah Olivia tinggal bersama Andrian. Meski terlihat peduli, tapi Olivia tidak merasakan lagi perhatian Andrian kepadanya. Setiap datang ke psikolog, selalu saja Sarah yang menemani. Bahkan mereka bertemu hanya ketika sarapan saja. Andrian selalu pulang tengah malam, kata Indah masih banyak pekerjaan di kantor.


Weekend-pun Andrian selalu saja pulang ke rumah orang tuanya dan tidak pernah mengajaknya. Andrian beralasan jika orang tuanya belum mengetahui jika Olivia kini sudah berada di Indonesia.


Indah juga setiap weekend selalu pulang ke rumah orang tuanya. Membuat dia kesepian karena tidak ada teman mengobrol kecuali bi Yani yang juga seperti menjaga jarak darinya.


"Andrian pulang malam lagi ya Ndah?" tanya Olivia yang melihat kesibukan Indah di dapur, menata makanan yang sudah di masak bi Yani sore tadi ke meja makan.


"Eh iya kak. Tadi masih banyak banget kerjaannya. Maklum lah, belakangan kan baru buka mall baru, jadi masih banyak pr-nya." jawab Indah yang juga menyuruh Olivia untuk duduk dan makan malam bersama.


"Kamu tidak merindukan suamimu ndah? saya saja yang hanya bertemu Andrian pagi-pagi merasa rindu." tanya Olivia merasa kagum dengan ketegaran hati Indah yang katanya suaminya lebih memilih wanita lain.


Indah yang bingung harus menjawab apa hanya tersenyum. "Gimana mau kangen, tiap malem di kekepin. Tiap hari di depan mata." gumam Indah dalam hati.


"Gimana hasil hari ini kak. Udah ada kemajuan?" tanya Indah mengalihkan pertanyaan dengan bertanya kondisi Olivia.


"Kata psikolog-nya sudah lima puluh persen sembuh. Sebenarnya kan saya juga tidak perlu datang ke psikolog lagi. Apa yang harus saya takutkan, kalau Andrian masih mau menerima saya."


Indah merasa iba kepada Olivia, bagaimana jika wanita itu tahu yang sebenarnya.


***


Selepas makan, kedua wanita itu seperti biasa duduk di depan televisi sembari berbincang-bincang.


"Andrian semenjak pindah ke Indonesi tidak pernah dekat dengan wanita manapun kan Ndah?" tanya Olivia di sela iklan.


"Setau ku sih gak pernah kak." jawab Indah cepat "kecuali aku" imbuhnya dalam hati.


"Aku takut sudah ada wanita lain di hati Andrian." tersenyum ke arah Indah yang sedang menatapnya. "Mungkin aku akan bersikap egois. Karena bagaimana pun aku cinta pertamanya kan?" tanya Olivia yang tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Indah.

__ADS_1


"Aku mungkin bukan wanita yang pantas untuk bersanding dengannya. Baik dari segi keluarga, harta, bahkan aku bukan wanita yang suci lagi seperti yang selalu Andrian bilang dulu."


Olivia ingat saat ia ingin mencoba seperti yang teman-temannya lakukan dan membujuk Andrian, kekasihnya itu berucap dengan tegas "Jaga kesucianmu sampai kita menikah nanti! jika kamu berikan padaku saat ini, belum tentu aku yang akan menjadi suamimu. Dan lelaki yang mendapatkanmu pasti akan sangat kecewa!"


Dari perkataan Andrian itu lah Olivia merasa semakin mencintai Andrian. Ternyata kekasihnya benar-benar tulus mencintainya, bukan seperti kebanyakan teman lelakinya yang mengencani seorang gadis hanya untuk kepuasan seksual semata.


"Tapi aku berhak mempertahankannya kan? aku yang menemaninya di saat dia kesepian. Aku yang memeluk dan memberinya semangat di saat dia lelah. Jika bukan karena musibah itu, kami pasti sudah menikah! dan itu bukan salahku!"


Indah panik saat Olivia mulai di kuasai emosinya saat mengingat kejadian buruk yang menimpanya.


Indah menyentuh bahu Olivia dan mengusapnya. "Tarik napas kak, kamu gak boleh terbawa emosi kalau kamu ingin sembuh."


Ucapan Indah mengingatkannya dan mencoba menarik nafas dalam, seperti yang di ajarkan oleh dokternya.


"Apa menurut kamu aku sudah tidak pantas untuk Andrian? apa menurut kamu itu semua kesalahanku? itu semua keinginanku? apa Andrian masih mencintaiku?" tanya Olivia beruntun. Meski sekarang terlihat lebih berusaha keras mengendalikan emosinya.


"Kamu gak perlu memikirkan itu semua kak. Yang penting sekarang kamu sembuh dulu." merangkul bahu Olivia dan mengusapnya lembut.


"Jikalau pun nantinya kalian tidak berjodoh, aku yakin akan ada lelaki yang lebih baik yang Tuhan sudah siapkan untuk kamu. Lelaki yang bisa menerima kamu apa adanya. Lelaki yang akan mencintai kamu dengan tulus."


Olivia malah tertawa dengan sinis. "Kamu pikir di dunia ini ada orang yang seperti itu Indah? setiap lelaki mendekati perempuan pasti jika bukan karena cantik, pasti dia punya uang!" Olivia meremehkan kata tulus yang Indah ucapkan


"Dan siapa yang mau denganku jika dunia menilai dari itu? aku bahkan tidak punya segala penilaian mereka!!"


"Kamu cantik kak Olivia. Pasti akan banyak laki-laki yang mencintai kamu." entahlah kenapa Indah menjadi terpancing, tidak terima Olivia masih mengharapkan suaminya.


"Cuma Andrian, Indah! cuma dia yang mau nerima aku apa adanya. Dan lelaki seperti Andrian mungkin bisa di hitung dengan jari di dunia ini! Dan aku tidak akan melepaskan salah satu yang aku miliki!"


Olivia mulai kehilangan kendalinya lagi. "Cuma Andrian yang aku mau!!" teriaknya dengan histeris.


Melemparkan semua bantal sofa di dekatnya ke sembarang arah. Mengangkat kakinya untuk di peluk dan menangis dengan pilu.

__ADS_1


Indah sampai beringsut takut. Takut jika Olivia nekat menyakitinya. Padahal Olivia tidak mungkin melakukan hal itu. Lain halnya jika Olivia tahu Indah adalah istri Andria.


"Kak Oliv-"


"Tidak Indah! Andrian milikku! dia gak boleh tinggalin aku!!" teriak Olivia semakin histeris.


Di saat Indah semakin panik, pintu apartemen terbuka. Andrian yang baru pulang dari kantor kaget mendengar teriakan Olivia, dan panik melihat istrinya yang ketakutan.


"Ada apa ini?" tanya Andrian yang sudah berada di ruang televisi. Indah yang masih ketakutan langsung berlari ke belakang tubuh Andrian.


"Kak Olivia tadi curhat, tapi dia histeris sendiri kak. Aku takut!" bisik Indah di belakang punggung suaminya.


Andrian menghela napasnya, berjalan dan duduk di sebelah Olivia.


"Olivia.." panggilnya lembut, menyentuh bahu wanita yang sedang menggoyangkan tubuhnya maju mundur, masih dengan posisi duduk memeluk kakinya di sofa.


"Aku mau Andrian! dia milikku! aku gak mau dia pergi! dia milikku!" rancau Olivia.


Padahal sebelumnya kondisi Olivia baik-baik saja. Tapi hanya mengingat apa yang pernah menimpanya dan apa yang di takutkannya untuk di tinggal Andrian, Olivia bisa langsung seperti itu.


"Hei.. aku disini. Aku gak kemana-mana!" ucap Andrian lembut, membuat Olivia menatapnya dan langsung memeluknya.


"Jangan pergi Andrian, jangan tinggalin aku sendiri! aku takut!"


Indah merasa lega Olivia sudah tenang. Wanita hamil itu memilih pergi ke kamar dari pada termakan api cemburu. Rasa cemburu yang hadirnya tidak tahu kondisi. Tapi mau kondisi apa pun, siapa yang akan rela suaminya di peluk wanita lain. Apa lagi kondisi Indah yang sedang hamil dan lebih sensitif.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2