
Malam harinya Indah sudah berbaring di ranjang besar yang dipenuhi taburan kelopak bunga mawar di hotel tempat mereka mengadakan prosesi pernikahan. Dengan lilin yang hampir memnuhi setiap sudut kamar, menciptakan kesan romantis yang tidak diperdulikan sama sekali oleh kedua penghuni kamar tersebut.
Indah sudah hampir terlelap saat guncangan yang ditimbulkan oleh Andrian mengusiknya.
"Kenapa? Tidur lagi aja. Aku tau kamu capek." Indah tersenyum karena Andrian menepati janjinya untuk tidak berbicara formal dengannya.
"Kenapa malah senyum-senyum? kamu gak lagi goda aku buat ngelakuin 'itu' kan?" tanya Andrian dengan seringaian.
"Iihh apaan sih kak!! Gak usah ngaco deh. Aku udah capek banget. Orang tua kita gak kira-kira apa ya, ngundang tamunya?" kelopak mata Indah sudah separuh terpejam.
Untung acaranya di mulai dari pagi sampai sore sekalian. Tidak terbayang jika pestanya di pisah di malam hari. Pasti sekarang ini Indah masih harus berdiri dengan stiletto yang menyiksanya.
Baru kali ini Indah merasa horor dengan stiletto. Sepertinya untuk beberapa waktu kedepan dia lebih baik menggunakan flat shoes saja.
"Nanti kalau kamu sudah benar-benar menjadi seorang pebisnis dan orang tua, kamu akan tau alasan mereka mengundang tamu sebanyak itu." Andrian merubah posisi tidurnya menghadap Indah.
"Udah ngomongin jadi orang tua aja. Emang kakak udah pengen banget punya anak?" Indah mencoba membuka matanya lebar-lebar. Jarang sekali laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya bisa di ajak mengobrol seperti ini.
"Iya lah. Aku juga pingin kaya Alvin yang begitu dipuja sama Tiara." bisa sedikit dia bayangkan bagaimana jika suatu hari nanti ada Andrian junior atau Indah Junior dalam hidupnya. Pasti dunianya akan lebih berwarna lagi. Dimana lelahnya setelah seharian bekerja akan sirna hanya dengan melihat senyum dan tawa anaknya kelak.
Bisa membahagiakan orang tuanya dengan menghadirkan cucu yang mengalir darahnya. Dan dia jadi memiliki tujuan hidup untuk membahagiakan anak dan istrinya. Mencari pundi-pundi uang untuk masa depan anak-anaknya kelak.
Tidak seperti sebelum dia menikah. Tujuannya bekerja hanya untuk meneruskan usaha papinya yang sudah bekerja keras membangun perusahaannya. Tanpa tahu uang yang dia hasilkan akan dia pakai untuk apa.
Dan sekarang setelah menikah dengan Indah. Dia jadi punya gambaran dan tujuan yang jelas dalam hidupnya.
"Tapi aku belum siap ngelakuinnya. Kakak ingat kan?" suara Indah membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Iya aku ingat. Aku juga akan menahannya sampai kamu benar-benar siap."
Indah membelai pipi suaminya dan tersenyum. "Makasih ya kak. Udah pengertian sama aku." hanya di jawab anggukan oleh Andrian.
"Ya udah aku mau tidur. Kamu juga. Katanya capek."
Indah mengangguk dan menjawab. "Selamat malam suamiku."
Andrian yang sudah berbalik memunggungi Indah menarik sudut bibirnya, tersenyum mendengar Indah menyebutnya suami.
***
Matahari menerobos masuk melalui celah jendela. Untung Andrian belum terbangun, jika dia bangun telat dibandingkan Andrian, bisa - bisa bundanya akan memberinya kuliah panjang lebar mengenai bab menjadi istri yang baik.
Indah bangun dengan perlahan agar tidak menimbulkan guncangan yang akan membuat Andrian bangun. Meraih telepon untuk memesan sarapan serta kopi untuk suaminya.
Setelah selesai urusan sarapan dan juga kopi pagi, Indah berlalu untuk membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.
***
Sedangkan diluar sana Andrian menggeliatkan badannya dan sudah tidak mendapati tubuh Indah disampingnya.
Andrian mengangkat tubuhnya untuk duduk bersandar saat pintu kamar mandi terbuka menampakkan tubuh istrinya yang hanya terbungkus bathrobe.
"Kakak udah bangun? Aku udah pesenin sarapan sama kopi. Paling bentar lagi sampe. Kakak mandi dulu aja, biar nanti aku siapin bajunya." ucap Indah sembari membongkar koper miliknya untuk mengambil baju ganti. Dia tadi tidak membawa baju karena tidak mengira Andrian akan bangun secepat itu.
Andrian bangun dan berdiri di sebelah istrinya. "Kalau kamu belum siap ngelakuinnya, jangan pernah lagi keluar kamar mandi hanya memakai bathrobe atau nanti aku gak bisa nahannya!" Indah reflek menutup dadanya dengan tangan saat mendengar peringatan dari suaminya.
__ADS_1
Andrian terkekeh dan masuk ke dalam kamar mandi. Jadi seperti ini rasanya menikah. Bangun tidur bisa lihat wajah cantik istrinya. Disiapkan baju ganti dan sarapan plus kopi. Kurang bahagia apa Andrian saat ini.
Kebahagiaannya bertambah berlipat saat bisa menggoda istrinya hingga wajah putih itu memerah karena malu.
***
"Kamu mau tinggal di rumah mami sama papi atau tinggal di apartemen saja?" tanya Andrian yang sudah wangi dan sedang memakan nasi goreng pesanan istrinya. Walaupun sebenarnya dia tidak suka sarapan berat dengan nasi, tapi dia akan menghargai apapun yang sudah disajikan oleh istrinya.
"Gak bisa tinggal di rumah ayah aja emang kak?" wajah Indah berubah sendu. Dia belum ingin meninggalkan rumah kedua orang tuanya.
"Kita sudah nikah Indah. Dan kamu harus ikut kemanapun aku ngajak kamu tinggal." kata Andrian dengan nada lembut tidak ingin membuat Indah semakin sedih.
"Iya Indah tau kak. Ya udah tinggal di manapun senyamannya kakak aja." jawab Indah setelah menghela nafas memasrahkan semua kepada suaminya.
"Kita tinggal dengan mami saja dulu biar kamu ada temannya. Nanti kalau kamu sudah siap menjadi milik aku seutuhnya, kita tinggal di apartemen. Karena saat itu temen main kamu cuma aku bukan yang lain." Indah mengangguk pasrah.
"Kamu gak usah sedih dong. Nanti kita bisa main ke rumah ayah pas weekend. Habis ini juga kita bisa mampir untuk pamitan dulu ke ayah sama bunda. Aku juga belum ijin sama mereka buat bawa kamu." Andrian menarik istrinya untuk duduk lebih dekat dengannya agar dia bisa memeluk istrinya itu.
"Boleh peluk kan?" izin Andrian padahal dia sudah memeluk tubuh Indah.
Indah mengangguk dan semakin memasukkan tubuhnya kedalam pelukan suaminya. Ternyata semenenangkan ini rasanya dipeluk oleh orang yang sudah sah memiliki kita. Sama dengan pelukan ayah yang selalu menenangkan untuk Indah. Karena memang tidak pernah ada pria lain yang memeluknya kecuali dua pria itu.
Andrian juga merasakan hal yang sama dengan Indah. Rasanya hatinya merasa damai saat memeluk tubuh istrinya.
Mengusap punggung dan rambut Indah untuk menenangkan gadis itu. Memberinya kecupan ringan di dahi Indah berkali - kali. Melupakan sarapan yang sudah dingin di hadapan mereka.
*
__ADS_1
*
*