
Bisa bersatu dengan pasangan adalah keinginan semua orang. Tidak ada orang yang rela dengan suka hati berpisah dengan pasangannya. Sekalipun sang suami yang pindah tugas atau bekerja jauh dan tidak bisa membawa serta istrinya, itu bukan mereka dengan suka rela menjalaninya. Mereka hanya berusaha ikhlas dalam keterpaksaan.
Seperti halnya Indah, dia terpaksa menerima di jauhkan dengan sang suami satu minggu kemarin. Dan malam ini ia bersyukur bisa kembali mendekap suaminya dalam tidur.
Mereka baru saja tertidur satu atau dua jam, tapi Indah sudah terbangun karen perutnya yang merasa lapar.
Inginnya membangunkan sang suami. Tapi rasanya tak tega. Mencoba untuk kembali tertidur dengan berbagai posisi tetap saja keadaan perutnya dan rasa ingin yang begitu besar membuatnya sulit untuk kembali terlelap.
"Kenapa?" tanya Andrian dengan suara beratnya, saat merasakan gerakan-gerakan sang istri yang tidak bisa diam sedari tadi.
"Maaf kak.. Aku ganggu ya?" tanyanya tidak enak.
"Gak papa yank. Kamu kenapa belum tidur?" membelai pipi sang istri dengan lembut dan memberinya kecupan.
"Emm itu.. Aku laper kak."
"Mau aku ambilin makan?" tawar Andrian yang sudah akan berdiri.
"Tapi aku pengennya makan nasi goreng kambing yang terkenal itu."
Andrian mengelus dada. Untung deket, biar malam pun dia jabanin kalo cuma sedekat itu sih.
"Ya udah, kamu tunggu di sini. Biar aku beli dulu."
Indah mengangguk patuh dengan mata berbinar.
***
Sesampainya Andrian di lokasi, ternyata kedai nasi gorengnya sudah tutup, hanya ada karyawan dan pemilik kedai yang sedang membereskan sisa jualan mereka malam itu.
Dengan meminta belas kasih dari sang pemilik dan alasan istrinya yang tengah malam ngidam, akhirnya Andrian di buatkan juga nasi goreng permintaan istrinya.
Andrian menguap berkali-kali. Selama satu minggu tanpa istrinya, pria itu memang kurang tidur setiap malam. Malam ini yang rasanya bisa tidur nyenyak malah harus terbangun dan mencari nasi goreng tengah malam begini. Tapi tidak apa, asal anak dan istrinya bisa tetap berada di sisinya, Andrian akan dengan senang hati menuruti segala permintaan Indah. Di jauhkan selama satu minggu saja, dunianya serasa berantakan.
__ADS_1
Setelah nasi goreng pesanannya jadi, Andrian pulang dan berharap bisa melihat binar di mata istrinya. Namun harapannya sia-sia, Indah malah sudah kembali tidur dan susah di bangunkan.
"Aku sudah tidak lapar kak. Nasi gorengnya buat kakak aja." gumam wanita hamil itu dalam tidurnya.
Andrian menghembuskan napas. Dari pada mubazir, Andrian memakan nasi goreng yang mengepulkan aroma lezat itu. Ujung-ujungnya ia tidak bisa tidur karena kekenyangan.
Baru bisa tidur jam empat, dan jam tujuh pagi sudah di bangunkan dengan suara rengekan istrinya.
"Kakak.. Bangun dong.. kakak kok makan nasi goreng aku sih?" rengek Indah dengan wajah yang di tekuk.
"Eh? semalam kan kamu bilang udah gak laper, terus nasi gorengnya katanya aku aja yang makan." ujar Andrian bingung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kapan aku bilang begitu? semalam tuh aku udah pengen banget! nunggu kakak lama makanya aku ketiduran. Harusnya kakak ngerti dong, simpen nasi gorengnya. Kan pagi ini bisa di angetin di microwave." ibu hamil ini kalau sudah marah tidak akan berhenti sebelum Andrian bertindak.
"Iya maaf sayang. Nanti malam aku beliin lagi ya?" bujuk Andrian dengan mendekap dan mengecup pipi istrinya.
"Gak mau! aku tuh pengennya semalam. Atau setidaknya pagi ini lah." rajuk Indah.
"Sana masakin nasi goreng. Pake ayam gak papa lah, seadanya!"
"Iya. Iya. Aku bikinin." padahal pagi ini seharusnya Andrian ada meeting penting dengan kliennya yang datang dari luar kota. Memasak nasi goreng jelas tidak membutuhkan waktu yang singkat. Apa lagi bagi dia yang tidak bisa memasak. Tapi unuk istri dan anaknya, apa pun akan ia lakukan. Jangankan menunda meeting. Menunda pesawat untuk terbang pun akan dia lakukan jika itu kemauan istrinya.
Jadilah pagi itu Andrian menjadi chef dadakan. Dapur yang tadinya rapi menjadi berantakan tak karuan. Kulit bawang dan sosis bertebaran di atas dan di bawah meja dapur, nasi berceceran, dan masih banyak lagi kekacauan yang akan membuat bi Yani pusing nanti ketika membersihkan dapur.
Indah sampai geleng kepala melihat kekacauan itu. Tapi wanita berbadan dua itu tersenyum melihat suaminya mau berusaha menuruti keinginannya tanpa mengeluh atau protes meski suaminya itu tidak bisa memasak.
Jangankan memasak, masuk dapur saja Andrian hanya untuk mengambil air minum dan sarapan, sebatas hanya sampai meja makan. Kecuali setelah ada istrinya, ia memang sering ke dapur. Hanya untuk mengganggu atau memeluk istrinya yang sedang memasak.
"Makanan sudah siap." ucap Andrian dengan bangganya, menyajikan satu porsi nasi goreng untuk istri tercinta. Ingat kan kalian, kalau Andrian tidak suka sarapan berat dengan nasi, apa lagi nasi goreng?
"Hhmm kelihatannya enak." ucap Indah saat menghirup aroma yang tercium di hadapannya.
Indah menyuap satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Sesaat ia berhenti mengunyah saat merasakan rasa masakan yang sedikit keasinan. Tapi untuk menghargai usaha suaminya, ia kembali mengunyah tanpa protes. Menghabiskan seisi piring.
__ADS_1
"Emang enak yank? coba sedikit." Andrian sudah akan mengambil piring di hadapan Indah untuk mencobanya. Melihat dari cara istrinya yang makan begitu lahap, pria itu menjadi ingin mencoba rasa masaknnya.
"Jangan! tadi kenapa bikinnya gak banyak? aku masih laper kak." kilah Indah, padahal wanita itu tidak ingin suaminya mengetahui rasa masakan yang tidak karuan itu. Indah makan dengan lahap karena malas untuk mengunyah dan memilih langsung menelannya setelah beberapa kali kunyah saja.
"Sedikit doang yank." bujuk Andrian lagi.
Indah semakin menjauhkan piring miliknya dan buru-buru menghabiskan nasi yang tersisa di piring.
"Pelit banget!" cibir Andrian, memilih mengambil roti dan mengolesinya dengan selai.
Indah meminum air putih banyak-banyak untuk kembali menetralkan indra pengecapnya.
"Pelan-pelan sayang." seru Andrian dengan mengusap punggung Indah lembut saat istrinya itu tersedak.
"Hehe.. haus aku." kekeh Indah yang ikut ngambil roti dan mengolesi selai coklat.
"Masih belum kenyang?" tanya Andrian heran. Indah memang menjadi sering makan, tapi istrinya itu bukan wanita yang bisa makan banyak sekaligus. Meski napsu makannya bertambah setelah hamil, tapi biasanya Indah makan dengan porsi biasa namun bisa makan hingga empat atau bahkan lima kali.
"Sedikit kak." Indah hanya ingin menghilangkan rasa asin dalam mulutnya.
"Ya udah. Besok jadwal periksa ke dokter kan?"
"Iya. Kakak mau nganterin?"
"Mau dong. Papa kan juga mau lihat sudah sebesar apa anak papa ini." mengusap perut Indah yang sudah sedikit terasa tonjolannya.
"Aku semakin besar lho papa." ucap Indah dengan menirukan suara anak kecil. Membuat mereka tergelak bersama.
*
*
*
__ADS_1