My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Debat


__ADS_3

Kediaman Dawson siang itu begitu ramai. Acara tujuh bulan kehamilan Indah di adakan di rumah itu dengan adat jawa sesuai dengan nenek Andrian yang asli orang jawa.


Indah dan Andrian memutuskan untuk tinggal di rumah itu, agar Indah ada yang menemani dan menjaga.


Bunda Anita semenjak Indah menikah, di belikan sebuah butik oleh ayah Gilang. Ayah tidak ingin istrinya merasa bosan dan kesepian. Mungkin dengan menyibukkan diri, akan membuat bunda lebih bahagia.


"Waahhh gendut lo ya sekarang." bukanya mengucapkan selamat atau mendokan semoga sehat dan lancar saat melahirkan nanti, Olivia yang baru pulang kuliah malah mengejek tubuh Indah yang kini membulat akibat kehamilan.


Sebenarnya sih tidak terlalu besar, hanya saja Olivia paling suka mengganggu ibu hamil itu. Kini Olivia sudah kuliah mengulang dari awal. Dan hampir lima bulan dia kuliah, bahasa Indonesia-nya sudah fasih dan tidak ada logat LA-nya lagi.


"Adek lakknat emang lo! bukanya doain keponakan, lo malah ngejek gue!" seru Indah melempar bantal sofa, karena acara yang sudah selesai sehingga mereka sedang duduk santai di ruang keluarga.


"Ogah banget gue punya abang kaya dia! tapi bener deh Ndah. Lo tambah bulet aja. Ati-ati di selingkuhin lo di luar sana." kompor Olivia nyalakan, untuk menambah ramai suasana.


"Mana ada! suami gue tuh setia." bela Indah, bersandar manja di dada bidang suaminya.


"Setia dari mana? gue aja yang cantik begini di selingkuhin. Apa lagi lo yang body-nya udah gak karuan." Olivia makin gencar meledek istri dari mantan tunangannya itu. Tidak peduli pelototan horor dari Andrian.


"Emang aku jelek kak? aku gendut banget ya?" tanya Indah dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Sebenarnya Indah juga iri dengan teman-temannya yang hamil tapi tetap seksi. Seperti Lidia, tubuh sahabatnya itu hanya naik beberapa kilo. Setelah melahirkan hanya butuh waktu satu bulan untuk mengembalikan bentuk tubuhnya normal seperti semula.


Begitupun dengan Shevi. Dulu bahkan saat hamil anak pertamanya, tubuh sahabatnya itu tidak berubah sedikitpun, hanya perutnya saja yang semakin membuncit. Beda dengan kehamilan kedua yang memang mengandung anak kembar, sehingga tubuhnya lebih membesar.


Dan sekarang tubuh Indah sudah sebesar Shevi yang mengandung anak kembar. Jujur saja, dia memang sering merasa takut suaminya akan berpaling dengan wanita cantik di luar sana. Bentuk tubuhnya saat ini membuat kepercayaan dirinya menurun. Meskipun suaminya berulang kali meyakinkan dirinya jika dia masih cantik, dan bertambahnya berat badan yang Indah alami demi tumbuh kembang anaknya.


"Gak gendut sayang. Cuma berisi aja. Kan malah bagus, berarti apa yang kamu makan jadi gizi untuk kamu sama baby boy kita." ucap Andrian meyakinkan.

__ADS_1


Seminggu sebelum acara tujuh bulanan, Andrian dan Indah baru bisa mengetahui jenis kelamin calon anak mereka. Dari awal mereka sudah berusaha mencari tahu, biar memudahkan mereka untuk membeli perlengkapan untuk baby mereka setelah lahir. Sayangnya, seakan tahu sedang di cari tahu. Calon anak mereka selalu saja menyembunyikan jenis kelaminya.


Setelah kemarin tahu, mereka langsung membeli semua keperluan untuk anak mereka sendiri. Tidak mengizinkan orang tua mereka yang membeli. Indah ingin anaknya memakai semua baju dan perlengkapan pilihannya. Sebagai calon ibu baru, Indah sangat antusias menyambut kelahiran anak pertamanya.


Begitu juga dengan Andrian. Terlebih saat mengetahui jenis kelamin anaknya laki-laki. Di hampir setiap melewati toko mainan dan melihat ada yang lucu, langsung dia beli meskipun sekarang belum membutuhkan.


"Gendut sama berisi sama aja! bilang aja langsung kalo aku gendut! terus kamu gak suka lagi, iya kan?" tuduh Indah tanpa ampun.


"Kok ngomongnya jadi melantur begitu? Olivia gak perlu kamu dengerin. Dia kan emang paling suka godain kamu."


Olivia mengulum senyumnya, dalam hati dia sudah tertawa melihat ekspresi Indah antara sedih dan marah. Sedangkan Andrian yang sudah menampilkan ekspresi frustasi mengahadapi istrinya yang sangat mudah berubah mood.


"Heh adek lakknat! seneng banget lo liat gue berantem sama laki gue. Jangan-jangan lo masih suka ya sama kak Rian?"


"Dih, ogah banget gue makan bekas gue sendiri. Cukup lo aja yang makan bekas gue." dengus Olivia dengan menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kiri.


"Sok lo! jadi perawan tua aja belagu!"


"Bilangnya bukan karena gak bisa move on. Tapi masih nyebut pengkhianat! bilang aja masih gak terima di tinggalin." cibir Indah.


"Perkara move on sama masih inget itu beda maysaroh! move on ya karena emang gue udah gak mikirin laki lo lagi. Tapi bukan berarti gue lupa sama rasa sakit yang kalian berikan." ucap Olivia telak.


"Udah.. Udah.. Kenapa malah jadi berantem beneran? lagian Olivia sudah punya pacar kok sayang. Jadi jangan di godain mulu adeknya." nasihat mami Riana kepada anak-anaknya.


"Dia duluan mih.. masa aku di bilang gendut!"


"Dia hanya tidak tau betapa bahagianya seorang ibu hamil saat perutnya membesar seiring dengan anak kalian yang berkembang." ucap mami Riana lagi, berusaha membuat menantunya tidak mempermasalahkan lagi bentuk tubuhnya yang membesar.

__ADS_1


"Tuh denger!" seru Indah kepada Olivia.


"Gue denger kok. Perut yang membesar lho ya, bukan badan yang melebar."


"Olivia!" seru mami Riana dan Andrian berbarengan. Olivia hanya terkekeh merasa bahagia bisa menggoda ibu hamil yang tidak pernah akur dengannya.


Meskipun tidak pernah akur di luar, tapi di dalam hati mereka saling mendoakan demi kebaikan saudara mereka.


"Emang bener lo udah punya cowok Liv?" tanya Indah penasara. Mereka memang jarang bertemu, jadi tidak tahu kabar satu sama lain.


"Kepooo!" seru Olivia memeletkan lidahnya.


"Dih.. Gue tuh seneng lo akhirnya bisa nemuin orang yang bisa jagain dan sayang sama lo." seru Indah, kapan sih Olivia bisa di ajak ngomong yang serius. "Jadi bener gak?" desaknya lagi.


"Iya. Bawel lo ah!"


"Liat tuh mih. Anak perawan mami galak begitu masa laku sih? paling yang mau sama dia kang siomay." cibir Indah tidak percaya adik angkatnya punya pacar.


"Sialan lo! pacar gue dosen ya, jangan salah." seru Olivia.


"Wahh jadi lo macarin dosen lo sendiri? lo bayar pake tubuh lo biar dapet IPK tinggi?"


Olivia dan Andrian sampai mengangakan mulut mereka lebar-lebar. Mulut Indah memang harus di sumpal kain lap biar sedikit ada filternya jika berbicara. Sedangkan mami Riana hanya menggelengkan kepalanya mendengar tuduhan tak berdasar dari menantunya.


"Mulut lo Ndaaahhh... Brengseekk banget!!"


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2