
Pagi berjalan seperti biasa di kediaman Renjana. Begitu juga dengan Indah yang sudah cantik duduk di meja makan, melakukan rutinitas paginya bersama kedua orang tuanya untuk sarapan.
"Seneng banget kayaknya pagi ini? gimana cucu ayah, apa dia bahagia tinggal di rumah opa?" tanya ayah Gilang yang kembali melihat senyum di wajah anaknya setelah kemarin bahkan tidak mau menegurnya.
"Ah biasa aja yah!" kilah Indah, bagaimana tidak bahagia jika saat ini bisa kembali bertemu dengan suaminya.
"Syukur lah. Berhubung kamu udah maafin ayah, hari ini ayah mau di rumah aja." ucap ayah Gilang yang seketika membuat Indah mematung. "Ayah kan juga kangen sama kamu, pengen nemenin kamu hari ini." imbuh pria yang sangat menyayangi putrinya itu.
"Eh? gak usah yah. Ayah ke kantor aja gak papa!" seru Indah sedikit memaksa. "Kan nanti pulang kerja juga aku masih disini." imbuhnya salah tingkah, takut ayahnya curiga.
"Kenapa? hari ini gak ada kerjaan yang penting kok. Jadi ayah mau di rumah aja!" keukeuhnya, tak ingin di bantah.
"Sudah, biarkan saja ayah di rumah. Biar nemenin bunda juga. Jangan di anggurin mulu!" sela bunda Anita yang tau anaknya akan mendebat kembali suaminya. Nanti salah-salah Indah mengatakan hal yang membuat suaminya curiga, dan bunda Anita pasti kena marahnya juga, mengingat dia yang mengijinkan dan membantu menantunya untuk memasuki rumah mereka.
Indah menatap bunda Anita dengan wajah memelas. Bagaimana suaminya bisa berganti pakaian dan juga makan jika ayah Gilang tetap di rumah.
Bunda Anita yang mengerti kegelisahan anaknya, mengedipkan kedua matanya perlahan. Memberi isyarat agar anaknya tidak perlu khawatir, bunda yang akan mengurus semuanya.
Indah menghela napasnya pasrah. "Ayah mau main catur sama Indah?" biasanya memang jika ayah Gilang di rumah, banyak menghabiskan waktu bersama Indah. Entah hanya untuk menonton televisi atau bermain catur.
"Boleh. Kali ini yang menang boleh ajuin satu permintaan sama yang kalah."
Mata Indah berbinar mendengar penawaran ayahnya. Ayah Gilang memang jago main catur, tapi tak jarang juga Indah bisa mengalahkan ayahnya itu.
"Bener lho ya yah! jangan ingkar!" seru Indah dengan tatapan di buat tajam.
"Ayah gak akan ingkar. Tapi gak akan kalah juga!" seru ayah Gilang percaya diri.
__ADS_1
"Jangan terlalu percaya diri pria tua!" ucap Indah dengan gaya pongahnya. Membuat ayah tertawa dan bunda Anita menggelengkan kepalanya.
"Kamu yakin mau nerima tantangan ayah?" tanya ayah menyangsikan anaknya.
"Kenapa harus gak yakin?" mengangkat satu alisnya.
"Kalau ayah yang menang terus minta kamu buat cerai sama suami kamu gimana?" tantang ayah memainkan alisnya.
"Ayah!!" seru Indah dan bunda Anita bersamaan.
Membuat ayah Gilang yang sudah selesai sarapan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dan pergi. Dia tidak ingin mendengar ocehan dua wanita di rumahnya. Mereka terkenal susah berhenti jika sudah ceramah. Melebihi ceramah subuh di masjid.
***
Sedangkan di dalam kamar, Andrian duduk bersandar di kepala ranjang, menekuk wajahnya masam. Perutnya yang sejak kemarin belum di isi sudah meronta-ronta. Tapi apa daya, ayah Gilang masih berada di rumah, yang artinya Andrian akan tetap berdiam diri di dalam kamar istrinya ini. Hanya memakai celana kolor yang semalam ia pakai. Semenjak menikah memang baru kali ini dia menginap di rumah mertuanya, sehingga tidak ada baju ganti miliknya di dalam lemari sang istri.
Membuakan email melalui laptop yang ada di kamar istrinya untuk mengecek pekerjaan hari ini yang ia minta Sarah untuk mengirimnya ke email, karena rencananya hari ini ia akan menghabiskan waktu bersama dengan istrinya. Selagi ada kesempatan, jangan pernah menyia-nyiakannya. Begitu pikir Andrian.
Bunda Anita menyuruh pelayan yang akan mengantarkan baju ke kamar Indah untuk membawa sarapan untuk menantu malangnya, menyelipkan baju ganti milik suaminya juga di dalam tumpukan baju-baju milik Indah yang baru selesai di setrika. Melakukan semuanya tanpa ketara oleh sang suami.
Andrian kaget saat seorang pelayan masuk dan memberikan sarapan serta baju ganti untuknya.
"Indah mana bi?" tanya Andrian pada pelayan yang usianya kira-kira 35 tahunan.
"Non Indah di bawah dengan tuan besar, tuan muda." jawab pelayan itu dengan wajah menunduk.
"Emang ayah gak ke kantor?" cecarnya lagi.
__ADS_1
"Tadi kata nyonya, tuan besar akan di rumah seharian ini menemani non Indah. Jadi nyonya meminta tuan muda untuk tetap di dalam kamar." kembali pelayan itu berucap, kali ini lebih lirih, merasa kasihan dengan suami nona-nya ini.
Andrian membulatkan mata dan mulutnya tidak percaya. Kenapa tidak berangkat ke kantor saja sih? runtuk Andrian dalam hati.
Padahal inginnya mendekap istrinya seharian, kini malah istrinya itu sedang di monopoli oleh ayah mertuanya.
Pelayan itu pamit undur diri setelah memasukkan baju-baju Indah kedalam lemari. Andrian duduk dengan lesu di sofa kamar. Memakan sarapannya dengan tidak bersemangat. Padahal perutnya sangat lapar, tapi mengingat harus terkurung di dalam kamar ini tanpa istrinya, rasanya malas sekali.
***
Ayah Gilang tertawa dalam hati. Sebenarnya semalam dia sudah melihat menantunya itu masuk diam-diam dengan bantuan istrinya.
Awalnya ayah Gilang marah terhadap sang istri, tapi setelah tadi pagi di layani hingga puas, rasa marahnya hilang seketika. Siapa yang bisa marah jika istrinya memberinya kepuasan tanpa ia meminta dulu. Terlebih lagi saat besan sekaligus sahabatnya menghubungi dan mengabarkan jika Olivia sudah mengikhlaskan Andrian dengan Indah. Juga tentang wanita itu yang di angkat anak oleh sahabatnya itu.
Ide jahat muncul di otaknya, ayah Gilang tidak akan memberitahu anak serta istrinya tentang kabar tersebut. Juga meminta besannya agar tidak memeberitahu mereka.
Ayah Gilang ingin memberi pelajaran kepada menantunya itu. Pura-pura tidak tahu ada menantu dalam rumahnya, tapi ayah Gilang juga tidak akan berangkat ke kantor selama yang ia inginkan.
"Ayah kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Indah merasa aneh dengan tingkah ayahnya. "Emang di koran ada berita lucunya?" imbuhnya mencoba mengintip surat kabar yang sang ayah pegang.
"Kepoooo..." ledek ayah Gilang yang langsung tertawa.
Indah hanya mencebik dan melirik malas. "Ayo aah yah main catur.. Udah keburu ngantuk nih! dede bayinya pengen tidur." protes Indah saat ayah Gilang tetap saja membolak-balikan koran yang sudah berapa kali pria paruh baya itu baca.
"Orang hamil itu gak boleh males! gak boleh tidur mulu. Pamali!" cibir sang ayah, senyum licik tercetak di bibirnya.
*
__ADS_1
*
*