My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Ditinggal Andrian


__ADS_3

Andrian semakin merasa bersalah saat sampai di apartemen, istrinya masih saja diam, tidak ceria dan banyak berbicara seperti biasanya.


"Jangan marah dong yank.. Aku gak bermaksud kaya yang kamu pikirin!" mengikuti istrinya yang masuk ke kamar setelah menaruh belanjaannya di ruang ganti.


"Apa kebersamaan kita satu bulan ini gak bikin kamu merasa kalo kamu punya tempat tersendiri di hati aku?" tanya Andrian dengan memelas saat Indah masih tak mengacuhkannya.


"Aku gak papa kak." menghadap sang suami, memberikan senyuman meski matanya tidak ikut tersenyum.


"Aku cuma pengen mandi, pengen tidur. Nanti kakak makan malemnya pesen aja ya?!" pintanya saat akan memasuki kamar mandi.


Andrian menghela napas, bingung harus bagaimana lagi.


Ditengah kebingungannya ada telepon masuk dari sekretarisnya Sarah. Berjalan menuju balkon, mengangkat dan menempelkan ponsel pada telinganya.


"Ada apa Sarah?" tanyanya kesal. Disaat bingung seperti ini, masih saja di kejar pekerjaan.


Tubuhnya menegang saat mendengar apa yang Sarah sampaikan. "Oke. Kamu pesankan tiket pesawat untuk besok pagi! Jangan Sampaikan kepada papi atau siapapun dulu! Saya akan menyelesaikannya." mematikan telepon dan mengguyar rambutnya kebelakang. "Kenapa ada saja yang tarjadi?" lirihnya.


Saat berbalik badan, ia kaget dengan keberadaan istrinya yang masih menggunakan bathrobe, berdiri menatapnya di depan pintu balkon.


"Telepon dari siapa kak?" tanya Indah curiga saat mendapati wajah suaminya yang terlihat frustasi.


Berdeham sebelum menjawab. "Dari Sarah, dia bilang perusahaan yang di luar negeri ada masalah. Besok aku harus berangkat ke sana, mungkin untuk satu mingguan."


Indah diam, entah kenapa rasanya tidak ingin di tinggal jauh oleh suaminya.


"Aku janji gak akan lama." Andrian mendekat dan memeluk tubuh istrinya, tahu apa yang di rasakan istrinya saat ini. Karena sejujurnua ia juga tidak ingin jauh dari Indah. Jika bisa, ingin ia membawa istrinya agar selalu bisa ia dekap. Tapi dia tidak mungkin membawa Indah ke sana.


"Jangan marah lagi ya. Kamu akan selalu ada di hati aku." ucap Andrian, memberi bertubi-tubi kecupan di puncak kepala istrinya. Membuat Indah mengangguk dan membalas pelukan dari suaminya.


Jika di bilang Indah lembek dan mudah memaafkan suaminya, Indah tidak perduli. Yang dia ingin hanya memanfaatkan waktu yang ia miliki malam ini sebelum suaminya pergi untuk waktu yang baginya lama itu.


"Janji gak lama-lama ya kak?" menjauhkan pelukan agar bisa menatap wajah suaminya.


"Iya. Aku janji. Dan selama aku gak ada, kamu gak perlu pergi ke kantor. Kamu boleh menginap di rumah ayah."

__ADS_1


Indah mengangguk dan tersenyum. Senyum yang membuat Andrian ingin tenggelam di dalamnya.


Andrian mendekatkan wajahnya, Indah menyambutnya dengan memejamkan mata seperti biasa. Bibir mereka saling bertautan, mengalirkan perasaan, mengisi dada mereka dengan aroma yang tidak akan mereka hirup selama seminggu kedepan. Mengisi energi mereka agar mampu untuk berjauhan.


Malam itu, Indah melupakan amarahnya dan larut dengan kenikmatan yang suaminya berikan. Begitu juga dengan Andrian, ia melupakan semua yang ia pikirkan tadi, melupakan kekalutan hatinya. Malam ini, ia hanya ingin menikmati tubuh istrinya, mendekap dan memandang wajah cantik itu hingga puas. Dia tidak akan memikirkan hal lain, saat dia bisa memeluk Indah.


***


"Ini sih gak bisa kemana-mana!!" keluh Indah kesal dengan ulah suaminya.


Di tubuhnya sangat banyak bercak merah tanda kepemilikan yang suaminya buat semalam. Bukan hanya di daerah yang tertutup, tapi di lehernya yang tidak tertutup pun sangat banyak. Indah tidak akan punya muka untuk keluar rumah beberapa hari kedepan. Karena tanda merah yang kontras dengan kulit putihnya itu pasti akan lama hilangnya.


Andrian yang masih berada di bawah selimut terkekeh. Tidak hanya semalam, tadi pagi buta Andrian kembali mengganggu tidur istrinya.


Menyusul istrinya yang berjalan ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian untuk ia bawa.


"Kan bair aku gak kangen sayang.." rayu Andrian memeluk tubuh Indah yang sedang mengambil baju dari belakang.


"Jadi kangennya sama adegan ranjang doang!!" sungut Indah lagi.


"Kangen masakannya.." mencium kedua telapak tangan Indah.


"Kangen wajah ini.." mencium setiap sisi wajah Indah. Membuat Indah merona dengan perlakuan manis suaminya pagi ini.


"Kangen pelukannya.." menenggelamkan istrinya kedalam pelukan.


"Kangen yang seperti semalam, karena kamu selalu menggoda di mata aku.." bisiknya di telinga Indah yang membuat wanita dalam pelukannya itu memukul dadanya.


"Makanya jangan lama-lama di sana! kerjain yang bener biar cepet selesai!!" seru Indah dengan bibir mengerucut.


"Aku pasti kangen banget sama kakak.. Padahal dulu juga gak pernah bareng. Eh sekalinya ketemu dan tinggal bareng begini, rasanya gak pengen jauhan!!" Indah semakin memepererat pelukannya.


"Jangan lupa kasih kabar ya kak.." imbuhnya lagi, saat tidak ada balasan dari suaminya.


Andrian hanya menjawab dengan dehaman. Tidak ingin menjanjikan sesuatu yang dia sendiri belum tahu.

__ADS_1


Dia belum tahu apa urusannya nanti di sana memungkinkan untukknya memegang ponsel atau tidak.


"Ya udah, mandi sana!! nanti ketinggalan pesawat." mendorong Andrian ke arah kamar mandi. " Aku siapin dulu sarapannya."


***


Indah mengantarkan suaminya hingga parkiran bandara. Dia tidak mau masuk dengan kondisi seperti itu.


"Yakin gak mau masuk?" tanya Andrian untuk kesekian kalinya selama mereka dalam perjalanan hingga mereka sampai di parkiran sepuluh menit yang lalu.


"Gak mau. Sampe sini aja! Udah sana.." usir Indah, takut suaminya tertinggal pesawat.


"Pengen banget suaminya pergi!!" cebik Andrian. Rasanya enggan untuk pergi jauh, meninggalkan istrinya untuk waktu lama.


"Iih mana ada!! ya udah gak usah pergi kalo gitu!!" memeluk lengan sang suami, mengandarkan kepalanya.


"Gak bisa sayang. Aku harus pergi biar cepat kelar, kita bisa cepet bahagia tanpa perlu aku ngurusin masalah ini lagi." mencium dalam dahi istrinya.


"Gak usah masak! delivery aja." Andrian tidak ingin istrinya lelah selama dia tidak ada. Dia ingin istrinya bisa menikmati waktu untuk memanjakan dirinya sendiri, sebelum nanti Andrian pulang dan waktu yang Indah miliki hanya untuk suaminya.


"Jangan lupa tutup dan kunci pintu balkon! sekarang udara malamnya lagi dingin, gak baik buat kesehatan kamu!!" Indah mengangguk masih memeluk lengan suaminya.


"Beberapa hari ini di rumah aja! tunggu sampai tanda-tanda ini hilang." menjelajah maha karyanya dengan punggung tangan.


Indah tekekeh. "Kakak kaya bunda deh! kalau mau pergi pasti pesennya banyak banget buat aku. Aku tuh udah gede kakak.. Bisa ngurus diri sendiri." mengambil tangan yang berada di lehernya dan mengecup.


"Tapi aku seneng kakak perhatian sama aku. Makasih ya kak.."


Andrian tersenyum dan menarik tengkuk Indah, menyatukan bibir mereka sebelum turun dan memasuki bandara.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2