
Malam hari setelah memastika kedua wanita itu memasuki kamar mereka dan tidak akan keluar lagi, Andrian memasuki ruang kerja dan menguncinya. Membuka kunci pada pintu penghubung ke kamar yang Indah tempati. Pintu yang tidak pernah di gunakan, karena dulu Andrian masih menyimpan foto-foto Olivia di sana.
Indah yang baru selesai mandi di kagetkan dengan suaminya yang sudah duduk bersandar pada tempat tidur.
"Kakak ngapain di sini?" tanya Indah dengan suara pelan.
"Ngapain lagi kalau tidak tidur." jawab Andrian dengan mengedikkan kedua bahunya.
"Tapi kan kakak tidur di sebelah, bukan disini!" seru Indah dengan suara tertahan.
"Kamu gak takut aku di culik Olivia kalau tidur sendiri? lagian gak kasihan apa sama suami sendiri suruh tidur di sofa?" rajuk Andrian.
Indah terkekeh melihat suaminya cemberut dan melipat tangan di depan dada seperti itu. Selama mereka kenal, baru kali ini Indah melihat sisi kekanakan suaminya.
"Ya kenapa gak pulang ke rumah mami aja." ucap Indah yang sudah duduk di depan meja rias, mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
Andrian yang melihat apa yang akan di lakukan istrinya pun bangkit dan membantu istrinya. "Kalau ada istri yang bisa aku dekap saat tidur. Kenapa harus pulang ke rumah mami dan tidur sendiri?"
"Nanti kalau kak Olive tau gimana?" tanya Indah yang menikmati sentuhan Andrian pada rambut basahnya.
"Gak akan tau kalau desahan kamu gak kencang-kencang" bisik Andrian di telinga Indah.
"Iishh kakak!!" cubitan mendarat di perut Andrian, membuat lelaki itu megaduh dan tertawa sekaligus.
"Sssttt kakak!" seru Indah membekap mulut suaminya yang tertawa.
Memeluk istrinya dari belakang, setelah tugasnya mengeringkan rambut selesai. Menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher istrinya yang wangi. Tangannya berkelana memasuki bathrobe yang di kenakan istrinya, membuat Indah mendesah dan mencoba melepaskan diri dari suaminya.
"Kakak, jangan! nanti kedengeran dari luar!"
"Aku kangeeen. Kan aku udah bilang, asal kamu gak berisik, gak akan ketahuan!"
Dengan pasrah Indah menuruti keinginan suaminya malam ini. Membiarkan suaminya menjamah dirinya, mencari kepuasan dan kenimatan yang sama-sama mereka dapatkan.
"Sampai kapan dia tinggal disini kak?" tanya Indah saat baru selesai menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Menaikan selimut untuk menutupi tubuh polosnya, dengan napas yang masih tidak beraturan.
"Sampai di sembuh dari depresinya, sampai dia bisa menerima keadaan kalau sekarang aku milik kamu." Jawab Andrian, mengecup dahi istrinya dan mendekap tubuh wanita hamil itu.
__ADS_1
"Tapi aku takut kak, aku takut kakak akan lebih peduli sama dia dari pada aku dan anak kita." suara Indah mulai bergetar, mengutarakan apa yang mengganggu isi pikirannya beberapa hari ini.
"Kenapa harus takut? kita kan akan 24 jam bareng terus. Sedangkan sama Olivia, aku hanya bertemu saat pulang kerja aja kan?" merapikan rambut istrinya yang berantakan akibat pergulatan tadi.
"Jadi kakak bolehin aku kerja?" tanya Indah dengan mata berbinar, meninggalkan kegundahan hatinya sementara.
"Iya. Tapi hanya menemani aku, tidak untuk bekerja. Disana kan ada kamar, kamu bisa istirahat di sana!"
Walaupun kesal karena tidak boleh bekerja, tapi Indah lebih memilih menemani suaminya dari pada harus tinggal di rumah bersama tunangan suaminya itu.
"Baiklah.." jawab Indah pasrah, semakin menenggelamkan wajahnya pada dada sang suami hingga tak terasa mereka sama-sama lelap dalam mimpi masing-masing.
***
Suara ketukan pintu kamar mengagetkan Indah dan Andrian.
"Indah.. Saya boleh meminjam hairdryer tidak?" terdengar suara Olivia dari luar pintu. Membuat dua manusia yang masih tanpa busana kalang kabut.
Andrian bangun dan membereskan semua bajunya yang tercecer di lantai untuk ia bawa ke ruang kerja. Indah buru-buru mengambil piama dari lemari, berakting baru bangun tidur dan membuka pintu.
"Gimana kak? maaf baru bangun." senyum Indah kepada Olivia yang sudah rapi, hanya tinggal rambutnya saja yang di gulung handuk .
"Ooh iya sebentar ya kak."
Tak lama kemudia Indah datang membawa hairdryer dan memberikannya kepada Olivia. "Pakai aja kak, aku masih ada satu lagi."
"Makasih ya Indah. Benar kata Andrian, kamu wanita yang baik."
Indah hanya tersenyum dan menggerutu dalam hati. "Memang seharusnya aku tidak sebaik ini pada wanita yang berniat mengambil suamiku."
Setelah Olivia pergi, Indah menyiapkan pakaian kerja suaminya dan mengantarkan ke ruang kerja Andrian. Ternyata suaminya sedang mandi.
Indah hanya mencuci muka dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka pagi ini.
Indah membuat sandwich bacon yang berisi potongan tipis daging sapi, telur dan keju. Tak lupa juga membuat kopi untuk suaminya, teh untuk Olivia dan susu hamil untuk dirinya sendiri.
"Waahh kamu rajin sekali Indah." puji Olivia yang baru datang ke dapur.
__ADS_1
"Makanlah kak, aku akan mandi dulu agar bisa berangkat bersama kak Rian." tersenyum dan berjalan menuju kamarnya, saat berpapasan dengan suaminya, Andrian mengusap lembut puncak kepalanya sambil berlalu.
"Pagi Sayang." sapaan Olivia hanya di jawab senyuman.
"Bagaimana, apakah tidurmu nyenyak semalam? apa keadaanmu lebih baik?" tanya Andrian memastikan kondisi Olivia pagi ini.
"Tidurku nyenyak, aku betah tinggal di sini denganmu." Olivia merangkul lengan Andrian yang duduk di sebelahnya dan menyandarkan kepalanya di sana.
Indah yang baru akan memasuki kamarnya terhenyak, dan hanya diam saja melihat interaksi mereka dari belakang. Sekali lagi menguatkan hatinya, semua ini keputusannya sendiri. Bukankah suaminya sudah bilang, jika dia tidak mengijinkan maka Andrian tidak akan membawa Olivia ke Indonesia. Dan Indah sudah mengijinkan, berarti dia harus siap menanggung segala resikonya.
Andrian yang merasa kurang nyaman melepaskan dekapan Olivia pada lengannya. "Makanlah sarapanmu, nanti siang aku akan menyuruh Sarah untuk menemanimu menemui psikolog." Andrian mulai memakan sarapannya.
Indah mendekat untuk bergabung ikut sarapan. Hanya mandi kilat agar tidak membiarkan suaminya terlalu lama berduaan dengan wanita lain.
"Kenapa tidak dengan kamu saja sayang. Aku ingin kamu yang menemani." rengek Olivia.
Indah hanya diam saja memakan sarapannya, berusaha tidak peduli dengan dua manusia di sampingnya.
"Aku sudah meninggalkan pekerjaanku untuk menjemputmu kemarin Olivia! banyak hal yang harus aku urus di kantor. Aku harap kamu bisa mengerti." seru Andrian, dengan nada lembut tapi tegas.
Wanita itu hanya menunduk pasrah. Masih beruntung dia masih di terima di sisi tunangannya. Dia tidak akan bersikap egois.
Sebenarnya Indah merasa kasihan melihat Olivia tertunduk sedih seperti itu. Tapi memang suaminya saat ini sedang banyak pekerjaan di kantor.
"Habiskan sarapan dan susumu Indah! kita berangkat sekarang!"
Indah melihat suasana hati suaminya yang kurang bagus. Meninggalkan sarapannya yang tinggal setengah dan mengahabiskan susunya.
"Habiskan dulu sandwich-mu. Anak dalam kandunganmu butuh banyak nutrisi!" tatapan tajam Andrian membuat Indah mengambil roti isinya.
"Aku makan di jalan aja." berlalu ke kamar untuk mengambil tasnya.
"Sebentar lagi ada wanita paruh baya yang akan membersihkan apartemen ini, namanya Bi Yani. Kalau kakak butuh apa-apa bilang saja padanya." pesan Indah kepada Olivia sebelum menyusul suaminya yang sudah keluar terlebih dahulu.
*
*
__ADS_1
*