My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Dua Poin Lebih Unggul


__ADS_3

Pagi ini ada yang berbeda. Jika biasanya Indah akan bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk mereka, kini Olivia sudah sibuk berada di dapur. Membuat sarapan kesukaan Andrian, sesuatu yang pernah pria itu sukai saat pertama kali ia membuatkannya.


Indah memang hari ini bangun sedikit kesiangan, apa lagi setelah memuntahkan isi perutnya yang cukup memakan waktu. Setelah memakai kembali pakaian yang semalam ia kenakan, wanita hamil itu menguncir rambutnya asal dan kembali melakukan aktifitas rutinnya setiap pagi.


Tapi ketika ia sampai di dapur senyum sinisnya terukir di wajahnya. Ternyata rivalnya sedang berusaha keras untuk melawannya.


Indah mengedikan bahu tidak peduli dan lebih memilih kembali ke dalam kamarnya, mempersiapkan keperluan suaminya untuk bekerja. Meninggalkan Olivia yang sedang sibuk dengan tepung, tidak menyadari kehadirannya.


Setelah menyiapkan setelan kerja lengkap dengan dasi dan sepatu, beralih menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi. Indah sedang menutup kran pada bathup ketika lengan kekar suaminya melingkar di sepanjang perutnya dan memberikan usapan lembut di sana, tak lupa ciuman manis di pipi istrinya.


"Pagi sayang.. Pagi kesayangan papa." sapa Andrian pada istri beserta anaknya dengan suara khas bangun tidurnya. Membuat senyum mengembang di wajah Indah dan ikut menumpukan tangannya tepat di atas lengan sang suami.


"Pagi juga papa kesayangan.." balas Indah, membalas juga ciuman di pipi suaminya yang sedang menempel pada sisi wajahnya.


"Tumben nyiapin air segala? biasanya lagi sibuk di dapur?" tanya Andrian yang tidak biasanya mendapati istrinya berada di kamar mandi pagi-pagi begini.


"Udah ada yang gantiin nyiapin sarapan ternyata." jawab Indah mengedikkan bahunya.


"Olivia?" tanya Andrian penasaran.


"Siapa lagi penghuni apartemen kita di pagi hari kecuali wanita itu!" jawab Indah dengan cuek, dan membuka pakaiannya sendiri, masuk ke dalam air yang ia siapkan untuk suaminya.


"Aku kira kamu siapin air buat aku mandi." ujar Andrian melihat istrinya yang sudah berendam dengan nyaman.


"Memang." jawaban santai Indah membuat Andrian semakin bingung dengan tingkah istrinya.


"Berhubung aku bebas tugas dari masak, baby kita pengen mandi bareng papanya." Indah kembali menjelaskan ketika suaminya tetap diam tanpa ada niatan untuk ikut mandi bersamanya. "Tapi kalau gak mau ya sudah. Nanti saja kakak tunggu aku selelsai." imbuhnya dengan kembali memejamkan matanya.


Andrian buru-buru melepas semua yang ia kenakan untuk ikut berendam bersama anak dan istrinya, jika menunggu Indah selesai mandi akan memakan waktu yang lama.


***

__ADS_1


Olivia sudah menyambut Andrian dengan senyuman dan sudah terlihat rapi dan cantik. Kali ini Olivia ingin usahanya membuahkan hasil. Membuat Andrian kembali melihatnya seperti sediakala.


"Aku membuatkan muffin kesukaan kamu." menyodorkan dua muffin ke hadapan Andrian, Indah yang tidak di tawari malah sudah akan habis setengah.


"Tunggu kak. Jangan dimakan!" seru Indah saat suaminya sudah akan memakan muffinnya.


Andrian mengerutkan dahinya seakan bertanya. Sedangkan Olivia sudah memandang kesal ke arah Indah.


"Maaf nih kak. Apa kakak tidak tau jika suamiku alergi dengan kacang?" tanya Indah dengan nada sesopan mungkin.


Olivia tampak terkejut. Memang dulu yang ia bikin adalah muffin blueberry. Tapi karena stok di apartemen Andrian tidak ada blueberry maka ia mengganti dengan kacang.


"Maaf Andrian, aku tidak tau jika kau alergi dengan kacang." ucap Olivia merasa menyesal. Dan sedikit kesal karena kesibukannya sedari subuh berakhir dengan tak disentuh sedikit pun oleh Andrian.


"Gak papa, aku bisa sarapan roti." saat Andrian mengucapkan itu, Indah sudah menyodorkan piring berisi roti lapis kesukaannya.


"Terimakasih sayang." ucap Andrian kepada istrinya. Kini pria itu tidak memikirkan lagi bagaimana reaksi Olivia dengan panggilannya kepada Indah. Toh wanita itu sudah tahu jika mereka sudah menikah. Jadi Olivia harus belajar menerima dan terbiasa dengan hal itu. Andrian ingin menjadi dirinya sendiri. Menunjukan kasih sayangnya kepada sang istri, apa lagi kondisi istrinya yang sedang hamil dan butuh banyak perhatian serta kasih sayang.


Dapat Indah lihat, Olivia menunduk sedih dan hanya menatap muffin di hadapannya, tanpa ada niat untuk ia makan sedikit pun.


***


Indah mengantar Andrian hingga ke pintu apartemen. Hari ini dia tidak ikut ke kantor lagi, karena kondisinya yang masih kurang baik. Morning sickness'nya semakin terasa belakangan ini. Dia jadi mudah lelah, pusing dan jangan lupa rasa mual di saat baru bangun tidur dan setelah sarapan tadi. Itu semua membuatnya memilih untuk tetap berada di rumah dan istirahat.


Indah tidak takut di celakai oleh Olivia. Dia yakin wanita itu sebenarnya baik, ia hanya sedang mempertahankan apa yang sebelumnya ia punya, dan tidak menyadari perbuatannya itu salah dan menyakiti banyak pihak. Indah juga bukan wanita lemah yang mudah di tindas oleh Olivia.


"Tunggu Andrian!" seru Olivia saat Andrian melepas ciuman di dahi sang istri.


"Kenapa?" tanya Andrian sembari melihat jam di pergelangan tangannya.


"Apa nanti siang aku boleh ke kantormu? aku ingin makan siang bersama. Dan aku juga bosan di apartemen ini terus, aku sudah seperti burung dalam sangkar."

__ADS_1


"Tinggal terbang aja kenapa? emang siapa yang ngurungin di sini sih tuh burung!" cibir Indah dengan nada sinis.


"Datanglah." jawaban Andrian membuat Indah ternganga.


"Datanglah dengan Indah, dua hari ini aku juga tidak makan siang bersama dengannya." imbuh Andrian. Senyum Indah kembali merekah, dan langsung memeluk lengan suaminya.


" Lebih unggul satu angkah lagi" sorak Indah dalam hati. Yang berbanding terbalik dengan ekspresi tidak suka yang di tunjukan Olivia.


"Tapi aku hanya ingin makan siang bersamamu." lirih Olivia dengan nada sedih.


"Maaf Olivia, aku kini punya perempuan yang harus aku jaga perasaannya. Apa lagi anak dalam kandungan Indah juga ikut merasakan perasaan buruk ibunya." jawab Andrian tegas, meski dengan nada lembut.


Kasihan sebenarnya melihat Olivia seperti itu. Tapi Indah harus menjaga apa yang dia miliki saat ini. Apa lagi itu adalah hal terpenting dalam hidupnya dan hidup anaknya.


"Biar aku pikirkan lagi nanti." jawab Olivia berbalik pergi meninggalkan pasangan suami istri yang ia nantikan perpisahannya.


"Kalau Olivia tidak jadi pergi, aku boleh pergi gak kak?" tanya Indah dengan mata berbinar.


"Tentu boleh sayang! apa kamu mau ikut sekalian sekarang?" tawar Andrian.


Indah menggeleng, perutnya masih terasa mual. Dan ia tidak ingin mencium bau AC mobil yang semakin memperparah rasa mualnya.


"Ya sudah, jaga anak kita baik-baik!" pesan Andrian, dengan kembali melabuhkan ciuman di dahi dan bibir istrinya sekilas.


Selepas kepergian suaminya, Indah tertawa bahagia di dalam kamarnya. Senang rasanya pagi-pagi sudah mengalahkan dua poin terhadap rivalnya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2