
Andrian sesekali menghela napas saat istrinya tak henti keluar masuk brand pakaian untuk mencari yang sesuai dengan seleranya. Di tangannya sudah ada banyak paperbag berisi belanjaan Indah, dari mulai tas, sepatu, baju, bahkan sampai dalaman Indah beli semua. Katanya dia tidak membawa banyak baju saat pindah ke apartemen. Sebagian masih di rumah orang tuanya, sebagian lagi ia tinggal di rumah mertuanya agar saat mereka menginap tidak perlu membawa baju ganti.
Saat keluar toko terakhir, ada laki-laki yang mendekati istrinya dengan gaya sok dekat dan menatap istrinya dengan lekat.
"Hai Ndah.. Di sini juga lo!!" sapa pria yang tingginya tidak melebihi Andrian, yang di tangannya juga sedang memegang paperbag juga seperti dirinya.
"Ehh Sam.. Wahh lama gak ketemu!!" seru Indah, senang bertemu teman lama.
"Iya. Terakhir ketemu pas kelulusan kan ya?"
"Iya bener banget. Pas lo mau berangkat ke luar negeri kan. Kok lo udah pulang?"
"Lo juga udah lulus kan? gue juga sama. Ngapain gue di sana mulu. Mending balik nyari jodoh!!"
Mendengar kata jodoh, Indah ingat akan suaminya. Saat menoleh ke samping, wajah suaminya sudah masam karena ia cuekin.
"Ooh iya. Kenalin suami gue, Andrian." Indah merangkul lengan suaminya dan menyenderkan kepalanya manja. Sam mendengus melihat Indah pamer kemesraan.
"Kak Rian, itu namanya Sam. Anak moyet yang sayangnya jadi temen aku dari kecil." Indah menunjuk Sam.
Mereka saling jabat tangan dengan aura dingin.
"Dari kecil gue yang jagain, remaja gue yang deketin, giliran udah dewasa nikahnya sama yang lain! Udah gitu gak ngundang-ngundang lagi!!"
Indah tertawa melihat Sam menggerutu kesal. "Kan dulu gue udah bilang. Lo itu bukan selera gue! bagi gue, lo tetep anak monyet sahabat gue!!"
"Kalau gitu aturan pas SMA jangan anggap gue sahabat. Jangan deket-deket gue, biar gue gak suka sama lo!! gak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan!!" tandasnya masih kesal saat mengetahui Indah sudah menikah.
Didepannya, Andrian lebih kesal lagi saat tahu pria itu pernaha suka kepada istrinya. Atau bahkan saat ini masih.
"Gue emang mempesona sih.. Gak heran kalo lo suka sama gue!!" mengibas rambutnya.
Sam terkekeh. "Dasar. Dari dulu gak berubah lo!!" mengacak rambut Indah, membuat tubuh di sebelah wanita itu menegang menahan geram.
"Lagian bukan gue yang bukan selera lo. Tapi lo yang kebanyakan milih, makanya sampe lulus belum pernah pacaran. Meskipun gue seneng sih hahaha."
__ADS_1
"Gue tuh cuma cari orang yang tepat! yang bisa menghargai Indah yang berharga." lagi-lagi kata-kata Indah membuat Sam terbahak.
"Eh ngomong-ngomong ngapain lo sendirian disini?" tanya Indah yang tidak melihat seorang pun yang menemani Sam dari saat mereka bertemu tadi.
Mengacungkan belanjaan di tangannya. "Nemenin mamah."
"Duuhhh sayang banget sama mama. Suami idaman banget nih. Yang dapetin lo pasti beruntung banget!!" punjinya pada Sam.
"Kaya gini aja lo gak mau jadi orang yang beruntung itu!!" cibirnya.
"Sory brother.. gue udah punya orang yang membuat gue merasa beruntung."
Andrian tersenyum dalam hati saat istrinya mengatakan itu. Mengecup puncak kepala istrinya saat lagi-lagi wanita itu menyandarkan kepalanya.
"Udah ah. Mual gue liat kalian mesra-mesraan! Gue mau cari nyokap gue sebelum dia ngeborong semua isi mall."
Indah tertawa melihat sahabatnya yang mulai menjauh.
"Seneng banget yang abis ketemu gebetan!!" dengusan kasar terdengar dari Andrian.
"Siapa yang cemburu?! gak level banget cemburu sama lelaki seperti dia!!"
"Ooh iya, aku lupa. Mana mungkin kakak cemburu sama aku. Kakak kan cemburunya kalau kak Oliv di deketin cowok lain." ada nada getir pada suara Indah. Wanita itu lebih dulu meninggalkan Andrian menuju pintu keluar untuk pulang.
Andrian merasa bersalah. Padahal bukan seperti itu maksudnya. Dia hanya terlalu gengsi untuk mengakui kalau dia tidak suka Indah dekat dengan lelaki lain. Apa lagi dengan jelas laki-laki itu mengharapkan Indah untuk menjadi istrinya.
***
Indah berjalan dengan cepat meninggalkan Andrian yang jauh tertinggal di belakangnya.
Kadang kata-katanya sendiri yang memancing rasa sakit itu. Tapi entah kenapa ia merasa sakit saat suaminya bilang tidak cemburu, satu-satunya alasan yang Indah tahu karena dia tidak memiliki tempat di hati suaminya.
Goresan luka pertama setelah mereka menikah. Mungkin bukan Andrian yang akan terbelenggu dalam kepura-puraannya. Tapi justru Indah yang akan semakin dalam masuk ke dalam kubangan rasa sakit yang di landaskan cinta.
Kata orang, saat kita mencintai maka kita harus siap untuk merasakan sakitnya patah hati. Tapi nyatanya walaupun Indah sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan rasa sakit yang akan dia terima, nyatanya hanya seperti ini saja hatinya sudah sangat sakit.
__ADS_1
Bagaimana jika dia merasakan hal yang lebih menyakitkan. Akan sanggupkah dirinya menerima rasa sakit itu.
Indah bersandar pada pintu mobil menunggu suaminya yang belum juga muncul. Hingga suara langkah kaki yang begitu cepat mengalihkan tatapan Indah dari ponsel yang ia pegang untuk membuka sosial media. Mengalihkan rasa sakit di hatinya.
"Kamu kenapa ninggalin aku?!" protes Andrian saat membuka pintu jok belakang, memasukkan belanjaan istrinya.
"Gak papa, aku cuma capek pengen cepet pulang." jawabnya dingin setelah suaminya duduk di balik kemudi.
"Kamu marah sama kata-kata aku tadi? aku gak lagi mikirin Olivia, Indah!!" melirik istrinya yang sudah menyandarkan kepalanya dan melihat keluar jendela.
"Indah... Sayang.."
Entah kenapa kata sayang itu justru semakin menorehkan luka di hati Indah. Semakin terasa Andrian hanya berpura-pura menyayanginya.
"Aku bilang, aku gak papa. Aku cuma cape!!" ucapnya lagi dengan sedikit meninggikan suaranya. Menahan mati-matian agar air matanya tidak tumpah.
"Jangan lemah Indah.. Ini bukan lo banget!!" makinya pada diri sendiri dalam hati.
Indah benci rasa cinta yang menyakitinya ini. Seakan rasa manis yang ia dan suaminya bangun selama lebih dari sebulan ini tidak berarti lagi, hanya karena kata-kata Andrian yang memepertegas bahwa Indah tidak memiliki tempat di hati suaminya itu.
"Kak. Malam ini aku boleh nginep di rumah ayah gak? semenjak menikah aku belum pernah lagi tidur di sana." Izin Indah, saat lama mereka diam dengan pikiran masing-masing.
Disaat seperti ini yang Indah butuhkan dan rindukan adalah pelukan dari bundanya. Semangat dari sang ayah.
Walaupun dia tidak akan mengatakan kegundahannya kepada orang tuanya. Tapi setidaknya Indah ingin memeluk mereka.
"Gak boleh! tadi di restoran kan aku udah bilang. Malam ini aku gak akan melepaskan kamu!!" keputusan tegas yang tidak bisa Indah rubah.
"Kalau gitu bisa mampir Mini market gak? aku mau beli cemilan buat di rumah." tujuk Indah pada mini market di depan sana, yang langsung di setujui Andrian.
Indah turun sendiri ke dalam mini market. Andrian menatap punggung istrinya dengan rasa bersalah. Ia bisa melihat tatapan mata Indah yang terluka. Jika Indah bukan sedang marah, pasti Andrian akan dengan suka rela mengantar istrinya ke rumah mertuanya.
*
*
__ADS_1
*