My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Berduka


__ADS_3

Indah berjalan secepat yang dia bisa. Tidak mempedulika tatapan ngeri orang-orang yang melihat bagaimana ia membawa perut besarnya. Hanya menyangganya dengan satu tangan dan wanita itu berjalan setengah berlari di selasar rumah sakit.


Di belakangnya Olivia berlari dengan mengumpat wanita hamil yang tidak tahu diri itu. Yang langsung berlari meninggalkannya setelah ia mendapatkan parkiran. Jika sampai terjadi sesuatu pada wanita dan bayi dalam kandungannya, pasti dia yang akan di salahkan oleh keluarganya. Dan sayangnya dia yang harus terjebak dalam kondisi ini. Berada di rumah dengan waktu yang tidak tepat.


Di saat ke khawatiran melanda kakak iparnya, hanya dia dan pelayan yang ada di rumah. Jadi mau tidak mau, disinilah dia berada. Mengawasi kakak iparnya agar hal buruk tidak terjadi yang akan berakibat buruk juga pada kehidupannya kedepan.


Setelah bertanya kepada suster, Indah berjalan lagi menuju arah yang di tunjukan oleh suster tadi untuk sampai di ICU. Mengabaikan rasa tidak nyaman pada perutnya, pikiran Indah hanya tertuju pada orang yang dia sayangi, separuh nyawanya yang sedang berjuang melawan masa kritis akibat kecelakaan yang menimpa.


Air mata terus saja membanjiri wajah Indah, air mata itu seakan tidak mau berhenti semenjak wanita berbadan dua itu mendengar kabar yang mengejutkan dan menarik jantungnya keluar dari rongga dadanya.


Hati Indah hancur berkeping-keping saat itu juga. Kakinya tidak lagi mampu menumpu tubuhnya, hingga keinginan untuk bertemu dengan orang yang dia sayangi yang mungkin saja untuk terakhir kalinya mampu mengembalikan kekuatannya untuk berdiri dan memaksa Olivia untuk mengantarnya ke rumah sakit secepat mungkin.


Di depan ICU, sudah menunggu ayah dan kedua mertuanya.


Tak jauh berbeda dengannya, mereka semua yang menunggu juga menampilkan wajah sendu.


Mami Riana langsung berdiri dan memeluknya erat. Tubuh wanita paruh baya itu bergetar dengan isak tagis. Mengusap punggung menantunya menguatkan. Berbagi rasa sakit. Berbagi rasa sedih yang semua orang merasakannya juga.


"Sabar sayang.. sabar.." hanya itu yang mampu di ucapkan mami Riana.


Indah hanya menangis, tak mampu membalas pelukan mami Riana atau sekedar memberi jawaban. Lidahnya terasa kelu.


Dalam hati dia ingin memaki, memukul siapa saja yang membuat orang terkasihnya berbaring tak berdaya di dalam sana. Melontarkan semua kata-kata kasar yang ia ketahui.


Tapi, jangankan untuk memaki. Mengeluarkan suara tangisnya saja ia tak mampu. Tenggorokannya seakan tersumpal batu besar yang mencegah suaranya untuk keluar.


Dan untuk apa? untuk apa dia memaki. Makiannya tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Tidak akan membuat selang-selang itu lepas dari tubuh orang yang berbaring di dalam sana. Hanya akan menghabiskan tenaga dan semakin dalam menoreh luka.


Mami Riana mengajaknya untuk duduk. Masih menggenggam erat tangan menantunya yang terlihat sangat rapuh meski tak mengeluarkan tangis.


Hanya air mata yang semakin lama semakin mengering yang menandakan bahwa wanita berbadan dua itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


***


Sehari, dua hari. Orang yang di tunggu tidak kunjung membaik. Lantunan doa untuk kesembuhan tak pernah berhenti Indah ucapkan dalam hati.


Tak ada lagi air mata. Ia harus tegar apa pun yang terjadi. Ia harus percaya bahwa orang terkasihnya akan kembali.


Semua orang terdekatnya silih berganti datang. Mengucapkan kata penyemangat dan membujuknya untuk istirahat. Jika tidak di bujuk untuk istirahat, wanita hamil itu bisa tidak tidur dan hanya duduk di depan ruang ICU.


Indah belum mengeluarkan suaranya barang sepatah katapun. Wanita itu hanya duduk diam dengan tatapan kosong. Hanya ada raga tanpa jiwa di sana. Jiwa Indah entah kemana perginya.


Mungkin musibah ini terlaku memukulnya. Membuat siapa aja yang melihatnya terasa teriris hatinya.


Menyewa ruang rawat hanya untuk Indah istirahat di malam hari. Karena jika wanita itu sudah bangun, ia hanya akan kembali duduk diam di depan ICU. Bahkan jika terbangun jauh sebelum fajar muncul pun, Indah akan kembali duduk di tempat yang sama.


"Lo mau sampai kapan sih Ndah, kaya gini?" Shevi menghela napasnya kasar. Tidak tahan melihat sahabatnya terpuruk dan menyedihkan seperti saat ini. "Lo harus kuat Ndah! demi anak yang lo kandung!"


Indah tersenyum miris. Bahkan ia tidak menganggap serius rasa nyeri yang kadang menyerangnya sejak hari pertama kedatangannya di rumah sakit ini.


Tendangan pelan terasa dari dalam sana. Seakan si kecil juga merindukan suara mamanya yang beberapa hari ini tidak di dengarnya. Merindukan usapan hangat pada permukaan perut yang dapat ia rasakan. Dan satu yang pasti, bayi kecil di dalam sana pasti ikut merasakan kesedihan yang Indah rasakan.


"Iya Ndah. Lo harus tegar, sebentar lagi lo melahirkan, lo harus kuat untuk memperjuangkan anak lo lahir." Nay tak kalah sedih melihat Indah, dia yang paling sering menemani sahabatnya itu. "Kalo lo kaya gini, gimana lo bisa kuat berjuang nanti!"


Entah harus dengan kalimat apa lagi yang bisa membuat Indah yang mereka kenal kembali.


Ayah Gilang yang baru datang setelah menunggu di ruang ICU semalaman mendekat. Wajah tuanya sudah di penuhi air mata.


Indah terpaku, perasaan tidak enak menyergapnya. Sangat jarang dan hampir tidak pernah Indah melihat ayahnya selemah ini. Ayah yang biasanya gagah, kini juga terlihat menyedihkan.


Semakin dekat jarak mereka, jantung Indah semakin berdegup. Bukan degup jantung yang menyenangkan. Itu adalah degup jantung yang menyesakkan.


"Ikhlaskan sayang. Bunda akan lebih bahagia di atas sana." ucap ayah Gilang yang sudah merengkuh anak semata wayangnya.

__ADS_1


Indah menggeleng tegas dalam dekapan sang ayah. Ini mimpi, ini tidak sungguh terjadi. Bunda tidak akan tega meninggalkannya. Bunda bahkan sangat menantikan kelahiran cucu pertamanya ini. Bunda akan menjadi orang pertama yang menggendong anaknya setelah ia dan Andrian. Bunda tidak akan mungkin meninggalkannya.


"Ayah bohong. Bunda masih akan menemani Indah sampai tua nanti." ucapnya lirih. Berusaha menolak apa yang sesungguhnya terjadi.


"AYAH BOHONG!! BUNDA GAK AKAN PERGI NINGGALIN INDAH!!" teriakan yang mengundang tangis semua orang yang ada di dalam ruangan yang sama.


"Ikhlaskan sayang.. Ikhlaskan bunda.." tangis ayah Gilang semakin pecah melihat satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini histeris meski tanpa air mata.


Andrian yang baru datang dari luar negeri, langsung berlari dan menenangkan istrinya.


Kemarin setelah selesai meeting, sarah memberi tahu jika ibu mertuanya mengalami kecelakaan dan dalam kondisi kritis. Dan saat itu juga, pria itu langsung memutuskan untuk kembali ke Jakarta.


"Bunda kak.. Bunda gak boleh pergi.." tangis Indah baru pecah saat Andrian memeluknya hangat. "Bunda harus tetap di sini memeluk Indah! bunda harus di sini lihat anak kita lahir kak! bunda gak boleh ninggalin Indah."


Raungan yang begitu memilukan itu menyayat hati Andrian. Tidak pernah ia melihat mata istrinya sesakit ini.


"Sayang.. Sadar sayang.." suara Andrian yang terdengar jauh padahal ada dalam pelukannya menarik kesadaran Indah. Membawanya ke alam nyata.


Indah membuka matanya yang sudah penuh dengan air mata. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan menatap suaminya. Tangisnya kembali pecah, tapi kini dengan rasa yang lega. Indah langsung memeluk suaminya erat.


"Tadi mimpi. Tadi hanya mimpi." ucapnya menyakinkan diri sendiri.


"Hei.. Kamu kenapa? mimpi apa sampai menangis histeris begitu?" Andrian khawatir melihat keadaan istrinya.


Indah menggeleng, belum siap menceritakan mimpi yang begitu mengerikan baginya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2