
"Denish.. balikin cincinnya!!" seru Olivia. Mengejar anak laki-laki kecil berusia tiga tahun yang sialnya adalah keponakannya sendiri.
Cincin yang baru semalam Tama sematkan di jadi manisnya, sebagai lambang pria itu serius dengan hubungan mereka. Dan berniat akan melamar secara resmi Olivia.
Indah yang sedari tadi ngeri melihat rival yang kini menjadi adik yang ia sayangi itu senyum-senyum sendiri memainkan cincin di jarinya. Kini tertawa melihat Olivia mengejar putranya yang kini tumbuh semakin besar.
Masih jelas terbayang di ingatan Indah, bagaimana rasa sakit saat melahirkan anak yang ia dan suaminya berinama Denish Gilang Dawson. Bagaimana rasa ingin menyerah saat rasa sakit menyerang dan si kecil Denish tidak jua lahir.
Ingat dengan jelas, bagaimana Andrian khawatir dan berulang kali membisikan kata cinta dan semangat untuknya.
"Kamu kuat sayang.. Kamu bisa.. anak kita pasti akan bangga lahir dari ibu seperti kamu.." ucap Andrian dengan mendaratkan ciuman di dahinya lama, menggenggam tangannya erat.
Andrian tidak protes saat Indah memaki. Tidak protes saat Indah menjambak, menggigit atau memukul Andrian sebagai pelampiasan rasa sakit yang tidak dapat perempuan itu tahan.
Andrian setia menemaninya. Membisikan doa di telinganya di antara kata cinta yang pria itu ucapkan.
Indah juga masih ingat bagaimana jantungnya berdebar dengan rasa yang berbeda saat pertama kali mendengar tangis anaknya. Betapa lega saat mengetahui anaknya terlahir dalam kondisi sehat.
Indah juga ingat wajah suaminya yang berurai air mata dengan bahagia. Ada binar bahagia pada mata suaminya yang tidak bisa Indah gambarkan. Tak lupa mengucapkan banyak terimakasih atas perjuangannya. Bagaimana wajah bahagia keluarganya saat melihat dirinya dan sang baby di ruang pemulihan.
Indah masih ingat dengan jelas itu semua. Akan ia bingkai moment paling indah dalam hidupnya itu dalam memori yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
"Dasar anak Indah!! sama-sama ngeselinnya." suara Olivia menarik Indah dari lamunannya.
"Jelas. Yang menggemaskan gitu emang cuma anak aku." sahut Indah. Terkekeh saat putra kecilnya tertawa menahan geli dari gelitikan Olivia pada perutnya.
"Aunty aneh. Tenyum-tenyum tendili hahaha."
"Awas ya! nanti gak aunty beliin mainan lagi." Olivia pura-pura merajuk. Bagaimana dia bisa marah pada anak semenggemaskan Denish ini.
Anak kecil yang terlampau cerdas sekaligus mengesalkan. Perpaduan yang tepat antara Andrian dan Indah. Tak perlu di ragukan lagi kalau bocah kecil itu adalah anak mereka. Karena semua orang-pun tahu hanya dengan melihat. Betapa miripnya wajah Denish dengan Andrian. Dan betapa ceria dan menyebalkan kata-kata Denish sama seperti Indah.
"Aunty dangan malaaah. Nanti tantiknya ilang lhooo." Denish memgembalikan cincin yang dia ambil dari saku celana pendeknya. Memasangkannya lagi di jari manis Olivia. "Kata mama. Kalo malah nanti tepet tua. Kalo tua, lambutnya jadi putih temua. Telus mukanya jadi keliput-keliput. Nanti autny jadi jelek kaya nenek sihil."
Indah mengulum senyumnya agar tidak meledak menjadi tawa.
Olivia yang berharap di rayu, malah mengerucutkan bibirnya. Cemberut di kata seperti nenek sihir.
"Kamu tuh suka belajar ngomong dari siapa sih, ngeselin banget?" mencubit gemas kedua pipi tembem keponakannya.
"Dali mama Indah yang tantik." Denish sampai menusuk kedua pipinya dengan jarinya sendiri dan memiringkan kepalanya. Memperagakan apa yang sering mama-nya lakukan.
__ADS_1
Indah dengan bangga mengacungkan kedua ibu jarinya. "Good boy.."
Denish juga mengacungkan satu ibu jarinya dan mengedipkan salah satu matanya sembari tersenyum.
"Kenapa kamu gak lahirnya nanti aja sih, pas aunty yang hamil? kenapa harus jadi anaknya Indah?" tiada hari yang membosankan jika ada Denish di tempat itu. Dan Olivia termasuk orang yang akan menyambut kedatangan bocah kecil menggemaskan itu dengan bahagia tiap kali Indah dan Andrian membawa Denish untuk menginap di kediaman Dawson.
"Kalena Tuhan titip aku uwat mama sama papa. Ukan uwat aunty."
Olivia memeluk Denish gemas dan ingin memilikinya seorang diri.
***
Indah bingung saat di jemput sopir suaminya dan membawanya ke suatu hotel berbintang. Tanpa penjelasan apa pun, dan menitipkan Denish pada keluarga suaminya.
Saat tiba di hotel, Andrian sudah menyambut Indah di lobi dan mengajaknya memasuki pintu lift.
"Kita mau kemana sih kak?" tanya Indah bingung. Apa lagi melihat tampilan mereka yang malam ini terlihat formal.
"Nanti kamu bakal tau." Andrian kembali menggandeng tangan Indah dan menuntunya menuju rooftop.
Indah terkesiap. Di depan sudah di hias dengan sangat cantik dan romantis. Di payungi Lampu-lampu tumbler dengan tali-tali yang menggantung foto-foto perjalanan pernikahan mereka dari awal menikah hingga foto terakhir saat ulang tahun Denish bulan lalu.
Di tengah ada empat pilar yang di lilit kain putih untuk membingkai meja bulat dan dua kursi putih dengan lilin di atas meja.
"I-ini a-apa kak?" tanya Indah dengan suara bergetar manahan tangisnya.
Andrian membimbing Indah untuk duduk dan memberikan kode dan langsung terdengar alunan lembut musik yang berasal dari permainan biola di sudut.
Pria itu mengambil bunga yang ia simpan di balik jasnya.
Setelah berdeham. Andrian mulai mengungkapkan tujuannya membawa Indah datang ke tempat itu. "Mungkin aku bukan pria yang mudah menyampaikan isi hati. Aku juga tak pandai merangkai kata. Bukan pria romantis yang bisa membuat hatimu berbunga-bunga."
Kembali melanjutkan ketika Indah sudah menerima bunga pemberiannya. Menggenggam tangan kiri Indah dan mengusap dengan ibu jarinya.
"Tapi percayalah, jika aku bilang aku mencintaimu. Cinta ini tidak akan pernah pudar meski hari kian mengikis waktu yang kita miliki untuk bersama.
Trimakasih sudah menemaniku selama empat tahun ini. Menghadirkan putra yang sangat lucu dan pintar untukku. Untuk keluargaku. Terimakasih tetap mau berdiri di sampingku meski telah aku torehkan luka untukmu."
Indah menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Baru menyadari jika hari ini tepat empat tahun yang lalu mereka resmi sebagai suami istri.
"Untuk pernikahan sempurna yang kamu ciptakan, aku hanya bisa membalasnya dengan berusaha menjadi terbaik untuk kalian. Untukmu dan untuk anak kita.
__ADS_1
Aku berjanji akan terus membahagiakan kalian apa pun yang terjadi. Kalian adalah prioritasku dalam hidup. Kebahagiaan kalian di atas segalanya."
Indah tidak lagi bisa menatap suaminya dengan jelas. Pandangannya kabur tertutup oleh cairan bening yang hanya sekali kedip saja akan terjatuh.
"Jadi sayang. Mamany Denish, happy Anniversary yang ke 4. Maaf kalau aku belum bisa menghadirkan pernikahan seperti yang kamu impikan. Tapi aku akan berusaha keras untuk mewujudkannya. Karena kamu lah alasanku untuk tetap bernafas."
Indah berdiri, melangkah dan duduk di atas pangkuan suaminya. Tidak tahu akan menjawab apa. Indah lalu menyatukan bibir mereka di antara air mata yang tak berhenti untuk mengalir. Air mata kebahagiaan yang suaminya berikan malam ini.
Andrian yang belum siap merasa kaget saat mendapat serangan dari istrinya. Tapi tak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu langsung membalas ciuman istrinya dan memperdalamnya.
"Makasih kak." ucap Indah setelah ciuman mereka terlepas. Masih dengan napas yang terputus-putus.
Membelai pipi suaminya yang membingkai senyuman di wajah tampannya. Indah kembali berucap. "Sekarang aku siap,"
Andrian mengangkat sebelah alisnya saat Indah tak kunjung menyelesaikan kalimatnya.
"Aku siap memberi Danish adik seperti yang kakak minta."
Andrian langsung bersorak. Melupakan makan malam yang sudah ia siapkan. Menyambut hadiah istimewa yang istrinya berikan.
Mengangkat istrinya yang ia pangku ke dalam gendongan ala bridal style. Andrian mambawa Indah ke kamar yang sudah ia pesan untuk mereka menginap malam ini.
Kali ini Andrian akan berusaha membuat Indah junior. Untuk melengkapi Andrian junior.
...- END -...
Yah aku di tinggalin mama papa cendili ๐cemangat bikin adeknya mama papah ๐
*
*
*
Terimakasih untuk yang sudah menemani perjalanan kisah Indah dan Andrian selama ini. Terimaksih untuk like dan komen serta vote yang selalu bikin aku bahagia. Padahal karyaku ini masih berantakan dan belum pantas di sebut sebuah karya.
Tapi apa pun itu, aku menyayangi karya-karyaku. Dan tanpa kalian yang setia menantikan Indah dan Andrian. Aku buka apa-apa. Meskipun sekarang pun masih bukan apa-apa sih ๐
Tapi sekali lagi terimakasih untuk kalian semua. Aku sayang kalian ๐ค
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu di tengah wabah yang belum kunjung menghilang ini. Semoga kita semua di beri kesehatan dan kesabaran untuk melewati ini semua.