My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Butuh Cinta Bukan Hanya Status


__ADS_3

"Indah tunggu!" Andrian berusaha mengejar Indah. Tapi gadis itu malah berlari.


"Indah gak mau. Indah gak mauuuuu!!" Indah berlari menuju ruang keluarga sambil berteriak.


"Lho. Kenapa ini baru pulang teriak - teriak." tegur mami Riana.


"Itu mih. Kakak masa maksa Indah buat nikah sama dia bulan depan!! Kesambet, Indah rasa anak mami tuh!!" seru Indah sembari memeluk mami mertuanya dan menatap tajam Andrian yang sedang mendekat kearah mereka.


"Memang kenapa kamu gak mau nikah sama Rian, sayang?" tanya mami Riana yang mengajak Indah untuk duduk disofa ruang keluarga.


"Ya gak mau aja! Indah gak mau mih hidup sama laki-laki yang mencintai wanita lain!"


"Tapi Indah. Siapa tau dengan kalian menikah dan tinggal bersama bisa mebuat Rian jadi bisa melupakan wanita itu. Mereka hanya terbiasa bersama disaat Rian kesepian! Dan kamu bisa lakuin hal yang sama! Dengan kamu setiap hari ada didekat dia, mami yakin cinta itu akan tumbuh dihati Rian." Mami Riana menggengam kedua tangan Indah. Sedangkan Andrian sudah menghilang dibalik pintu dapur mengambil air minum.


"Mami terlalu yakin!! Indah udah berapa lama sih kerja sama kakak, tiap hari kita ketemu sembilan jam bahkan lebih selama berbulan-bulan. Tapi nyatanya kakak masih belum bisa buka hatinya buat aku!! Bahkan tadi kita main ke panti asuhan, dan Indah yakin kakak kesana karena kangen sama kak Olivia."


"Saya kesana karena terbiasa. Dan mereka akan sedih jika saya terlalu lama tidak datang!!" ralat Andrian yang baru datang dengan segelas air putih di tangannya.


"Jadi kalian habis dari panti asuhan?" pertanyaan mami mertuanya dijawab anggukan oleh Indah.


"Bener kamu kesana karena merindukan Olivia, Rian?"


"Enggak mih. Awalnya memang Rian main kepanti hanya jika Rian merindukan Olivia. Tapi lama kelamaan karena kebiasaan saja. Dan Rian nyaman dengan anak-anak disana. Jika Rian kesana tidak ada lagi bayang-bayang Olivia. Itu murni karena kepedulian Rian terhadap mereka mih." Mami Riana mengangguk mengerti.


"Dan kamu tidak suka main disana sayang?"


"Suka mih. Indah suka punya banyak adik. Mami tau sendiri aku anak tunggal. Dan aku juga seneng bisa liat kakak tertawa lepas." Indah menunduk saat mengatakan kalimat terakhirnya. Membuat Andrian menarik bibirnya, mengulas senyum tipis diwajahnya.

__ADS_1


Kemudian Indah menceritakan semua kegiatannya dengan Andrian di panti. Tentang anak-anak dan ibu panti yang menyambutnya dengan baik. Tentang Andrian yang bermain dengan anak laki-laki dan dia dengan anak perempuan.


"Mami ikut senang jika kalian bersenang-senang hari ini." menyelipkan rambut menantunya dibalik telinga.


"Oh iya sayang. Papi dapat undangan pernikahan dari rekan bisnisnya. Katanya yang menikah saudara dengan teman kamu?" setelah drama rumah tangga Shevi berakhir, akhirnya tinggal Lidia yang akan melangsungkaan pernikahannya.


"Iya mih. Yang cowok namanya kak Ricky, dia anaknya sepupu ayah. Yang cewek Lidia, sahabat aku dari SMA."


"Kamu punya banyak sahabat?" Mami Riana mulai penasaran bagaimana lingkup sosial calon menantunya.


"Gak banyak sih mih. Cuma 4, tapi kami berteman sejak SMA jadi kami deket banget udah kaya saudaraan."


"Mereka semua sudah pada menikah?"


"Yang nikah baru Shevi, tau kan mih yang nikah sama anak tunggalnya Om Dion Mahesa!!"


"Kamu gak pingin seperti mereka yang menikah? Pasti mereka bahagia kan?"


"Indah tau mami pasti lebih paham pernikahan gak akan selamanya bahagia. Tapi Indah seneng sih mereka sekarang bahagia." Indah ingat betapa rumitnya hubungan Shevi.


"Dan Indah gak mau ngalamin rumitnya rumah tangga. Biarin aja kakak menata hatinya dulu. Indah mau kok buat menunggu. Selama Indah belum menemukan orang lain yang Indah rasa lebih cocok dari kakak, Indah akan selalu menunggu hati kakak terbuka buat Indah. Tapi jika hati kakak belum bisa juga terbuka dan Indah menemukan oran lain, indah menyerah sampai disitu mih."


"Gak boleh! Kamu gak boleh suka sama orang lain!!" Mami Riana dan Indah terlonjak kaget mendengar seruan Andrian yang tiba-tiba.


"Kamu tuh kenapa sih Rian? ngagetin aja!" seru Mami Riana sembari mengusap dadanya yang kaget.


Andrian menjadi salah tingkah. Dia juga tidak mengerti kenapa kata - kata itu meluncur begitu saja tanpa bisa dicegah. "Ya.. ya kalau kamu beneran serius mau menunggu saya, kamu tidak boleh menyukai pria lain!" Indah menatapnya dengan meninggikan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalo aku suka sama orang lain?! Kan kakak gak cinta sama aku. Harusnya kakak bersyukur dong. Dengan begitu kakak jadi bebas dari perjodohan ini dan bisa melanjutkan cinta kakak sama kak Olive."


"Kalau saya bilang tidak boleh ya tidak boeh! Kan saya sudah bilang akan menikahi kamu! Saya sudah mengajak kamu untuk menikah bulan depan malah kalau kamu kurang yakin dengan keseriusan saya!!"


"Kak. Serius memang penting untuk sebuah rumah tangga. Tapi didalamnya juga butuh kasih sayang dan cinta!!" tatapan Indah serius kearah Andrian.


"Dan kalau kakak gak bisa menyayangi dan mencintai aku, buat apa kita menikah? Cuma buat pelampiasan ***** kakak aja? atau buat ladang penghasil anak, biar kakak gak terus-terusan dirongrong mami buat ngasih dia cucu??!! " Emosi Indah terpancing oleh kata-katanya sendiri. Indah tidak mengerti kenapa Andrian sangat ingin menikah dengannya, sedangkan pria itu sama sekali tidak memiliki rasa untuk dirinya.


"Ma-mana ada seperti itu. Saya ingin membangun keluarga yang sesungguhnya dengan kamu!!" deru Andrian yakin.


"Huh. Keluarga seperti apa yang kakak maksud??!! Sekarang aku tanya, kakak masih cinta kan sama kak Olive?" Andrian diam cukup lama, bingung harus menjawab apa. Dia memang masih menyimpan rasa yang besar untuk Olivia. Tapi seperti kata mami Riana, Olivia belum tentu akan bangun. Dan ia ingin memiliki keluarga dengan banyak anak untuk meramaikan rumahnya. Dan pilihan yang ada dihadapannya yang juga bisa membuat kedua orang tuanya bahagia adalah dengan menikahi Indah.


"Sudahlah, gak perlu kakak jawab juga aku tau jawabannya. Jadi sudah jelaskan kenapa aku gak mau nikah sama kakak." Mami Riana menghela nafas. Dari tadi dia memperhatikan kedua anak yang sama-sama ia sayangi bertengkar.


"Sudah. sudah. kenapa jadi ribut begini. Tadi katanya habis senang-senang bareng. Kenapa sekarang malah bertengkar!" Indah maupun Andrian tidak ada yang menjawab. Mereka sama-sama membuang muka satu sama lain.


"Rian. Biarkan Indah memikirkan lamaran kamu."


"Lamaran model apa begitu!" gerutu Indah pelan.


"Dan kamu juga harus mencoba melupakan Olivia. Mau sampai kapan kamu seperti ini. Kalau kamu serius dengan ajakan kamu menikahi Indah. Tunjukan ketulusan perasaan kamu, tunjukan kalau kamu juga mempunyai rasa untuk Indah!! Wanita itu mementingkan perasaan bukan hanya setatus!!" Andrian menghembuskan nafasnya kasar dan mengangguk kemudian pergi menuju kamarnya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2