My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Meraih Andrian-nya Kembali


__ADS_3

Entah harus sampai kapan Andrian bertahan dalam posisi seperti ini. Satu sisi dia tidak tega melihat Olivia yang ketakutan, tapi di sisi lain ia tidak mau menyakiti hati istrinya lebih. Meskipun tidak pernah mengatakannya, tapi Andrian tahu jika jauh di lubuk hati Indah, wanita itu terluka. Dia tidak ingin sesuatu hal yang buruk menimpa istri dan calon anaknya.


Setelah menemani Olivia hingga tertidur, Andrian bangun dari duduknya di tepi tempat tidur wanita yang pernah mengisi hari dan hatinya. Melangkah dengan lunglai ke kamar istrinya, tidak melalui ruang kerja.


Andrian tersenyum melihat istrinya yang sedang duduk di tempat tidur, memainkan ponselnya. Saat akan mendekat, langkahnya terhenti dengan gerakan tangan istrinya.


"Mandi dulu! aku gak mau bekas pelukan wanita lain nyentuh aku!" ucap Indah dengan galak.


Dengan wajah menunduk Andrian melangkah menuju kamar mandi, membersihkan diri dari bekas pelukannya kepada Olivia.


"Enak aja abis peluk-pelukan sama cewek lain, tinggal mau meluk gue." gerutu Indah setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi.


Tak lama kemudian, Andrian keluar dari ruang ganti sudah dengan piama tidurnya, tercium aroma parfum khas suaminya hingga ke penciuman Indah.


Mendekat kepada istri yang masih fokus pada ponselnya. merebahkan dirinya pada pangkuan sang istri. Mencium calon anak mereka berkali-kali.


"Kak Olivie udah tidur?" tanya Indah setelah meletakan ponselnya di atas nakas, yang hanya di jawab dehaman oleh suaminya.


"Aku tinggal di rumah ayah aja ya kak? atau di rumah mami gak papa deh." tanya Indah dengan membelai rambut suaminya yang masih sedikit basah.


Andrian langsung melayangkan tatapan tajamnya kepada Indah.


"Aku kasih kesempatan buat kalian sampai kak Olive sembuh. Lama-lama psikis aku yang terganggu ternyata." senyum Indah dengan dengusan miris.


Andrian menghela napas dan duduk di sebelah istrinya. Membawa kepala Indah untuk bersandar di dadanya.


"Pleaseee.. Sabar sebentar lagi aja! aku akan ceritakan yang sesungguhnya kepada Olivia tentang kita. Tunggu kepastian dari dokternya kalau dia udah siap nerima kabar ini."

__ADS_1


Indah bisa mendengar nada sedih dalam suara suaminya, nada permohonan untuk Indah tetap bertahan.


"Tapi ternyata hatiku gak sekuat itu kak! ternyata aku lemah! aku takut berimbas sama anak kita."


"Anak kita kenapa? dia baik-baik aja kan?" tanya Andrian khawatir dan langsung mengusap lembut perut Indah.


"Dia baik-baik aja! dan semoga akan baik-baik aja sampai dia lahir nanti."


"Ya. Anak kita kuat. Dia akan baik-baik aja. Tidurlah!"


Andrian mengajak istrinya berbaring, masih dalam pelukannya. Hingga keduanya sama-sama terlelap dengan membawa kegundahan di hati mereka.


***


Tengah malam, Olivia bangun dan tidak mendapati Andrian menungguinya. Hatinya merasa sakit saat menyadari Andrian kini bukanlah Andrian-nya yang dulu. Lelaki itu telah berubah dalam sekejap matanya. Atau dirinya yang terlalu lama melewatkan semua perubahan itu.


Andrian tidak lagi menatapnya dengan tatapan yang sama seperti tujuh tahun lalu. Tatapan lembut penuh cinta, kini tatapan yang ia rasakan dari mata biru Andrian hanyalah tatapan iba dan peduli.


Olivia akan memastikan sekali lagi. Setelahnya ia akan berusaha membawa Andrian-nya yang dulu kembali.


Olivia keluar dari kamar menuju pintu ruangan di sebelah kamarnya, ruangan yang katanya di tempati Andrian untuk beristirahat. Mengetuk beberapa kali hingga akhirnya muncul orang yang ia cari, masih dengan wajah ngantuk dan suara beratnya.


"Kenapa Liv. Ini masih tengah malam, tidurlah lagi!" ucap Andrian dengan menutup mulutnya yang menguap lebar.


"Aku sudah tidak bisa tidur. Temenin aku ya? di ruang tivi aja gak papa, gak usah di kamar."


Andrian mengangguk dan mengikuti Olivia menuju sofa depan televisi masih dengan muka mengantuk.

__ADS_1


Setelah menyalakan televisi, Olivia duduk di sebelah Andrian. Menyandarkan kepalanya pada lengan kokoh yang dulu selalu jadi sandarannya.


Hanya suara televisi yang mengisi keheningan di antara mereka. Berkali-kali Andrian menguap menahan kantuknya. Kerjaan di kantor sudah sangat membuatnya lelah. Sampai di rumah masih harus ada drama yang semakin membuat pikirannya kacau.


"Andrian.. Kamu sudah lulus kuliah lama kan ya? mengingat aku koma saja sudah tujuh tahun." suara Olivia membuat Andrian sekuat mungkin tidak memejamkan matanya, membalas ucapan wanita yang masih bersandar dengan dehaman, dan kata-kata Olivia selanjutnya langsung membuatnya terjaga dan membulatkan matanya.


"Berarti kita sudah boleh menikah kan? papi kamu bukankah sudah berjanji, setelah kamu lulus S2 beliau akan mengijinkan kita untuk menikah?" hilang sudah rasa kantuk di mata Andrian.


"Masih banyak yang harus aku urus Olive. Sekarang bukan hanya kuliah, tapi perusahaan masih banyak yang harus aku tangani. Aku masih belum ada waktu untuk memikirkan pernikahan." jawab Andrian dengan selembut mungkin, tidak ingin wanita itu histeris lagi.


"Tapi kapan? kapan kita akan menikah? bukankah dulu kamu yang paling antusias dengan pernikahan kita? apakah sudah ada wanita lain yang kamu cintai, sehingga kamu tidak mau menikahiku?" serentetan pertanyaan terlontar dari bibir Olivia dengan suara yang mulai bergetar dan pandangan yang mulai kabur tertutup air mata yang siap jatuh.


"Bu-bukan seperti itu." Andrian bingung harus menjelaskan sekarang atau tidak. Tapi melihat Olivia yang histeris tadi, membuatnya mengulur waktu lagi, menunggu waktu yang lebih tepat.


"Lalu kenapa kamu tidak mau menikah denganku? apa karena aku tidak bisa menjaga kesucianku? itu bukan salahku kan Andrian? itu musibah!" seru Olivia dengan nada suara yang sedikit meninggi.


"Aku tau itu musibah, dan aku tidak mempermasalahkan itu!" ya. Dulu Andrian tidak pernah mempermasalahkan meskipun Olivia sudah tidak suci lagi, meskipun wanitanya itu pernah hamil dari musibah yang pernah dialaminya. Dulu, apa pun yang sudah menimpa Olivia, Andrian tetap menerima dan mencintai wanita itu. Tetap memperjuangkannya di hadapan kedua orangtuanya. Hingga Indah hadir dan menggantikan posisi itu.


"Lalu kenapa Andrian?" Andrian hanya diam, tidak bisa menjawab.


Andrian mengerutkan kedua alisnya saat Olivia berdiri dan memunggunginya. Terkejut saat wanita itu melepaskan bajunya satu persatu dan menjatuhkan begitu saja di dekat kakinya. Matanya melebar tak percaya dengan apa yang Olivia lakukan. Berkali-kali Andrian memandang pintu kamar istrinya, takut wanita hamil itu bangun dan melihat ini semua.


"Olivia! apa yang kamu lakukan! cepat pakai lagi baju-bajumu!" seru Andrian pada wanita yang masih memunggunginya dan sedang mencoba melepaskan pakaian dalamnya yanag tersisa.


Andrian menarik rambutnya frustasi. Harus bagaiman dia menghadapi wanita yang satu ini. Berkata terus terang pasti akan semakin memperburuk depresinya. Tapi jika di biarkan saja, semakin lama Olivia mulai melewati batas.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2