My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Tengah Malam


__ADS_3

Andrian menatap kosong ranjang di sebelahnya, tempat dimana istrinya selalu berada di setiap tidurnya. Berceloteh tiada henti, bercanda dan saling menggoda. Pelukan hangat yang setiap malam ia rasakan, kini hanya rasa dingin yang menyapu tubunya. Menegaskan jika wanita yang selalu menemani setiap malamnya, tiada di samping dirinya.


Rindu memang hanya tentang jarak, karena jarak yang terasa jauh dan membuatnya tak bisa melihat wajah cantik istrinya. Tapi sejauh apa pun jarak, tidak akan merubah perasaan cinta di hati Andrian. Sejauh apa pun jarak membentang, Indah selalu terasa dekat di hatinya.


Mencoba mengusir rindu dengan tidur, Andrian melewatkan makan malam hanya untuk bisa segera berlabuh di alam mimpi dan tidak semakin tersiksa dengan rasa rindunya terhadap sang istri.


Hingga tengah malam, ia terganggu dengan dering ponselnya yang berbunyi berulang kali. Niatnya ingin mengacuhkan panggilan itu, tapi ketika orang yang menghubunginya terlalu keras kepala tidak menyerah, dan takut ada hal penting juga, akhirnya Andrian mengangkat panggilan itu.


"Kenapa Liv?" tanya Andrian dengan suara beratnya khas bangun tidur.


"Kalian tidak pulang malam ini?" tanya Olivia di seberang sana.


"Maaf Liv, mungkin untuk beberapa hari ini aku dan Indah akan menginap di tempat orang tua kami." jawab Andrian yang sudah sepenuhnya bangun dari mimpinya.


"Kenapa kalian tega ninggalin aku! kalian tau kan, jika aku takut sendirian seperti ini?" suara Olivia seperti menahan tangis.


"Maaf aku lupa. Sekarang tidurlah dulu. Besok aku suruh bi Yani buat tinggal di situ nemenin kamu."


"Lalu bagaimana dengan malam ini? tidak bisakah malam ini kau menemaniku Andrian." pinta Olivia dengan suara yang sudah hampir pecah tangisannya.


"Aku gak bisa tidur di situ tanpa Indah,"


"Kenapa tidak bisa? asal kita tidak melakukan hal yang macam-macam, aku rasa tidak masalah." sahut Olivia saat Andrian akan melakukan penolakan. "Ayolah Andrian.. Malam ini saja." imbuhnya dengan rengekan manja.


Andrian menghela napas dan mengacak rambutnya kasar.


"Ya sudah, aku ke situ sekarang." putus Andrian langsung mematikan ponselnya, membuat Olivia di seberang sana tersenyum bahagia.


Andrian tidak mengganti piamanya, dia hanya menambah jaket dan keluar kamar. Rumah sudah sepi dan gelap, hanya beberapa lampu di sudut ruangan yang menyala redup.

__ADS_1


Menuruni tangga dengan malas. Inginnya menemui Indah, tapi kenapa malah Olivia yang bisa ia temui malam ini. Dia akan menyusun kata dan menunggu waktu yang tepat untuk meminta pengertian dari Olivia. Mudah-mudahan hati Olivia masih seperti tujuh tahun lalu, gadis baik yang selalu ia kagumi.


Saat melewati ruang keluarga, Andrian di kagetkan dengan suara dari arah dapur.


"Mau kemana kamu tengah malam begini?" tanya mami Riana yang membawa gelas berisi air minum di tangan kanannya.


"Mmm.. itu mih," entah kenapa Andrian merasa gugup, seperti ketahuan istri akan menemui selingkuhannya tengah malam begini. "Olivia gak berani di apartemen sendirian, dia minta aku ke sana." imbuhnya setelah menarik napas dan menghilangkan kegugupannya.


"Besok, kirim bi Yani untuk tinggal di sana! jangan semakin memperumit keadaan. Bisa-bisa Indah salah paham dan tidak mau bertemu kamu lagi."


"Iya mih."


***


Di lain tempat, Indah sedang gelisah tidak bisa tertidur. Padahal jam sudah menunjukan tengah malam, tapi matanya sama sekali tidak bisa terpejam.


Air mata mengalir di pipinya, Indah yang kuat kini berubah lemah semenjak kehamilannya. Baru sehari tidak bertemu suaminya, tapi rasa rindu terasa sangat menyesakkan.


"Laper lagi.." keluhnya, menghapus air mata dan beranjak turun dari tempat tidur.


Menuju dapur, mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya tengah malam seperti ini.


"Lagi apa sayang?" tanya sang bunda yang melihat putrinya sedang sibuk mencari sesuatu di lemari es. Hingga yang di tanya kaget, kepalanya terpentok saat akan bangun.


Bunda Anita malah tertawa melihat anaknya kesakitan, mendekat dan mengusap dahi Indah yang sedikit benjol.


"Kamu tuh ngapain sih tengah malam gelap-gelapan, lampu dapur gak di nyalain, kaya maling aja."


Indah masih sibuk mengusap dahinya dengan mulut yang mengerucut. "Laper bundaaa.."

__ADS_1


Bunda Anita menghela napasnya. Harusnya ketika Indah merasa lapar dan menginginkan sesuatu tengah malam seperti ini, Andrian ada di sampingnya dan menuruti semua yang anak dan istrinya inginkan. Sama seperti ayah Gilang yang selalu menemani saat dirinya mengandung Indah dulu.


"Kamu ingin makan apa? biar bunda buatkan." tanya bunda Anita dengan hati yang teriris, ketika anaknya tidak bisa merasakan seperti apa indahnya ia saat hamil dulu.


"Apa aja bun." jawab Indah dengan menunduk. "Sebenarnya Indah pengen makan masakan kakak, tapi gak mungkin bisa kan bun?" imbuhnya dengan raut wajah sendu.


Bunda Anita menghela napas lagi. Tidak bisa menyalahkan suaminya juga, karena bunda Anita tahu seberapa berharganya Indah bagi pria paruh baya itu.


"Bunda masakin omelet mau?" tawar bunda Anita, di jawab anggukan oleh Indah.


"Ya udah, kamu duduk dulu aja sana! Nanti capet berdiri terus."


Indah tersenyum dan memeluk sang bunda. "Makasih bunda.." mencium pipi bunda Anita dan berlalu duduk di ruang keluarga, menyalakan televisi agar tidak bosan.


Bunda Anita dengan cekatan membuat omelet dengan isian daging cincang dan sayuran.


berkali-kali menghela napas, merasa sedih dengan nasib putri semata wayangnya. Jika bukan karena dia dan suaminya yang menjodohkan mereka, anaknya tidak akan merasakan sakit seperti ini. Sakit karena melihat wanita yang di cintai suaminya ada didepan mata. Sakit karena dipisahkan dari suaminya dalam kondisi hamil muda. Sungguh malang sekali nasib putrinya itu.


Sebagai seorang ibu, dia hanya berdoa dan berharap semoga rasa sakit yang kini anaknya rasakan bisa cepat berlalu. Bisa tergantikan dengan kebahagiaan di kemudian hari. Meskipun sekarang ia masih bisa melihat senyum dan tawa di wajah Indah, tapi bunda Anita tahu, di balik senyum dan tawa itu ada luka yang coba di sembunyikan anaknya.


Menyajikan omelet pada piring dan membawanya kepada Indah. Bunda Anita tersenyum saat melihat binar di mata anaknya.


"Kasian cucu oma laper malem-malem." usap lembut di permukaan perut Indah yang masih rata. Tidak menyadari kalimatnya membuat anaknya bersedih, mengingat yang seharusnya ada saat ini bukan bunda, melainkan Andrian.


Indah segera menepis rasa sedihnya, perutnya terlalu lapar untuk bermenye-menye. Wanita hamil itu memakan dengan lahap makanan yang tersaji untuknya. Hingga tidak menyadari bunda Anita mengambil gambarnya dengan kamera ponsel dan mengirimkannya kepada Andrian.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2