
Sebelum makan siang, Indah kedatangan tamu. Olivia yang memang sedang berada di ruang televisi yang membukakan pintu untuk kedua tamu Indah itu. Tamu yang terlihat kaget saat Olivia memperkenalkan diri.
"Saya panggilkan Indah sebentar." pamit Olivia.
Setelah kepergian Olivia dua orang tersebut saling pandang dengan raut cemas. Apa kah kondisi Indah baik-baik saja dengan kedatangan Olivia. Ketegangan mereka di pecahkan oleh suara Indah.
"Ayaaahhh.. Bundaaa..!" seru Indah berlari dari kamar saat melihat ayah dan bundanya yang berkunjung. Membuat kedua orang tua itu khawatir melihat Indah berlari seperti itu.
"Kamu tuh! lagi hamil jangan lari-lari begitu. Bahaya buat anak kamu!" seru bunda Anita saat Indah sudah duduk di antara mereka berdua, tak lupa juga pelukan untuk putri semata wayangnya itu.
"Aku kan kangen sama kalian. Jadi aku seneng banget kalian datang." Indah bermanja-manja dengan bersandar pada bahu ayah Gilang.
"Kenapa datang gak bilang-bilang?" tanya Indah sembari melihat apa saja yang di bawakan oleh kedua orang tuanya.
"Kalau kami datangnya bilang dulu, mungkin kamu akan tetap menutupi semua ini sendirian." jawaban ayah Gilang membuat Indah mengernyitkan dahinya. Dan ayah Gilang menunjuk Olivia yang sedang membawakan minuman dengan dagunya.
Indah yang baru menyadari satu hal yang ia lupakan, langsung tersentak, terlihat gugup dan bingung untuk menjelaskan. Olivia yang tau situasi langsung memasuki kamar yang ia tempati.
"Sejak kapan wanita itu sadar dan tinggal di sini?" tanya ayah Gilang yang mulai terlihat marah.
"Dia itu depresi ayah! di masih syok tentang musibah yang menimpanya, yang membuat dia koma." Indah berusaha menjelaskan terlebih dahulu kenapa Olivia berada di rumahnya dan Andrian.
"Yang ayah tanya, sejak kapan wanita itu ada di sini? dan siapa yang membawanya?" meskipun ayah Gilang sangat yakin jika menantunya yang membawa Olivia, tapi ia ingin mendengar langsung dari mulut putrinya.
"Se-sejak pertama kali kita tau Indah sedang hamil. Kak Rian jemput ke Amerika dua minggu sepulangnya Indah dari rumah sakit." cicit Indah takut. Membuat kedua orang tua itu membulatkan matanya. Ayah mengeratkan giginya merasa geram terhadap menantunya.
Selama itu, Olivia tinggal di rumah anaknya dan mereka baru tahu sekarang. Bahkan menantu yang berjanji untuk tidak melukai anaknya saja tidak bilang apa pun kepada mereka. Tidak bilang jika wanita yang di cintai menantunya itu sudah kembali.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bilang sayang? kamu sedang hamil, kamu butuh lingkungan yang bagus yang mendukung dan menyayangi kamu! jangan hidup di tengah tekanan seperti ini!" bunda Anita langsung memeluk tubuh anaknya, sudah berapa banyak tangis kesedihan dan luka yang putrinya itu rasakan.
"Indah baik-baik aja bunda," mencoba menenangkan bunda Anita yang sudah meneteskan air mata.
"Bagaimana bisa kamu baik-baik saja, jika di rumah yang kamu tinggali ada wanita dari masa lalu suamimu! wanita yang mungkin saja masih singgah di hati Andrian!" emosi bunda Anita mulai berkobar.
"Kami datang kesini ingin memberi kamu kejuta, karena kamu sudah lama tidak pernah datang ke rumah. Malah kami yang terkejut." ayah Gilang menghela napasnya berat. "Lebih baik kamu ikut ayah dan bunda pulang! kami lebih bisa membahagiakan kamu dari pada suamimu yang gak amanah itu!" imbuh ayah Gilang mengambil keputusan sepihak.
"Tapi ayah, Indah mau di sini sama kak Rian." rengek Indah kepada ayahnya dengan sorot mata sedih dan memohon.
"Jika dia laki-laki yang bertanggung jawab. Dia akan tahu bagaimana seharusnya dia bertindak!"
"Ayahmu benar sayang. Lebih baik kamu ikut kami pulang." bunda Anita mengusap lengan anaknya agar mau menuruti mereka.
"Tapi Indah harus ijin dulu ke kakak bun." syarat dari Indah mendapat anggukan dari sang bunda.
Indah menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Beberapa kali menghubungi suaminya dan tidak juga mendapat jawaban. Akhirnya Indah hanya mengirimkan pesan bahwa ayah dan bundanya datang berkunjung, dan mengajak Indah untuk menginap di kediaman Renjana.
***
Andrian mengendurkan lilitan dasinya setelah selesai meeting yang menguras emosi dan waktu, ada masalah di salah satu mall milik perusahaannya, yang mengakibatkan meeting berjalan dengan alot.
Menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di ruangannya. Meijit dahi yang terasa pening, hingga teringat saat meeting ia merasakan getar pada ponselnya.
Ada puluhan missed call dari istrinya, hingga pesan yang membuat ia membulatkan mata. Karena tanpa Indah menjelaskan pun Andrian tahu jika mertuanya bukan hanya mengajak istrinya menginap. Dia tahu jika mertuanya pasti membawa Indah karena melihat Olivia.
Andrian memanggil Sarah dan menyuruhnya membatalkan semua janjinya hari ini. Karena dia akan menyusul istrinya dan membawanya kembali pulang kerumah mereka.
__ADS_1
"Makanya punya istri satu aja, gak usah nambah nyimpen perempuan di rumah." cibir Sarah setelah atasannya pergi dengan tergesa-gesa.
Andrian berulang kali membunyikan klaksonnya saat kendaraan di depannya berjalan lambat. Padahal jam makan siang sudah berlalu, tapi tetap saja jalanan di depannya membuat ia emosi.
Di dalam kepalanya, Andrian sedang menyusun kalimat permintaan maaf yang akan langsung ia sampaikan kepada ayah mertuanya. Tapi sepanjang jalan, sepanjang itu pula ia hanya berpikir dan tidak juga mendapatkan alasan yang tepat kecuali kejadian yang sesungguhnya.
Ponselnya kembali bergetar. "Halo sayang, kamu dimana?" seru Andrian langsung tanpa melihat siapa yang menghubunginya dan tanpa salam sapaan.
"Andrian kamu dimana? aku sudah di kantor tapi katanya kamu keluar." Pria itu merasa kecewa. Ternyata yang menghubunginya Olivia bukan Indah, istrinya.
"Maaf Olive. Aku tidak bisa makan siang denganmu. Lebih baik kamu pulang saja. Biar nanti aku suruh Sarah menghibungi sopir kantor untuk mengantarmu pulang." jawab Andrian yang masih mengendarai mobil membelah jalanan ibu kota menuju rumah di mana istrinya berada.
"Apa kamu tak bisa meluangkan sedikit saja waktu untukku? apa kau tidak peduli lagi denganku?"
"Ku mohon mengertilah Olive. Aku yakin kamu pasti tau jika Indah di bawa pulang oleh orang tuanya."
"Bukankah itu bagus. Itu artinya wanita itu menyerah atas kamu, jika dia bukan perebut lelaki orang seharusnya dia melakukan hal itu dari awal kan?"
"Indah berarti untukku Olive. Dan dia tidak merebut siapa pun." Andrian langsung mematikan panggilan. Merasa geram istrinya di salahkan seperti itu.
Di seberang sana Olivia juga merasa geram dan menghentakkan kakinya. Andrian lebih memilih menyusul istrinya dari pada menemaninya untuk makan siang. Sebenarnya apa yang membuat Andrian dengan mudahnya berpaling kepada Indah yang baru beberapa bulan tunangannya itu kenal.
Apakah Indah semenarik itu, sehingga Andrian dengan mudah mencintainya. Bahkan dia saja dulu bertahun-tahun kenal dengan Andrian, baru pria itu mengajaknya berpacaran.
Sarah yang melihat Olivia marah, tertawa puas dalam hati.
*
__ADS_1
*
*