My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Panas Tapi Bukan Kompor


__ADS_3

Andrian membangunkan Indah saat pelayan dirumahnya mengetuk pintu kamar dan memberitahu Andrian jika makan malam sudah siap dan orang tuanya sudah menunggu.


Andrian sudah rapi dan wangi. Karena setelah menjelajah diwajah istrinya, dia langsung mandi untuk menurunkan rasa panas di tubuhnya yang membutuhkan penyaluran.


Indah menggeliat melihat kiri dan kanan, baru ingat jika sekarang dia tinggal di rumah mertuanya dan tidur dikamar sang suami.


Tidak menyadari sama sekali apa yang sudah suaminya lakukan selama ia tidur. Padahal ciuman Andrian sudah menjelajah sampai ke leher istrinya. Untung Andrian cepat tersadar, sehingga tidak menimbulkan tanda merah di leher Indah.


Dia hanya menikmati aroma istrinya yang begitu kuat dan wangi di daerah leher. Menikmati dan memagut pelan agar tidak meninggalkan bekas yang bisa membuat istrinya curiga dan pasti dia akan sangat malu karena ketahuan mencuri-curi kesempatan, bukan langsung memintanya kepada Indah.


Terlihat pengecut memang. Tidak pantas untuk pria berumur dua puluh tujuh tahun. Merasa malu dengan sikapnya yang seperti remaja labil. Tapi dia merasa lega saat Indah tidak curiga apapun.


Saat istrinya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, ia mengajaknya untuk makan malam pertama mereka di rumah ini sebagai sepasang suami istri.


***


"Kalian akan tetap tinggal disini kan?" tanya mami Riana di sela makan malam mereka.


Indah menatap Andrian, menunggu jawaban suaminya.


"Mungkin nanti kita bakal pindah ke apartemen mih. Tapi tidak dalam waktu dekat." jawaban Andrian sesuai seperti sebelumnya yang sudah ia sampaikan kepada sang istri.


"Lho memangnya kenapa? Indah gak betah disini." tanya ibu dua anak itu lagi.


Indah langsung mendongakkan kepalanya yang sedang menyuap makanan ke dalam mulutnya, menggeleng tegas sebagai sanggahan, jika bukan seperti itu.


"Mami ini seperti tidak pernah jadi pengantin baru saja. Mereka pasti butuh privasi mih." papi Alex menengahi agar istrinya tidak terlalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Meskipun sebenernya mereka juga sudah ikut campur dengan menjodohkan mereka.


Tapi mami Riana tidak percaya dengan ucapan suaminya. Dilihat dari Andrian yang masih mencintai Olivia, dan juga Indah yang tadinya tidak mau menikah dengan Andrian, jika anaknya itu belum mencintai Indah, sepertinya akan lama dia untuk mendapatkan seorang cucu.

__ADS_1


Mami Riana bertekad tidak akan melepaskan anak dan menantunya untuk meninggalkan rumah ini, sebelum dirinya mendapatkan kepastian proses cucunya sudah sedang berjalan.


***


Berkumpul bersama keluarga setelah seharian beraktifitas adalah hal yang menyenangkan. Waktu berharga untuk saling cerita tentang apa saja yang mereka lakakukan hari itu, bercerita tentang masalah yang mereka hadapi, untuk mencari solusi dan jalan keluar bersama.


Begitu juga yang di lakukan keluarga Dawson malam hari ini. Mereka berkumpul bersama di ruang keluarga, hal yang sudah lama tidak mereka lakukan lagi. Rumah itu sudah terlalu lama kehilangan kehangatannya semenjak Andrian, putra mereka satu-satunya yang bertahan di rumah itu lebih memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar selepas pulang bekerja.


Dan kehadiran Indah membawa kembali anak mereka untuk berkumpul dan bercerita bersama.


"Teman ngobrol datang!!" seru mami Riana yang membawa nampan berisi cemilan dan minuman.


"Kopi untuk yang tampan-tampan, dan susu spesial untuk anak baru mami yang cantik." mami Riana meletakan minuman di depan masing-masing pria dan memberikan segelas susu langsung kepada Indah.


"Susu apa ini mih?" tanya Indah yang tidak terlalu menyukai rasa susu yang baru saja ia cicipi.


"Itu susu khusus untuk pengantin baru seperti kalian, susu untuk mempersiapkan tubuh kamu biar cepat hamil." jawaban riang dari mertuanya membuat Indah tersedak saat sedang mencoba meminum susunya kembali.


"Emang ada susu begituan mih?" tanya Indah yang sudah bisa meredakan batuknya.


"Ada dong! kamu pasti gak pernah nonton iklan, makanya gak tau." Indah tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya.


Malam itu rumah terasa ramai oleh canda tawa keluarga itu, hingga Indah memutuskan untuk pamit terlebih dahulu mengingat dirinya yang belum mandi, padahal hari semakin larut.


"Kamu harus bisa mengambil hati Indah supaya mami cepat dapat cucu Rian. Jangan pergi dari rumah ini, kalau kalian belum memproses cucu mami." tatapan penuh ancaman mami Riana layangkan kepada putranya.


Andrian sedikit ngeri melihat mami Riana menatapnya seperti itu. "Aku gak mungkin maksa Indah buat ngelakuin itu mih. Biarin Indah siap dulu. Aku gak mau menyakiti gadis baik itu."


"Kalau kamu tau dia gadis yang baik. Harusnya kamu percayakan hati kamu untuk Indah. Bukannya masih terus-terusan mikirin wanita itu!!" seru mami masih tidak terima anaknya mencintai wanita lain, selain istrinya.

__ADS_1


"Rian juga maunya begitu! Tapi perasaan gak bisa berubah secepat itu mih!! Apa lagi aku sama Olivia sudah mengenal cukup lama. Kenangan kami sudah terlalu banyak." seperti ini lah anaknya yang sesungguhnya. Anak yang selalu banyak bicara ketika di ajak berdiskusi. Beberapa tahun belakangan, Andrian hanya akan menjawab iya atau tidak jika ditanya.


"Makanya kamu ganti kenangan itu dengan kenangan yang lebih indah bersama istri kamu! ajak istri kamu jalan-jalan. Ini waktu yang tepat untuk kalian berbulan madu. Sebelum bulan depan kamu semakin sibuk dengan pembukaan mall kita yang baru." kali ini nasihat dari sang papi yang datang.


"Iya. Nanti biar Rian diskusikan dulu sama Indah." jawaban Andrian menjadi penutup obrolan mereka malam itu.


Andrian melangkah ke kamarnya dengan berbagai pikiran di kepalanya. Sebelum menikah, dia di rongrong untuk segera menikah dengan Indah. Sekarang setelah menikah, masih saja dirongrong dengan hal yang lebih sulit lagi untuk dia lakukan.


Bukannya dia tidak ingin menyentuh istrinya. Hanya saja, dia menghargai keputusan istrinya untuk menunggu hingga wanita itu siap untuk ia sentuh.


Niatnya yang akan memasuki kamar dia urungkan, berbelok ke pintu sebelah kamarnya yang ia gunakan sebagai ruang kerja.


Indah jika mandi sangat lama. Jika dia masuk ke dalam kamar sekarang, takut wanita itu hanya keluar dengan menggunakan bathrobe lagi seperti waktu itu.


Mungkin waktu itu dia bisa menahannya. Tapi setelah tadi sore dia menikmati aroma istrinya, dia yakin tidak akan bisa lagi untuk menahannya.


Dia memutuskan untuk satu jam lagi baru memasuki kamarnya. Dan untuk membunuh waktu satu jam itu, ia gunakan untuk membaca buku.


Niatnya untuk menunggu waktu satu jam tidak bisa ia tahan lagi saat matanya mulai terasa berat dan mengantuk. Andrian memang tidak terbiasa tidur terlalu malam.


Meletakkan kembali buku yang dia baca di tempat sebelumnya dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena ia tidak ingin ketiduran di ruangan ini.


Saat membuka pintu kamar, ternyata Indah sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Entah istrinya itu sudah tidur atau belum, karena posisi Indah yang memunggunginya.


Saat dia sudah akan memasuki alam mimpi, ada tangan yang memeluknya erat. Dengan enggan Andrian membuka matanya, menatap pada gadis yang sedang memeluknya dengan tatapan berbeda. Dan yang membuatnya syok adalah kata yang diucapkan istrinya itu.


"Kak, panas,"


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2