
Kadang kita butuh memaafkan untuk bisa menerima dengan ikhlas nasib yang menurut kita kurang baik. Kita harus percaya pasti akan ada kebaikan setelah segala kerumitan yang kita jalani.
Seperti halnya Olivia yang mencoba berdamai dengan nasib yang di alamainya. Mencoba memaafkan perbuatan Andrian dan melepaskan orang yang di cintainya itu. Hal baik yang bisa ia terima, kini ia mendapatkan orang tua yang sudah sangat lama ia inginkan. Seorang ibu yang akan memeluknya di saat dia merasa sedih dan terluka. Seorang ayah yang akan membela dan memeperjuangkan masa depannya.
Dua orang yang dulu ia kira akan menjadi orang tuanya lewat jalan seorang suami, kini menjadi orang tuanya lewat pengadopsian. Tapi Olivia tidak mempermasalahkan itu. Selama sikap mereka baik padanya, ia sudah cukup bahagia. Dan selama beberapa hari di rumah keluarga Dawson, ia bisa melihat jika kedua orang tua Andrian benar-benar berhati baik dan dapat menerimanya dengan baik. Bahkan papi Alex, orang yang dulu sangat menentang hubungannya dengan Andrian kini bisa menatapnya dengan mata teduh layaknya seorang ayah pada anaknya. Tidak ada lagi aura dingin dan permusuhan jika berada di dekatnya.
Kini Olivia mengerti, sikap kurang ramah papi Alex dulu padanya hanya sikap posesif seorang ayah yang ingin anaknya mendapatkan pasangan terbaik. Ayah mana yang ingin menikahkan anaknya dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya.
Apa pun yang sudah terjadi, Olivia mencoba melepaskannya. Berdamai dan mengikhlaskannya agar hidupnya bisa berjalan bahagia. Urusan perasaannya kepada Andrian, dia yakin bisa segera menghapusnya. Kemarin dia masih berusaha mempertahankan apa yang dia punya sehingga perasaannya masih untuh untuk Andrian. Tapi sekarang, ia akan melepaskan Andrian yang sudah bahagia dengan Indah, yang kini statusnya adalah kakak iparnya.
"Apa? jadi papi ngangkat Olivia jadi anak?" tanya Andrian yang kaget saat sang papi menjelaskannya setelah makan malam selesai.
"Papi pikir, dari pada dia terus-terusan terluka dan mengharapkan kamu yang tidak mungkin papi izinkan kembali lagi sama dia, akan lebih baik papi mengadopsi Olivia." membelai rambut Olivia yang sudah kembali dari toilet. "Dia sebatangkara, masa depannya hancur gara-gara musibah yang menimpanya. Dan kini dia masih harus menjalani terapi pengobatan. Jadi apa salahnya jika papi ingin menjadi orang yang bisa kembali mewujudkan mimpi dan cita-citanya. Menjadi keluarga yang akan selalu ada untuknya." imbuhnya.
Andrian dan Indah yang sempat kaget mendengar kabar tersebut, kini merasa lega. Mereka lega karena Olivia tidak akan mengusik rumah tangga mereka lagi. Setidaknya sekarang Olivia sudah ada pawangnya. Begitu pikir Indah.
"Bagus deh. Jadi lo gak tertarik lagi kan sama suami gue?" tanya Indah dengan nada bercanda.
"Ambil saja! aku sudah bosan dengannya. Lelaki kuno yang memegang teguh adat ketimuran. Di ajak ciuman aja takut." cibir Olivia. Membuat Andrian membulatkan matanya. Sejak kapan mantan tunangan yang sudah resmi menjadi adiknya itu berbicara ceplas-ceplos. Jika Indah yang mengatakannya, dia tidak heran, karena begitulah istrinya. Tapi ini Olivia, gadis yang ia kenal anggun.
Orang tua mereka hanya menahan tawa mendengar penuturan Olivia. Sedangkan Indah membela mati-matian suaminya.
"Siapa bilang dia kaku. Jangankan cuma ciuman, di atas ranjang aja dia liar." ucap Indah tanpa dosa sedikitpun. Andrian langsung membekap mulut istrinya sebelum wanita berbadan dua itu semakin kemana-mana bicaranya.
"Jangan liar-liar Rian. Istrimu lagi hamil." nasehat bunda Anita di sela usaha menahan tawanya. Mau bagaimana lagi, anaknya memang seperti itu, tidak pernah bisa mengerem mulutnya.
"Hamil juga di pisahin begini, gimana bisa liar." cibir Indah lagi saat tangan sang suami berhasil ia lepaskan dengan pelototan tajam.
__ADS_1
Semua orang yang berada di meja itu langsung tidak bisa menahan tawanya lagi. Kecuali Andrian yang salah tingkah dan menggaruk tengkuknya. Mau marah, tapi sayang. Gemes kan jadinya.
***
Andrian dan Indah memutuskan untuk pulang ke apartemen mereka. Pulang ke tempat mereka seharusnya. Dimana hanya ada mereka tanpa ada pengganggu dan tidak ada lagi yang berniat memisahkan mereka.
Setelah selesai membersihkan diri dan berganti dengan piyama, mereka merebahkan diri dan saling memeluk.
Andrian memeluk tubuh istrinya yang sangat ia rindukan. Kini saat memeluk Indah, sudah terasa sedikit benjolan pada perut istrinya. Menandakan anaknya berkembang dengan baik.
Melepaskan pelukan dan mensejajarkan wajahnya dengan perut sang istri. Menyingkap baju tidur istrinya dan memberikan kecupan langsung pada perut yang sudah sedikit membesar itu.
"Papa kangen.. papa kangen.." ucap Andrian berulang-ulang seiring dengan kecupan yang ia berikan.
Indah yang memang menjadi sensitif semenjak hamil, sampai meneteskan air matanya. Ia bisa merasakan bagaimana rindunya sang suami kepada calon anak mereka dan dirinya.
"Kakak kok jadi jelek dan kurus gini?" tanya Indah saat Andrian sudah kembali mensejajarkan tubuhnya.
"Bukanya lebih seksi brewokan begini?" mengedipkan salah satu matanya.
"Bagi sebagian perempuan mungkin seksi liat yang begini. Tapi aku malah geli kak, apa lagi kalau cium-cium." ucapnya bergidik sendiri.
"Gak ada waktu buat mikirin diri aku sendiri, waktu aku habis buat mikirin kamu dan baby kita." mengelus dimana calon anaknya berada. "Kalian dimana? udah makan kah? sehat kah? rindukah? anak kita rewel apa nggak? masih suka muntah dan sulit makan kah? ngidam apa hari ini? cuma itu yang aku pikirin riap hari."
"Maafin ayah ya kak. Tapi ngomong-ngomong aku gak jadi kemana-mana kok."
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Iya. Jadi pas udah sampe bandara ayah malah ngajak pulang lagi, katanya banyak kerjaan. Tapi pas sampe rumah kakak udah gak ada." tutur Indah dan cemberut di akhir kalimat.
"Ya buat apa aku di sana, sedangkan gak ada kamu di sana. Aku juga khawatir banget mikirin kemungkinan kamu naik pesawat padahal kandungan kamu masih muda dan pernah pendarahan." mendekap erat istrinya, tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali.
"Itu juga alasan ayah gak jadi pergi kak."
"Tapi hampir tiap hari aku ke rumah dan security selalu bilang kalian belum pulang." menjauhkan sedikit tubuhnya untuk bisa menatap wajah sang istri.
"Ya kakak percaya gitu aja? ayah pasti udah mengantisipasinya lah."
"Mertuaku memang menyebalkan."
"Menyebalkan begitu juga ayahku lho kak." ingat Indah.
"Karena dia ayahmu, jadi kamu yang harus menerima pembalas dendamanku." ucap Andrian dengan senyum licik penuh arti.
"Balas dendam apa?"
"Balas dendam udah misahin kita lah."
Tak membiarkan Indah menjawab dan berpikir, Andrian langsung ******* bibir istrinya. Memaggut dengan pelan yang semakin lama semakin menuntut.
Indah hanya bisa pasrah dan mengikuti permainan suaminya saat tangan kekar suaminya sudah tidak dapat lagi di kondisikan, sudah menjarar kemana-mana. Mengabsen setiap inci tubuhnya.
Mereka hanyut dalam rindu dan penyatuan. Mengalirkan rasa cinta dalam malam panas mereka. Merengkuh kenikmatan bersama-sama. Saling memuaskan, saling memberi kenikmatan.
*
__ADS_1
*
*