My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Terpisah


__ADS_3

"Mau apa kamu datang kemari?" todong ayah Gilang saat menemui menantunya di ruang tamu. Ayah Gilang melarang semua orang untuk membiarkan Andrian masuk melebihi ruang tamu. Tidak akan dia lepaskan anak kesayangannya di bawa dan di temui lagi oleh suami seperti Andrian, yang tidak bisa tegas dalam urusan wanita.


"Yah, Andrian mohon, izinkan saya untuk menemui Indah yah." mohon Andrian dengan wajah yang menyiratkan permohonan mendalam. Tapi itu tidak mempengaruhi ayah Gilang untuk membiarkan mereka bertemu.


"Ayah gak akan ngelepas anak ayah kepada lelaki seperti kamu! ayah bisa saja menyuruh orang untuk mengurus surat perceraian kalian saat ini juga." ucap ayah Gilang tegas, membuat Andrian membulatkan matanya. "Tapi ayah masih memikirkan perasaan putri ayah yang masih mencintai kamu." imbuhnya lagi, membuat Andrian sedikit merasa lega.


"Izinkan saya menemuinya, sebentar saja yah." pintanya lagi. Sungguh Andrian tidak sanggup untuk di pisahkan dengan istri dan calon anak mereka seperti ini.


"Anak ayah bukan mainan untuk kamu! bagaimana mungkin ada seorang suami yang memelihara wanita lain di dalam rumah tangganya!" seru ayah Gilang tidak terima anaknya di perlakukan seperti simpanan.


"Maaf yah, saya hanya membantu Olivia untuk sembuh. Tidak ada maksud dan tujuan lain!"


"Tidak ada yang bisa menjaminnya! bisa saja ketika tengah malam setelah anak ayah tidur, kamu masuk ke kamar wanita itu! wanita yang mungkin masih kamu cintai!"


"Saya berani bersumpah untuk itu yah! saya tidak pernah melakukan hal sekeji itu." seru Andrian. "Saya mencintai Indah dan anak kami." imbuhnya putus asa.


"Kalau kamu benar-benar mencintai putriku, selesaikan dulu masalahmu dengan wanita itu. Setelah kamu bisa meninggalkannya, kamu boleh menjemput istrimu disini!" putus ayah Gilang dan pergi meninggalkan Andrian sendiri di ruang tamu.


Andrian menjambak rambutnya frustasi. Bagaimana caranya ia bisa menemui istrinya jika seperti ini?


Matanya menuju satu pintu di lantai dua yang tepat di depan tangga. Pintu kamar dimana istrinya berada. Bahkan Indah tidak sedikitpun membuka pintu itu selama ia di sana menunggu.


"Pulanglah Rian, kamu bisa datang lagi ke sini setelah ayah tidak lagi emosi." ucap lembut bunda Anita yang baru datang, tidak tega melihat menantuanya terlihat sedih. "Kamu tau sendiri bagaimana ayah menyayangi Indah, ayah hanya begitu kecewa sama kamu. Maka cepat selesaikan masalahmu dengan Olivia agar kamu bisa membawa Indah kembali pulang ke rumah kalian." imbuh wanita paruh baya dengan mengusap lembut bahu menantunya.


"Makasih bunda, saya pamit dulu. Besok saya akan datang lagi. Tolong sampaikan kepada Indah bahwa saya menyayanginya dan akan memeperjuangkannya." ucap Andrian lirih dan mencium punggung tangan mertuanya sebelum pergi.


***

__ADS_1


Indah menatap kepergian mobil suaminya dari balkon kamarnya. Air mata mengiringi mobil yang semakin menjauh itu.


Ayah Gilang menyita ponsel dan di larang menemui suaminya selama masih ada Olivia di antara mereka. Tapi bagaimana mungkin Indah bisa bertahan jauh dari suaminya. Bahkan tidur pun sudah terbiasa dalam dekapan pria yang menanam benih di rahimnya itu.


Ah memikirkan Olivia, rasanya tidak akan mudah membuat wanita itu meninggalkan suaminya. Karena bagaimana pun, wanita itu sebatangkara di dunia ini. Satu-satunya orang yang bisa di andalkan dan tempat wanita itu berlindung memang hanya suaminya.


"Sudah jangan sedih.. ayah hanya tidak ingin kamu tersakiti lebih dari ini." ucap bunda Anita yang entah kapan datangnya. Indah langsung memeluk bunda dan menumpahkan tangisnya di pundak yang selalu menjadi sandarannya dulu ketika belum menikah.


"Kamu mau telfon suamimu?" tawar bunda sembari mengusap punggung anaknya yang bergetar. "Pake ponsel bunda aja, bunda janji gak akan bilang ayah." sebagai sesama wanita, bunda Anita dapat mengerti bagaimana perasaan anaknya yang harus di pisahkan dengan suaminya seperti ini. Apa lagi Indah sedang mengandung, dan sedang mengalami masa-masa sulit di awal kehamilan. Pasti sangat sedih bagi Indah menjalani ini semua. Tapi bunda Anita juga tidak dapat membantah suaminya.


Indah melepaskan pelukan dengan mata berbinar dan mengangguk semangat.


Bunda Anita tersenyum dan mengusap pipi putrinya. Menghapus air mata yang membasahi wajah cantik Indah. Mengambil ponsel dalam saku celananya.


Indah langsung mencari nama kontak suaminya dan langsung melakukan panggilan. Bunda Anita berjalan ke pintu kamar dan menguncinya, agar suaminya tidak mengetahui bantuannya kepada sepasang suami istri muda itu. Duduk di sofa, memberikan waktu untuk Indah dengan suaminya.


"Kakakkk...." tangis Indah langsung pecah saat panggilan itu di angkat.


"Indah?" terdengar nada bingung suaminya di seberang sana, mengingat ia menghubungi suaminya dengan nomor ponsel bundanya.


"Kakak maafin ayah ya kak. Ayah cuma mau melindungi aku aja." ucap Indah masih dengan tangisannya.


"Iya, aku tau. Ayah hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Mungkin kalau anak kita perempuan, aku juga akan melakukan hal yang sama." suara Andrian terdengar sesak dan sedih. "Aku bahkan gak akan pernah sudi melepaskan putriku pada pria brengsekk sepertiku."


Indah membekap mulutnya, tidak ingin suaminya mendengar isak tangisnya. Kata-kata Andrian tidak hanya terasa menyakitkan untuk pria itu sendiri, tapi Indah juga ikut sakit merasakannya.


"Kakak gak boleh ngomong gitu. Kita cuma sedang berusaha membantu Olivia biar sembuh lagi."

__ADS_1


"Tapi niatku membantu Olivia justru menyakitimu."


"Aku yang mengijinkan kak, ini bukan sepenuhnya salah kak Rian." entah kenapa semenjak hamil, Indah jadi mudah menangis dan lebih perasan. Padahal dulu Indah termasuk wanita yang bodo amat terhadap hal yang ia alami. Semua hanya angin lalu baginya. Tapi untuk masalah suaminya, Indah merasa menjadi wanita lemah dan cengeng.


"Kamu sabar ya di situ. Aku akan berusaha secepatnya membuat Olivia pulang ke Amerika."


Keduanya saling diam, menciptakan keheningan di antara keduanya. Andrian sedang memikirkan bagaimana caranya membuat Olivia pulang tanpa melukai wanita itu. Sedangkan Indah tidak percaya suaminya bisa membuat Olivia meninggalkan rumah tangga mereka.


"Kakak pulang ke apartemen malam ini?" tanya Indah setelah lama hanya helaan napas suaminya yang terdengar.


"Aku pulang ke rumah mami. Gak mungkin aku pulang ke apartemen."


"Bener ya kak. Awas bohong!" seru Indah mewanti-wanti.


Andrian terkekeh. "Iya sayang. Tolong usapin anak papa, dan bilang kalau papa merindukan kalian." ujar Andrian yang kembali membuat Indah menitikan air matanya.


"Iya udah aku bilangin. Kata ade, kami juga rindu papa. Jadi papa jangan lama-lama jemputnya."


Andrian di seberang menyunggingkan senyumannya. "Papa akan secepatnya menjemput kalian." kalimat itu menjadi penutup panggilan hari itu.


Hari pertama yang akan mereka lalui tanpa pasangan di samping mereka. Hari yang berat untuk keduanya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2