
...Jika ada sesuatu yang kau takuti, itu adalah kehilangan orang yang kau sayangi....
...Tidak ada hal yang lebih mengerikan akan hal itu....
...•...
...Indah Sofia Renjana...
Bunda Anita mengerutkan dahi dan mengangkat dagunya. Bertanya kepada menantunya dengan bahasa tubuhnya.
Siapa yang tidak bingung ketika anak perempuan yang sudah jarang sekali pulang, kini ketika ayam saja belum berkoko, Indah sudah berdiri di depan pintu dan langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu saat bunda Anita baru membuka pintu.
Andrian yang memang belum tahu istrinya kenapa, hanya menggeleng sebagai jawaban.
Semenjak Indah terbangun dari mimpi buruk yang membuat wanita hamil itu histeris dalam tangisnya, ia belum membuka suaranya untuk menceritakan apa yang terjadi.
Indah hanya semakin erat memeluk Andrian dan terisak. Hingga akhirnya meminta suaminya untuk mengantar ke rumah orang tuanya.
"Sudah ayo masuk. Di luar masih dingin." bunda Anita mengajak anak dan menantunya untuk masuk dan membuatkan teh untuk keduanya.
"Sekarang bilang sama bunda, kamu kenapa?"
Indah meletakan cangkir berisi teh yang baru ia minum sedikit ke atas meja. Kembali memeluk bunda Anita yang duduk di sebelahnya.
"Ta-tadi a-aku mimpi bu-buruk bun." isak sisa-sisa tangisan masih terdengar. Kemudian Indah menceritakan semua detail mimpinya yang terasa begitu nyata.
Bunda Anita kini mengerti apa yang di rasakan anaknya. Menarik rambut anaknya yang terburai berantakan dan menjadikannya satu di balik punggung anaknya.
"Sayang. Kamu tahu? orang dulu bilang, jika kita memimpikan orang yang kita kenal meninggal dunia, itu artinya orang tersebut akan berumur panjang." mengusap punggung anaknya naik turun. "Entah itu mitos atau fakta. Kita aminkan saja karena itu berarti baik kan?" Indah mengangguk dalam pelukannya.
"Aku pengen bunda berumur panjang. Menemaniku sampai aku juga punya cucu yang lucu-lucu." rasanya lega bisa melihat bundanya secara langsung, mempertegas jika tadi benar-benad mimpi. "Bunda bilang ingin menimang cucu bunda kan? jadi bunda harus janji akan menemani Indah hingga bunda bisa memperoleh banyak cucu dari Indah."
Bunda Anita terkekeh. "Iya. Bunda akan menunggu hingga bunda punya banyak cucu." tapi mengiyakan juga permintaan anaknya.
"Umur manusia tidak ada yang tahu sayang. Bisa bunda dulu yang pergi, ayah, Andrian, atau bahkan kamu. Semua sudah di tuliskan sejak kita masih dalam kandungan. Jadi kamu gak perlu takut dan memikirkan bunda atau siapa saja akan meninggalkan kamu."
__ADS_1
Mungkin karena mereka terbiasa hidup dan berbagi cinta hanya bertiga, membuat Indah sedikit kehilangan moment kebersamaan mereka. Sehingga bermimpi buruk seperti ini.
Belum lagi rasa cemas yang bisanya ibu hamil rasakan menjelang kelahiran. Itu juga bisa menjadi pemicu Indah untuk bermimpi buruk.
"Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah banyak berdoa untuk kelancaran proses melahirkan kamu nanti." mengusap perut Indah yang sudah semakin turun ke bawah, seperti si baby siap untuk di lahirkan. "Bunda gak cuma pengen liat kamu atau si dede. Tapi bunda pengen liat kalian berdua keluar dari ruang persalinan dengan selamat."
Dan lagi, Indah mengangguk dalam pelukan bunda Anita.
***
Setelah tidur sejenak karena hari masih jauh dari kata pagi. Kini Indah sedang berjalan-jalan tanpa menggunakan alas kaki di sekitar rumah.
Di temani sang bunda yang mulai hari ini memutuskan untuk di rumah saja menemani Indah menjelang persalinan.
"Jadi, kapan kata dokter, anak kamu akan lahir?" tanya bunda yang ikut melepas alas kakinya.
"Katanya sih minggu-minggu ini bun." kini mereka sedang melewati kebun bunga tempat dimana bunda Anita sering menghabiskan waktu untuk menata bunga-bunga yang dia tanam sendiri di sana.
Indah ingat dulu saat kecil, ia bermain dengan Kevin yang membawa mainan truk dan mencabut bunga-bunga yang baru saja bundanya taman sebagai isi untuk truk yang Kevin miliki angut.
Hingga mereka di marahin bunda hingga sore. Ayah Gilang yang melihatnya hanya tertawa melihat bagaimana nasib tanaman yang dengan sepenuh hati bunda Anita tamam.
"Bunda inget gak, bunda pernah marahin aku sama kak Kevin waktu kecil gara-gara nyabutin bunga yang belum lama bunda tanam?" Indah terkekeh mengingat kejadian itu. Begitu pun dengan Bunda Anita yang ikut terkekeh mengingat kenakalan putrinya.
"Bagaimana bunda bisa lupa, kalau bunda bawa jauh-jauh bunga itu dari Bandung, rumah nenek kamu."
"Dulu aku sama kak Kevin takut banget pas di marahin bunda. Tapi sekarang saat mengenang begini, rasanya lucu."
"Kalian memang selalu nakal. Tapi menggemaskan buat bunda." menjepit hidung anaknya dengan gemas. "Semenjak kalian besar dan jarang main bersama, bunda malah kehilangan moment-moment itu."
"Jadi bunda nyesel marahin aku sama kak Kevin?"
"Ya gak nyesel lah. Tapi bunda juga merindukan saat-saat itu."
Banyak jenis bunga yang di tanam di kebun belakang rumah. Kini tidak ada lagi yang merusak kebun bungan milik bunda, sehingga bunga-bunga itu tumbuh dengan indah tanpa kehilangan satu kelopakpun.
__ADS_1
"Nanti kamu juga akan merasakan saat anak-anak kamu mulai besar dan tidak lagi membuat kenakalan di rumah."
Indah mendesis saat merasakan perutnya mulai mengencang. Saat semalam ia bermimpi merasakan rasa tidak nyaman pada perutnya, sebenarnya itu bukan mimpi. Itu asli perut Indah yang mengalami kontraksi namun masih jarang, sehingga Indah tidak sadar jika itu bukanlah bagian dari mimpinya.
Tadi ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena berulang kali perutnya mengencang dengan frekuensi yang masih jarang.
Dan pagi tadi ia mengajak sang bunda untuk berjalan pagi, tanpa memberitahu bunda Anita apa yang ia rasakan.
Indah tidak ingin membuat seisi rumah panik dengan keadaan yang belum pasti.
Indah mencoba tenang dan mempraktekan apa yang dia pelajari di kelas ibu hamil.
Dan katanya berjalan-jalan akan semakin cepat membantu proses bukaan pada saat kontraksi terjadi.
Indah akan berhenti dan mengalihkan bunda Anita untuk membicarakan sesuatu saat perutnya kembali merasakan kontraksi.
Jika rasa sakitnya menghilang, Indah akan kembali berjalan.
Di tangannya, ia memegang ponsel untuk menghitung sudah berapa menit sekali ia mengalami kontraksi.
Dan saat kontraksi itu datang sudah lima belas menit sekali. Indah memutuskan untuk memberitahu bunda Anita dan segera berangkat ke rumah sakit.
Tentu saja itu membuat bunda dan seisi rumah benar-benar panik. Pasalnya, Indah memberitahu mereka saat frekuensi kontraksi sudah sangat rapat.
Jalan menuju rumah sakit tidak selalu lancar. Mereka takut Indah melahirkan di tengah jalan.
Andrian menelpon orang rumah yang juga langsung panik, untuk segera menyusul ke rumah sakit dan juga membawa koper yang sudah di persiapkan untuk Indah lahiran. Koper yang berisi perlengkapan Indah dan sang baby.
Kepanikan keluarga Renjana dan Dawson membuat heboh rumah sakit.
*
*
*
__ADS_1