My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Hobi Baru Andrian


__ADS_3

"Gila lo! ngerjain gue banget!! Untung gue sayang.. Kalo gak udah gue bikinin baju daster lo!" Indah dan Andrian yang baru datang langsung mendapatkan omelan dari Nurin. Indah tertawa dan langsung memeluk sahabatnya itu. Sedangkan Andrian melangkah menuju ruang tunggu. Memberi waktu untuk Indah dan Nurin berdua sembari menunggu hasil rancangan gaun yang akan di pakai calon istrinya nanti di hari pernikahan. Setelan untuk dirinya sendiri sudah dicoba beberapa hari yang lalu.


"Karena gue percaya lo bisa, makanya gue kesini. Tempat lain mah lewat pasti gak bakal ada yang mampu!!" dedikit sanjungan agar sahabatnya bisa lebih bangga pada dirinya sendiri.


"Lo yakin kan Ndah mau nikah?"


Indah mengerutkan kedua alisnya."Kok lo nanyanya gitu? Emang kenapa gue harus gak yakin?"


"Gue khawatir aja nanti Andrian nyakitin lo. Lo sendiri yang bilang kalau dia udah punya tunangan meskipun tunangannya sekarang dalam keadaan koma." Indah terharu ternyata Nurin mengkhawatirkannya. Ia tersenyum menenangkan sahabatnya.


"Lo tenang aja. Sebelum itu cewek sadar, gue akan berusaha buat Andrian cinta sama gue."


"Gue doain semoga lo bahagia sama pernikahan ini. Cukup Shevi aja yang datengin gue nangis-nangis gara-gara suaminya yang begoo itu. Lo jangan sampe!!"


"Jadi kalo gue sedih, gue gak boleh datengin terus curhat sama lo gitu?!" seru Indah merasa Nurin pilih kasih.


"Bukan begitu begeee.. Maksud gue cukup dia aja yang ngalamin badai dalam rumah tangga. Lo jangan sampai. Gue harap angin di rumah tangga lo semilir dan menyejukkan aja. Oke!" Indah tersenyum dan memeluk Nurin.


"Makasih ya Riiinn.. Lo emang sahabat yang baik buat kita semua. Cepetan nikah deh lo biar gue gak kasihan!!" Nurin langsung melepaskan pelukannya dan menatap tajam Indah.


"Kurang ajar emang lo!" serunya dengan nada tidak suka yang di buat-buat.


"Udah sana ganti baju. Terus kasih liat calon suami lo seberapa cantiknya sahabat gue ini!" Nurin mendorong Indah ke ruang ganti dan menyuruh beberapa stafnya untuk membawa gaun pesanan Indah dan membantu sahabatnya itu untuk memakainya.


"Riiin masuk deh.." seru Indah dari dalam ruang ganti.


"Apaan? ada yang kurang?" tanya Nurin sembari memutarkan tubuh Indah melihat detail mana yang kurang.


"Gak ada kok. Ukurannya juga udah pas di gue. Moga aja seminggu lagi gue gak tambah melar hihihi."

__ADS_1


"Terus kenapa lo panggil gue?" tanya Nurin heran. Karena memang baju itu sudah melekat sempurna pada tubuh Indah yang tidak terlalu tinggi tapi tidak juga pendek.


"Gue cantik gak pakai gaun ini?"


Nurin mundur beberapa langkah berlagak seperti desainer yang sedang mengkritik suatu karya dengan melipat satu tangan di dada dan tangan satunya mengusap dagunya.


"Pas kok cantik." tersenyum bahagia dengan acungan dua ibu jarinya.


"Ya udah mbak.. Bantu aku ngelepas lagi." pinta Indah kepada staf Nurin yang tadi membantunya memakai gaun tersebut.


"Lho kok dilepas? gak dikasih liat dulu sama Andrian. Siapa tau dia mau kasih tambahan sesuatu di gaun ini?"


Indah mengibaskan tangannya tanda tidak perlu dan mulai melepaskan gaun itu dan berganti dengan baju yang sebelumnya dia pakai. "Biar dia terpukaunya nanti aja pas nikah. Kalau dia tau sekarang nanti kesannya udah biasa aja di mata dia."


Nurin manggut-manggut saja tanda setuju. Mereka berdua keluar dan mendekat ke arah Andrian.


"Lho mana gaunnya? Gak muat? Kamu tambah gendut?" tanya Andrian saat Indah mendekat dengan baju yang sama. Membuat wanita itu mencebik dan Nurin tertawa.


"Oke nanti saya belikan kamu makanan yang banyak buat mengganti berat badan kamu yang turun." Andrian tahu jika Indah tidak benar-benar bertambah kurus. Dia hanya menggodanya saja. Begitu juga dengan pertanyaan bertambah gendut tadi. Hobi barunya sekarang adalah membuat Indah merajuk dan tersipu malu. Rasanya senang sekali melihat tingkah Indah yang sepeti itu.


"Iiihh nyebeliiiinnnn!!!" Indah memukul Andrian dengan bantal sofa di samping pria tersebut. Membuat Andrian tertawa dan meminta ampun. Tapi bukannya berhenti memukulinya, Indah malah semakin membabi buta. Andrian langsung mencekal tangan Indah dan menariknya kedalam pelukan. Membuat Indah yang tadi lepas kontrol seketika terdiam.


"Lepas kak maluuu." Nurin yang sadar diri sudah pergi sedari tadi saat Indah mulai memukuli Andrian. Dia tidak ingin menjadi obat nyamuk di antara dua insan yang akan segera menikah itu.


"Malu sama siapa? Kan hanya ada kita berdua." Andrian tersenyum tipis saat Indah msih saja menundukkan wajahnya di dada bidang Andrian karena malu.


"Kita sebentar lagi menikah. Masa hanya dipeluk saja kamu malu." Andrian semakin mengeratkan pelukannya. Dan entah dorongan dari mana membuat ia ingin sekali mengecup puncak kepala Indah yang langsung ia realisasikan.


Indah yang merasa Andrian mencium puncak kepalanya cukup lama, semakin terpaku di tempat. Jantungnya seakan mau loncat dari tempatnya. Indah meremas kain berlapis di depan dadanya untuk mengurangi degup jantungnya. Dia takut Andrian mendengarnya dengan tubuh mereka yang melekat hanya berbatasan dengan tangan Indah saja ditengah dada mereka.

__ADS_1


"Mau sampai kapan meluknya kak." Indah memberanikan diri mendongak. Melihat Andrian yang sedang menatapnya dengan senyuman. Dan tiba-tiba...


Cup. Andrian mengecup bibir ranum Indah sekilas. Membuat wajah Indah yang sudah memerah semakin tambah merah.


"Kakak iiihhhh... Ciuman pertama aku gak romantis banget!" seru Indah dengan memukul-mukul dada Andrian.


"Mana ada seperti itu dinamakan ciuman!! Itu hanya kecupan." sergah Andrian membela diri.


"Nanti saya kasih tau ciuman yang sebenarnya dengan lebih romantis dan panas." imbuhnya sambil berbisik di telinga Indah yang ditutup dengan mencium pipi Indah.


"Iiihhh kakak!!!" teriak Indah saat Andrian langsung pergi meninggalkannya ke kasir untuk membayar gaun dan setelan yang akan mereka pakai untuk menikah.


"Cieee yang udah setua ini baru pernah dicium hahaha.." Nurin yang sedari tadi tidak pergi jauh dari mereka melihat semua yang mereka lakukan. Sebenarnya Nurin hanya ingin tahu seperti apa Andrian memperlakukan Indah. Dan menurut pandangan Nurin, Andrian menaruh sedikit rasa untuk Indah meskipun pria itu belum menyadarinya. Dengan begini Nurin sedikit lega untuk melepaskan Indah menikah dengan Andrian.


Eh, kenapa Nurin jadi bertingkah seperti seorang ibu yang anaknya akan dipinang seorang pria sekarang?


Mungkin rasa sayangnya kepada sahabatnya itu yang membuatnya bertingkah seperti itu.


"Nuriiiinnn... Jadi lo ngintip dari tadi!! Biarin aja biar mata lo bintitan ngintipin orang sembarangan!! " Kenapa orang-orang hari ini menyebalkan sekali.


Bilangnya sebal padahal di dalam hatinya berbunga-bunga.


"Kayak nenek gue lo percaya yang begituan."


"Mitos orang dulu lebih banyak benernya dari pada dukun jaman sekarang!!" Nurin tertawa. Kenapa juga bawa-bawa dukun. Temannya yang satu ini memang kadang tidak bisa diprediksi. Cerdas sih masalah perlajaran. Tapi kok lemot masalah kehidupan.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2