My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Akhir Untuk Olivia


__ADS_3

Indah rasanya masih tidak percaya malam ini bisa kembali mendekap suaminya saat tidur. Rasa sedih yang sebelumnya ia rasakan, sirna tak bersisa. Kini yang ada hanya rasa bahagia, orang yang hari ini sangat ia rindukan ada di sampingnya. Mendekap dan mengecup puncak kepalanya berkali-kali.


"Kakak kok bisa masuk rumah? bukannya semua pelayan sama penjaga udah di suruh ayah buat ngelarang kakak masuk?" menjauhkan tubuhnya agar dapat menatap wajah suaminya. Membelai sisi wajah dengan mata terpejam itu.


"Bunda yang kasih jalan." membuka mata, menceritakan tentang bunda Anita yang menghubunginya dan membukakan jalan untuknya masuk ke dalam kamar istrinya, hingga peringatan jangan sampai ayah Gilang mengetahui keberadaannya.


Awalnya Andrian akan melewatkan cerita tentang Olivia, tapi pria itu tidak ingin menyembunyikan apa pun dan menceritakan semuanya.


"Terus Olivia sama siapa kak? aku gak mau gara-gara dia takut sendirian, terus depresinya semakin parah, terus tambah bikin kakak gak mau ninggalin dia." gerutunya dengan bibir mengerucut. "Emang kakak mau kita di pisahin terus kaya gini?" imbuhnya lagi, masih kesal.


Andrian tersenyum, bahagia bisa melihat istrinya merajuk. Lebih baik melihat Indah merajuk dan membuatnya susah, dari pada melihat istrinya ini menangis seperti tadi.


"Kamu tenang aja sayang.. udah ada mami yang nemenin dia. Jadi kamu gak perlu khawatir." merapikan anak rambut istrinya dan menyelipkan ke belakang telinga.


"Mami? mami tau Olivia di sini?" entah kenapa perasaannya tidak enak. Jika sampai mertuanya tahu, sudah bisa di pastikan jika suaminya pasti di marahin oleh papi mertua.


"Gimana mereka gak tau, kalau aku pulang tanpa kamu dengan keadaan berantakan." tutur Andrian.


"Papi marah?" bertanya langsung ke intinya.


"Jelas lah! menantu kesayangannya di ambil sama orang tuanya gara-gara kesalahan aku, Jelas papi marah!" seru Andrian, mengingat kembali saat dia pulang tadi siang. "Papi bahkan ngancem, kalau aku gak bisa ngirim Olivia lagi ke LA, lebih baik aku lepasin dan ceraikan kamu terus nikahin dia." adunya dengan wajah sendu.


"Bagus kan? papi jadi merestui kalian berdua. Kakak juga kan masih cinta sama Olivia." cibir Indah, menjauhkan tubuhnya dan melirik tajam.


Andrian terkekeh melihat istrinya galak seperti itu. "Cemburu sayang?" goda Andrian dengan nada suara yang di buat-buat.


Yang di goda berdecih geli. "Ngapain cemburu sama cewek sakit." kalimat pedas istrinya telah kembali.

__ADS_1


"Terus kenapa menjauh gitu? gak mau aku peluk lagi?" mengulum senyumnya agar tidak berubah menjadi tawa.


"Gak! sana peluk Olivia aja!" menampik tangan suaminya yang akan kembali memeluk tubuhnya.


"Dia udah ada mami yang nemenin, dan sekarang waktunya kamu nemenin aku." menindih tubuh istrinya, bertumpu pada siku dan lutut agar tidak mengenai perut sang istri, dimana anaknya sedang bersemayam.


"Awassss... aku lagi marah tau!" mendorong dada suaminya, tapi apa lah daya, tubuh suaminya tak bergeser sedikitpun.


"Marahnya nanti aja, setelah kita sama-sama puas." tidak membiarkan istrinya menolak lagi, Andrian langsung menyatukan bibir mereka. Bermain dengan lembut, membuat istrinya nyaman dan menyerahkan tubuhnya sepenuhnya kepada Andrian.


Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Tangan Andrian menjelajah ke tempat-tempat yang dia suka. Membuat Indah mengumpat karena ******* yang keluar dari mulutnya. Marah macam apa yang terbuai dan malah menikmati permainan suaminya.


Jika sudah di atas ranjang seperti ini, memang Indah selalu takluk akan kenikmatan yang suaminya berikan. Andrian memang selalu luar biasa bagi Indah, baik dalam pekerjaannya di kantor maupun di atas ranjang.


***


Seperti mami Riana saat ini. Duduk berhadapan dengan wanita yang sempat singgah di hati anaknya. Wanita yang mungkin jika musibah itu tidak terjadi sudah menikah dan melahirkan anak-anak lucu untuk anaknya.


"Mami yakin, Olive masih wanita baik yang mami sukai dulu." ucap wanita paruh baya itu lagi kepada Olivia.


"Dan mami mohon sama Olivia, ikhlaskan Andrian ya nak.. Mami tau mungkin kamu menganggap mami dan Andrian jahat, karena semua ini bukan salahmu." mami Riana mendekat dan duduk di sebelah Olivia, menggenggam lembut jemarinya.


"Tapi nasi sudah menjadi bubur, Andrian sudah menjadi suami Indah sekarang. Dan sebentar lagi dia akan menjadi ayah dari istrinya." Olivia masih diam saja, hanya matanya yang berkaca-kaca. Merasa tidak ada harapan dan gunanya lagi dia berada disini.


"Kamu tau bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua kan? jadi apa kamu tega memisahkan Andrian dan anaknya yang bahkan belum pernah dia lihat?"


"Indah saat ini sedang hamil muda, dia sangat butuh pendampingan dari Andrian di masa sulitnya seperti ini. Tapi kamu tau? ayahnya membawa Indah dan tidak mengijinkan Andrian menemuinya gara-gara tau masih menjalin hubungan dengan kamu."

__ADS_1


"Tapi-" Olivia akan membantah perkataan mami Riana, mami Riana yang tahu langsung menyela.


"Mami tau itu juga bukan salah kamu. Tapi mami mohon sama kamu Olivia, lepaskan Andrian sebagai orang yang kamu cintai." mata mami Riana ikut berkaca-kaca. Antara tidak tega dengan Olivia dan Andrian putranya.


"Tapi tetap anggaplah kami keluargamu, kamu bisa menjadi anak angkat mami kalau kamu mau. Mami sudah membicarakan ini dengan papinya Andrian, dan beliau setuju." siang tadi setelah menasehati Andrian, mami Riana masuk kamar dan mencari jalan keluar dengan suaminya.


Olivia membulatkan matanya tidak menyangka. Benarkah dia bisa memiliki orang tua. Atau itu hanya formalitas saja, agar dia bisa melepaskan Andrian dan tidak mengganggunya lagi.


"Kami tulus untuk tawaran ini sayang. Kamu bisa kembali melanjutakan pendidikanmu dan mengejar cita-citamu." tawar mami Riana lagi. "Kamu tidak perlu memikirkan lagi tempat tinggal dan tempat mengadu, karena kami keluargamu. Kamu bisa bercerita dan berkeluh-kesah sama mami, sama papi juga."


"Mami serius?" cicit Olivia dengan suara tercekat.


Hal yang paling di inginkan seorang anak yatim piatu yang tidak pernah merasakan namanya kasih sayang orang tua, memang hanya hadirnya orang tua di sisinya. Dan di banding mengejar cinta Andrian yang tidak dapat lagi dia raih. Lebih baik ia mengambil kesempatan yang sedari kecil ia inginkan.


Dulu saat kecil, dia selalu iri melihat teman-temannya di adopsi, tapi dirinya sampai dewasa tidak ada yang mau mengadopsinya. Padahal dia cantik dan mandiri. Tapi justru para ibu yang berniat mengadopsi takut jika suatu hari nanti suaminya tertarik kepada Olivia.


"Mami serius! jika kamu mau, papi sudah siap mengurus surat adopsi atas kamu di LA. Sekalian merubah kewarganegaraan kamu."


Hati Olivia rasanya sangat bahagia. Lebih bahagia dari pada saat menjadi kekasih Andrian dulu. Kini dia merasa jika masih ada orang tua yang menginginkannya. Terlepas dari alasan orang tua Andrian yang sesungguhnya, yang terpenting kini dia memiliki orang tua.


Olivia mengangguk dan langsung memeluk tubuh wanita yang akan menjadi orang tuanya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2