
Andrian sontak berdiri saat Olivia membalikkan tubuhnya yang sudah tanpa sehelai benang pun. Mengalihkan pandangannya agar tidak menatap tubuh wanita di depannya.
"Ayo kita lakukan Andrian... Aku sudah tidak suci lagi.. Apa bedanya jika kita melakukannya sekarang! miliki aku seutuhnya!" Olivia terus berjalan mendekati Andrian perlahan.
"Stop Olivia! sadar!" bentak Andrian yang sudah tidak tahan dengan tingkah laku Olivia.
"Kenapa? kenapa kamu tidak mau menyentuhku?! apa karena kamu jijik?! kamu pasti tau kan, ada berapa banyak lelaki bajingaan yang sudah menyentuhku?!" seru Olivia dengan lelehan air mata. Berhenti tepat di depan Andrian.
Mencoba meraih wajah pria yang amat di cintainya, menahan dan memagut bibir yang sudah sangat lama tidak pernah ia rasakan.
Andrian mendorong tubuh Olivia. "Tolong jangan melewati batas Olivia! kita belum menikah dan ada orang lain di rumah ini!"
"Jangan jadikan pernikahan sebagai alasan untuk kamu menyentuhku Andrian! aku tau bukan itu alasannya kan? kamu sudah tidak mencintai aku lagi kan? ada wanita lain yang sudah merebut kamu dari aku? iya kan?!" jerit Olivia.
Andrian yang panik jeritan Olivia membangunkan istrinya langsung memeluk wanita itu dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang miliknya.
"Aku mohon mengertilah Olivia. Tolong jangan seperti ini, pleasee.." lirih Andrian dengan frustasi.
"Kalau begitu ayo kita lakukan! biar aku bisa mengerti! sebagai jaminan kita akan menikah! berikan aku anak Andrian! aku bisa memberikan cucu untuk kedua orang tuamu!" Olivia mendorong Andrian dengan kuat hingga pria yang badannya jauh lebih besar darinya itu jatuh terduduk di sofa.
Sebelum Andrian bangun, Olivia sudah lebih dulu duduk di atas pangkuan Andrian dan kembali menyatukan bibir mereka.
Andrian memaki dalam hati saat tubuhnya terpancing dengan tindakan Olivia. Saat sedang berusaha melepaskan diri, terdengar pintu kamar terbuka. Andrian mengerang saat mendengar suara istrinya.
"Lagi ngapain kalian!!" seru Indah memicingkan kedua matanya melihat apa yang di lakukan Olivia dan Andrian. Ada rasa terbakar di dadanya, tapi sebisa mungkin dia menahannya. Tidak akan dirinya membiarkan wanita lain menyentuh suaminya.
Olivia seketika langsung berdiri dan mengambil pakaiannya untuk menutupi tubuh bagian depannya.
__ADS_1
"Maaf ya kakak-kakak yang terhormat. Disini aku gak nerima kost buat orang yang berniat mesum! aku nerima kalian numpang disini karena aku ingin membantu! bukan mau menyediakan fasilitas untuk kalian berbuat hal senonoh!" seru Indah mendekati keduanya.
"Jadi tolong, kalau mau berbuat tindakan asusila jangan di sini! jangan bagi dosa kalian di rumah ini!" imbuh Indah mengambil baju Olivia dan memakaikannya.
"Sekarang masuk kamar kalian masing-masing! renungkan tindakan kalian, sebelum kalian semakin berbuat dosa disini!"
Olivia dengan wajah yang sudah sangat malu karena ketahuan sedang menggoda Andrian, berjalan menuju kamar dan menguncinya.
"Kakak ngapain masih disini! masuk. mandi!" perintah Indah kepada suaminya yang masih duduk di sofa dengan galak.
Mengikuti istrinya ke dalam kamar dengan senyum tipis di bibirnya. Andrian bangga pada wanita yang pernah ia anggap cerewet ini dulu. Jika perempuan lain pasti akan marah kepada suaminya, akan menghajar wanita yang menggoda suaminya itu sampai habis. Tapi Indah dengan tenangnya menghadapi situasi yang jika Andrian ada di posisinya pasti sudah sangat marah dan panas di hatinya. Jika Andrian yang jadi Indah, ia pasti akan langsung menghajar orang yang berani menyentuh istrinya.
Memeluk istrinya dari belakang. " Makasih sayang, udah bebasin aku."
Indah memukul tangan yang memeluknya. "Jangan peluk-peluk. Mandi sana!" seru Indah. Indah dapat merasakan tubuh bagian bawah suaminya yang menegang, yang berarti suaminya sempat terpancing juga gairahnya.
Andrian mencebik dan berjalan ke kamar mandi, dengan menggerutu. "Tengah malam begini di suruh mandi! mana udah on kan! harusnya bantuin kek!"
Tadi Indah dengar saat Olivia mengetuk pintu ruang kerja Andrian, dia juga sadar saat suaminya keluar kamar. Setelah menunggu lama dan suaminya tak juga kembali, Indah mencoba menguping apa yang mereka bicarakan.
Mata Indah membelalak saat suaminya berseru kepada Olivia agar segera memakai kembali bajunya. Indah tidak menyangka jika tunangan suaminya akan senekat itu. Niat awalnya akan langsung memergoki mereka. Tapi Indah mengurungkan niatnya, wanita hamil itu ingin melihat seberapa setia suaminya kepada dirinya. Seberapa kuat Andrian menahan godaan di depan matanya.
Indah sempat bernafas lega saat ia bisa mendengar penolakan suaminya hingga Olivia menjerit histeris, tapi ketika tidak ada suara apa pun lagi, rasanya Indah sudah tidak tahan. Ia tidak ingin ada wanita lain yang menyentuh dan menikmati tubuh suaminya. Karen tubuh itu hanya miliknya.
Setelah selesai mandi, Andrian menghampiri istrinya yang menunggunya dengan melipat kedua tangannya.
"Maaf yank.. itu bukan keinginan aku, sumpah! Olivia yang goda aku." ucap Andrian yang sudah duduk di samping istrinya yang cemberut di sofa.
__ADS_1
"Iya, dia yang goda kamu, terus kamu kegoda kan?!" seru Indah dengan menatap tajam suaminya.
"Yaaa... a-aku kan pria normal sayang, lihat dia polos dan mencoba mancing-mancing aku, tubuhku pasti bereaksi." lirihnya dengan wajah menunduk.
"Tapi aku gak berniat ngelakuin hal itu sama dia kok! aku juga sebisa mungkin buat gak lihat tubuh dia." ucap Andrian dengan yakin. "meskipun sempet liat semuanya juga!" akunya jujur, membuat Indah membelalakan matanya.
"Kakak!! iihh ngeselin banget! emang kurang liatin tubuh aku?! aku kurang seksi?! aku kurang putih?! punyaku kurang gede?!" tanya Indah dengan beruntun dengan napas naik turun, emosi.
"Mana ada istriku ini gak seksi. Bagi aku, seseksi apa pun wanita di luaran sana, cuma Indah yang ingin aku jamah." tersenyum dan membelai pipi istrinya yang mulai berisi.
"Kamu tuh putih, punya kamu juga pas di aku. Jadi gak usah mikirin milik wanita lain gede apa gak! yang penting apa yang kamu punya, udah cukup untuk muasin aku sebagai suami kamu!" memegang bahu istrinya agar menghadap ke arahnya.
"Jangan pernah meragukan kesetiaan aku. Sama Olivia aja yang koma tujuh tahun aku setia. Apa lagi sama kamu yang bisa muasi aku tiap malam, dan sekarang ada hasil dari usaha keras kita itu! aku gak akan pernah khianatin kalian."
"Kenapa kakak gak khianatin aku?" pancing Indah ingin mendengar kejujuran Andrian. Mengharapkan suaminya mengatakan kalimat yang sangat ingin ia dengar.
"Karena.. karena aku menyayangi kalian." jawab Andrian dengan gugup.
Padahal ia sudah sering memanggil sayang pada Indah, sudah menunjukan juga perasaannya pada istrinya itu. Tapi kenapa sulit sekali untuk mengatakannya.
"Sayang doang?" tanya Indah yang kurang puas dengan jawaban Andrian.
"Karena aku mencintaimu." ucap Andrian dengan sangat cepat, bahkan hampir saja Indah tak mendengarnya.
Indah tersenyum dengan pengakuan sang suami, satu kata yang mampu menggetarkan hatinya. Sudah sejak lama ia ingin mendengar kata cinta dari mulut suaminya, dan sekarang setelah Andrian mengucapkan kalimat itu, rasa bahagia di hati Indah membuncah. Begini ternyata rasanya mendapatkan pernyataan cinta dari laki-laki. Ah Indah bahagia sekali, hingga rasanya banyak bunga-bunga di dadanya.
*
__ADS_1
*
*