
Hubungan Indah dan Andrian masih belum ada kemajuan apapun. Mungkin Andrian sudah berusaha merubah sikapnya kepada Indah. Tapi gadisnya itu selalu saja menuduhnya hanya pura - pura baik. Bagaimana bisa berkembang jika yang satu sudah memberi tapi yang satu lagi tidak mau menerimanya.
"Kamu mau datang dengan saya ke acara nanti malam?" tanya Andrian saat jam makan siang.
Nanti malam adalah hari pernikahan Lidia. Tentu saja Indah tidak mau jika harus datang tanpa pasangan. Meskipun itu pernikahan sahabatnya sendiri dan tentunya ada sahabatnya yang lain yang tidak akan membiarkan dirinya sendirian sepanjang pesta.
"Emang Indah bisa pergi sama siapa lagi kalo bukan sama kakak? Atau Indah boleh ngajak pria lain?"
"Tidak boleh. Kamu hanya boleh datang dengan saya!" Indah mendengus mendengarnya. Meskipun dalam hatinya tersenyum.
"Emang kakak siapa ngelarang-larang aku?"
"Calon suamimu, kalau kamu lupa!" jawab Andrian seketika dengan nada yang sedikit tinggi.
"Emang aku udah setuju?" meminum minumannya setelah makan siangnya habis.
"Walupun mungkin hati ini sudah memilihmu. Tapi bukan berarti aku setuju menikah denganmu sedangkan hatimu masih milik wanita lain kak!!" tambah Indah dalam hati.
"Sudahlah. Kalau kita bahas itu terus, ujung-ujungnya pasti bertengkar. Nanti tidak perlu pulang dulu. Kita ke butik yang sekalian salon saja buat kamu." Indah mengikuti Andrian yang beranjak untuk meninggalkan restoran untuk kembali ke kantor.
***
Indah sudah gelisah menunggu waktu agar cepat bergulir. Dirinya sudah ingin cepat keluar dari kantor ini dan mencari baju yang cocok untuknya nanti malam. Jangan sampai gara - gara saran dari Andrian dia tidak bisa dandan maksimal nanti. Indah kan juga ingin menjadi biduan di acara kakak sepupu dan sahabatnya, jadi penampilannya harus cetar. Indah terkikik sendiri dengan pikirannya.
"Kenapa kamu tertawa sendiri?" tegur Andrian yang mendengar kikikan asisten sekaligus calon istrinya.
"Tidak kak. Indah udah boleh pulang belum?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.
Andrian melihat jam dipergelangan tangannya. "Ini baru jam tiga Indah. Masih banyak waktu untuk kita! Dan ini masih di kantor. Jadi jangan panggil kakak!"
"Bodo amat. Bagi aku ini udah jam pulang. Kalau kerja di kantor ayah pasti aku udah ijin setelah makan siang tadi!" gerutu Indah.
"Kamu kerja dengan saya. Bukan dengan ayah kamu!"
"Ya maka dari itu aku ijinnya sama kak Rian. Kalau kak Rian masih banyak kerjaan, biar aku aja sendiri ke butiknya. Kerjaan aku udah selesai kok."
__ADS_1
"Tidak boleh. Pokoknya nanti tunggu saya!" Indah menghela nafas kesal.
"Ya udah makanya buruan apa kak. Aku kan perlu milih baju, belum dandan. Kakak kan gak tau persiapan cewek kalau mau ke pesta!"
"Iya. Iya. Bawel banget si kamu. Ini tinggal satu dokumen yang perlu saya periksa!"
Indah menunggu dengan mulut yang tak henti menggerutu, menyangga kepalanya dengan tanggan di atas meja. Hingga sepuluh menit kemudian suara Andrian mengagetkannya.
"Ayo kita berangkat. Tapi kita mampir apartemen saya dulu." Andrian meletakkan jas dilengannya dan melangkah keluar yang langsung disusul Indah.
"Mau ngapain?"
"Saya perlu mandi Indah. Perlu ganti baju juga. Kalau pulang kerumah mami kejauhan." jawabnya sembari terus melangkah menuju lift.
"Terus Indah gak mandi dong!" Indah mengerucutkan bibirnya.
"Kamu bisa mandi di apartemen saya kalau mau. Nanti biar bajunya saya pesan saja."
"Tapi pilihin yang bagus ya kak. Awas kalo gak bagus!" Andrian hanya melirik tajam tanpa menjawab.
***
"Kamu tuh bisa hati-hati tidak sih?" jarak antara mereka yang terlalu dekat membuat jantung Indah berdetak tak karuan. Begitu juga dengan Andrian, bedanya pria itu masih bisa menguasai keadaan.
"Mana aku tau mau jatoh." Indah menggerutu kesal dan berdiri. Padahal dibayangannya adegan selanjutnya adalah Andrian mencium bibirnya seperti di novel atau drama-drama yang sering dia tonton.
"Kamu mandi di kamar itu. Didalam ada bathrobe untuk kamu kenakan sampai nanti orang butik mengantar baju untuk kamu." Indah mengangguk mengerti.
"Eh? Kakak pelihara kucing?" Indah sudah akan menggendong kucing itu sebelum suara Andrian lagi-lagi mengagetkannya.
"Jangan di gendong nanti jatuh! jalan saja jatuh mau gendong kucing!"
"Iih aku gak seceroboh itu kak. Baru jatoh sekali tuh gak bisa dikategorikan dengan ceroboh!"
Andrian tidak mengacuhkan Indah dan memilih masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti baju sebelum Indah merongrongnya untuk cepat berangkat.
__ADS_1
Indah mengeratkan genggamannya dan menghentakkan kakinya kesal, memasuki kamar mandi membersihkan diri.
Saat keluar dari kamar mandi, dia mendapati Andrian sudah rapi mengenakan kemeja serta celana panjang hitam dan jas yang tersampir di punggu sofa. Penampilan Andrian memang selalu memukau dengan wajah blasterannya.
"Bajunya mana kak?" Andrian mendongakkan wajahnya dari ponsel saat mendengar suara Indah. Tenggorokannya tercekat saat mendapati Indah yang terlihat seksi hanya dengan balutan bathrobe yang dia yakin didalamnya polos tanpa dalaman.
Buru-buru pria itu menunjuk paperbag yang terletak diatas meja agar Indah segera berganti baju sebelum dirinya khilaf.
Indah mengedik saat Andrian tak bersuara dan mengambil paperbag untuknya ganti baju. Matanya berbinar saat mencoba memakai baju pilihan Andrian didalam kamar yang sebelumnya dia pakai.
"Ternyata manusia kulkas itu tau selera pakaian gue juga." menghadapkan dirinya kekiri dan ke kanan untuk mematut dirinya didepan cermin. Duduk didepan meja rias untuk memoles wajahnya.
***
Sepanjang perjalanan Andrian tidak fokus. Pikirannya terus saja tertuju kepada Indah yang malam ini terlihat begitu cantik.
"Shit!! Kenapa gadis ini begitu cantik!!" makinya dalam hati. Untung saja mereka diantar sopir. Jika Andrian yang membawa sendiri mobilnya, pasti sepanjang jalan tidak akan fokus pada jalanan didepannya.
"Mami sama papi dateng juga kak?"
"Hmm" sebisa mungkin Andrian menghindari menatap Indah.
"Ditanya tuh dijawab kak. Gak cuma ham hem aja!"
"Yang penting kamu tau arti jawaban saya."
"Tapi gak gitu juga kali kak!"
Gaun yang dipilihkan Andrian untuk Indah malam ini adalah gaun panjang berwarnah peach menyapu lantai dengan tali kecil di bahu yang mengekspos bahu mulusnya.
Rambutnya hanya digerai dan menambahkan kalung serta anting kecil sebagai aksesoris tambahan. Membuat penampilan Indah semakin elegant.
Perjalanan dari apartemen Andrian ke tempat pesta hanya memakan waktu tiga puluh menit, karena jarak yang memang dekat.
*
__ADS_1
*
*