My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Dirundung Kebimbangan


__ADS_3

Saat jauh kita merasa rindu. Saat jauh kita merasa membutuhkannya. Saat jauh kita hampa tanpanya. Saat jauh kita baru merasa dia sangat berarti.


Begitu juga yang di rasakan Andrian selama satu minggu ini. Berusaha bersikap biasa saja di depan Olivia, meski hatinya tersiksa dengan perasaan rindu untuk istrinya.


Memikirkan apakah Indah merindukannya juga? tidur dimana? sudah makan kah? dan banyak lagi pertanyaan yang ingin Andrian tahu tentang istrinya.


Ingin menghubungi sekedar bertanya kabar, tapi kemana pun Andrian pergi, Olivia selalu memaksa ikut. Gadis itu terlalu takut untuk di tinggalkan dan di buang. Saat gadis itu tidur dan Andrian terpaksa meninggalkannya untuk sekedar keluar mencari udara segar pun, ketika kembali Olivia sudah menangis histeris. Bagaimana mungkin dia tega meninggalkan Olivia dalam keadaan seperti itu.


Waktunya sudah habis, dia sudah berjanji kepada Indah bahwa dia hanya pergi selama satu minggu. Andrian juga sudah tidak tahan dengan rasa rindunya pada sang istri.


"Aku harus pulang ke Indonesia Olive." menggenggam kedua tangan wanita yang sudah mulai membendung air mata dan menggeleng kuat.


"Orang tuaku pasti kewalahan mengurusi perusahaan tanpa aku di sana." mencoba memberika pengertian agar Olivia mau melepasnya pulang.


"Mereka pasti mengerti Andrian! mereka pasti mengerti kamu disini sedang menemani aku. Tunangan kamu! calon menantu mereka!" tangis Olivia sudah tidak mampu lagi untuk di bendung.


Andrian tidak mungkin tega memberitahu jika orang tuanya sudah menjodohkannya dengan wanita lain. Dia tidak mungkin tega memberitahu Olivia tentang pernikahannya sekarang, di saat kondisi wanita itu masih belum stabil. Andrian janji akan memberitahu nanti, setelah kondisi Olivia lebih kuat dan memungkinkan.


"Kalau kamu seperti ini, mereka akan marah dan tidak menyukai kamu. Perusahaan sekarang di bawah pimpinanku. Aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama."


Olivia paling takut untuk di benci oleh keluarga Andrian. "Tapi aku tidak mau sendirian disini! Aku takut! Aku kotor dan tak di harapkan." suara Olivia sudah akan histeris.


Andrian langsung memeluknya, mengusap punggungnya lembut, memberikan ketenangan.


"Kamu tidak perlu takut. Ada aku disini. Dan aku janji akan kesini lagi saat kamu keluar dari rumah sakit nanti." lagi-lagi Andrian mengucapkan janji tanpa memikirkan akibatnya nanti.

__ADS_1


"Kamu janji akan datang menjemputku?" menjauhkan pelukannya untuk menatap mata Andrian.


"Aku janji." kini dengan suara yang lemah tak berdaya. Dia tahu keputusannya akan menyakiti dua wanita itu.


"Setelah keluar dari sini, aku ingin ikut dan tinggal bersama kamu di Indonesia. Aku tidak mau di tinggal sendiri di sini." mata Olivia sarat permohonan.


Andrian bimbang harus menjawab apa dan harus bagaimana. Mana mungkin ia mengajak Olivia ke Indonesia. Disana ada Indah, istrinya.


"Kalau kamu meninggalkan lagi aku disini sendiri, lebih baik aku mati Andrian! aku tidak di harapkan di negara ini! aku hanya kaum lemah yang mudah menjadi sasaran di sini!"


Masih diam dengan segala pertimbangan, hingga akhirnya mengangguk. Dia akan menceritakan semua pada Indah nanti. Mereka sama-sama wanita. Andrian berharap Indah mengerti posisi Olivia.


"Terimakasih Andrian.. Terimakasih masih mau menerimaku.." memeluk Andrian semakin kuat. Bersyukur mempunyai pria seperti Andrian dalam hidupnya. Ia tak tahu permintaannya akan menyakiti perempuan lain nantinya. Atau dia justru akan bersikap egois untuk tetap di sisi Andrian meski pun nantinya tahu pria itu sudah beristri.


***


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Andrian kini sedang berada di ruangan dokter kandungan yang menangani Indah. Kedua orang tua Andrian menemani Indah yang baru saja di pindahkan ke ruang perawatan.


"Istri dan anak anda baik-baik saja. Untung posisi jatuh nona Indah tidak langsung mengenai perut yang bisa membahayakan untuk ibu dan janinnya." Andrian menghela nafasnya lega.


"Untuk beberapa hari kedepan lebih baik nona Indah di rawat disini agar kami bisa memantau perkembangannya, apakah masih ada pendarahan yang keluar atau tidak" Andrian mengangguk saja setuju. Asal itu yang terbaik untuk istri dan calon anak mereka.


"Setelah pulang nanti, tolong nona Indah agar bisa bedrest total untuk menunggu kandungannya kuat kembali. Dan tolong di jaga istrinya agar jangan sampai terjatuh lagi, dan hindari stres untuk hamil muda seperti nona Indah ini. Karena itu bisa berpengaruh untuk kandungan istri anda, tuan."


Bagaimana Andrian tidak membuat istrinya stres. Bahkan mungkin sebentar lagi Andrian akan menceritakan tentang Olivia, dan membawa wanita itu ke Indonesia.

__ADS_1


Memasuki ruangan dimana istrinya di rawat. Disambut senyuman oleh istrinya. Senyum yang terlihat sangat bahagia. Indah meregangkan tangannya, tanpa menunggu lama Andrian langsung menyambut pelukan Indah dengan hangat. Ini yang pria itu inginkan saat pulang tadi pagi. Disambut dengan senyum dan pelukan oleh istrinya.


"Aku hamil kak! akan ada Indah atau Andrian junior di antara kita!" ternyata rasa bahagia hadirnya seorang anak, membuat Indah melupakan rasa marahnya kepada sang suami. Dan entah kenapa, saat mendengar kabar ini dari Indah, hati Andrian juga membesar dua kali lipat dengan rasa bahagia. Rasanya banyak sekali bunga-bunga di hatinya. Terlalu bahagianya, pria itu sampai meneteskan air mata. Bersyukur Tuhan menitipkan seorang anak di dalam rahim sang istri.


"Iya. Kita akan segera memiliki anak! selamat sayang." menghujani wajah Indah dengan ciuman.


Senyum di wajah Indah tak memudar. Apakah Andrian tega mengahpus senyuman itu dari wajah istrinya? Andrian menghela napasnya bimbang. Kenapa kedua wanita itu dalam keadaan yang sama-sama tidak memungkinkan.


"Kamu harus istirahat total. Biar aku yang akan jadi kaki kamu. Kemana pun kamu mau sekarang, aku siap gendong kamu." menunjukkan otot lengannya, membuat Indah tertawa.


Orang tua Andrian merasa lega bisa melihat Indah tertawa. Mereka sempat khawatir Indah akan tetap marah dan membahayakan kandungannya.


"Aku akan jagain anak kita dengan baik. Kamu pengen apa sekarang? biasanya ibu hamil pengen sesuatu kan?" Andrian pernah mendengar tentang mengidam.


"Aku cuma pengen kamu! aku pengen peluk kakak seharian! jadi besok gak usah ke kantor ya!" pintanya dengan manja bersandar di dada suaminya.


"Aku gak mungkin kerja selama kamu sakit begini. Aku sendiri yang akan jagain kamu sama anak kita."


Indah tersenyum mendengar kata-kata suaminya. Sekali lagi, Indah tidak perduli jika Andrian belum mencintainya. Cukup dengan pria itu perhatian dan menunjukkan kasih sayangnya seperti ini, Indah akan bertahan, untuknya dan untuk calon anak mereka.


"Padahal aku pengen honeymoon lho kak.." rengeknya pada Andrian yang sudah melepaskan pelukan mereka dan sedang mengelus serta memberikan kecupan-kecupan pada perut datar istrinya.


"Nanti kita babymoon aja kalo baby kita udah kuat buat pergi jauh." sahut Andrian, membuat Indah bersorak bahagia.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2