
Andrian pulang dengan lunglai ke rumah orang tuanya. Pikirannya berlarian entah kemana. Memikirkan istri dan anaknya, memikirkan Olivia. Kenapa hidupnya menjadi rumit seperti ini? kenapa Olivia tidak sadar sebelum dia bertemu dengan Indah? atau kenapa Olivia tidak sadar sekalian? Astaga, kenapa pikirannya kepada Olivia sekarang jahat sekali. Padahal dulu dia wanita yang selalu ia nantikan kesembuhan dan kesadarannya. Tapi sekarang setelah sadar, ia malah menyakiti wanita itu.
Andrian meremas rambutnya kasar, menjatuhkan tubuhnya pada sofa ruang tamu di kediaman Dawson.
"Tumben kamu kesini? mana menantu papi?" tanya papi Alex yang baru pulang entah dari mana.
"Di rumah mertua." jawab Andrian pendek, masih menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan memejamkan matanya.
Papi Alex tahu ada yang tidak beres. Anaknya terlihat sangat kacau. Penampilan yang biasanya rapi, kini terlihat berantakan. Kemeja yang sudah keluar sebagian, dua kancing teratas terbuka, dasi yang masih menggantung tidak jelas di leher, rambut acak-acakan, dan jangan lupa wajahnya yang terlihat menyedihkan.
"Ada masalah apa kamu sama istri kamu, sampai dia pulang ke rumah orang tuanya?" papi Alex mencoba mengorek informasi.
"Kami gak lagi berantem, kami lagi harmonis-harmonis aja!" seru Andrian kesal di tuduh bertengkar dengan istrinya. Papi-nya itu selalu saja mewanti-wanti untuk tidak bertengkar dan menyakiti istrinya. Padahal ia juga tahu akan hal itu. Mana ada suami yang tega dengan sengaja menyakiti istri yang dia cintai.
"Terus kenapa dia bisa pulang? dan kenapa kamu kacau begini?"
"Indah di bawa pulang ayah Gilang, bahkan aku gak boleh menemuinya." duduk tegak dan menatap sang papi dengan serius, dan ada permohonan di sana untuk papi Alex membantunya mendapatkan istrinya kembali.
Papi Alex yang sudah duduk di sofa tepat di depan Andrian, menaikkan sebelah alisnya, bertanya kenapa bisa sampai seperti itu.
"Ayah bertemu Olivia di apartemen." jawab Andrian dengan suara yang di buat sepelan mungkin, dia pastikan papinya juga akan marah dengan hal ini. Tapi sayang papi Alex masih bisa mendengar, dan langsung terperanjat dari duduknya.
"Dasar pria bodoh! bagaimana mungkin kamu membawa wanita itu ke dalam rumah kamu?!" murka papi Alex, tidak habis pikir dengan anaknya itu. Padahal anaknya itu cerdas, tapi kenapa bodoh sekali dengan masalah wanita.
__ADS_1
"Kamu menemuinya saja itu sudah salah! apa lagi sekarang kamu bawa wanita itu, dan kamu sandingkan dengan istri kamu! papi gak pernah mengajari kamu untuk menjadi pria brengsek sperti ini Rian!"
Suara papi Alex yang menggelegar membuat semua penghuni rumah takut dan tidak berani mendekat. Mami Riana yang sedang membaca majalah di kamar sampai kaget dan buru-buru keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Justru karena aku gak mau nemuin Olivia sembuyi-sembunyi di belakang Indah, makanya aku bawa dia kesini pih! dan itu atas seizin Indah kok!" Andrian mencari sedikit saja pembelaan. Meski ia sadar, dirinya memang salah membuat situasi menjadi rumit seperti sekarang.
"Dan kamu kira, karena Indah mengizinkan, dia tidak merasa sakit?! dia sakit hati setiap saat ketika melihat wanita itu! papi jamin itu!"
Andrian tertegun, dia tidak pernah memikirkan sampai ke sana. Karena yang dia lihat istrinya tetap ceria dan biasa saja, Andrian mengira jika istrinya tidak merasa keberatan dengan situasi mereka saat ini.
"Terus Rian harus bagaimana pih?" tanya Andrian lirih, penuh penyesalan.
"Kirim lagi Olivia ke LA! papi akan menjamin biaya hidup dan tempat tinggalnya. Papi akan pastikan keamanannya juga." pilihan pertama papi Alex tawarkan.
"Kalau begitu nikahi Olivia dan ceraikan Indah secepatnya!" penawaran kedua terlontar dari mulut papi Apex dengan geraman.
"PAPI!!" seru Andrian dan mami Riana bersamaan.
Mami Riana yang sedari tadi mendengarkan dan melihat dari jauh, tidak berani mendekat, di buat terkejut dengan tawaran suaminya yang kedua.
"Papi tuh apa-apaan sih? malah nyuruh Andrian menceraikan Indah!" papi Alex dan Andrian menatap wanita paruh baya yang sedang berjalan mendekati mereka.
"Papi malu sama Gilang! jika anak kita yang bodoh ini tidak bisa menjaga dan melindungi Indah, lebih baik kembalikan saja Indah pada Gilang! dari pada Indah bersama pria bodoh ini hanya untuk di sakiti!" suara papi Alex masih tinggi. Menahan geram pada putranya.
__ADS_1
"Tapi aku gak mau di pisahin sama Indah pih! di pisah seperti ini saja sudah bikin aku pusing, apa lagi harus bercerai!" seru Andrian yang ikut meninggikan suaranya.
"Maka dari itu, ambil keputusan secepatnya!" setelah berucap seperti itu, papi Alex meninggalkan ruangan yang membuatnya semakin emosi. Mau di taruh dimana wajahnya jika bertemu Gilang nanti. Anak yang di jaga seperti berlian oleh sahabatnya, justru kini di goreskan luka oleh anaknya sendiri.
Andrian jatuh terlentang di atas sofa, menutup mata dengan lengannya. Mami Riana tidak tega melihat putranya kacau seperti ini. Duduk dan mengangkat kepala anaknya untuk ia pangku dan mengusap rambut yang biasanya tersisir rapi.
"Mami tau kamu berat untuk menentukan. Walau bagaimana pun Olivia memang pernah singgah di hati kamu. Wanita yang menemani kamu sekian lama saat jauh dari keluarga. Dan apa yang menimpa Olivia memang bukan salahnya, jadi wajar jika wanita itu masih ingin bertahan di sisi kamu. Menggapai apa yang dulu dia miliki, yang kini dimiliki wanita lain tanpa dia tau salahnya apa sampai kamu meninggalkannya." ucap mami Riana lembut.
"Tapi disini Indah juga tidak salah. Bukan salah menantu mami menikah dengan kamu. Disini yang salah itu kamu, karena kamu tidak bisa tegas dalam memilih." Andrian menurunkan lengannya dan menatap tepat pada mata mami Riana yang berada di atasnya.
"Lebih baik sakit sekarang dan waktu bisa mengambil alih tugasnya untuk menyembuhkan. Meskipun mungkin akan terasa sangat menyakitkan, tapi akan sembuh dengan berjalannya waktu. Dari pada kalian terus menjalaninya, tapi menyakiti berbagai pihak. Akan terus terasa sakit sampai kamu berani mengambil keputusan." Andrian berusaha mencerna maksud mami-nya.
"Sekarang, tanya sama hati kamu yang paling dalam. Tanya sama hati kecil kamu, siapa yang ingin kamu pertahankan, yang paling kamu takuti untuk kehilangannya. Siapa yang lebih kamu cintai dari keduanya?"
Andrian diam dan mencoba untuk membuka hatinya, melihat dan mencari tahu, benarkah dia hanya menyayangi Olivia dan merasa iba dengan nasib wanita itu? atau masih ada cinta untuknya?
Jika untuk Indah, Andrian yakin dia mencintai istrinya itu. Sehari tanpanya terasa seperti bertahun-tahun yang membuat dia harus menahan rindu kepada wanita itu. Dan berharap Indah merasakan hal yang sama.
Kenapa sulit sekali rasanya untuk melepas Olivia demi Indah. Tapi dia harus berani mengambil keputusan jika dia tidak ingin kehilangan istri sekaligus anaknya.
*
*
__ADS_1
*