
Olivia merasa sangat senang saat Andrian mau datang menemuinya. Apa lagi saat ini tanpa Indah. Itu membuat Olivia semakin bahagia. Ia tidak akan memaksa Andrian seperti kemarin-kemarin. Olivia akan membuat Andrian mengingat lagi kenangan indah yang mereka lalui bersama. Wanita itu yakin, dengan membuat Andrian kembali mengingat kebersamaan mereka, akan membuat Andrian sedikit demi sedikit kembali dengan perasaannya yang dulu. Andrian yang selalu menyayangi dan membelanya jika sedang di bully.
Duduk manis di depan televisi, dengan dandanan cantik khas Olivia jaman dahulu. Menunggu Andrian yang seharusnya sebentar lagi akan sampai.
Hingga suara bell berbunyi, membuatnya mengernyitkan dahinya. "Tumben sekali Andrian membunyikan bell. Biasanya dia akan langsung membuka passcode apartemen." gumamnya sembari berjalan menuju pintu.
Di lihatnya dari layar monitor di samping pintu, terlihat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Olivia mencoba mengingat dimana dia pernah melihat wajah yang tidak asing itu, hingga ia membulatkan matanya.
"Mami-nya Andrian!" pekiknya pelan dan buru-buru membukakan pintu.
"Malam nyonya Riana, maaf membuat anda menunggu lama." ucap Olivia dengan wajah menunduk takut.
Mami Riana mengulas senyum dan mengusap lengan atas Olivia. "Malam Olivia, senang bisa melihatmu sehat kembali."
Olivia memberanikan mengangkat wajahnya saat mendengar nada halus dari wanita yang pernah menjadi calon mertuanya itu.
"Silahkan masuk nyonya." ucap Olivia, memberi jalan untuk mami Andrian masuk ke dalam. Sebelum menutup pintu, Olivia melihat ke kiri dan kekanan, mencoba mencari keberadaan Andrian, namun ternyata nihil.
"Rian tidak bisa ikut. Makanya dia suruh mami datang menemani kamu malam ini." ucap mami Riana saat melihat tingkah Olivia dan tahu apa yang wanita itu coba cari.
Olivia tersenyum kaku dan kembali mempersilahkan mami Riana untuk duduk dan membawakannya minum.
"Kamu masih cantik seperti dulu." ujar mami Riana saat menerima minuman hangat dari Olivia. "Dan semoga hati kamu juga masih baik seperti dulu." imbuhnya lagi. Menatap mata Olivia penuh harap.
Olivia tidak mengerti maksud dari kalimat mami Riana barusan. Dia hanya dia saja, menunggu wanita paruh baya itu melanjutkan.
***
__ADS_1
Sedangkan pria yang sedang Olivia tunggu kehadirannya, sedang dalam perjalanan menuju kediaman Renjana.
Pesan dari ibu mertuanya masuk bertepatan dengan dia yang sudah mencapai ambang pintu. Tanpa ragu ia membuka pesan yang berisi foto istrinya sedang makan tengah malam seperti ini. Di bawahnya tertulis "Anakmu lapar malam-malam, sebenarnya dia ingin makan makanan yang di buatkan oleh papanya. Tapi karena papanya tidak ada di sampingnya, ia terpaksa memakan makanan buatan omanya."
Hati Andrian teriris membaca pesan itu. Harusnya memang dia yang menemani istrinya melalui masa-masa kehamilannya.
Andrian langsung berlari menyusul mami Riana yang baru mencapai tangga. "Mih, Rian butuh bantuan." ucapnya dengan napas tersengal. Mami Riana mengernyitkan kedua alisnya, menunggu anaknya melanjutkan kalimatnya.
Andrian menceritakan Indah yang membutuhkannya, ingin memakan masakannya, dan di temani dirinya. Dia akan menyusul Indah ke rumah mertuanya dan meminta bantuan mami Riana untuk menemani Olivia malam ini saja, hingga besok bi Yani yang akan menemani.
Mami Riana tersenyum senang, tentu saja ia akan membantu putranya itu. Apa lagi ini demi kebaikan menantu dan calon cucu yang sangat ia harapka kehadirannya.
Di kediaman Renjana, bunda Anita sudah meminta semua penjaga dan pelayan untuk membiarkan Andrian masuk dan jangan sampai ketahuan oleh suaminya. Semua itu ia lakukan demi kebahagiaan putri semata wayangnya. Termasuk melawan suaminya sendiri.
Pos security langsung membukakan gerbang saat Andrian berjalan ke arah gerbang khusus pejalan kaki.
Bunda Anita sengaja menyuruh Andrian memakai taxi atau di antar sopir. Agar mobil Andrian tidak terparkir di rumahnya dan membuat suaminya marah.
Bunda Anita sudah menunggu di pintu utama. "Masuklah, Indah sudah masuk kamar setengah jam yang lalu." ucapnya setelah Andrian mencium punggung tangannya. "Tapi ingat jangan berisik, dan jangan keluar kamar sebelum ayah berangkat kerja! tapi biarkan Indah turun sarapan seperti biasa." pesan sang bunda. Sebenarnya wanita itu juga takut suaminya akan tahu, tapi ini demi anaknya. Agar anaknya tidak sedih lagi, agar anaknya ada yang menemani di saat kehamilannya ini.
"Baik bunda." jawab Andrian, mengikuti bunda Anita yang sudah lebih dulu melangkah masuk.
Andrian berjalan menuju kamar istrinya, berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi dan membuat ayah mertuanya bangun dan memergokinya.
Sampai di depan kamar, pria itu membuka pintu kamar perlahan. Bertepatan dengan Indah yang akan keluar. Saat Indah akan menjerit, Andrian langsung membekap mulut istrinya dan membawanya masuk. Menutup pintu rapat dan menguncinya.
Wajar jika Indah kaget dan memberontak, di luar kamar memang sudah gelap karena lampu yang di matikan semua.
__ADS_1
"Ssst ini aku sayang." ucap Andrian pelan. Membuat Indah berhenti meronta karena ia sangat hapal dengan suara ini. Dia mencoba mengendus, dan benar saja, ini wangi parfum yang biasa suaminya pakai.
"Kakak!" ucap Indah kaget, tapi masih dengan berbisik.
Indah berbalik dan dapat melihat wajah tampan suminya. Wajah yang sangat ia rindukan. Bulir bening jatuh di kedua pipi Indah.
"Kenapa menangis." Andrian menghapus air mata itu dan langsung membawa istrinya ke dalam dekapannya.
Tubuh yang Andrian peluk bergetar hebat. Menangis tanpa suara. Piama yang Andrian kenakan terasa basah di bagian dada. Membuat Andrian juga ikut meneteskan air matanya. Merasa bersalah, karena sikapnya yang tidak bisa tegas membuat istrinya menderita seperti ini.
"Aku kangen kak.. aku kangen.." ucap Indah di tengah sesenggukannya.
"Maaf.. Maafin aku.. Kamu harus menderita karena aku." ucap Andrian dengan penuh penyesalan. Apa lagi melihat istrinya menangis seperti ini, membuat ia semakin merasa bersalah. Baru pertama kalinya Andrian melihat istrinya yang biasanya ceria dan bawel, menangis hingga sehebat ini.
Indah menggeleng, ia tidak menyalahkan suaminya atas semua yang mereka alami. "aku cuma kangen.. anak kita kangen.."
"Tolong jangan menangis seperti ini." mengurai pelukannya, menatap wajah cantik yang di penuhi air mata. Menghapus air menyakitkan itu dari pipi istrinya. "Aku bukan pria yang pantas untuk kamu tangisi seperti ini sayang." menangkup kedua sisi wajah istrinya, mencium dahi Indah lama dan kembali memeluk tubuh istrinya yang masih bergetar karena tangisnya.
"Kata bunda, kamu pengin makan masakan aku." tanya Andrian setelah tangis istrinya mereda, "Aku bawain sandwich kesukaan kamu." tujuk Andrian pada paperbag yang ia jatuhkan di dekat pintu tadi.
"Tapi gak tau rasanya enak atau gak. Soalnya tadi buru-buru." tambahnya lagi, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum kikuk.
Indah ikut tersenyum dan mengambil papaerbag dan mengeluarkan isinya. "Ayo makan bareng."
*
*
__ADS_1
*