
"Bi bantu aku ke kamar." tolong Indah kepada asisten rumah tangganya.
Bi Yani yang berdiri tidak jauh darinya, segera membantu Indah untuk ke kamarnya. Perut Indah yang mengencang sedikit nyeri. Mungkin anaknya ikut tegang di dalam sana. Tangan yang satu tak hentinya mengusap perutnya yang masih rata, mencoba menenangkan anaknya agar tidak stres.
"Kenapa?" tanya Andrian yang cemas melihat istrinya mengernyit saat mulai melangkah.
"Gak papa. Urus aja tunanganmu yang lagi butuh perhatian itu!" jawab Indah tanpa memandang Andrian.
Bi Yani membantu Indah untuk merebahkan dirinya diatas tempat tidur setelah mereka sampai di kamar. "Perutnya kenapa non?" tanya bi Yani yang tak kalah panik seperti Andrian.
"Gak papa bi. Cuma kram aja. Mungkin tadi kaget denger teriak-teriak." Indah merasa lebih nyaman ketika sudah rebahan.
"Bibi ambilkan kompresan sebentar ya non."
Indah hanya mengangguk, matanya terpejam, tangannya tidak berhenti membelai perutnya agar anaknya tidak takut lagi.
"Maafin mama sayang.. mama janji gak akan teriak-teriak lagi. Adek gak boleh takut! ada mama yang jagain adek." monolog Indah pada anak dalam kandungannya.
Indah lebih rileks lagi saat kompresan air hangat mendarat di atas perutnya. "Makasih bi." ucap Indah tanpa membuka matanya.
"Kalau sakit kenapa gak bilang? apa perlu ke rumah sakit?" suara Andrian seketika membuat Indah membuka matanya.
"Kakak ngapain disini?" tanya Indah yang akan beranjak duduk. Tapi Andrian menahan pundaknya agar tetap berbaring.
"Segala tanya ngapain! ya jagain istri aku lah!" Saat melihat istrinya meminta bantuan Bi Yani untuk di papah, sebenarnya Andrian sudah sangat khawatir dan ingin langsung menyusul istrinya kedalam kamar. Tapi Olivia memegang tangannya kuat. Dan saat melihat bi Yani mengambil kompresan, Andrian sudah tidak bisa menahan lagi untuk mengetahui kondisi anak dan istrinya.
Indah mendengus dan kembali memejamkan matanya.
"Apa sakit? apa anak kita baik-baik aja? kenapa gak langsung ke dokter sih?" tanya Andrian cemas, takut anaknya kenapa-kenapa.
"Aku tuh cuma kram. Gak perlu ke dokter segala. Kan sudah di ajarin sama dokternya gimana cara menangani kalo sewaktu-waktu kram." membuka matanya dan memandang mata suaminya intens. "Aku mau pulang ke rumah bunda aja! di sini gak bagus buat psikis aku sama anak aku!" imbu Indah dengan bulir bening yang jatuh di pipinya.
Andrian diam beberapa saat. "Boleh pindah, tapi ke rumah mami aja!" jawaban Andrian kali ini terdengar dingin.
***
__ADS_1
Saat Indah sudah tertidur, Andrian mengajak Olivia untuk pergi ke dokter. Andrian takut kondisi wanita itu semakin buruk. Ia tidak mau semakin lama terjebak dalam hubungan rumit ini.
Ingin secepatnya terbebas dari Olivia dan berbahagia bersama istri dan anak mereka. Tapi dia tidak membenarkan juga tentang istrinya yang terlalu gegabah menurutnya.
"Bagaimana keadaan istri kamu?" tanya Olivia dengan nada pedih dalam suaranya.
"Dia baik-baik saja." jawab Andrian dingin.
Menyalahkan Indah, bukan berarti membenarkan Olivia juga. Karena bagaimana pun, keadaan anak dan istrinya sempat memburuk dengan kejadian tadi. Andrian tidak ingin istrinya sampai pendarahan lagi, karena kata dokter itu berbahaya untuk keduanya.
"Kenapa kamu menikahinya?" tanya Olivia dengan suara berat, menahan sesak di dadanya.
"Kenapa tidak menungguku?" tanyanya lagi.
Andrian hanya diam saja, tidak ingin menambah wanita yang pernah singgah di hatinya semakin terluka.
"Kata Indah, kamu yang melamarnya? orang tuamu sudah tidak sabar menunggumu untuk memberikan mereka cucu hingga menjodohkan kalian?"
Olivia tertawa getir saat Andrian masih bungkam. Seakan membenarkan semua yang ia katakan.
"Bukan seperti itu Olive!"
"Jika kau tidak mencintainya, tinggalkan dia dan kembalilah padaku! aku masih mencintaimu, kau tau itu!" serunya dengan nafas naik turun.
"Aku tidak bisa! kau tau Indah sedang mengandung anakku!"
"Aku bisa memberikan anak setelah kita menikah! atau kalau dia mau menyerahkan anaknya, aku mau merawatnya! kalau tidak, aku bisa menggantikannya dengan anak lain yang aku kandung!"
"Bukan hanya sekedar seorang anak! tapi dia darah dagingku, aku bertanggung jawab atas mereka berdua!" ucap Andrian tegas. "Dan aku mencintai keluargaku ini." imbuhnya lirih.
"Dia yang merebutmu, tapi disini seakan aku yang menjadi pelakor di antara kamu dan Indah!"
"Dia tidak merebut siapa pun! aku yang mendatanginya dan memintanya untuk menjadi istriku! dia wanita baik yang berbesar hati membiarkan suaminya merawat mantan tunangannya."
Lagi-lagi Olivia tertawa getir. "Jadi sekarang aku hanya mantan tunangan bagimu? apakah kamu sudah membatalkan pertunangan kita?"
__ADS_1
"Kamu tau sendiri statusku sekarang Olive. Aku mohon kamu mengerti!" pinta Andrian dengan putus asa.
"Jika aku mengerti kamu, lalu siapa yang mengerti aku?"
Tidak ada jawaban Andrian atas pertanyaan Olivia. Mereka sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.
Mobil berhenti di pelataran rumah sakit, Andrian mengajak Olivia untuk turun. Ini pertama kalinya pria itu menemani mantan tunangannya untuk ke dokter.
Mereka langsung memasuki ruang praktek, karena sebelumnya Sarah sudah membuat jadwal untuk Olivia.
Dokter mengajukan beberapa pertanyaan kepada Olivia, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan psikologis. Melakukan Cognitive behavior therapy (CBT). Terapi ini bertujuan untuk membantu pengidap melepaskan pikiran dan perasaan negatif, serta menggantinya dengan respon positif.
Andrian menunggu dengan sabar dan mengikutin semua pemeriksaan. Setelah semua selesai, Andrian dan Olivia duduk berhadapan dengan dokter, untuk mengetahui perkembangan psikologis Olivia.
"Dari pemeriksaan tadi, sebenarnya nona Olivia sudah bisa di katakan sembuh. Melihat dari bagaimana nona bisa menekan emosinya saat saya mengajukan pertanyaan tentang kejadian buruk yang menimpanya." ucap dokter mulai menjelaskan.
"Saat awal dulu, nona akan selalu histeris dan memeluk kakinya merasa ketakutan. Bahkan dapat saya lihat tatapan kosong di matanya."
Andrian merasa lega saat mendengarnya. Artinya hanya perlu sebentar lagi untuknya bertahan dalam kondisi ini.
"Sekarang, di matanya ada sedikit harapan. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk sembuh." Dokter melihat catatan tentang perkembangan Olivia di setiap tes yang di jalaninya selama ini.
"Saya harap, tuan dan orang-orang terdekat selalu memberinya semangat dan dorongan untuk nona Olivia agar cepat sehat kembali."
Mendengar itu, Olivia langsung menggenggam tangan Andrian. Menunjukkan kalau dia lah orang yang bisa memberinya semangat dan dorongan untuk sembuh.
"Trauma yang di alami nona merupakan kejadian buruk yang berpengaruh terhadap kondisi psikologis untuk saat ini hingga masa depan. Kondisi menyakitkan ini dapat membekas bahkan di alam sadar seseorang dalam jangka waktu yang panjang. Jadi kesimpulannya, trauma ini tidak akan sembuh sepenuhnya." Dokter menjelaskan lagi, karena baru kali ini melihat Andrian.
"Setiap ada kejadian yang mengingatkannya tentang kejadian buruk itu, bisa saja membuatnya depresi kembali. Tinggal bagaimana nona bisa menekan emosinya dan menenangkan diri. Lingkungan yang nyaman akan semakin mengubur masa lalu buruknya dan menggantinya dengan kenangan yang lebih menyenangkan."
Andrian malah semakin bingung dengan penjelasan akhir dari dokter. Jadi intinya ia harus tetap menemani Olivia hingga wanita itu benar-benar mengganti kenangan buruknya dengan kenangan yang lebih indah?
*
*
__ADS_1
*