
Cinta bukan tempat kita untuk datang dan pergi. Cinta adalah tempat dimana hati kita memilih untuk menetap. Dan Indah akan mempertahankan tempat dimana hatinya berlabuh saat ini.
Mungkin jika Olivia sadar dari koma sebelum Indah dan Andrian menikah, Indah akan merelakan Andrian untuk berbahagia dengan Olivia. Meskipun tetap saja dulu hatinya sudah jatuh pada pesona Andrian.
"Tapi maaf Olivia. Biarkan aku jahat kali ini. Demi hati dan anakku." monolog Indah di ruang tamu apartemen.
Indah berusaha tenang. Menyiapkan mental menyambut kedatangan suami dan tunangannya. Sarah sudah mengabarkan jika mereka sudah sampai di bandara dan akan langsung menuju apartemen. Kecuali Sarah tentunya, karena dia sudah lelah dan ingin tidur di rumahnya.
Selama Andrian pergi, puluhan kali Indah memikirkan keputusannya menyuruh Olivia untuk tinggal bersama mereka. Indah takut hatinya melemah saat melihat suaminya dan Olivia yang mungkin saja bermesraan di depannya. Andrian akan berpura-pura mereka masih tunangan kan? dan orang yang sudah bertunangan wajar saja jika bermesraan bukan? Aah tapi mengapa membayangkan saja rasanya sakit dan tidak ikhlas begini. Indah menjerit sendiri dalam hati, hingga bell apartemen mengagetkannya.
Menarik dafas dalam-dalam dan melangkah untuk membukakan pintu. Teririslah hatinya hanya dengan melihat Olivia yang merangkul lengan suaminya. Belum ada yang bersuara, hingga Andrian menyadari tatapan Indah pada lengannya, dan mencoba melepaskan tangan Olivia dengan lembut.
"Indah, ini Olivia." Olivia mengulurkan tangannya dengan senyuman lebar.
"Dan Olivia, ini sepupu aku, Indah." ada rasa sakit sendiri saat Andrian menyebut kata sepupu meskipun dengan nada putus asa.
Sebelum Andrian berangkat, mereka sudah menyetujui status Indah adalah sepupu Andrian.
"Hai kak Olive. Senang bisa mengenal kakak. Kak Rian udah banyak cerita tentang kakak." berusaha seceria mungkin agar Olivia tidak curiga. Dan perempuan itu menyambut baik sikap ramah Indah.
"Saya juga senang bisa mengenal sepupu Andrian, yang berarti sepupuku juga. Karena setelah kami menikah, kita akan menjadi saudara juga bukan?" senyum tulus di bibir Olivia, dibalas senyum miris di bibir Indah.
"Ooh iya silahkan masuk." Indah mempersilahkan keduanya untuk masuk, Andrian yang memilih berjalan di belakang Olivia memeluk dan mencium sekilas istrinya yang sudah luar biasa berkorban untuk Olivia, yang bahkan baru di kenalnya hari ini.
Indah menunjukkan kamar yang akan Olivia tempati. Kamar yang bersebelahan dengan ruang kerja suaminya yang memisahkan dengan kamar yang ia tempati.
"Ini kamar untuk kakak. Dan itu kamar aku." tunjuk Indah pada kamar yang di tempatinya.
"Lalu kamu tidur dimana sayang?" tanya Olivia kepada Andrian yang ada di belakang Indah.
Andrian bingung harus menjawab apa. Indah melengos masam dan berdecih dalam hati.
__ADS_1
"Kak Rian kan tinggal di rumah orang tuanya." karena suaminya tak kunjung menjawab, akhirnya Indah yang menjawab.
"Aku bisa tidur di ruangan itu." Andrian menunjuk ruang kerjanya yang terhubung dengan kamarnya bersama Indah. "Itu ruangan kosong kan ndah? ruang kerja kamu bisa aku tempatin kan?" imbuhnya lagi.
"Maaf tidak terima kost putra disini!" jawab Indah ketus.
"Ayoo lah. Aku bayar uang kost-nya lima kali lipat." tawar Andrian mengikuti istrinya.
"Tas limited keluaran terbaru!" jawab Indah melipat kedua tangannya di depan dada.
Andrian terkekeh dan mengacak rambut istrinya. "Oke deal!" jika saja tidak ada Olivia, dia pasti sudah memakan bibir istrinya sampai habis saking gemasnya.
"Selama kamu tinggal di Indonesia, aku akan tinggal di sini juga. Kamu pasti nyaman dengan Indah, dia perempuan yang baik meski kadang menyebalkan."
Olivia tertawa melihat interaksi keduanya yang terlihat akrab meski berdebat.
"Saya tidak sebaik itu tuan Dawson!"
Andrian tidak mempedulikan kata-kata istrinya, dia menjauh menuju dapur.
Indah menyuruh Olivia menaruh barang-barangnya dan menyusul Andrian untuk makan bersama. Baju Olivia hanya sedikit, pakaiannya tujuh tahun lalu mungkin sudah tidak muat atau bahkan sudah rusak karena tidak pernah terpakai terlalu lama. Sehingga Andrian menyuruh Sarah untuk mengajak Olivia membeli beberapa baju untuk mengisi koper kecilnya.
Indah menyusul suaminya yang sudah duduk di meja makan, lengkap dengan piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauknya.
"Kenapa masih masak? Aku kan udah bilang jangan terlalu lelah, kasihan anak kita!" ucap Andrian dengan suara yang di pelankan takut Olivia mendengar.
"Terus kenapa tanya aku masak apa?" balas Indah dengan pertanyaan.
"Kangen masakan kamu sayang." masih dengan nada yang teramat pelan.
"Ya udah. Aku tau kakak pasti kangen masakan aku, makanya aku masak. Tapi di bantuin bibi kok. Aku cuma ngolahnya aja tadi." Indah tersenyum saat melihat Olivia keluar kamar dan mendekat.
__ADS_1
"Duduk kak. Anggap aja rumah sendiri."
"Kamu tinggal sendirian di sini?" tanya Olivia penasaran.
"Iya. Kalo pagi sampe sore ada bibi kok yang beres-beres rumah. Jadi kakak jangan takut kesepian kalo siang."
"Lho. memangnya kalau siang kamu kemana?" Olivia menyendok nasi untuknya sendiri setelah Indah.
"Kalo pagi sampe sore aku kerja. Jadi aku cuma ada di rumah malam sama weekend aja." jawaban Indah membuat Andrian tersedak.
Olivia dan Indah secara bersamaan menyodorkan gelas berisi air minum kepada Andrian. Membuat pria itu menelan ludahnya kelat. Mengambil gelas di tangan Indah pasti membuat Olivia sedih. Mengambil gelas Olivia, selain melukai, bisa di pastikan istrinya akan marah dan tidak memberinya jatah ranjang malam ini. Akhirnya Andrian mengambil gelas miliknya sendiri, dan mereka kembali ke makanan mereka masing-masing.
"Ngomong-ngomong kamu kerja di mana Indah? Pasti senang ya bisa bekerja?" Olivia jadi memikirkan impiannya yang sekarang pupus, bahkan dia tidak lulus kuliah. Tapi tidak apa, setelah menikah dia akan menjadi ibu rumah tangga saja, menunggu Andrian bekerja dan merawat anak-anak mereka di rumah. Begitu pikir Olivia dengan tersenyum sendiri membayangkannya.
"Aku lagi belajar di kantor kak Rian, sebelum nanti nerusin ayah di perusahaan keluarga."
"Memang siapa yang udah ngebolehin kamu buat kerja?" tanya Andrian dengan tajam.
"Lho emang kenapa gak boleh?"
"Kamu gak inget kandungan kamu habis bermasalah?" ucap Andrian tidak sadar sudah keceplosan tentang kehamilan istrinya. Membuat dua wanita di hadapannya membulatkan matanya dengan arti berbeda.
"Kamu sedang hamil?" tanya Olivia terkejut. Membuat Andrian ikut terkejut telah salah bicara.
Indah mendengus mengejek ke arah Andrian. "Iya. Masih bulan awal. Dan belum lama ini sempat pendarahan."
"Ya ampun, kenapa malah tinggal sendiri, tidak bersama suami kamu?" ada tatapan iba di mata Olivia.
"Sayangnya suami aku lebih memilih sama mantan pacarnya dari pada sama istri dan calon anaknya sendiri." jawab Indah dengan santainya seperti tidak ada beban dalam perkataannya. Sedangkan Andrian sedang menelan ludahnya kelat, mendengar kata-kata tajam istrinya.
*
__ADS_1
*
*