
Indah termenung sedih. Duduk di atas tempat tidur, memikirkan nasib kehamilannya yang tidak seberuntung kebanyakan wanita di luar sana.
Kehamilan yang ia jalani bahkan terlalu banyak drama. Dia tidak bisa menikmati juga yang namanya babymoon karena setelah semua drama selesai, suaminya di sibukan dengan berbagai pekerjaan yang sempat terbengkalai.
Indah menghela napas untuk kesekian kalinya. Jangankan babymoon, honeymoon saja dia tidak merasakan.
Terlalu larut dengan pikirannya, hingga wanita yang sebentar lagi resmi menjadi seorang ibu itu tidak menyadari kehadiran suami yang sedari tadi memperhatikannya.
Andrian bersandar pada kusen pintu, memasukan sebelah tangannya ke saku celana. Masih lengkap dengan setelan kerjanya. Memperhatikan istrinya yang sedari tadi melamun dan berulang kali menghela napas.
Andrian penasaran apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiran istrinya hingga seserius itu.
Suara sepatu Andrian menyadarkan Indah dari lamunannya. Wanita itu tersenyum dan menyingkirkan bantal yang ada di pangkuan. Menurunkan kakinya berniat untuk membantu suaminya melepas pakaian kerjanya. Tapi gerakannya terhenti dengan kode dari Andrian yang menyuruhnya tetap duduk.
"Mikirin apa, hm?" mencium puncak kepala istrinya, beralih berjongkok tepat di depan perut istrinya untuk mencium calon anak mereka yang masih terbungkus nyaman dalam perut hangat istrinya itu. Mengusap lembut, menyapa sang anak yang akan selalu mendapatkan respon dengan gerakan-gerakan dari dalam sana. Tak jarang juga kaki kecil sang buah hati tercetak di permukaan kulit sang istri.
"Mikirin kita yang gagal babymoon." jawab Indah dengan wajah yang kembali bersedih. "Bahkan honeymoon juga aku gak ngerasain. Padahal cuma pengen nikah sekali seumur hidup lho." ujarnya lagi.
"Ya iya lah sayang. Sekali aja, jangan nambah lagi." ucap Andrian dengan nada lembut, tapi gemas dengan kalimat terakhir istrinya. Pria itu mengerti kesedihan istrinya yang pasti ingin seperti pasangan-pasangan lain di luar sana.
"Maaf ya. Gara-gara masalah Olivia, kita jadi gagal honeymoon." ucap Andrian sendu. Merasa tidak bisa membahagiakan istrinya. Tidak bisa memberikan yang terbaik sebagai seorang suami.
"Maaf juga karna kerjaan aku yang banyak jadi kita juga gak sempet babymoon." mengusap perut istrinya lagi saat sang buat hati seperti ikut menimpali ucapannya. "Sekarang perut kamu sudah besar seperti ini. Sudah tinggal nunggu sebentar lagi untuk lahiran, udah gak mungkin buat pergi jauh-jauh." imbuhnya lagi.
"Iya gak papa kak. Aku ngerti kok. Cuma sedih aja sih gak bisa ngerasain gimana rasanya."
__ADS_1
Andrian bingung bagaimana membuat istrinya bahagia. Jangan sampai istrinya merasa sedih menjelang kelahiran seperti ini.
"Udah minum susu belum? papa bikinin ya?" tawar Andrian mengalihkan rasa sedih istrinya.
Indah langsung tersenyum dan mengangguk. Bagi Indah, setiap Andrian menyebut dirinya sendiri papa terlihat sangat manis.
"Mama mau yang rasa coklat, tolong ya pah." ujar Indah menimpali dengan manja.
Andrian ikut tersenyum melihat senyum istrinya kembali terbit. Berdiri mencium bibir istrinya sekilas sebelum melepas jas dan sepatunya dan berlalu menuju dapur.
***
Di meja makan yang sudah sepi, Andrian mendapati Olivia yang sedang senyum-senyum sendiri dengan memainkan ponsel di tangannya.
"Jangan senyum-senyum sendiri di tempat sepi begini. Kesambet baru tau rasa kamu."
"Sirik aja lo!"
Andrian menggelengkan kepalanya. Olivia yang dulu ia kenal anggun dan selalu bertutur kata lembut sudah hilang entah kenapa.
Kini yang ada, hanya seorang wanita yang tidak jauh berbeda dengan istrinya jika sedang berbicara. Selalu tanpa filter dan terdengar menyebalkan.
"Belajar yang bener di kampus, jangan pacaran mulu. Punya pacar dosen bukan berarti kamu bisa lulus dengan IPK bagus kalo kamu gak bener-bener belajar." nasihat Andrian sembari menuang susu dengan rasa coklat sesuai permintaan istrinya ke dalam gelas.
"Lo bener-bener berperan jadi abang ya sekarang? nyebelinnya sama kaya yang temen-temen gue ceritain tentang abang mereka." bagi Olivia yang sebelumnya tidak memiliki keluarga, rasanya aneh sekaligus bagaia saat ada orang-orang yang memberinya perhatian sebagai layaknya keluarga yang saling menyayangi.
__ADS_1
"Harusnya kamu bersyukur aku masih peduli dengan menasihati. Nggak biarin kamu semaunya sendiri."
"Iya. Iya. Makasih abangku sayang." menekankan kata sayang sebagai cibiran.
"Ngapain lo sayang-sayang sama suami gue?" seru ibu hamil yang jalannya saja sudah susah dengan kondisi perutnya yang sudah amat membesar.
"Pawangnya datang." gumam Olivia lirih, tapi masih bisa di dengar Indah mau pun Andrian.
"Pawang, emang suami gue uler apa?!"
"Sensi banget dah lo sama gue. Orang gue gak lagi gangguin lo juga." menatap Indah yang ikut duduk di kursi sebrang dia duduk. "Ngapain juga sih malem-malem pada turun. Ganggu ketenangan aja."
"Udah yuk yank, ke kamar aja. Jangan gangguin orang pacaran." ajak Andrian mencegah perdebatan anatara istri dan adiknya lagi hari ini.
"Pacaran sama siapa? hape? perasaan gak ada orang selain kita."
"Udah deh. Sana pada masuk kamar! ngapain kek, dari pada gangguin gue."
"Sabar. Gue mau minum susu gue dulu." Indah meraih susu pada tangan suaminya dan meminumnya hingga habis tanpa henti."Makasih sayang."
Andrian tersenyum dan mengusap pipi istrinya. Tidak ada bosannya dia melihat senyum di wajah yang kini lebih berisi itu. Sekarang prioritasnya hanya membuat istrinya bahagia hidup di sisinya. Membahagiakannya terutama di masa kehamilannya kini. Agar anak yang sedang istrinya kandug juga ikut merasakan kebhagaiaan yang sama.
Tidak ada yang lebih membanggakan selain dia yang mampu membahagiakan wanita yang rela berkorban untuk mengandung benih yang ia tanam. Calon anak mereka, penerus masa depan mereka, dan sumber kebahagiaan mereka kini dan sampai nanti.
*
__ADS_1
*
*