
Besok sahabatnya menikah. Tapi Indah tidak ingin datang sendiri, tidak ingin menjadi obat nyamuk lagi seperti acara lamaran Shevi waktu itu. Untuk resepsi pernikahan Shevi besok, setidakmya dia harus bisa menggandeng seorang pria. Walaupun bukan pangeran berkuda putih. Sebenarnya dia bisa saja mengajak Andrian. Hanya saja dirinya tidak yakin apakah pria menyebalkan itu mau menemaninya.
Indah sibuk memikirkan akan mengajak siapa hingga tidak menyadari jika lelaki dingin yang sempat terlintas dipikirannya sudah berdiri menjulang di hadapannya.
"Memikirkan apa kamu pagi-pagi!" tegur Andrian yang saat baru datang melihat wajah Indah yang biasanya ceria hari ini ditekuk.
"Astaga..!! Bapak sejak kapan disini??!!" tanya Indah sembari mengurut dadanya yang serasa jantungnya mau copot saat tiba-tiba mendengar suara bosnya dari jarak dekat.
Andrian hanya menaikkan sebelah alisnya tidak mengindahkan pertanyaan Indah dan berjalan ke arah tempat duduknya.
"Sahabat saya mau menikah pak!" menjawab pertanyaan Andrian yang belum sempat di jawab tadi sembari mengikuti pria itu dengan membawa beberapa berkas yang Sarah berikan padanya saat baru datang tadi.
"Lalu?" Andrian duduk dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan kedua tangan dilipat didepan dada.
"Yaaa.. Saya bingung mau datang dengan siap!! Sahabat saya sudah punya pasangan semua. Pasti jadi obat nyamuk lagi kalo dateng sendiri." Indah menunduk dengan kedua tangan ditautkan dibelakang tubuhnya sembari berdiri.
"Makanya cari pacar!" seru Andrian yang mulai memeriksa berkas yang Indah berikan.
"Kalau itu saya juga tau pa!! tapi kan mencari pasangan tidak semudah nyeduh kopi sasetan!"
"Memang siapa sahabat kamu?"
"Shavina sama Shera Shandika.. Bapak pasti kenal lah. Mereka kan putri dari almarhum Jovan Shandika." siapa yang tak kenal keluarga Shandika.
"Ooh yang nikah sama anaknya Dion Mahesa?"
"Iya pak.. Jadi gimana dong pak menurut bapak?" ekspresi Indah sudah seperti anak yang baru kehilangan orang tuanya. Menyedihkan.
"Ya sudah datang sama saya saja. Kebetulan saya juga di undang oleh Pak Dion. Dia klien lama perusahaan ini." jawaban Andrian membuat mata Indah seketika berbinar senang.
__ADS_1
"Serius pak! Aaaa Makasih.." Indah langsung meloncat-loncat kegirangan. Andrian hanya menggelengkan kepalanya. Dan tanpa sadar kedua sudut bibirnya naik ke atas membentuk senyuman kecil.
***
Malam itu Indah terlihat sangat cantik. Dengan menggunakan gaun berwarna champagne ala princess berhias rhinestone cantik dan tatanan rambut yang di kepang bercabang dan menjuntai membuatnya terlihat anggun dan dewasa.
Namun sayang manusia dingin disebelahnya terlalu gengsi untuk memujinya cantik. Padahal saat baru bertemu tadi Andrian sempat tertegun. Bukan dia tidak pernah melihat Indah dalam balutan gaun pesta. Dan bukan juga biasanya Indah tidak cantik.
Tapi entah kenapa menurutnya malam ini Indah terlihat begitu sempurna di matanya. Kulit mulusnya, rambut indahnya yang panjang, bulu matanya yang lentik, bibirnya yang tipis dan dipoles lebih berwarna dari biasanya yang hanya warna bibir, tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dan tidak juga pendek yang akan pas jika ia peluk.
Shit. Andrian melemparkan tatapannya keluar jendela. Pikirannya semakin liar melihat dandanan Indah malam ini.
Andrian turun lebih dulu setelah sopir membukakan pintu untuknya. Memutari mobil dan membuka pintu untuk Indah dan menekuk lengannya untuk Indah gandeng.
Mereka berjalan memasuki ballroom yang sudah mulai ramai dipenuhi tamu undangan.
"Rame banget pestanya?" gumam Andrian dengan melihat sekeliling.
"Tiga keluarga?" Andrian bingung. Dimana-mana menikah itu dua keluarga. Kenapa ini pesta tiga keluarga. Mungkinkah anak Pak Dion menikahi dua wanita sekaligus.
"Kakak gak tau? Kembaran sahabat aku kan nikah juga. Karena mereka kembar jadi dinikahkan sekalian !! "
"Ooh. Bukan pernikahan poligami?" Indah langsung memukul lengan Andrian. Membuat lelaki itu meringis.
"Enak saja kalau bicara! Kesana yuk kak bareng temen-temen aku. " Indah menggandeng lengan Andrian menuju Nurin dan Nay beserta pasangan mereka.
Mereka sempat menanyakan perihal Andrian. Tapi Indah enggan menjawabnya sekarang. Karena pasti nanti Lidia dan Shevi akan menanyakan hal yang sama. Jadi sekalian saja nanti.
Mereka menaiki panggung pelaminan untuk memberikan selamat kepada pengantin.
__ADS_1
"Selamat sayangggg" Indah langsung memeluk Shevi setelah sebelumnya juga memberikan selamat kepada Shera dan dokter Bayu.
"Makasih.. Eh Lidia mana nih?" Shevi menanyakan Lidia yang belum terlihat hingga tak lama orang yang dicari datang juga.
Ricky tunangan Lidia ternyata mengenali Andrian dan langsung menyapanya. Andrian juga bilang jika dirinya mendapat undangan dari orang tua Alvin yang memang kliennya sekaligus menemani Indah, anak dari sahabat papinya.
Para sahabat Indah merasa heran dengan kedekatan Indah dengan Ricky tunangan Lidia. Pada akhirnya sesuatu yang selama ini Indah sembunyikan terungkap juga.
"Dasar calon kaka lucknut emang lo.. Kak Ricky kan abang sepupu gue!"
"Hahhhh?" yang lain merasa heran.
Ya, kakek Ricky adalah kakak dari neneknya Indah. Indah tidak ingin membawa nama Barata yang besar itu. Tentu mereka tahu seberapa besarnya bisnis yang dikelola keluarga Barata. Bisnis itu memang raksasa, tapi juga dikelola oleh banyak orang. Keturunan laki-laki dari keluarga Barata. Sedangkan nenek Indah karena perempuan sehingga tidak mewariskan nama Barata untuk anak cucunya. Tapi Renjana, nama belakang dari kakek Indah.
Ricky menjelaskan kepada semuanya. Dan bertanya juga tentang perjodohan mereka. Dasar punya kakak mulutnya ember bener !! Gerutu Indah dalam hati.
Untung saja Andrian tidak terlalu menanggapinya. Mungkin karena pria itu masih bimbang antara wanita yang dia cintai atau nasib pusakanya. Entahlah, yang jelas Indah sama sekali tidak merasa sakit hati. Karena di hatinya juga belum ada cinta untuk manusia dingin bin menyebalkan seperti Andrian.
Bukannya Indah tidak ingin memberi tahu sahabat-sahabatnya tentang perjodohan ini. Hanya saja Indah menunggu hatinya terbuka untuk Andrian baru dia akan memberitahu mereka semua. Indah hanya ingin berbagi kebahagiaan saja. Tapi karena semua sudah tau, apa yang Indah bisa lakukan jika tidak menjelaskan semuanya.
Sebentar lagi pasti mereka akan memborbardirnya dengan sejuta pertanyaan saat ada kesempatan. Lebih baik Indah mematikan ponselnya untuk sementara waktu. Menghindari berbagai macam pertanyaan yang dirinya sendiripun belum mengetahui jawabannya.
Indah tidak bisa menolak perjodohan ini. Tapi belum bisa juga untuk menerima. Terlebih sifat Andrian yang selalu menyebalkan.
Disisi lain dia ikut bahagia melihat sahabatnya yang sudah lama menderita karena cinta akhirnya bisa menikah dan bahagia bersama orang yang dicintainya. Melihat Alvin menatap Shevi dengan penuh cinta, Indah juga ingin merasakan hal yang sama. Begitu juga saat melihat Bayu dan Alvin bernyanyi bersama untuk istri masing - masing. Alangkah bahagianya menjadi Shera dan Shevi malam ini. Indah jadi membayangkan akan seperti apa pernikahannya kelak.
"Jangan melamun terus. Nanti kesambet perawan tua." bisik Andrian di dekat telinga Indah. Membuat wanita itu menyebik kesal.
*
__ADS_1
*
*