
Langit mulai mendung dengan awan hitam yang menggantung di atas mereka.
"Orang tua saya tidak ada yang tahu jika di sana saya punya kekasih. Hingga saat saya lulus S1 saya memberanikan diri meminta ijin papi dan mami untuk melamar Olivia. Namanya Olivia." Andrian menengok sekilas ke arah Indah saat menyebutkan nama gadis yang dia cintai.
"Awalnya papi marah. Dia dari awal sebelum saya berangkat ke Amerika sudah bilang akan menjodohkan saya dengan kamu. Papi juga memberikan foto kamu saat itu.
Saya memang menerima perjodohan yang papi buat. Toh dilihat dari foto, kamu cukup cantik untuk bersanding dengan saya. Untung dulu saya tidak tau sifat kamu yang manja dan ceplas-ceplos." Indah melirik tajam.
"Mau muji mah muji aja.. Gak usah di jatuhin lagi!"
"Hahaha siapa bilang saya muji kamu. Tapi memang saat pertama saya melihat kamu hanya kata cantik yang pertama kali terlintas di pikiran saya." untuk pertama kalianya Indah mendengar Andrian tertawa. Dan untuk pertama kalinya Andrian menyebutnya cantik. Indah merona karenanya.
"Tapi itu sebelum saya bertemu Olivia." kata selanjutnya menyayat hati Indah. Rasa apa ini? Kenapa rasanya sakit sekali dia lebih membela wanita lain.. Pikir Indah dalam hati.
"Setelah saya bertemu dengannya, saya lupa sudah dijodohkan. Toh kita belum pernah bertemu. Jadi saya rasa saya tidak salah jika mencintai wanita lain. Disitu saya punya pilihan untuk masa depan saya selain menikahi kamu.
Papi marah. Apa lagi saat tahu jika Olivia anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Papi menentang keras hubungan kami. Tapi saya berusaha meyakinkan papi jika Olivia wanita baik-baik. Saya bawa Olivia ke Indonesia untuk menemui papi dan mami. Hanya mami yang menyambut baik Olivia. Sedangkan papi jangankan bertanya, menatap pun tidak. Tapi atas bujuk rayuan dari mami yang meyakinkan papi jika Olivia wanita baik. Papi dengan terpaksa mengijinkan kami bertunangan. Saat itu Olivia belum lama lulus SMA.
__ADS_1
Kami kembali ke Amerika untuk memenuhi syarat dari papi yang mewajibkan saya untuk mendapatkan gelar S3 baru boleh menikahi Olivia. Biarpun disana negara bebas tapi saya menjaga Olivia dengan baik. Tidak pernah sedikitpun saya menyentuhnya terlalu jauh. Kita hanya berani berciuman. Itu pun setelah kami tunangan baru berani melakukannya. Tapi sayangnya apa yang saya jaga direnggut oleh manusia-manusia biadaab!" ada kilatan kemarahan yang dapat Indah lihat di mata Andrian.
Andrian terus melanjutkan ceritanya tanpa memakan es krim yang sudah mencair ditangannya. Indah mengambil es krim itu dan ia buang ke tempat sampah yang tidak jauh dari mereka. Kemudian mengelap tangan Andrian yang lengket dengan tisu basah. Andrian memperhatikan semua yang Indah lakukan. "Lanjutkan kak.. Aku tau kamu butuh tempat berbagi. Bukankah kita harus saling terbuka sebelum memutuskan untuk menikah nanti?" Andrian mengangguk.
"Setahun setelah pertunangan kami saya mulai sibuk dengan kuliah karena saya mengambil banyak SKS sekaligus agar cepat lulus. Agar saya bisa memiliki Olivia secara sah dan sepenuhnya. Tapi saat saya baru keluar kelas malam hari, teman saya yang mengenal Olivia memberi kabar yang membuat saya rasanya mati ditempat. Saya langsung berlari ke parkiran mengambil mobil untuk pergi rumah sakit.
Disana Olivia terbaring tak berdaya. Tubuhnya banyak luka gores sayatan dan lebam. Kamu tahu apa yang membuat Olivia seperti itu?" Tanya Andrian dengan mata yang mulai memerah menahan tangis dan amarah sekaligus. Indah menggeleng. Meskipun dia bisa menebak akan kemana arah cerita Andrian. Andrian menarik nafas sebelum kembali bercerita.
"Olivia kuliah dengan beasiswa. Setiap pulang kuliah dia bekerja paruh waktu di sebuah restoran. Kalau saya tidak ada jam kuliah malam, saya selalu menjemputnya pulang. Hari itu Olivia pulang sendiri, dia di cegat lima anak brandalan disebuah gang yang selalu dia lewati jika pulang sendiri." Indah bisa melihat Andrian mengeratkan gigi dan mengepalkan telapak tangannya kuat. Menahan gejolak seperti kejadian itu terjadi hari ini di depan matanya.
"Dan dengan biadaabnya mereka bergantian menyetubuhi gadis lemah seperti Olivia. Karena rasa takut, syok, dan sakit yang Olivia rasakan, dia tidak sadarkan diri saat pria ketiga menyetubuhinya. Dia ditemukan warga yang langsung menghubungi ambulance, namun sayangnya Olivia dinyatakan koma saat sampai di rumah sakit. Mungkin gadis itu takut menghadapi kenyataan yang terjadi. Mungkin dia terlalu trauma sehingga dia lebih nyaman hidup di dalam tidurnya." suara Andrian bergetar menahan tangis. Tangis yang sudah sangat lama tidak pernah ia keluarkan kembali.
"Sebulan kemudian dokter menyatakan jika Olivia hamil. Tapi karena satu dan lain sebab, kandungannya di gugurkan oleh pihak rumah sakit. Mengetahui itu rasanya saya ingin membunuh semua orang yang menyebabkan Oliviaku seperti itu. Duniaku hancur seketika saat baru mengetahui kabar musibah yang Olivia alami. Dan lebih hancur lagi saat tahu Olivia koma!"
"Lalu pria-pria brengsekk itu? Dan dimana Olivia sekarang?" tanya Indah yang sudah berurai air mata.
"Saat tahu Olivia koma, saya langsung mencari bukti dan melaporkannya kepada polisi. Mereka semua dipenjara dan mendapat hukuman penjara seumur hidup. Ternyata bukan hanya Olivia korban mereka. Banyak wanita yang mengalami hal yang sama meski tidak separah Olivia. Yang sampai saat ini masih nyenyak dalam tidurnya." Indah menggenggam erat tangan Andrian. Menyalurkan semangat dan kekuatan.
__ADS_1
"Kakak masih cinta kan sama Kak Oliv?" pertanyaan yang Indah lontarkan mengantarkan sayatan di sudut hatinya yang masih ia sangkal. Tidak mungkin dirinya menyukai pria dingin dihadapannya ini.
"Ya. Saya masih mencintai dia." jawab Andrian sembari menatap dalam mata Indah. Mencari tahu arti pertanyaan gadis itu.
"Kalau begitu perjuangkan kak! Kakak harus perjuangin cinta kakak dan kak Oliv! Biar masalah Om Alex nanti Indah yang ngomong." Andrian malah tertawa mendengar ide dari Indah. Membuat Indah menatapnya heran sekaligus mengahangat mendengar tawa pria itu.
"Kamu pikir kamu bisa apa anak kecil?" Andrian mengacak rambut Indah.
"Indah bukan anak kecil tau! Indah yakin bisa bujuk Om Alex buat batalin perjodohan kita!" Indah berikeras. Merapikan rambutnya dan menahan degup jantungnya yang semakin tak terkendali.
"Kamu tuh sudah menjadi anak kesayangan papi sama mami. Mereka bahkan lebih sayang sama kamu dibanding sama saya!" Andrian ingat saat dirinya harus terpaksa menemani Indah bermain ke taman hiburan dan menemukan anak dari sahabatnya Indah yang bernama Shevi. Andrian ingat bagaimana orang tuanya menyuruh Indah memanggil mereka papi dan mami seperi dirinya. Dan betapa manjanya gadis ini kepada orang tuanya seperti orang tua Indah sendiri.
*
*
*
__ADS_1