
Indah bingung antara harus merasa lega atau justru khawatir. Dari ucapan Olivia, dia bisa menangkap jika wanita itu sudah tahu kalau Indah adalah istri Andrian, bukan sepupunya. Hanya yang dia bingung, dari mana Olivia tahu kalau Andrian suaminya.
Berjalan menuju dapur mencari makanan, anak dan perutnya sudah meminta jatah sarapan yang terlambat.
"Ada makanan apa bi?" tanya Indah pada bi Yani yang sedang menyuci.
"Tadi masak nasi goreng non. Kata non Olive, dia belum sarapan, jadi bibi masakin nasi goreng."
Indah hanya mengangguk dan menyendok nasi ke dalam piring di hadapannya.
"Anu non, maaf sebelumnya. Kemarin non Olivia masuk ke ruang kerja tuan muda, tapi sepertinya juga masuk ke kamar non Indah." ucap bi Yani takut-takut.
Indah terbatuk mendengarnya, langsung meminum air yang di tuangkan bi Yani. Sekarang dia tahu dari mana Olivia tahu semuanya, karena semua barang Andrian ada di kamar mereka, dan jangan lupa foto pernikahan yang mereka cetak besar untuk mengisi dinding tepat di depan tempat tidur.
"Bibi kemarin sedang masak buat makan malam sebelum non pulang, terus dengar non Olivia menangis histeris lari dari dalam kamar nona dan tuan." bi Yani masih menunduk takut karena nona-nya masih belum bersuara.
"Maaf non, gara-gara bibi lupa mengunci pintu, non Olivia jadi tahu."
"Sudah bi, gak papa. Udah waktunya dia buat tahu. Biar dia sedikit saja sadar kalau kak Rian sudah beristri." mulutnya berkata seperti itu, tapi hati dan pikirannya masih belum tenang memikirkan semuanya.
Setelah masuk beberapa suap makanan ke dalam mulutnya, tiba-tiba perutnya serasa di aduk-aduk. Apa yang ia makan seakan naik semua dan meminta untuk di keluarkan.
Indah buru-buru mendekati wastafel dan memuntahkan semuanya. Di bantu bi Yani yang panik melihatnya.
"Makanan bibi gak enak ya non?" tanya bi Yani khawatir nona-nya tidak menyukai masakannya.
"Bukan bi, anakku memang mulai pilih-pilih." kekeh Indah agar bi Yani tidak merasa bersalah.
"Bibi bikinkan teh ya non?" tawar bi Yani, di jawab anggukan Indah yang sedang memijat dahinya.
Mungkin ini yang di namakan morning sickness yang banyak ibu hamil alami. Mungkin karena kehamilan Indah yang baru akan menginjak dua bulan, makanya Indah baru merasakannya. Karena sebelumnya ia tidak merasakan tanda-tanda kehamilan apa pun. Bahkan saat baru diketahui, kehamilannya baru dua atau tiga minggu.
__ADS_1
Saat sedang mencoba meredakan rasa pusingnya, Olivia mendekat, sudah dengan dandanan rapi.
"Ayo Indah!"
Indah mendongak bingung.
"Antar aku ke rumah calon mertuaku yang kini menjadi mertuamu." imbuh Olivia saat melihat kebingungan di wajah Indah.
Indah merasa terluka dengan nada sindiran yang terlontar dari mulut Olivia.
"Bisa nanti malam saja tidak kak, nunggu kak Rian pulang. Aku gak enak badan." ucap Indah jujur, memang Indah merasa tidak enak badan. Selain rasa mual, pusing, badannya juga sedikit lemas.
"Mau sampai kapan kamu mengulur waktu? apa kamu tidak malu merebut tunangan orang yang sedang koma tak berdaya?" seru Olivia yang sudah tidak tahan dengan semua sandiwara Andrian dan Indah.
"Jangan pura-pura baik di depan ku, sedangkan di belakang kau ambil Andrian dariku."
Indah tercekat tanpa bisa menjawab. Memang benar dia jahat karena mengambil Andrian yang jelas-jelas mencintai wanita lain, wanita yang sedang berjuang untuk kembali sehat dan bersanding kembali dengan Andrian.
"Aku hanya ingin bahagia! sama seperti wanita lainnya! seperti kamu!"
"Maaf Olivia, aku tau bagaimana keadaanmu. Tapi aku juga mohon kamu mengerti, aku bertahan bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk anak kami." ucap Indah dengan mengelus perutnya.
"Kamu bisa menyerahkan anakmu kepadaku, aku janji akan menyayanginya seperti anakku sendiri. Dia tidak akan kekurangan kasih sayang kedua orang tua, karena aku pernah merasakan bagaimana rasanya tanpa orang tua." rayu Olivia dengan memelas.
Indah mendengus. "Aku yang hamil dan melahirkan, dan kau akan mengambilnya? jangan pernah bermimpi Olivia! aku bisa membesarkan anakku sendiri, meski harus tanpa kak Rian sekali pun!" sakit sekali rasanya. Bahkan Indah belum genap dua bulan mengandung anaknya dan Andrian, kini ada orang yang berniat memisahkan dirinya dengan anak yang belum bisa ia lihat.
"Tapi jika kamu merawat anakmu sendiri, Andrian tidak akan bisa melepaskanmu!"
"Maka dari itu biarkan kak Rian memilih! biarkan dia memilih ingin hidup dengan siapa! denganku dan anak kami, keluarganya. Atau denganmu!" seru Indah yang mulai tidak bisa menguasai emosinya. Sudah cukup Indah bersabar mengahadapi Olivia selama ini.
"Tapi aku yang menemaninya di saat dia kesepian tanpa keluarganya! aku cinta pertamanya! dan di saat aku sedang terkapar, kau malah mengambilnya!" teriak Olivia.
__ADS_1
"Cukup menyalahkan aku! kak Rian yang datang melamarku di saat tidak ada cinta di hatiku! bukan aku yang mengemis cinta kepadanya." salahkah dia mempertahankan suami dan ayah dari anaknya.
"Apa Andrian tidak cerita tentang dia yang sudah memiliki tunangan! apa dia tidak pernah menceritakan tentang diriku!" Olivia yang melihat Indah hanya diam saja, kemudian melanjutkan. "Kalau dia certia, kenapa kamu masih menerima lamarannya?"
"Mami sama papi bilang sudah mendatangkan semua dokter terbaik untuk menyembuhkanmu, tapi tak satu pun yang bisa membawamu kembali! mereka sudah cukup bersabar menunggumu, mereka sudah ingin memiliki cucu dari kak Rian." Indah menjawab dengan uraian air mata, tidak terima di salahkan seakan-akan dia merebut suami orang.
"Apa salahnya aku menuruti mereka yang juga menyayangiku seperti anak mereka sendiri! dan apa salahnya aku mempertahankan suami yang kini aku cintai! mempertahankan ayah untuk anakku!" Indah mengusap perutnya yang terasa mengencang.
"Ada apa ini?" suara Andrian membuat dua wanita yang menangis itu menatap ke arahnya.
Andrian yang di hubungi bi Yani karena istrinya muntah-munta langsung pulang setelah meeting selesai. Karena sebelumnya Andrian sudah berpesan untuk menjaga Indah dan mengabarinya jika ada sesuatu.
Tapi saat membuka pintu apartemen dia malah mendengar dua wanita sedang berdebat.
"Kenapa kamu bohongin aku Rian! kenapa kamu menikah dengan wanita ini!" jerit Olivia mendekati dan mengguncang tubuh Andrian.
Andrian yang terkejut Olivia sudah tahu tentang pernikahannya beralih menatap Indah.
"Dan istrimu itu bahkan bilang akan mengirimku lagi ke Amerika jika aku masih mencoba mendekatimu seperti semalam."
Indah mendengus dan tertawa dalam hati melihat sandiwara Olivia. Masih mengusap perutnya yang masih saja mengencang.
Andrian tidak percaya istrinya setega itu memberi tahu Olivia, padahal ia sudah bilang akan bertanya dulu kepada dokter yang menangani Olivia keadaan wanita itu.
Jika Indah marah tentang semalam, kenapa tidak bilang padanya dan malah mengancam Olivia seperti ini.
*
*
*
__ADS_1