My Annoying Soulmate

My Annoying Soulmate
Ratu Istanaku


__ADS_3

..."Andai aku tidak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tidak perlu merasa terbang terlalu tinggi dan jatuh pun tidak terlalu keras."...


Indah merasa baru saja ia merasakan indahnya cinta. Merasakan bagaimana bahagianya berumah tangga. Kini ia sudah harus merasakan bagaimana badai itu menerjang. Awan cerahnya berubah menjadi awan gelap yang siap tidak siap harus dia hadapi. Walau sakit tak peduli, badai itu akan tetap menerjang. Hingga ia memilih untuk bertahan meski sakit, atau menyerah dan kehilangan.


Tapi bukan Indah namanya jika menyerah begitu saja. Kini bukan hanya ia yang membutuhkan Andrian. Ada nyawa lain dalam perutnya yang juga membutuhkan Andrian sebagai seorang ayah. Ia tidak akan memberikan ayah lain untuk anaknya. Baginya, suami dan ayah untuk anaknya, selamanya hanya Andrian. Dan tidak ada Andrian lain selain Andrian Dawson.


Dia ratu di istananya ini. Jadi kenapa dia yang harus pergi. Ini tempatnya, ini wilayahnya. Seharusnya musuh yang harus ia jatuhkan dan ia usir. Bukan malah dia yang meninggalkan istananya dan menyerahkan suaminya pada musuh. Itu sama saja kekalahan yang telak.


Dia akan menunjukan kekuasaannya di istananya ini. Menunjukan pada Olivia jika ia tidak hanya memiliki tubuh Andrian, tapi juga hati dan cintanya. Ia akan melawan Olivia dengan cara yang lebih cantik. Pelan tapi menyakitkan.


Ketika bangun dan tidak mendapati suami di sampingnya, Indah bertanya kepada bi Yani, dan memberitahukan jika Andrian sedang mengantarkan Olivia untuk kontrol rutin ke dokter.


Meminta segala cemilan dan buah kepada bi Yani, Indah duduk di depan televisi menikmati acara komedi sambil tertawa-tawa. Bukan melupakan rasa sakit di hatinya. Hanya sedang menutupi rasa itu agar tidak terasa.


Hingga waktu menjelang sore dan Andrian belum juga pulang, ia tertidur di sofa dengan bantal pada pelukannya.


***


Andrian dikejutkan dengan istrinya yang terlelap meringkuk di sofa, ia dan Olivia pulang setelah langit menggelap. Mendekati tubuh istrinya dan ia rengkuh, membawa tubuh istrinya kedalam kamar mereka.


Kenapa bisa istrinya itu tidur di sofa? bisa-bisa badannya sakit semua saat bangun nanti. Dan Andrian tidak ingin istrinya kenapa-kenapa apa lagi sedang mengandung.


Saat Andrian baru meletakkan istrinya di atas tempat tidur, wanita itu menggeliat dan membuka matanya.


"Kakak sudah pulang?" tanya Indah dengan tersenyum. Rasanya kangen sekali dengan suaminya ini. Biasanya mereka 24 jam selalu bersama, tapi karena hari ini ia tidak ikut ke kantor, jadi rasanya lama sekali.


"Iya. Kenapa tidur di sofa? nanti badan kamu sakit-sakit!" ujar Andrian, merapikan anak rambut istrinya dan mengusap pipi yang mulai berisi itu.


Indah mencium tangan yang berada di pipinya. "Aku kangen kak.." rengeknya manja. Membuat Andrian terkekeh dan tak kuasa untuk mencium bibir istrinya. Niat hati ingin marah karena ketidak sabaran Indah memberi tahu Olivia, tapi jika istrinya menggemaskan begini, siapa yang bisa tahan.

__ADS_1


Andrian ikut merebahkan dirinya di samping istrinya, mendekap tubuh yang ia rindukan seharian ini.


"Aku juga kangen. Bagaimana keadaan perut kamu? apa anak kita sudah baik-baik saja?"


"Baik banget malah, dan kayaknya dia minta di jenguk papanya." ucap Indah menggoda Andrian dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Kamu yang mengundang ya.. Jangan salahkan aku, jika malam ini aku gak lepasin kamu seperti semalam!" ancam Andrian.


"Siapa takut!" tantang Indah.


Andrian langsung memulai dengan mencium bibir istrinya. Indah membalas ciuman suaminya dan semakin memeperdalam ciuman mereka. Lama mereka saling memagut, mengalirkan gairah pada tubuh mereka untuk saling di tuntaskan.


Bibir Andrian beralih dari bibir istrinya menuju ke leher jenjang sang istri, menikmati aroma yang selalu membuatnya candu. Aroma yang selalu bisa meningkatkan gairahnya.


Saat sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang pun, Andrian menghentikan aksinya yang sedang bermain di atas dada sang istri.


"Lupa belum kunci pintu." jawab Andrian yang akan beranjak menuju pintu, tapi di cegah oleh Indah.


"Ngapain di kunci? gak ada yang bakal berani buka juga!" seru Indah tak ingin suaminya beranjak dan menghilangkan gairahnya.


Andrian tidak berfikir jika tadi ia meninggalkan Olivia di ruang televisi saat memindahkan tubuh Indah. Tidak ingat ia masuk dari pintu kamar Indah dan tidak keluar lagi. Walau pun sebenarnya itu semua sudah tidak berpengaruh. Karena toh Olivia sudah mengetahui mereka sudah menikah.


Namun yang Andrian tidak tahu adalah, pintu kamar mereka masih terbuka sedikit. Dari celah kecil itu, Indah dapat melihat tubuh Olivia yang sedari tadi berdiri di sana. Dan Indah memang sengaja mengundang Andrian untuk menyentuhnya. Berharap wanita itu sadar kedudukannya saat ini.


Mendengar penuturan istrinya, Andrian kembali melakukan aktifitas panas mereka. Bahkan saat ini erangan dan desahan Indah kembali keras seperti sebelum ada Olivia di apartemen mereka. Indah tidak peduli jika Olivia mendengar suara laknatnya. Tak jarang ia sengaja memperkeras desahannya saat suaminya menghujamnya dalam.


Indah tertawa dalam hati. "Nikamati rasa panas yang ada di apartemen ini Olivia. Malam panjangmu bukan hanya malam ini. Tapi malam-malam berikutnya sampai kamu tidak tahan untuk mendengarnya."


Andrian mencium dahi istrinya dan tak lupa ucapan terimakasih, saat pergumulan panas mereka yang entah keberapa malam itu berakhir.

__ADS_1


"Besok pagi, aku akan menyuruh Bi Yani buat mengemas barang-barang kita!" ucap Andrian saat istrinya belum juga tertidur. Padahal biasanya istrinya itu akan langsung tertidur jika mereka selesai melakukan kegiatan malam mereka. Atau mungkin istrinya tidur terlalu lama tadi sore.


"Buat apa?" tanya Indah bingung.


"Kamu bilang mau pindah ke rumah mami."


"Kakak ikut?"


"Ikut lah! masa istri aku di rumah mami tapi aku di sini sama wanita lain!" seru Andrian yang tidak suka dengan pertanyaan istrinya, yang seakan memojokkannya masih berharap kepada Olivia.


"Tapi kayaknya aku mau di sini aja deh kak." ucap Indah dan memeluk tubuh penuh keringat milik suaminya.


"Kenapa? kata kamu di sini gak bagus buat psikis kamu dan anak kita. aku juga gak mau kejadian tadi terulang lagi. aku gak mau kamu sama anak kita kenapa-kenapa!"


"Aku janji bakal lebih mengontrol emosi aku biar kejadian tadi gak terulang lagi kak! tapi aku tetep mau di sini mengawasi kalian!"


Andrian menghela napas. "Ya sudah kalau itu maumu. Tapi jangan sampai kejadian tadi terulang lagi! atau kamu harus ikut kemana pun aku pergi, agar aku bisa mengontrol kalian berdua." mengusap perut istrinya.


"Iya sayang. Makasih ya?" ucap Indah dengan riang dan menecup bibir suaminya berkali-kali.


"Kamu lagi godain aku? jangan salahin aku kalau aku minta nambah lagi!" ancam Andrian yang langsung membuat Indah menjerit.


"Jangan... Aku udah capek banget kak." menjerit manja, membuat Andrian terkekeh.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2