
Erick termanguh melihat senyum lexa, senyum yang dia lihat pas di kantin waktu itu, rasa takut juga menyesal menyerang nya secara tiba-tiba apa lagi gadis itu berbalik pergi dari hadapan nya...
tidak jangan pergi..
kata-kata itu seakan nyangkut di tenggorokan nya dia tau ini salah, tapi apa tidak bisa dia memiliki gadis itu namun apa yang harus dia lakukan saat ini...
dia tidak tau kalau pengaruh gadis itu sudah sangat menyebar di kehidupan nya, 10 hari dia tak melihat gadis itu membuat nya begitu tersiksa sering kali dia berdiri di depan mansion milik Wijaya menatap pintu jendela kamar gadis itu, sebagai obat rasa rindu nya namun itu tidak bisa hanya bertahan beberapa menit saja...
tidak ada yang dapat dia lakukan saat ini bertemu gadis itu saja dia sangat malu...
apa yang harus aku lakukan.?? pikirnya
pertanyaan itu selalu hadir sepuluh hari ini dia benar-benar bingung, dia punya kesempatan malam ini untuk mengobrol tapi lagi-lagi dia mengabaikan kehadiran lexa seperti beberapa hari lalu...
lamunan nya terhenti saat seseorang menepuk bahu nya "kenapa gak bilang sesuatu pada nya.??" tanya Rio melihat arah kepergian lexa.
"dia gak tau apa-apa... setidak nya kamu ngomong yang jujur biar dia gak bingung.!!" lanjut Rio
"aku... malu... melihat nya pun aku gak berani apa lagi menjelas kan.!!! aku tidak bisa bayangin wajah kecewa nya Rio..!!!" ujar nya frustasi.
"brengsek sialan... aku harus menyelesaikan nya..!!" ucap nya penuh tekad
*****
seorang cowok menatap kearah jendela kamar rawat dengan tatapan kosong, namun rasa takut juga menyesal terbesit jelas di mata hitam itu...
bodoh.!! bodoh.!! bodoh !!!
hanya satu kata itu yang dia semat kan untuk diri nya saat ini, iya ... dia memang bodoh mengabai kan orang yang tulus pada nya,ketika hati nya mulai terbuka orang itu malah pergi di tambah perlakuan nya yang menyakiti fisik serta hati gadis itu...
dia benar-benar tidak bisa membayang kan jika di benci oleh gadis itu, apa yang akan dia lakukan.??? meminta maaf.?? itu tidak akan mudah dia tau gadis itu sangat keras kepala....
mungkin dulu dia sangat mudah mendapat kan maaf dari nya tapi tidak sekarang, masih dia rasakan tatapan asing dari mata coklat itu seakan di tubuh gadis itu bersemayam jiwa dari dunia asing...
lagi-lagi dia mengepal erat tangan nya mengingat kejadian beberapa hari lalu dimana dia menampar gadis itu hingga 2 kali, gadis yang mulai dia sukai, gadis yang sudah memenuhi pikiran nya, gadis yang menjadi incaran sepupu nya...
"AAARRRGGHHH...!!!"
braak...
pintu rawat inap nya di buka secara kasar,masuk lah beberapa pemuda menghampiri nya dalam keadaan wajah panik...
__ADS_1
"dim... kamu kenapa.??" tanya salah satu cowok disana
Dimas terperanjat melihat sahabat nya berada disana.
"kalian... tau dari mana kalo aku di sini.??" tanya nya bingung, seingat nya dia pingsan setelah di hajar Rizal..
"tuh Juna yang ngasih tau... kata nya kamu pingsan di jalan...!!" jelas cowok bernama Reza
Dimas menatap Juna yang juga menatap nya datar, dia tau kalau Juna yang menemukan dan membawa nya kerumah sakit, tapi entah kenapa teman nya itu sangat misterius...
Dimas hanya mengangguk pelan dan kembali menatap arah luar jendela..
"siapa yang menghajar mu dim.??" tanya Andre dengan nada geram
"iya bilang sama kita.!!" sahut Reza
Dimas tidak menjawab dia melihat satu persatu teman nya itu dan akhir nya menggeleng..
"aku gak tau... malam itu sangat gelap. aku gak bisa liat muka nya.!!" ujar nya bohong dia gak mau teman nya tau kalo Rizal yang menghajar nya. tidak untuk saat ini...
mendengar jawaban Dimas membungkam para cowok itu ,mereka memilih diam tidak menlanjut kan lagi tapi tidak dengan Juna dia sangat penasaran dengan orang yang menghajar Dimas...
****
karna kejadian semalam tak sedetik pun ia memejam kan mata nya hingga menjelang pagi, dengan langkah cepat ia masuk ke kamar mandi dan bersiap dengan seragam nya...
hari ini dia ingin berbicara pada orang itu biar cepat selesai dia tidak ingin terus-terusan tersiksa seperti sekarang, dia ingin menjalani nya dengan normal tanpa beban atau tekanan...
ia melihat tampilan wajah nya di cermin dapat terlihat warna hitam di bawah mata nya meski tipis...
dengan langkah lebar ia menuruni tangga di bangunan mewah itu...
"Erick.!!" panggilan lembut menghentikan langkah pemuda itu yang ingin keluar...
"iya ma... !" jawab nya ia melihat seorang wanita paruh baya duduk di ruang tamu sambil menyesap secangkir kopi...
"udah mau berangkat.??" tanya nya meletak kan majalah di tangan nya..
"iya ma... erick mau ketemu seseorang.!" jelas nya
"sarapan dulu nak baru berangkat."
__ADS_1
"nanti di sekolah aja."
"eemmm... baiklah... oh ya sayang jengukin Dimas di rumah sakit ya.?? kasian dia di sana Tante Wina sama om wigan masih ada di NY." pinta sang mama hati-hati dia tau anak dan keponakan nya dari dulu tidak akur.
"Erick gak bisa ma... Erick ada urusan lain..!!" tolak nya cepat
"emang gak bisa di sempetin gitu.??"
"ma..!!"
"ayolah sayang... biar gimana pun dia kan kakak sepupu mu.. ya.??" bujuk sang mama lembut
Erick menarik nafas kasar dia tidak bisa menolak lagi apa lagi ini permintaan mamah nya seorang wanita melahirkan nya..
dia mengangguk pelan membuat wanita itu tersenyum senang.
"yaudah Erick berangkat dulu!" ia pun pergi dari sana setelah mencium telapak tangan mamah nya.
"hati-hati ya nak.. jangan ngebut." seruh sang mama melihat anak nya sudah menaiki motor..
Erick melaju kan motor nya dengan kecepatan sedang dia sangat malas bertemu dengan cowok bernama dimas itu yang berstatus sepupu nya..
iya... dia dan Dimas adalah sepupu ayah nya dan papah nya Dimas saudara kembar, namun nasib mereka berbeda jika dia mendapat kan kasih sayang kedua orang tua nya namun beda lagi dengan diimas, hidup nya cukup miris menurut Erick karna sejak kecil Dimas di biar kan sendiri di urus oleh babysister, orang tua nya hanya gila kerja.
nyaris tak di hiraukan oleh pasangan wigantara maka dari itu dia lebih dekat pada mama erick, dari kecil kedekatan mereka bak anak dan ibunya...
membuat seorang Erick tidak suka karna kasih sayang mamah nya terbagi dia tidak ingin cinta mamah nya di bagi apa lagi kepada Dimas, meski dia sepupuan tapi dia sama sekali tidak suka...
semua barang yang Erick beli harus samaan dengan dimas, perlakuan mamah nya kepada dimas tidak berbeda jauh dengan nya, apa-apa harus disama kan semua itu Bukan membuat Erick kecil senang tapi malah semakin tidak menyukai nya...
motor hitam itu berhenti di depan bangunan berwarna putih dengan bertulis kan rumah sakit bunda, ia memarkir kan motor nya dan masuk ke gedung itu menuju ruang inap tempat Dimas di rawat...
cekleek
dia membuka pintu pelan namun seketika mata nya melebar melihat pandangan di ruangan itu, dimana seorang gadis mengupas buah dengan wajah kesal sedang kan wajah dimas tersenyum tipis menatap gadis itu...
hati Erick seketika panas,emosi dan marah bersarang di hati nya saat ini...
gadis itu menoleh melihat siapa yang membuka pintu di ruangan itu.. seketika wajah kaget menatap cowok yang masih terpaku di tempat nya...
"lexa..!!" gumam nya
__ADS_1