
mata coklat gadis itu menatap penuh kekecewaan,namun tak bisa menggetar kan mata hitam yang juga menatap nya sengit,jika ingin membatalkan niat nya sudah terlambat bagi gadis itu,karna pemuda di hadapan nya sudah berniat ingin memiliki nya, mungkin jika sahabat nya tidak menginginkan menikahi gadis yang ia cintai,,dia tidak akan seniat ini untuk memilliki gadis itu...
"dimas-
"Lex jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang gila lebih dari ini... aku hanya ingin kau menyetujui keinginan ku." potong Dimas cepat.
"tapi keinginan mu beresiko dim..."
"aku tau Lex... tapi aku akan membuat semua akan baik-baik saja,kau tidak perlu khawatir" ucap Dimas meyakin kan.
"tapi-
"jangan pikir kan itu, aku tidak mau kau menjadi setres" sahut Erick lembut.
"dengan perbuatan kalian sekarang saja sudah menganggu mental Alexa.!!" timpal Rizal tajam namun tak di hirau kan kedua pemuda itu..
tubuh Alexa hampir limbung jika tidak di tahan Juna.
"sayang kamu tidak apa-apa.??" tanya Juna khawatir.
"aku tidak apa-apa jun."
Reno melihat keadaan anak nya sangat khawatir,dia mendekati putri nya yang terduduk di sofa sambil mengelus pelipis nya.
"kamu tidak apa-apa sayang.??"
"iya pih... lexa tidak apa-apa hanya sedikit pusing.!"
"lex kamu benar tidak mau menikahi mereka.??" tanya papih nya.
"jika aku menolak apa yang akan terjadi pih.??" tanya lexa menatap papi nya.
Reno terdiam dia melihat Rizal yang masih berdebat dengan Dimas dan Erick.
__ADS_1
"mungkin... keluarga Wijaya akan menghilang" jawab Reno pelan membuat mata Alexa membelalak kaget.
"kau tau kan gimana besar nya kekuasaan keluarga saudara kembar itu... mereka bisa menghancurkan keluarga lain nya dalam 1 malam." jelas Reno gelisah.
Alexa tidak bisa menjawab dia juga tau kekuasaan dua saudara itu,tapi dia ragu apa memang mereka setega itu tapi melihat mata penuh tekad Dimas,itu bisa saja terjadi jika dia menolak,namun dia juga tidak mau menerima nya...
"Alexa harus apa pih.??" lirih nya
"lakukan apa yang ingin kamu lakukan.!! papih akan terus mendukung mu" ucap Reno menenangkan.
Alexa menatap sang papih haru,papih nya akan mendukung keputusan nya namun dia tau apa yang akan terjadi nanti...
"tapi resiko nya sangat fatal pih.!"
"setiap keputusan memang akan mengorban kan sesuatu Lex... seperti sekarang tidak ada yang mulus setiap mengambil keputusan, papih tau ini berat tapi lexa juga pikirkan keinginan mu.!!... lakukan apa yang menurut mu baik" jelas reno,sekali lagi lexa menatap sendu sang papih dan beralih menatap tiga pemuda yang sudah berhenti berdebat dan beralih menatap nya..
lexa menunduk menghela nafas ini sangat berat untuk dia katakan,dia menatap Rizal sayu hati nya sakit melihat mata hitam pemuda itu dia merasa menjadi penghianat...
Rizal melihat mata coklat Alexa menimbul kan rasa khawatir nya,dia bisa menebak apa yang akan di katakan gadis itu,apa lagi melihat wajah muram papi Reno..
"aku..." ucap lexa gantung membuat Erick dan Dimas panas dingin menunggu ucapan selanjut nya.
"aku... mau menikah dengan kalian" gumam lexa hampir tidak terdengar.
Erick dan Dimas tidak bisa menutupi kebahagiaan mereka yang di terima oleh Alexa, namun berbeda dengan Rizal wajah nya tercengang mendengar jawaban lexa tangan nya mengepal erat dengan emosi memuncak,tanpa kata dia berlalu dari sana menuju ke lantai atas Alexa mencoba mengejar nya namun di halangi oleh Dimas.
"Lex makasih Lex... makasih aku janji gak akan nyakitin kamu" ucap nya sambil memeluk alexa,sedang kan gadis itu hanya diam mata nya masih tertuju ke arah lantai atas..
"Dimas lepaskan... aku harus pergi" ucap lexa melepas pelukan Dimas lalu pergi menyusul Rizal...
*****
rizal membanting pintu dengan keras dia menarik rambut nya kasar sebagai rasa kesal,ia menghempas barang di atas meja rias hingga jatuh kelantai dan hancur semua barang di kamar itu ia lempar kan,kamar itu sudah seperti sebuah gudang yang di tinggal lama.
__ADS_1
setelah puas menghancur kan barang disana Rizal terduduk di pinggir kasur dengan wajah memerah.
"aaarrrggghhh sialan" teriak nya keras.
terdengar isakan keluar dari bibir nya setetes air mata jatuh ke pipi nya,dia benar-benar tidak terima dengan semua ini karna bagi nya tidak masuk akal dimana seorang gadis menikahi 4 pria,dia tau bukan salah Alexa tapi tetap saja diri nya tidak terima,tidak dapat dia bayang kan hidup bersama ketiga nya dimana adalah saingan cinta nya yang sekarang harus rela berbagi...
"sayang.!" suara halus terdengar dari balik pintu,tidak lama pintu itu terbuka menampilkan seorang perempuan dengan drees berwarna maroon berperut sedikit buncit,gadis itu mendekati nya dengan langkah hati-hati agar tidak tergores oleh pecahan kaca...
"Rizal.." kembali suara lembut itu terdengar,kali ini sedikit bergetar terasa tangan halus meraba lengan kekar Rizal yang sedang tertunduk di balik kaki nya...
"maaf kan aku zal.!! aku gak punya pilihan... jika aku menolak papih yang akan menanggung nya, dan..." Alexa menunduk dalam sambil meremas jari lentik nya,suara nya bergetar menahan tangis.
rizal mendongak menatap wajah cantik di hadapan nya, wajah teduh yang selama ini dia kagumi tapi sekarang wajah itu seakan terbebani...
"dan akan membahaya kan anak kita!" lanjut lexa menatap wajah Rizal sendu dengan mata berair..
"aku tidak bisa berbuat apa-apa,aku terlalu takut zal, aku takut kalian dalam bahaya, papih,mamih,kamu dan anak kita... kamu tau kan mereka orang nya nekad." lanjut nya sudah menangis.
"maaf kan aku zal.. maaf kan aku... kau boleh membenci ku hiks.. aku tidak ada niat untuk menghianati mu... maaf kan aku" racau lexa terus menangis.
rizal memeluk tubuh mungil itu dengan sayang,dia sangat tidak menyukai gadis yang dia cintai menangis seperti sekarang,meski dirinya juga tidak bisa menahan air mata nya namun dia berusaha untuk menjadi tempat penenang untuk gadis ini...
"jangan nangis... aku tidak apa-apa,aku hanya tidak rela berbagi dengan mereka.. aku juga ngerti di sini kamu lah yang sakit,it's oke... jangan nangis lagi aku tidak bisa melihat mu seperti ini.." ucap Rizal menenangkan sambil mengelus punggung lexa...
"zal aku bukan penghianat"
"tidak ada yang mengatakan itu sayang... jangan bilang begitu,aku tau kamu melakukan ini hanya untuk kami untuk anak kita... jadi jangan nangis lagi" ujar Rizal sekali lagi dia memeluk Alexa, dia harus tahan dia tidak ingin Alexa tau jika dia juga merasa sakit dengan semua nya..
"kamu tidak marah.??"
"sangat.... aku sangat marah tapi apa yang bisa aku lakukan.?? tidak ada, aku lebih memilih menerima nya dari pada marah pada mu... kau tau aku tidak bisa berjauhan dari mu" sarkas Rizal mengelus pipi lexa.
"Rizal...
__ADS_1
"it's oke.. no problem.."
lexa memeluk tubuh tegap itu erat,disini mereka berdua sama-sama merasakan sakit tapi demi mencegah yang tidak di ingin kan mereka harus ikhlas menerima keputusan yang mereka ambil...