My Antagonis.??

My Antagonis.??
32.aku gak dendam


__ADS_3

saat melakukan sesuatu harus butuh mental dan tenaga agar mendapat kan hasil yang bagus dan akhir yang mengesan kan...


lexa membasuh wajah nya dengan air kran di toilet meski air nya terasa dingin tak membuat nya berhenti,dia membasuh semakin cepat guna menghilang kan penat di hati nya...


iya... sejak dia mengetahui perselingkuhan papih nya dia selalu memutar otak memikir kan banyak hal, gimana agar papih nya menyesal.? bagaimana untuk membalas keluarga orang itu.?? bagaimana langkah selanjut nya yang akan dia ambil.?? semua itu berseliweran di benak nya seperti pluze yang siap di susun rapi...


dia juga tetap harus bertahan memeran kan peran nya agar semua nya berakhir dengan elegan... jika ada yang nanya, apa kamu capek.?? tentu saja Alexa akan menjawab iya, dia capek,dia lelah harus berpura-pura ceria,berpura-pura tidak terjadi apa-apa jika ada pilihan antara menjalani atau lari, mungkin dia akan memilih lari dari semua nya...


namun lagi-lagi dia tidak bisa melakukan itu saat melihat wajah putus asa mamihnya dan wajah menangis nya Alexa asli, membuat jantung Raina kembali sakit dia tidak bisa meninggal kan nya dan lari, dia harus memberi kan kesan yang membekas seumur hidup mereka yang sudah membuat kedua wanita itu menangis...


Raina menatap wajah nya di pantulan cermin wajah cantik itu terlihat bersinar kala lampu toilet menerangi wajah nya yang basah, lexa sangat cantik begitu juga dengan mamih nya mereka tidak pantas menangisi seonggok sampah masyarakat...


"mata dan bibir ini.." lexa menatap mata coklat dan bibir merah cerry nya dalam "hanya cocok menampil kan senyum juga kebahagiaan, gak cocok menangis... kamu gak pantes nangis lexa." gumam nya pelan


lexa keluar dari toilet karna merasa sudah lama izin keluar kelas, dengan santai dia menyusuri lorong sekolah menuju kelas nya tidak ada satu pun murid di sana di karena kan masih jam pelajaran...


"Yooh... ini dia cewek berwajah tebal.!" seruh seorang cewek dari arah belakang lexa dengan nada mengejek


lexa membalik kan tubuh nya di sana sudah ada cewek berambut sepinggang, dengan mata hitam nya dia menatap lexaa meremehkan...


"Hay... cewek bermuka dua." sapah lexa tak kalah mengejek nya..


gadis itu merubah raut wajah nya menjadi kesal atas sapahan lexa..


"ada apa ya.?? kalo gak ada yang penting tolong jangan menghalangi ku.. aku mau kekelas." ucap lexa acuh.


"apa maksud mu mendekati Dimas lagi.??" tanya nya to the poin mata nya menyorot tajam.


lexa menaikkan satu alis nya seraya menatap cewek itu "memang nya kenapa.?? toh aku gak ngerepotin kamu kan.??"


"kau itu tetap gak tau malu ya... Dimas udah nolak kamu tapi masih kamu kejar... ciiih masih aja murahan.!!" cibir nya


lexa mendatar kan wajah nya mendengar hinaan itu lagi, lexa asli memang bersikap murahan saat mengejar Dimas tapi sekarang dia bersikap manis pada Dimas itu karna ada tujuan tertentu saja...


"tapi dimas fine-fine aja tuh aku deketin... malah dia bersikap manis dengan ku, sedang kan kau..??? udah repot-repot jatuhin diri ketangga sampai masuk rumah sakit, Dimas bersimpati sama kamu gak.?? enggak kan.?? ... kasian??" ujar lexa dengan wajah tengil nya...


dada Elis naik turun karna menahan emosi,dia kesal,marah karna apa yang di kata kan lexa itu benar, jangan kan simpati Dimas malah tidak menjenguk nya sama sekali..


"aku udah pernah bilang kan... kau itu hanya peran antagonis harus nya bersikap lah sesuai peran mu.. jangan berharap menjadi protagonis karna gak pantes buat mu.!!" ucap nya seraya mengepal dengan wajah memerah..


lagi-lagi lexa tidak mengerti maksud gadis ini... antagonis.?? protagonis.?? apa.?? dia pikir ini flim atau novel sejenis nya.?? tunggu.!!! tunggu.!! apa benar aku berada di dalam novel.?? gak mungkin itu mustahil.?? tapiii.... aku berada di sini aja itu juga mustahil kan.??? pikir lexa keras...


"kau pikir sekarang kau berada diimana hah.??... ayolah ini dunia nyata bukan novel..." imbuh lexa acuh tak acuh.


"lagi pula... kalo ini novel kau gak pernah kan membaca di bagian ini... dimana seorang antagonis menjadi peran utama dan itu akan terjadi pada ku. Elisa lestari.!!" lanjut lexa menekan setiap kata-kata nya


wajah Elis menggeram marah terlihat rahang dan mata nya memancar kan amarah yang besar, dia tidak suka dengan ucapan lexa...


"kau mendekati Dimas hanya ingin balas dendam kan.?? " tuduh nya menatap lexa


tubuh lexa sempat terhenyat namun dengan cepat. ia menormal kan kembali...


"hahaha... kenapa kau bisa ngambil kesimpulan kek gitu.??"


"kau pikir aku tidak tau niat mu sebenar nya yang ingin membalas dendam pada Dimas karna sudah menolak dan menghina mu.?? aku tau lexa kau melaku kan semua nya agar bisa menyakiti dia kan.??" jelas Elis panjang lebar, sebenar nya separuh dari perkataan nya itu benar tapi poin utama nya mengarah kepada Elis Dimas hanya batu loncatan..


"kau salah Elis..." lexa melangkah mendekati Elis dengan sorot mata dingin, tanpa sadar Elis mundur satu langkah melihat sorot mata lexa "aku gak dendam pada nya, tapi aku tidak menyangkal ucapan mu itu."


"karna poin utama nya adalah kau.!!" bisik lexa di telinga Elis membuat gadis itu menegang... lexa tersenyum miring kala menatap wajah Elis yang terlihat menegang...


dengan keadaan kesal elis mendorong lexa keras...


bruukk


"awh" lexa menjerit kala kepala nya membentur tembok..


"Elis!!" teriak seorang cowok tampan tinggi dan tegap menatap Elis tajam serta dingin.


"ju-juna" gumam Elis gemetar "ju-juna ini gak seperti yang kamu liat aku gak ngedorong dia, di-dia sendiri yang membentur kan diri sendiri.!" jelas nya gagap berharap Juna percaya, dari sekian teman Dimas hanya Juna yang sulit dia takluk kan, karna cowok itu seakan enggan menatap nyaa..

__ADS_1


"aku udah liat semua nya... kau sengaja mendorong nya... dasar munafik." ucap Juna tajam, mata Elis membelalak dia semakin membenci lexa, sebelum dia pergi dia menatap lexa yang juga menatap nya mengejek..


awas kau ******... batin Elis lalu pergi dari sana


"kamu gak apa-apa kan.??" tanya Juna dengan nada cemas, lexa sempat bingung tapi ya sudah lah itu wajar saja bagi nya karna dia baru saja terbentur tembok, dan rasa nya beuh mantap..


"iya aku gak apa-apa kok.!!" jawab lexa seraya bangkit dengan di bantu Juna, lexa menepis tangan Juna agar tidak terus memegangi nya


"aku bisa sendiri" meski sedikit terhuyung karna pusing namun dia berhasil berdiri juga...


sekilas wajah Juna suram dengan mata tajam menatap lexa yang menepis tangan nya, namun sedetik kemudian dia menormal kan kembali raut. wajah nya..


"aku antar ke uks ya..?" tawar nya lagi


"gak perlu." jawab lexa dingin, dia gak mau terlibat lebih jauh lagi dengan orang sekitar Dimas cukup Elis saja yang mengusik nya, dia harus fokus dengan tujuan awal nya tanpa ada gangguan lain..


"kita kompres luka memar mu" tawar Juna sekali lagi


"gak usah" lexa memilih meninggal kan Juna yang sudah beraura gelap atas penolakan lexa.


"aku tau rencana mu lexa." ujar nya menekan,


langkah lexa terhenti saat mendengar ucapan Juna, ia berbalik menatap Juna yang juga menatap nya ...


"apa yang kau tau.??"


Juna melangkah mendekati lexa yang masih menunggu jawaban nya.


"kau menjadi kan Dimas sebagai batu loncatan untuk membalas dendam mu kepada Elis.!!" bisik Juna di samping telinga lexa.


tubuh lexa terpaku di tempat nya dia tidak menyangkal semua itu karna benar adanya, hanya pertanyaan nya dari mana Juna tau.???


"aku juga tau papihmu selingkuh dengan ibu nya Elis.!!"


BOOOMM.!!


dari mana dia tau semua nyaa.?? batin Lexa


Juna tersenyum penuh arti menatap wajah menegang lexa dia sangat menikmati wajah teduh gadis ini.


"kau gak perlu setegang itu, tenang aja aku akan merahasia kan nya bahkan aku akan membantu mu.!!" ucap nya mengelus pipi lexa lembut


taak


lexa menepis tangan Juna yang sudah berani mengelus wajahnya, dengan mata tajam dan penuh amarah dia menatap mata hitam Juna yang menatap nya dingin...


"jangan pernah menyentuh ku dengan tangan mu itu..." desis nya tajam, tapi Juna malah tersenyum tipis melihat reaksi lexa yang terlihat seperti kucing liar dia sangat menggemas kan..


"bagus lah kalo kamu tau... setidak nya kau gak akan mengusik ku Juna.... aku yakin kau mengerti kenapa aku bisa melakukan semua itu.!!". ujar lexa tajam.. sekilas mata coklat itu memancar kan terluka membuat Juna tertegun.


tanpa menunggu jawaban Juna lexa beranjak dari sana dia juga mendengar bel istirahat berbunyi..


Juna menatap punggung lexa yang kecil dan rapuh tapi sanggup menahan beban berat di punggung itu...


***


"lexa..." panggil Dimas saat melihat lexa masuk ke kelas dalam raut wajah suram..


dia menghampiri gadis itu dengan khawatir dia juga melihat memar merah di area antara pelipis dan rambut nya...


"lexa.!! kamu kenapa.??" Renata mendahului Dimas yang juga menghampiri lexa.


"aku gak apa-apa Nat.!" jawab nya tersenyum


"kamu yakin.??"


lexa mengangguk pelan,


"ini kenapa.??" tanya Dimas sambil memencet merah di wajah lexa membuat sang empuh meringis

__ADS_1


"aduuh... Dimas ini sakit" gerutu lexa


"dari mana kamu mendapat kan memar Lex.??"


"eemmm ini...


"lexa di dorong Elis.!" sahut suara dari arah pintu dan di sana Juna sudah berdiri menyender dengan tangan di dalam saku celana nya.


"apa.!!" kaget Renata.. "sialan tuh cewek... berani banget dia nyakitin lexa.. aku harus kasih dia pelajaran." ujar Renata menggebu-gebu


"heh... belum tentu Elis yang lakukan itu, bisa jadi teman mu sendiri yang membenturkan kepala nya ke tembok dan memfitnah Elis.!!" sahut Reza gak terima dengan perkataan Renata


"kau pikir lexa bego kek kamu... yang gak punya otak gak bisa bedain mana ular dan Mana kelinci.!!" jawab Renata tak kalah kesal nya.


"bangsat... kau yang bego mau aja temenan sama cewek jahat kek dia... harus nya yang marah tuh Elis karna dia Elis masuk rumah sakit dan dia gak minta maaf sama sekali... malah sekarang menuduh Elis ciih baru juga terbentur dikit. lebay banget.!!" cibir Reza. mengejek sambil menatap lexa sinis


Renata meraih buku tebal di atas meja nya dan menuju Reza yang masih duduk di kursi sambil menatap Renata bingung...


"kau bilang apa tadi... hanya terbentur ya hhmm.??"


"iya itu pun hanya memar kecil tapi di buat heboh.!! lebay." jawab nya mengejek.


"okey."


bugh


Renata mengantam kan buku setebal 3 jari itu kekepala Reza dengan keras, membuat Dimas,Andre. dan Juna sedikit meringis...


"aarrgghhh... cewek gila apa yang kau lakukan sialan.?" jerit Reza mengusap kepala nya yang kena hantaman Renata.


"kenapa.?? sakit.??? itu juga benturan loh.?? dasar lebay.!!" Renata kembali ke meja mengambil tisu dan mengusap buku itu mengguna kan tisu..


lexa mengulas senyum tipis melihat tingkah Renata begitu gemas jika ada yang mengejek dirinya, dia menatap reza yang masih mengerang kesakitan dia sangat puas melihat kerja Renata memberi kan cowok bermulut lemes itu pukulan..


"aku melihat nya sendiri.!!". suara Juna kembali terdengar membuat rintihan Reza menghilang, Reza menatap Juna lekat dia tidak percaya namun dia tidak menyangkal karna Juna tidak mungkin berbohong, Juna memiliki prinsip sendiri yang gak bisa di rubah oleh siapa pun..


Dimas sudah mengepalkan tangan nya dengan erat, jelas saja dia marah dia sempat gak percaya namun melihat raut wajah Juna yang serius gak mungkin cowok itu mengarang semua nya...


"sialan." gumam Renata emosi nya tidak meredam meski sudah memukul Reza..


Dimas menuju pintu namun di cegah oleh lexa..


"mau kemana.??"


"aku harus memperingati gadis itu." jawab nya


"gak usah.. ini hanya luka kecil.. lagian aku juga pernah nyakitin dia, ini gak seberapa dengan perbuatan ku dulu.!" cegah nya lembut dengan wajah sendu. Dimas menatap lexa lembut dia tidak menyangka perubahan lexa sebesar ini..


menerima dengan lapang dada tanpa ingin membalas malah dia merasa bersalah. begitu juga dengan yang lain mereka menatap lexa tidak percaya jika cewek ini benar-benar berubah


"kita kompres ya.?" ucap dimas lembut


"gak usah. ini hanya memar kecil kok." tolak lexa lembut


Dimas hanya pasrah tidak ingin memaksa lagi jika dia lakukan lexa pasti akan marah.. Renata menatap wajah lexa dalam ada sesuatu yang menurut nya janggal dari sahabat nya tapi dia tidak tau apa.


***


di sisi lain seorang pemuda masih berada di depan laptop nya, dia sudah semalaman di depan laptop guna mencari informasi selengkap-lengkap nya, sudah ada informasi lengkap di tangan nya tapi tetap saja dia ingin mengungkit semua sekecil apa pun tanpa terlewat..


"hhuuhh.... selesai juga..." gumam nya merenggang kan tubuh yang sudah merasa pegal..


"waow... aku pastikan wajah cantik nya akan tersenyum saat melihat hasil kerja keras ku ini... gak sabar deh dapat pelukan dari dia.!!" ucap nya tersenyum manis sambil menatap layar laptop yang menampil kan beberapa video,foto dan data diri. seseorang...


dia rela begadang hingga pagi sampai gak masuk sekolah hanya ingin melihat senyum manis sang gadis yang dia sukai dari 8 tahun yang lalu..


sekali lagi senyum manis terbit di bibirnya saat melihat figuran foto di meja belajar nya..


"cantik."

__ADS_1


__ADS_2