
Agil Sastrawati gadis kecil berusia 2 tahun. Saat ini Agil sedang menunggu sang ayah pulang kerja, karna setiap hari Agil selalu menunggu sang ayah pulang.
Saat Nina sedang memasak untuk makan malam, Tiba-tiba saja ponsel berbunyi dan tertera sebuah nomor, Nina langsung menerima telepon itu.
"Selamat malam, apa ini istri dari pa Agas," ucap polisi.
"Iya saya istrinya, maaf ini siapa?" tanya Nina.
"Saya dari kepolisian, suami ibu mengalami kecelakaan motor di jalan Sudirman. Saat ini jenazah suami ibu ada di rumah sakit Kebon Jati," ucap polisi.
"Astagfirullah, baik pa saya akan segera ke sana," ucap Ibu Nina.
Nina pun berteriak memanggil sang ibu mertua, untuk memberitahu kalau Agas meninggal dunia karna kecelakaan.
"Bu... bu," teriak Nina.
"Ada apa nak? kenapa teriak-teriak dan panik nak?" tanya sang ibu mertua.
"Barusan ada telepon dari polisi, memberitahu kalau mas Agas kecelakaan motor dan meninggal dunia," ucap Nina.
"Astagfirullah," ucap sang ibu mertua dan langsung terduduk lemas.
"Nina titip Agil ya bu," ucap Nina.
"Iya nak, Agil mana?" tanya sang ibu mertua.
"Agil lagi mandi, barusan Nina suruh mandi dulu," ucap Nina.
"Ya sudah kamu berangkat, biar Agil sama ibu.
Akhirnya Nina berangkat ke rumah sakit naik motor dari pangkalan ojek dekat rumahnya, setiba di rumah sakit, Nina langsung berlari ke arah bagian informasi.
" Selamat sore Sus, dimana jenazah yang kecelakaan," ucap Nina.
"Namanya siapa?" tanya suster.
"Agas Nugraha," ucap Nina.
"Mari bu ikut dengan saya, karna sudah ada di ruang jenazah," ucap Suster.
__ADS_1
Nina pun berjalan mengikuti suster, dan suster menunjukkan jenazah Agas Nugraha.
"Ini bu," ucap suster yang membuka kain penutupnya.
Nina langsung menangis histeris, melihat suaminya sudah terbujur kaku. Nina hanya bisa menangis sambil memeluk tubuh suaminya.
Tiba-tiba seorang polisi datang.
"Selamat sore bu, apa ibu istrinya pa Agas?" tanya polisi.
"Iya pa saya istrinya," ucap Nina.
"Ini saya menemukan beberapa barang di motor dan di dalam tasnya," ucap polisi.
Nina mengambil barang-barang dari polisi itu, bangkai motornya sudah berada di kantor polisi. Keadaan motornya hancur, hingga tidak ada bentuk menyerupai sebuah motor.
Saksi mengatakan, kalau motor yang di kendarai pa Agas melaju dengan kencang. Lampu sudah mau merah, pa Agas menerebos hingga dari lawan arus ada sebuah truk yang akan belok, dan pa Agas mengebut dan tabrakan tidak terhindarkan.
Nina yang mendengarkan kronologis dari seorang saksi, hanya bisa menangis dan terduduk lemas di sebuah bangku. Nina memberikan kabar pada sang mertua untuk memberitahu kepada lingkungan sekitar, jika pa Agas telah meninggal dunia karna kecelakaan motor.
Jenazah pa Agas dibawa kerumah duka di daerah Kebon Kopi, di sekitaran rumah para warga sudah menyiapkan tenda dan sudah menunggu kedatangan jenazah pa Agas. Banyak warga yang tak menyangka, kalau pa Agas telah tiada.
Jenazah pa Agas pun tiba di rumah duka, sang ibu melihat anaknya yang sudah terbujur kaku, hanya bisa menangisi kepergian anaknya.
Nina hanya bisa menggendong sang anak, dan memeluknya dengan menangis.
"Mamah jangan nangis, ayah yagi bobo," ucap Agil.
Nina memeluk Agil dengan erat, karna tak tau harus mengatakan apa pada anaknya.
🥰🥰🥰
Keesokan harinya, jenazah pa Agas dimandikan oleh petugas yang akan segera memandikan, lalu memakaikan kaun kafan.
"Ayah bangun yah... jangan tinggayin Agiy," teriak gadis kecil yang melihat ayahnya sudah terbujur kaku karena kecelakaan.
"Sudah nak, ayah sudah meninggal," ucap sang mamah.
"Gak mah... ayah yagi bobo," ucap Agil.
__ADS_1
Ibu Nina menahan sedih melihat anak semata wayangnya yang menangis, ibu Nina pun tak kuat menahan rasa sedih yang menyelimuti dirinya.
Akhirnya pa Agas di kubur, para warga membantu menguburkan pa Agas. Pa Agas memiliki watak yang sangat baik, peduli dan selalu membantu tetangga yang kesusahan.
"Mah... kenapa ayah di kubuy? nanti ayah gak bica belnafas, kacian ayah," ucap Agil.
Sang mamah yang menggendong putri semata wayangnya hanya bisa menangis sambil memeluknya.
"Ayah kelual... jangan diem dicana, nanti ayah gak bica belnafas," ucap Agil dengan polosnya.
Warga yang mendengar penuturan gadis kecil itu, semakin terharu. Karna Agil sangat dekat dengan sang ayah, Agil selalu membantu sang ayah ketika ada kerja bakti di lingkungan rumah.
"Buat semua yang hadir, terima kasih sudah membantu pemakaman pa Agas. Mohon maaf bila suami saya, selama ini ada salah yang di sengaja atau tidak di sengaja," ucap Ibu Nina.
"Tidak bu, pa Agas orang yang sangat baik. Semoga ibu dan Agil bisa kembali bahagia setelah ini," ucap salah satu warga.
"Allhamdulilah... semoga kebaikan ibu dan bapak, biar Allah yang balas. Maaf saya tidak bisa memberikan apa-apa, tapi insya Allah saya akan mengadakan tahlilan untuk suami saya di hari ke 3,7,dan 40," ucap Ibu Nina.
Akhirnya para warga satu per satu pamit untuk pulang, ibu Nina dan Agil masih di sana.
"Ayah jangn cembunyi teyus, agiy gak bica yihat ayah yagi," ucap Agil yang belum mengerti, bila ayahnya sudah meninggalkan selamanya.
"Sayang... suatu hari nanti kamu akan mengerti dan tahu dengan apa yang terjadi hari ini, mulai sekarang kita akan hidup berdua. Jadilah anak yang sholehah ya sayang, mamah sangat sayang padamu," ucap Ibu Nina dengan lirih sambil memeluk Agil.
Ibu Nina membawa Agil untuk pulang ke rumah, karna masih banyak saudara di rumah yang sudah menunggu untuk pulang.
"Nina... kamu yang sabar ya, mas Agas sudah tenang di alam sana," ucap mertuanya.
"Iya bu, Nina tidak apa-apa. Namun Nina memikirkan Agil yang belum mengerti dengan semua ini," ucap Nina.
"Tenang saja, suatu hari nanti pasti akan mengerti dengan apa yang terjadi hari ini. Ibu akan disini untuk menjaga Agil, dan kamu juga harus tetap bekerja," ucap ibu mertua.
"Makasih ya bu, saat ini Nina hanya memiliki ibu, Agil dan mamih. Hanya saja mamih jauh di Kalimantan, jadi tidak bisa kemari," ucap Nina.
"Sudah ya sayang, jangan menangis. Tuh liat Agil masih menunggu Agas pulang," ucap Ibu mertua.
Nina menghampiri Agil yang sedang menatap ke arah luar, karena Agil masih menunggu ayahnya pulang ke rumah.
"Agil sayang, kita mandi dulu yu. Udah sore," ucap mamah.
__ADS_1
"Agiy yagi nunggu ayah puyang, tapi yama ayahnya," ucap Agil sambil menangis.
Sang mamah yang melihat sang anak hanya bisa menghela nafas panjang, karna sang anak yang belum mengerti dengan apa yang terjadi