My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 21 - Fahmi Lulus TK


__ADS_3

2 Tahun kemudian


Kini Fahmi yang sudah lulus di TK Pelangi, guru-guru disana menyuruh orang tua Fahmi untuk mendaftarkan Fahmi disekolah untuk anak-anak normal. Fahmi memiliki IQ yang jauh di atas anak-anak normal, Fahmi sangat pintar. Jarang sekali anak yang berkebutuhan khusus dengan cepat dan mudah untuk membaca dan menulis, namun kegigihan Fahmi untuk belajar membaca dan menulis sangatlah tinggi.


"Tapi, apa bisa Fahmi sekolah di sekolah anak normal?" tanya Hendra.


"Pak Hendra bisa liat sendiri, bagaimana nilai-nilai Fahmi selama ini. Anisa yakin kalau Fahmi bisa sekolah di sekolah anak normal, kalau bisa sekolah di sekolahan yang bareng dengan Agil. Biar Agil bisa memantau Fahmi, di tambah Fahmi juga sudah bisa mengontrol emosinya sendiri," ucap Anisa.


"Baiklah saya akan mencoba daftar kesana, dan berbicara dulu dengan guru-guru disana," ucap Hendra.


Hendra pun memikirkan, apa Fahmi bisa mengendalikan emosinya sendiri. Ketika nanti bersekolah di sekolahan anak normal, Hendra pun berniat untuk berbicara masalah ini dengan Agil.


Akhirnya hari ini Fahmi di wisuda dari TK Pelangi, dengan nilai di atas rata-rata. Semua guru disana merasa bangga dan bahagia dengan kehadiran Fahmi, karna Fahmi memiliki IQ yang sangat tinggi. Di tambah sang kaka yang mampu mengajari sang adik untuk menjadi seperti anak normal, ditambah Fahmi tidak memprotes apa yang diajarkan sang kaka untuk Fahmi.


"Mamah bangga sama adek, bisa dapat nilai yang paling baik," ucap Mamah.


"Semua karna kaka yang bantu belajar, makasih kaka udah bantu adek yang belajar. Walaupun terkadang kaka lelah dan capek mengajari adek," ucap Fahmi.


"Sama-sama dek, karna kaka ingin adek jadi anak pintar. Biar tidak di remehkan banyak orang, walaupun adek punya kekurangan tapi harus adek tutup semua kekurangan yang adek miliki dengan kepintaran adek," ucap Agil.


"Bantu adek terus ya kak, dan ajari terus adek. Biar adek bisa pintar seperti kaka, dan mampu membaca dan menghafal isi semua doa," ucap Fahmi.


"Insya Allah kaka akan selalu bantu adek ya," ucap Agil.


Flashback On


Selama Fahmi bersekolah di Pelangi, Agil dan Anisa berusaha bekerja keras untuk mengajari dan membimbing Fahmi dengan tegas. Meskipun mereka berdua harus banyak drama tantrum dengan Fahmi.


"Fahmi duduk disini, dan belajar baca," ucap Agil.


"Gak mau, Fahmi gak mau," ucap Fahmi.


"Kalau Fahmi gak mau, Fahmi gak akan pintar. Dan Fahmi akan tetap sekolah di Pelangi, gak akan bisa sekolah sama kaka," ucap Agil.


"Mau sekolah sama kaka," ucap Fahmi.

__ADS_1


"Maka dari itu, adek duduk disini. Dan belajar bersama kaka Anisa," ucap Agil.


"Gak mau," ucap Fahmi sambil melemparkan semua barang yang di dekatnya.


"Kalau adek gak mau, ya kaka juga gak mau sekolah sama adek," ucap Agil.


Fahmi pun terdiam, Anisa mencoba dengan perlahan untuk mengajari Fahmi membaca dan menulis.


Anak autis itu harus diberikan sedikit ketegasan, agar mau mengerti dan memahami. Tegas bukan berarti berbuat kasar dan marah-marah, karna semakin marah-marah mengajari anak autis, anak autis itu akan semakin keras dan semakin tantrum yang semaunya dia sendiri.


Akhirnya Fahmi mau belajar, dan menuruti perintah Agil dan Anisa. Ayah Hendra dan mamah Nina meminta sama Agil dan Anisa untuk membantu mengajari untuk Fahmi. Karna mereka yang mampu membuat Fahmi untuk mau belajar dan menurut sama dengan semua omongan mereka.


Agil dan Anisa bekerja sama untuk mempelajari karakter Fahmi, untungnya Agil ada sedikit waktu untuk membantu Anisa dalam mengajari Fahmi. Tapi ketika Agil sibuk dengan tugas sekolah, ulangan, dan tugas hafalan doa. Anisa tidak akan mengganggu Agil, tapi digantikan oleh mamah Nina yang menggantikan Agil.


Akhirnya Fahmi bisa lancar membaca dan lancar menulis, itu semua berkat dukungan Agil, mamah Nina, dan ayah Hendra. Di tambah dengan bimbingan dari Anisa selama ini.


Flashback Off


Acara perpisahan pun telah selesai, baru kali ini sekolah Pelangi memiliki murid seperti Fahmi yang dalam dua tahun bisa menulis, membaca, dan mengontrol emosi.


Anisa bahagia dengan hasil selama ini, apa yang Anisa tanam. Kini Anisa menuai hasilnya, Anisa bisa membiayai pengobatan ibunya dan menyekolahkan kedua adiknya.


"Kak Anisa makasih, udah mau ajarin Fahmi baca dan nulis. Maaf kalau Fahmi suka marah-marah dalam belajar, dan Fahmi suka bikin kaka luka," ucap Fahmi.


"Gak apa-apa Fahmi, yang penting sekarang Fahmi udah lulus dari TK. Fahmi harus jadi anak yang lebih baik lagi, lebih rajin lagi sekolahnya, mengontrol emosi, nanti jadi anak sekolah dasar yang baik sama teman dan guru ya," ucap Anisa.


"Iya kak, Fahmi akan jadi anak yang lebih baik lagi. Nanti kaka sering-sering main ke rumah lagi ya," ucap Fahmi.


"Pasti dong, kaka juga kan belum beres mengajari Fahmi. Kasian kalau semua sama kaka Agil, kaka Agil juga kan punya tugas sekolah. Apa lagi kaka Agil udah mau kelas lima, jadi tugas sekolahnya akan semakin banyak," ucap Anisa.


"Iya kak, Fahmi akan jadi adik yang baik buat kaka Agil," ucap Fahmi.


Ayah Hendra menginginkan Fahmi bersekolah yang satu sekolah dengan Agil, agar dengan mudah Agil memantau Fahmi bersekolah.


Namun ayah Hendra pun harus menyiapkan sekolah dasar yang beragama islam, dengan sekolah yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus.

__ADS_1


Ayah Hendra sudah membicarakan semua ini dengan guru di TK Pelangi, Psikolog anak, dan sang istri yang selalu mendukung apa yang suaminya berikan untuk Fahmi.


"Mah...ayah mau daftarin Fahmi sekolah di sekolah dasar Istiqomah," ucap ayah.


"Iya yah gimana baiknya aja untuk Fahmi, lagian kalau disekolah anak-anak yang sama dengan Fahmi. Takutnya Fahmi tidak akan berkembang, tidak akan bisa lancar bersosialisasi, dan Fahmi akan terus seperti itu," ucap mamah.


"Iya mah, itu yang ayah khawatirkan juga. Kalau Fahmi masuk sekolah yang khusus anak autis, Fahmi akan kembali tantrum. Dan tidak akan mampu mengendalikan emosinya," ucap ayah.


"Apa ayah udah tanyakan ke SD Istiqomah bisa menerima anak autis disana?" tanya mamah.


"Besok ayah akan kesana, buat menanyakan hal ini. Semoga aja bisa, lagian Fahmi sudah bisa mengontrol emosinya. Di tambah Fahmi juga udah tau cara mengendalikan emosinya sendiri," ucap ayah.


"Tanyakan dulu saja yah, kalau gak bisa. Baru kita mencarikan sekolah dasar Islam tapi bisa untuk anak autis," ucap mamah.


"Iya istriku sayang, ayah sudah merencanakan itu semua," ucap ayah sambil mengecup kening istrinya.


"Cieeeeee ayah sama mamah, Fahmi juga mau dong. Masa buat mamah aja," ucap Fahmi.


Hendra dan Nina malu, setelah mendengar ucapan sang anak. Di tambah Anisa juga menutup mulut dengan tangannya, karna menahan tertawa.


Hendra dan Nina pun salah tingkah, karna Hendra tidak melihat situasi dulu. Hendra pun memeluk anak bungsunya dan mengecup keningnya.


Akhirnya mereka pun pulang ke rumah, karna hari sudah semakin siang. Agil pun akan pulang sekolah, nanti Agil akan mencari kalau belum pada pulang ke rumah.


Akhirnya mereka tiba di rumah, perjalanan dari sekolah Pelangi ke rumah memakan waktu empat puluh lima menit hingga satu jam. Tak lama mas Ferry pulang dengan Agil, namun mas Ferry menggendong Agil yang sudah tidur dari selepas pulang sekolah hingga ke rumah.


"Permisi tuan, ini non Agil tidur," ucap mas Ferry yang menggendong Agil.


"Aduh tumben ini anak tidur, pasti lagi banyak hafalan. Makasih ya mas," ucap ayah yang mengambil Agil dari gendongan mas Ferry.


Mamah Nina yang melihat Agil tertidur dalam gendongan sang ayah langsung mengikuti suaminya yang membawa Agil ke kamar.


"Sini yah, biar mamah yang gantikan baju seragamnya Agil. Ini anak pasti cape karna lagi ulangan dan banyak ujian hafalan, sebentar lagi kenaikan kelas," ucap mamah yang mengecup kening anaknya yang sedang tidur.


Hendra kembali keluar, dan mengurus Fahmi untuk mengganti baju. Nina keluar dari kamar Agil, dan meninggalkan Agil untuk tidur siang.

__ADS_1


__ADS_2