My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 7 - Hamil


__ADS_3

2 bulan kemudian


Nina merasakan sakit kepala dan perut mual. Nina memuntahkan segala isi perutnya di kamar mandi.


"Mah... mamah kenapa?" tanya Agil.


"Panggil nenek," ucap mamah.


Agil segera berlari ke halaman belakang, untuk memanggil sangat nenek.


"Nenek... mamah muntah di kamar mandi," ucap Agil.


Nenek yang merupakan ibunya Agas, segera menghampiri Agil. Lalu membawa cucunya ke dalam, untuk melihat keadaan Nina.


"Kenapa nak?" tanya ibu Mertua.


"Kepala ku pusing, dan perutku mual," ucap Nina.


"Apakah kamu hamil?" tanya ibu Mertua.


Nina mengingat-mengingat-ingat kalau dirinya dari bulan kemarin belum haid, Nina pun langsung melihat tanggal di kalender.


"Sepertinya begitu bu! soalnya dari bulan kemarin belum haid," ucap Nina.


"Ya sudah kita periksa ke klinik," ucap Ibu Mertua.


"Iya bu, kita ke klinik sekarang. Agil di rumah dulu sama mbak Entun ya, mamah mau ke dokter dulu," ucap mamah.


"Iya mah... mamah cepet sembuh," ucap Agil sambil menangis.


"Mbak Entun, saya titip Agil. Saya mau ke klinik dulu," ucap Nina.


"Baik nyonya, saya akan menjaga non Agil," ucap Entun.


Nina dan ibu mertuanya pun pergi ke klinik, memesan mobil online. Setiba di klinik, ibu mertua langsung mendaftarkan untuk menantunya.


Setelah menunggu beberapa menit, kini giliran Nina yang di panggil untuk masuk ke dalam dan di periksa oleh dokter.


"Selamat sore ibu, saya dokter Feby Maharani. Apa yang ibu rasakan?" tanya dokter.


"Sudah tiga hari saya muntah-muntah, tapi hanya di pagi hari saja. Dan sudah satu bulan, saya belum haid," ucap Nina.


"Silahkan ibu berbaring, biar saya periksa," ucap dokter Feby.


Nina pun berbaring di atas ranjang, dokter Feby memeriksa dengan teliti. Biar lebih jelas lagi dokter Feby melakukan USG pada Nina, dan dokter Feby langsung tersenyum dengan manis.


"Selamat ibu, ibu sedang hamil. Usia kandungan ibu sudah 6 minggu," ucap dokter Feby.


"Benarkah itu dok?" tanya Nina.


"Iya bu, usianya baru 6 minggu. Apa ini anak pertama?" tanya dokter Feby.


"Ini anak kedua dok," ucap Nina.


"Ah... pasti kakanya akan senang, bila tau kalau di dalam perut ibunya ada adik kecil," ucap dokter Feby.


"Allhamdulilah ya allah," ucap Nina.


"Nanti akan saya kasih resep obat penguat janin, vitamin, dan agar tidak terlalu mual," ucap dokter Feby.


"Terima kasih dok," ucap Nina.

__ADS_1


"Ini surat hasil positif dan ini foto hasil USG," ucap dokter Feby.


"Terima kasih dok, apa boleh saya menjadikan dokter menjadi dokter kandungan saya?" tanya Nina.


"Dengan senang hati bu, insya Allah saya akan menjadi dokter kandungan untuk ibu. Satu bulan lagi ibu kemari bersama suaminya," ucap dokter Feby.


"Baik dok, apa boleh saya membawa anak saya?" tanya Nina.


"Boleh sekali ibu," ucap dokter Feby.


"Kalau begitu saya pamit dulu dok, terima kasih ya dok," ucap Nina.


"Sama-sama ibu," ucap dokter Feby.


Nina pun keluar dari ruang pemeriksaan, di luar sudah ada ibu mertua yang menanti Nina.


"Apa kata dokter?" tanya ibu mertua.


Nina dengan muka sedih, memberikan sebuah amplop. Ibu mertuanya segera membuka amplop itu, dan langsung memeluk menantunya ini.


"Selamat ya nak, akhirnya ada bayi lagi dan ada adik untuk Agil," ucap ibu Mertua.


"Allhamdulilah bu, tolong rahasiakan dulu dari Agil dan mas Hendra ya bu. Aku ingin memberi kejutan untuk mereka, pasti mereka bahagia," ucap Nina.


"Iya sayang, ibu makasih sama kamu. Karna kamu masih mau menganggap ibu sebagai mertua kamu, padahal anak ibu sudah meninggal, tapi kamu dan Hendra masih menganggap ibu disini," ucap ibu mertua.


"Sudah ya bu, walaupun ibu itu ibunya mas Agas. Mas Agas sudah di surga, tapi ibu masih punya Agil. Agil cucu pertama ibu," ucap Nina.


Nina dan ibu mertua pun langsung pulang, namun sebelum pulang, mampir ke supermarket dulu. Karna hari ini hari yang spest, jadi Nina ingin memasak makanan spesial untuk keluarganya.


Akhirnya mereka tiba di rumah, Agil sudah menunggu mamahnya pulang.


"Mamah sakit apa?" tanya Agil.


"Makanya mamah jangan telat makan ya," ucap Agil.


"Iya sayang, udah mandi belum?" tanya mamah.


"Belum mah," ucap Agil.


"Sana mandi, solat Ashar, jangan lupa ngaji ya. Mamah mau masak dulu," ucap mamah.


"Iya mah," ucap Agil.


Agil segera pergi mandi sore dan menjalankan perintah dari sang mamah tercinta, Nina akan memasak makanan kesukaan suami, anaknya, mertuanya.


Akhirnya memasak dalam waktu 2 jam sudah selesai, Nina segera pergi untuk mandi dan solat ashar sekaligus maghrib. Ritual solat pun sudah di jalankan, Agil yang sudah di ruang tv untuk menonton kartun favoritnya.


"Assalamu'alaikum," ucap ayah.


"Walaikumsalam ayah," ucap Agil yang langsung menyalami sang ayah.


"Mamah mana?" tanya ayah.


"Mamah ada di kamar," ucap Agil.


"Ayah ke kamar untuk mandi dan solat dulu ya," ucap ayah.


"Iya yah," ucap Agil.


Agil kembali menonton kartun favoritnya, dan terdengar adzan isya. Agil segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan sat isya.

__ADS_1


Hendra sudah masuk kamar, melihat sang istri sedang solat. Hendra pun pergi ke kamar mandi untuk mandi dan solat isya.


Saat Hendra keluar, ternyata sang istri sudah tak ada. Tapi sudah menyiapkan baju tidur di atas kasur, Hendra pun menjalankan solat isya.


Hendra pun keluar kamar, dan menuju ruang TV. Untuk menunggu makan malam, Nina dan yang lainnya sedang menyiapkan makan malam.


"Kita makan malam yu," ucap mamah.


"Horeeee makan," ucap Agil.


Semua yang mendengar Agil bisa bilang R, merasa terkejut.


"Tadi bilang apa nak?" tanya mamah.


"Hore makan," ucap Agil.


"Allhamdulilah... akhirnya anak mamah yang cantik sudah bisa bilang R," ucap mamah.


"Dari tadi juga udah bisa mah, tapi tadi siang kan lagi panik karna mamah muntah," ucap Agil.


"Kamu muntah kenapa mah?" tanya ayah.


"Aku sakit yah," ucap Nina.


"Sakit apa? mana hasil pemeriksaannya?" tanya Hendra dengan panik.


"Ini suratnya!" ucap Nina yang memberikan amplop pada suaminya.


Hendra langsung mengambil amplop itu dan membukanya, Hendra terkejut dengan hasil yang di bacanya.


"Ini serius?" tanya Hendra.


Nina hanya tersenyum sambil menganggukan kepala, dan Hendra langsung memeluk istrinya hingga mengecup kening istrinya.


"Selamat ya sayang," ucap Hendra.


Agil bingung dengan apa yang terjadi, dan apa yang dilihatnya.


"Agil mau punya adikkan?" tanya Ayah.


"Iya Agil mau punya adik," ucap Agil.


"Doa Agil selama ini di dengar sama Allah, dan sebentar lagi akan punya adik," ucap ayah.


"Beneran yah?" tanya Agil.


"Di perut mamah sudah ada adek bayi, adek bayinya akan keluar dari perut mamah. Kalau udah 9 bulan di dalam perut mamah," ucap ayah.


"Allhamdulilah, sebentar lagi Agil punya adik. Terima kasih ya Allah udah kabulin doa Agil selama ini," ucap Agil.


"Mulai sekarang, ayah sama mamah akan manggil Agil dengan sebutan kaka. Karna Agil akan menjadi seorang kaka," ucap ayah.


"Iya yah, Agil akan jadi kaka yang baik untuk adik nanti," ucap Agil.


"Kalau ayah kerja, kaka harus jagain mamah, nenek, sama dedek bayi di perut mamah ya," ucap ayah.


"Baik yah, kaka akan jagain semuanya," ucap Agil sambil hormat di hadapan ayahnya.


Nina dan ibu mertuanya terharu dan bangga sama Agil, karna semakin dewasa, mandiri, dan bisa diandalkan.


"Terima kasih kaka Agil mau jagain mamah," ucap mamah.

__ADS_1


"Itu tugas kaka, untuk jagain mamah dan dedek bayi. Dedek bayi sehat-sehat di perut mamah ya, jangan rewel ya dek. Sampe ketemu 9 bulan lagi ya dek, kaka akan jadi kaka yang baik buat adek nanti," ucap Agil.


Nina dan Hendra terharu mendengar ucapan dan doa dari gadis kecil, yang sudah mulai beranjak dewasa, mandiri, dan bisa diandalkan. Hendra dan Nina langsung memeluk Agil


__ADS_2