
Agil mau tidak mau, harus menuruti apa yang di katakan orang tuanya. Karna Agil yang selalu memaksakan sesuatu yang tak mungkin terjadi.
Sebelum berangkat Hendra sudah mempersiapkan orang-orang bodyguard untuk ikut, agar menjaga dan mengawasi Agil. Jika sewaktu-waktu Agil mencoba kabur, ada bodyguard di sekitaran Agil. Namun para bodyguard itu berpenampilan selayaknya penumpang yang akan naik pesawat, jadi tidak terlihat kalau itu bodyguard.
"Kalian berenam harus mampu mengawasi dan menjaga anak saya, bila anak saya akan kabur. Terus ikuti dia, dri jarak jauh," ucap Hendra.
"Baik tuan, kami akan berusaha semaksimal mungkin," ucap salah satu bodyguard.
Hendra menyiapkan bodyguard, karna Hendra yakin. Kalau Agil pasti akan kabur, dan di pastikan akan beralasan apapun. Jadi Hendra dan Nina menyewa bodyguard, untuk menjaga dan mengawasi Agil.
🥰🥰🥰
Pagi ini Hendra dan Nina sudah siap, dan sedang siap-siap menyiapkan keperluan Agil. Agil dengan terpaksa harus menjalani ini semua, yang sebenarnya Agil tak ingin seperti ini.
"Nak, sudah siap?" tanya mamah.
"Sudah mah, masuk saja," ucap Agil.
"Masya Allah cantik sekali, semoga seterusnya seperti ini ya. Semoga jadi wanita yang istiqomah dan sholehah," ucap mamah.
"Doakan saja mah, Agil tidak berjanji. Karna setelah 6 tahun, Agil akan mengejar cinta Agil untuk Fahmi," ucap Agil.
Mamah Nina yang mendengar ucapan Agil, hanya bisa menghela nafas panjang. Semua berawal dari Fahmi, jadi beginilah.
"Ya sudah kita sarapan, terus kita berangkat ke bandara Husein Sastranegara, berenti di jogja. Lalu melanjutkan naik mobil ke Gontor," ucap mamah.
"Mah, sedia cemilan buat di jalan," ucap Agil.
"Iya tenang saja, sudah mamah siapkan," ucap mamah.
Sebelum Agil bertemu mamahnya, tadi Agil sedang menonton sebuah video adegan. Agil lupa mematikan komputernya, dan Agil segera turun ke bawah.
"Pagi yah" ucap Agil.
"Pagi," ucap ayah, dengan menatap layar ponsel.
Sebenarnya Hendra malas untuk bertegur sapa dengan Agil, pasti akan membahas Fahmi lagi.
"Yah," ucap Agil.
"Iya nak, kenapa?" tanya ayah.
"Pokoknya kalau Agil sudah pendidikan di sana 6 tahun, Agil pulang ke sini harus berjodoh dengan Fahmi adik kandungnya Agil," ucap Agil.
Hendra sudah tau pasti akan bahas itu, jadi Hendra tidak menjawab ucapan Agil. Hendra dan Nina saling tatap, dan tersenyum ke arah Agil.
"Sudah sarapan dulu," ucap ayah.
__ADS_1
Akhirnya semua sudah sarapan, kini sudah siap untuk berangkat.
"Mbak Entun, titip rumah ya," ucap Nina.
"Baik nyonya," ucap mbak Entun.
"Mbak, titip cinta pertama Agil ya," ucap Agil.
Mbak Entun sudah tau masalahnya, dan mbak Entun hanya bisa menganggukan kepala dan tersenyum ke arah Agil.
"Gak akan bisa non, itu kan adik kandungnya non Agil. Gimana ini," gumam mbak Entun dalam hati.
Mbak Entun akan ke rumah nyonya besar, untuk menjaga den Fahmi.
Akhirnya semua berangkat menuju bandara, Agil tak banyak bicara. Mobil yang di belakang, para bodyguard yang di antar oleh supir kantor.
Mereka tiba di Bandara Husein Sastranegara.
"Yah, Fahmi gak ikut anter?" tanya Agil.
"Fahmi lagi ada acara study tour ke Bali," ucap ayah berbohong.
"Pasti sama si cewe ganjen itu ya," ucap Agil.
"Cewe ganjen siapa?" tanya mamah.
Hendra dan Nina tidak menggubris omongan Agil, karna kalau di jawab akan panjang urusannya.
"Mah, Agil ke toilet dulu," ucap Agil.
Tiga bodyguard mengikuti Agil.
"Sialan tuh cewe, malah deket sama Fahmi. Itu kan cowo cinta pertama gue, liat aja kalau masih deketin Fahmi," ucap Agil.
Bodyguard merekam ucapan Agil, dan mengirimkan pada tuannya. Hendra yang mendengar, hanya bisa pasrah.
Agil keluar dari toilet, dan mencoba untuk kabur. Namun para bodyguard segera bertindak, mengeluarkan sapu tangan yang sudah di kasih obat tidur sedikit. Obat itu hanya bekerja selama lima belas menit, dan Agil akan sadar lagi.
"Bagus, kerja kalian sangat hebat," ucap Hendra.
Nina yang melihat ini semua, hanya mengikuti apa kata suaminya saja. Karna ingin yang terbaik untuk Agil, serta Agil sadar akan keinginannya yang salah.
Agil di tidurkan di atas kursi panjang, sempat beberapa pengunjung melihat dan kaget apa yang terjadi.
"Anaknya kenapa pa?" tanya pengunjung.
"Darah rendahnya kambuh, jadi pingsan," ucap Nina berbohong.
__ADS_1
"Semoga cepat sadar dan sembuh untuk anaknya," ucap pengunjung.
"Aamiin, terima kasih untuk doanya," ucap Hendra.
Tak lama kemudian, Agil tersadar. Agil merasakan sedikit pusing, mamah Nina segera memberikan minum untuk Agil.
"Kok gue ada di sini, kan tadi gue mau kabur," gumam Agil dalam hati, sambil mengingat apa yang terjadi. Namun Agil tak dapat mengingatnya.
Akhirnya pengumuman untuk naik pesawat kearah Jogja telah di umumkan. Hendra beserta rombongan naik pesawat, Agil masih merasakan sakit kepala.
"Kenapa nak?" tanya mamah.
"Pusing mah," ucap Agil.
Mamah Nina sudah tak ingin tertipu dengan alasan Agil, mamah Nina memberikan obat tidur yang bekerja selama 5 jam. Pokoknya sebelum sampai Gontor, Agil sudah sadar.
Akhirnya tiba di Jogja, Agil di dudukan di atas kursi roda. Sebenarnya ini rencana Hendra dan Nina, agar Agil tidak bisa kabur.
Dari Bandara Adisucipto, perjalanan naik mobil menuju Gontor. Agil masih tidur dengan nyenyak, Tiba-tiba Agil terbangun.
"Tadi bukannya lagi di pesawat?" tanya Agil.
"Kamu kan tidur, setelah minum obat sakit kepala," ucap mamah.
"Sekarang di mana?" tanya Agil.
"Bentar lagi sampai di Pesantren Gontor," ucap ayah.
"Niat kabur, kok gue jadi tidur ya," gumam Agil dalam hati.
Akhirnya mereka semua tiba di pesantren Gontor, para bodyguard tidak turun dari mobil. Hendra, Nina, dan Agil turun dari. Mobil. Sopir membantu mengeluarkan koper Agil.
Semua pun masuk ke dalam lingkungan pesantren, Agil merasa sedih. Karna akan tinggal 6 tahun di sini, tanpa boleh pulang. Justru keluarga yang akan menjenguk ke pesantren, Agil hanya bisa menghela nafas panjang.
"Assalamu'alaikum ustadzah, saya Hendra dari Bandung," ucap Hendra.
"Walaikumsalam pa Hendra," ucap ustadzah sambil salam yang menempel kan kedua telapak tangan dan di taro di dada.
"Ini Agil anak saya," ucap Hendra.
"Assalamu'alaikum nak Agil," ucap Ustadzah.
"Walaikumsalam ustadzah," ucap Agil.
Akhirnya Hendra telah berbincang panjang dengan para ustadzah, kenapa membawa anaknya kemari. Pihak pesantren akan membantu menyadarkan Agil, dan membantu Agil untuk menerima segala sesuatu dengan ikhlas dan ridho.
Agil pun berpamitan pada orang tuanya, mereka berat melepaskan Agil. Namun ini demi kebaikan Agil, untuk menjadi lebih baik, lebih dewasa, dan jadi wanita yang sholehah.
__ADS_1