My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 37 - Mengurus Fahmi


__ADS_3

Setiba di rumah orang tua Hendra, mereka langsung mencari Fahmi. Tapi mereka sepakat untuk tidak membahas masalah ini, takut Fahmi mengamuk lagi.


"Assalamu'alaikum," ucap Hendra.


"Walaikumsalam," ucap mamah.


"Fahmi mana?" tanya Hendra.


"Itu sedari tadi melamun, tak mau sarapan," ucap mamah.


Hendra dan Nina saling pandang, karna baru kali ini melihat Fahmi murung.


"Fahmi," ucap ayah.


"Iya yah," ucap Fahmi.


"Kenapa gak mau sarapan?" tanya ayah.


"Fahmi pengen pindah sekolah," ucap Fahmi.


"Iya, nanti kita obrolkan bersama. Tapi sekarang sarapan dulu," ucap Ayah.


Mamah Nina tidak banyak bicara, karna takut emosi. Takut kejadian semalam sama Agil, terjadi sama Fahmi.


Maklum ibu-ibu, kalau udah ngomel-ngomel. Kalau gak main tangan, gak afdol marah-marahnya 😁


Akhirnya Fahmi mau sarapan, sebenarnya dari tadi Fahmi lapar. Namun karna masih ada yang mengganjal dalam hatinya, jadi laparnya bisa tertahankan.


Sarapan pagi telah selesai, Nina dan mamahnya Hendra membereskan meja makan. Hendra dan Fahmi menunggu sang mamah yang lagi membereskan semuanya, setelah beres baru berbincang bertiga di kamar Fahmi.


Mamah Nina memeluk Fahmi dengan erat, mamah Nina merasakan ada keganjalan dalam hati anaknya.


Ibu mana yang tak sedih, melihat anaknya melakukan hal yang buruk. Meskipun itu salah, tapi Nina tak mampu untuk memarahi Fahmi. Karna takut dampak yang lebih besar pada Fahmi.


"Kenapa Fahmi ingin pindah sekolah?" tanya ayah.


Ayah menanyakan itu, karna ingin tau jawaban dari Fahmi. Meskipun ayah sudah tau jawabannya.


"Fahmi ingin menjauh dari kaka, Fahmi takut melakukan dosa yang lebih besar," ucap Fahmi.


"Ayah akan memindahkan Fahmi, asalkan Fahmi tidak melakukan kesalahan dan tidak menodai perempuan lain. Ayah hanya ingin melihat Fahmi beprestasi," ucap ayah.


"Insya Allah yah, Fahmi gak berjanji. Karna Fahmi cuman seorang manusia yang bisa khilaf, tapi Fahmi akan menunjukkan prestasi Fahmi," ucap Fahmi.


Hendra dan Nina saling pandang, setelah mendengar kata-kata yang dewasa dan bijak dari seorang Fahmi.


"Ayah memang berniat memindahkan Fahmi, tapi Fahmi mau masuk SMA biasa atau SMA islam yang ada pesantrennya dan tinggal di asrama?" tanya ayah.


"Fahmi mau SMA biasa, tapi yang islami bukan tinggal di asrama," ucap Fahmi.


"Iya, ayah udah siapkan di SMA Islam Cendekia Muda. Nanti biar om Ferry yang pindah kesini, untuk antar jemput Fahmi," ucap ayah.


"Iya yah, kapan Fahmi pindahnya?" tanya Fahmi.


"Hari ini ayah, mau mengurus semuanya. Semuanya demi kesembuhan Fahmi, dan Fahmi menjadi lebih baik lagi," ucap ayah.


"Makasih yah," ucap Fahmi.


"Sama-sama, ayah mengerti apa yang Fahmi rasakan," ucap ayah.


Hari ini pun, Nina dan Hendra berniat bertemu dengan dokter Irwan. Ingin menanyakan tentang Libido yang di alami oleh Fahmi, semalam Hendra sudah menjadwalkan agar bisa ketemu dengan dokter Irwan.


🥰🥰🥰


Hendra dan Nina berangkat untuk mengurus Fahmi pindah sekolah, Hendra dan Nina menuju SMAN 3 Bandung untuk mengurus Fahmi yang akan pindah sekolah.


Di SMAN 3 Bandung beres, lanjut ke sekolah SMA Islam Cendekia Bandung. Dan Hendra yang mengurus semuanya, Nina hanya mengikuti saja.


Setelah semua beres, kini ke rumah sakit jiwa Cisarua - Lembang. Untuk bertemu dengan dokter Irwan.


"Selamat siang Sus, apa dokter Irwan ada? Kemarin saya udah daftar, dan dapat jadwal siang ini," ucap Hendra.


"Atas nama siapa?" tanya suster.

__ADS_1


"Atas nama Hendra," ucap Hendra.


"Baiklah, dokter Irwan sudah menunggu. Mari saya antarkan ke ruangan dokter Irwan," ucap suster.


"Terima kasih," ucap Hendra.


Akhirnya mereka mengikuti langkah suster menuju ruang praktek dokter Irwan.


"Permisi dok, ini ada pasien yang mau konsultasi," ucap suster.


"Suruh masuk," ucap dokter Irwan.


"Baik dok," ucap suster.


"Ibu dan bapak silahkan masuk, saya tinggal dulu," ucap suster.


Hendra dan Nina pun masuk ke dalam ruangan dokter Irwan.


"Selamat siang dok," ucap Hendra.


"Hendra, Nina apa kabar?" tanya Irwan.


"Bentar, kamu Irwan si cupu yang tukang baca kan?" tanya Hendra.


"Iya aku teman kalian waktu SMA yang sangat cupu sekali," ucap Irwan.


"Masya Allah, kamu jadi dokter. Hebat kamu Wan," ucap Nina.


"Nin, bukannya kamu sama Agas? kenapa sama Hendra? mana Agas?" tanya Irwan.


"Agas sudah meninggal karna kecelakaan motor saat pulang kerja," ucap Nina.


"Astagfirullah, innalillahi wa innaillahi rojiun. Maaf Na, aku gak tau," ucap Irwan.


"Iya gak apa-apa Wan, lagian udah lama juga," ucap Nina.


"Kalian kesini pasti mau menanyakan tentang Fahmi ya?" tanya Irwan.


"Kok tau?" tanya Hendra.


"Iya aku mau menanyakan tentang Fahmi, di tambah Fahmi sejak kecil autism atau autis. Apa itu ada kaitannya?" tanya Hendra.


"Tidak ada kaitannya, namun inilah akhil baligh nya Fahmi lebih cepat dari anak normal biasanya. Jadi perubahan hormon yang membuat Fahmi seperti ini, dan memang sudah saatnya pubertas," ucap Irwan.


"Syukurilah, kalau tidak ada kaitannya dengan autisnya. Aku takut ada kaitannya, soalnya takut membuat Fahmi sulit mengontrol emosinya dan mengontrol untuk membuang hasratnya," ucap Hendra.


"Fahmi autis dari kapan?" tanya Irwan.


"Dari umur dua tahun, setelah ada yang aneh dengan Fahmi. Kami langsung memeriksakan kondisi Fahmi, dan kami dapat anak yang luar biasa," ucap Hendra.


"Tapi saya melihat Fahmi sangat dewasa dan mandiri," ucap Irwan.


"Mandiri dan dewasanya Fahmi, karna Agil sang kaka yang selalu mengajarkan Fahmi untuk mandiri dan dewasa," ucap Hendra.


"Bentar! Agil itu anak Agas dan Nina kan?" tanya Irwan.


"Iya, Agil anak Agas dan Nina. Dia yang merawat, menjaga, mengajari banyak hal pada Fahmi. Dia juga menjadi kaka yang kuat, ketika Fahmi tantrum," ucap Hendra.


"Aku bangga sekali dengan Fahmi, yang mencari tahu tentang apa yang terjadi pada dirinya. Dan segera mendaftarkan ke bagian pendaftaran, untuk melakukan jadwal konsultasi," ucap Irwan.


"Ya itulah Fahmi, anak autis yang sulit ditebak. Kadang-kadang bikin jengkel, Kadang-kadang bikin bahagia. Ada aja kelakuannya yang absurd," ucap Nina.


"Benar! anak autis itu sulit di tebak, bila dilihat dari sikap dan perilakunya. Terkadang melakukan hal yang di luar nalar kita, atau membuat hal absurd," ucap Irwan.


"Tapi bagaimana pun juga dia anak yang luar biasa dengan segala kekurangannya, tapi di bayar dengan segala kelebihannya," ucap Hendra.


"Allah itu maha adil, memberikan kekurangan pada kita. Namun banyak kelebihan yang dimiliki, serta memberikan hasil yang selalu baik," ucap Irwan.


"Benar! Allah itu maha adil. Apakah kamu sudah menikah Wan?" tanya Hendra.


"Sudah! aku menikah dengan Ria," ucap Irwan.


"Ria anaknya guru Kimia itu?" tanya Nina.

__ADS_1


"Iya Ria temen sebangku kamu," ucap Irwan.


"Masya Allah, sempit ya kita. Harus reuni nih," ucap Hendra.


"Ria udah meninggal setelah melahirkan anak kedua, dua tahun yang lalu," ucap Irwan.


"Innalillahi wa innaillahi rojiun, kenapa?" tanya Nina.


"Ria mengalami preeklamsia," ucap Irwan.


"Astagfirullah," ucap Nina.


"Anak yang pertama usia berapa?" tanya Nina.


"Anak yang pertama namanya Azahra Kania Putri, umur 15 tahun. Dia sekolah di SMA Islam Cendekia, sekarang kelas satu," ucap Irwan.


Hendra dan Nina tidak sadar dengan nama sekolahnya, karna mereka sedih mendengar teman mereka sudah tiada.


"Terus anak yang kedua usia berapa sekarang?" tanya Nina.


"Anak yang kedua bernama Muhammad Atarazka meninggal dunia, hanya mampu bertahan satu minggu, soalnya lahir secara prematur," ucap Irwan.


"Innalillahi wa innaillahi rojiun," ucap Nina.


"Terus sekarang kamu udah nikah lagi?" tanya Hendra.


"Aku dilarang menikah sama Azahra! karna bagi dia, orang tuanya hanya aku dan almarhumah Ria," ucap Irwan.


"Semoga Ria dan Atar bahagia di surga," ucap Nina.


"Aamiin! Kalian juga semoga selalu samawa. Bisa melewati semua cobaan yang datang silih berganti," ucap Irwan.


Hendra melihat jam ternyata sudah sore, pasti Agil dan Fahmi sudah menunggunya.


"Aamiin! Wan, aku pamit ya. Gak terasa hari sudah sore, anak-anak pasti sudah nyari-nyari ini. Kapan-kapan main ke rumah, tapi saat ini Fahmi lagi tinggal di rumah mamah," ucap Hendra.


"Baiklah, kapan-kapan kita berkumpul. Nanti aku bawa anak gadisku," ucap Irwan.


Akhirnya mereka pamit untuk pulang, Irwan pun jadi teringat akan masa SMA. Hendra dan Nina banyak mengobrol sepanjang perjalanan, dan tibalah di rumah orang tuanya Hendra.


"Assalamu'alaikum," ucap Hendra.


"Walaikumsalam," ucap mamah.


"Fahmi mana?" tanya Hendra.


"Tidur siang sama Sesil," ucap mamah.


Sesil adalah nama kucing kesayangan mamahnya Hendra, Fahmi yang sangat suka kucing.


"Fahmi," ucap ayah.


Fahmi mendengar suara ayah, dan langsung membuka matanya.


"Jangan berisik yah, Sesil lagi bobo," ucap Fahmi.


Hendra dan Nina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Fahmi.


"Nak, mamah mandi dulu ya," ucap mamahnya Hendra.


"Iya mah," ucap Hendra.


Mamahnya Hendra pun masuk kamar, karna merasa gerah.


"Ayah udah urus semuanya," ucap ayah.


"Makasih yah, kapan Fahmi udah bisa sekolah?" tanya Fahmi.


"Senin depan, karna sekarang udah tanggung hari Rabu," ucap ayah.


"Baik yah, nanti sekolahnya di anterin ayah ya," ucap Fahmi.


"Iya nak, nanti ayah antar. Ya udah ayah pamit pulang ya, bilangin sama eyang kalau ayah dan mamah pulang," ucap ayah.

__ADS_1


"Iya yah, ati-ati di jalan," ucap Fahmi.


Hendra dan Nina memberikan pelukan dan kecupan rasa sayang untuk Fahmi, agar Fahmi tidak sedih lagi.


__ADS_2