My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 34 - Fahmi Pindah


__ADS_3

Hari sudah sore, di ruang keluarga ada Fahmi dan Agil yang sedang menonton TV. Namun mereka masih tidak bertegur sapa, Agil pun fokus bermain dengan kucing kesayangannya yang bernama Muezza.


"Assalamu'alaikum," ucap ayah dan mamah.


"Walaikumsalam," ucap Fahmi dan Agil.


"Lagi apa ini?" tanya ayah.


"Nonton TV yah," ucap Fahmi.


"Ayah, mamah... Fahmi boleh gak tinggal di rumah eyang?" tanya Fahmi.


Ayah dan mamah bingung dengan pertanyaan Fahmi, karna tumben sekali Fahmi ingin tinggal di rumah eyang.


"Kenapa tiba-tiba pengen di rumah eyang?" tanya ayah.


"Kangen aja sama eyang, dan pengen aja tinggal di eyang. Lagian dari rumah eyang ke sekolah, deket banget," ucap Fahmi.


"Mau berapa hari?" tanya ayah.


"Belum tau yah berapa hari, bisa aja sampe lulus disana," ucap Fahmi.


Fahmi sedang menghindari Agil, yang pastinya akan meminta terus sama Fahmi. Sedangkan Fahmi sedang mengobati Libido nya, jadi Fahmi harus menjauh dari Agil.


"Ya boleh-boleh aja, pasti eyang seneng banget ada Fahmi di rumah eyang," ucap mamah.


"Ayah bilang dulu sama eyang ya,"


Ayah Hendra pun menelepon mamahnya.


"Assalamu'alaikum mah," ucap Hendra.


"Walaikumsalam nak, ada apa?" tanya mamah.


"Ini Fahmi ingin tinggal di rumah mamah, apa bisa?" tanya Hendra.


"Bisa nak, biar mamah ada teman. Papahmu tuh sibuk sama restorannya, lagian dari rumah ke sekolah Fahmi dekat," ucap mamah.


"Ya udah, nanti malam sudah maghrib. Hendra kesana ya mah," ucap Hendra.


"Iya nak, mamah tunggu ya. Assalamu'alaikum," ucap mamah.


"Walaikumsalam mah," ucap Hendra.


Hendra pun sudah menelepon mamahnya, dan mengatakan akan kesana untuk mengantarkan Fahmi.

__ADS_1


"Kata eyang boleh sekali," ucap ayah.


"Allhamdulilah," ucap Fahmi.


Agil yang mendengar Fahmi mau tinggal di rumah eyang, hatinya sakit sekali. Tapi Agil tidak akan bisa memaksa Fahmi, karna Fahmi pasti ngamuk.


Agil pun pura-pura cuek, tak memperhatikan obrolan mereka.


"Agil, nanti mau ikut ke rumah eyang?" tanya ayah.


"Enggak yah, kaka belum sehat betul," ucap Agil.


"Ya udah nanti mamah yang temani kaka di rumah ya," ucap mamah.


Akhirnya Fahmi naik ke kamarnya, untuk membereskan semua pakaian, perlengkapan mandi, perlengkapan sekolah, barang-barang kesayangan Fahmi.


Semua barang pun sudah siap, dan di turunkan ke bawah.


"Pindah kamar, tapi kaya pindah rumah," sindir ayah.


Fahmi pun tersipu malu, karna hampir semua barang dari kamarnya di bawa. Hanya lemari, kasur, meja belajar yang gak ikut di bawa.


Fahmi pun kembali ke kamar, dan bertemu dengan Agil. Fahmi cuek aja dengan Agil, Karna Fahmi masih tersulut emosi. Kalau Agil memaksa terus, Fahmi bisa saja tantrum kembali, dan emosi yang meluap-luap.


"Kamu masih marah sama kaka?" ucap Agil.


Fahmi tak menjawab pertanyaan sang kaka, karna harusnya Agil tau akan kesalahannya. Bukan menanyakan seperti itu, Fahmi hanya mau kakanya tau akan kesalahannya.


"Apa kesalahan kaka? sampe kamu cuek kaya gini?" tanya Agil.


Fahmi emosi mendengar pertanyaan seperti itu, Fahmi pun menarik sang kaka untuk masuk kamar, lalu Fahmi menutup pintu. Karna dipastikan Fahmi akan mengamuk, setelah mendengar pertanyaan Agil.


Tombol kedap suara pun di aktifkan, agar tak terdengar hingga keluar ruangan.


"Kaka itu go*lok atau b*go? masih nanya apa kesalahan kaka!" ucap Fahmi dengan nada tinggi.


Agil kaget mendengar ucapan Fahmi yang memaki dirinya, hingga mengucapkan go*lok dan b*go. Fahmi udah tersulut emosi yang parah, karna kesalahan sang kaka.


"Kamu berani sekali bilang gitu sama kaka, belajar dimana kamu ngomong kaya gitu?" tanya Agil.


"Gak usah berbelit-belit deh, kaka itu maunya apa? kaka sadar gak, apa kesalahan kaka?" tanya Fahmi.


"Emang kaka punya salah apa sama kamu?" tanya Agil.


Fahmi udah emosi, karna kakanya tidak menyadari akan kesalahannya. Fahmi pun masih mengatur emosinya, agar tidak meledak-ledak emosinya. Sehingga bisa membahayakan orang disekitarnya.

__ADS_1


"Kaka itu memaksa Fahmi untuk menemani kaka dengan hal yang pernah Fahmi lakukan, tapi saat itu Fahmi sedang tidak mau. Dan kaka memaksa Fahmi, kaka itu kakanya Fahmi. Tapi tidak tau sikap Fahmi yang tidak suka dipaksa dan saat itu kaka memaksa Fahmi," ucap Fahmi.


"Maaf ya, kaka hanya ingin menuntaskan apa yang kaka inginkan. Apa malam ini bisa kaka dapatkan?" tanya Agil.


"Malam kemarin itu yang terakhir, dan sampai kapanpun Fahmi tidak akan melayani kaka. Jadi carilah laki-laki lain karna Fahmi tidak ingin menodai kaka," ucap Fahmi.


"Gak mau, aku mau nya kamu," ucap Agil.


"Tapi sayangnya, Fahmi tidak akan pernah mewujudkan keinginan kaka. Lebih baik sekarang juga keluar dari kamar Fahmi, sebelum Fahmi bisa bertindak diluar batasnya Fahmi," ucap Fahmi.


Agil tiba-tiba memeluk Fahmi, dan memegang sesuatu benda yang Fahmi miliki. Fahmi kaget, dengan tindakan sang kaka.


Fahmi yang sudah gelap mata, Fahmi kembali emosi. Fahmi menarik tubuh Agil dari pelukannya, dan mendorong Agil sekuat mungkin.


Agil pun terlempar jauh, karna dorongan tangan Fahmi. Agil yang tak siap dengan badannya, Agil terhuyung dan terjatuh, hingga kepalanya terbentur sisi lemari.


Fahmi pun emosi, karna Fahmi sedang mencoba menyembuhkan Libidonya. Fahmi tak melihat keadaan sang kaka, Agil pun bangun dari jatuhnya. Lalu Agil keluar kamar Fahmi, dan menuju kamarnya.


Fahmi yang autism atau autis, jika tidak dapat mengontrol emosinya. Fahmi bisa saja mengamuk, hingga melukai orang yang dekat dengan Fahmi.


Maghrib pun tiba, Fahmi baru saja selesai solat. Fahmi pun turun ke bawah, karna akan ke rumah eyang.


"Mah... Fahmi ke rumah eyang dulu," ucap Fahmi.


"Baik-baik di rumah eyang, jangan nakal," ucap mamah.


"Iya mah," ucap Fahmi.


"Gak pamit sama kaka?" tanya mamah.


"Udah tadi sore mah," ucap Fahmi.


Akhirnya fahmi dan Hendra, pergi ke rumah orang tuanya Hendra atau eyang nya dari Fahmi dan Agil.


Sepanjang perjalanan Fahmi, tak banyak bicara. Fahmi menyenderkan tubuhnya di lengan sang ayah, Hendra pun tidak curiga dengan apa yang terjadi pada anak-anak nya.


"Maaf kak, bukannya Fahmi gak mau maafin kaka. Tapi biar kaka tau, akan kesalahan kaka, tapi sayangnya kaka tidak menyadari akan kesalahannya. Fahmi pergi dulu sampe lulus SMA, setelah itu gimana nanti saja,"


Akhirnya mereka tiba di rumah eyang, eyang sudah menyiapkan kamar istimewa untuk cucu laki-laki dari anak pertamanya.


"Mah... aku titip Fahmi ya, kalau nakal jewer aja telinganya," ucap ayah.


Eyang mengantarkan Fahmi ke sebuah kamar, kamar itu milik ayahnya. Hendra pun tersenyum, karna kamarnya jadi kamar anaknya.


Setelah beres semua di rumah orang tuanya, Fahmi pun sudah tenang di rumah eyang.

__ADS_1


__ADS_2