My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 23 - Fahmi emosi dan Agil sakit


__ADS_3

Allah itu maha adil, memberi kekurangan untuk Fahmi tapi memberi kelebihan yang luar biasa.


Fahmi sangat berprestasi di kelas, prestasi yang Fahmi berikan bukan hanya di pelajaran saja. Tapi prestasi yang selalu membantu teman-temannya bila kesulitan dalam hal membaca.


"Fahmi, apakah ibu boleh minta tolong?" tanya Ibu wali kelas.


"Boleh bu, ada apa?" tanya Fahmi.


"Tolong ajarkan teman-temannya Fahmi yang kesulitan membaca," ucap Ibu wali kelas.


"Baik bu," ucap Fahmi.


Fahmi pun mengajari satu per satu pada teman-temannya, ibu wali kelas sangat bangga pada kelebihan yang Fahmi miliki.


Hari ke hari banyak hal yang membuat sang wali kelas terkejut dan terharu, atas semua apa yang dilakukan Fahmi.


Bell jam istirahat pun berdering, Agil segera menghampiri sang adik ke kelas 1.


"Adek," ucap Agil.


"Kaka, tadi adek di suruh sama bu guru untuk bantu teman-teman yang belum lancar membaca," ucap Fahmi.


"Wah adek hebat, kaka bangga sama adek," ucap Agil.


"Kak, nanti bantu ajarin adek baca surat Al-Fatihah. Besok di tes," ucap Fahmi.


"Iya dek, nanti kaka bantu ya. Adek bilang ke ayah, kalau adek mau mengaji. Biar adek lebih lancar lagi membaca dia dan menghafal doa," ucap Agil.


"Iya kak, biar lebih lancar ya kak. Soalnya adek mau jadi Hafidz Al-Qur'an," ucap Fahmi.


"Masya Allah...kaka bangga sama adek, yang punya keinginan untuk menjadi Hafidz Al-Qur'an. Kaka akan dukung itu semua buat adek," ucap Agil.


Akhirnya jam bell istirahat sudah berbunyi, yang menandakan jam istirahat sudah selesai.


Jam pelajaran sesudah istirahat pun sudah di mulai, Fahmi sudah kembali fokus untuk menerima pelajaran.


Fahmi dengan fokus menerima semua pelajaran, karna Fahmi ingin dianggap seperti anak normal lainnya.


Akhirnya bel jam pelajaran telah usai, Agil sudah berada di depan kelas Fahmi. Agil melihat Fahmi yang begitu sangat semangat dan hebat untuk belajar.


Siang ini mas Ferry yang menjemput mereka berdua di sekolah, ayah tidak bisa ikut menjemput karna sedang banyak kerjaan.


"Assalamu'alaikum," ucap Fahmi dan Agil.


"Walaikumsalam, eh anak-anak mamah sudah pulang," ucap mamah.


Mereka masuk ke dalam rumah, dan mereka menyalami sang mamah. Mereka masuk ke kamar masing-masing, Agil segera mengganti baju dan melaksanakan solat dzuhur. Selesai solat, Agil merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tanpa terasa Agil tertidur, mungkin Agil lelah dengan tugas sekolah dan tugas hafalannya. Walaupun Agil sudah hatam Al-Qur'an, tapi Agil belum hafal semua surat-surat yang ada di dalam Al-Qur'an.

__ADS_1


Mamah Nina menuju kamar Agil, karna sedari tadi menunggu Agil yang tak kunjung keluar dari kamar.


"Astagfirullah...malah tidur ini anak, pasti otaknya lelah. Penuh tugas sekolah, tugas hafalan, di tambah kalau ada ulangan," gumam mamah dalam hati.


"Kak...kakak bangun yu, kita makan siang dulu," ucap mamah.


"Hmmm...iya mah bentar, Agil cape mah," ucap Agil.


"Iya makanya sekarang bangun, terus makan. Udah makan mau bobo juga boleh," ucap mamah.


Agil pun langsung membuka mata, bangun dari tidurnya. Namun Agil tidak langsung turun dari tempat tidur, melainkan duduk di atas kasur. Karna Agil masih merasakan mengantuk, sang mamah yang melihat anak sulungnya hanya bisa tersenyum.


Agil dan mamah Nina turun ke ruang makan, melihat Fahmi yang sudah menunggunya.


"Mari kita makan siang, udah makan siang kalian boleh tidur atau menonton TV," ucap mamah.


Tanpa basa basi, Agil mengambil nasi ke atas piring dan mengambil lauk pauk, serta sayur.


Mereka makan siang tanpa bersuara, hanya ada suara dentingan garpu dan sendok di atas piring.


Makan siang pun telah selesai, Agil kembali ke kamarnya. Karna Agil merasa tidak enak badan, jadi Agil memelihara untuk tidur.


"Mah, kaka kenapa?" tanya Fahmi.


"Mungkin kaka banyak tugas, jadi kaka cape dan ingin tidur. Hari ini ada tugas apa?" tanya mamah.


"Ya udah nanti mamah bantu hafalannya ya, biar nanti malam kalau di tes sama kaka dan di tes sama ibu guru. Fahmi sudah lancar dan sudah hafal," ucap mamah.


"Iya mah, tadinya mau minta tolong sama kaka. Tapi keliatannya kaka seperti kurang enak badan, tadi juga di mobil kaka tidur terus," ucap Fahmi.


"Fahmi baca dulu, dan di hafalkan. Mamah mau beresin dapur dulu, nanti mamah bantu hafalannya," ucap mamah.


Fahmi pun mengambil buku dari mamahnya, Fahmi mencoba membaca dan menghafalnya. Berkali-kali Fahmi menghafal, namun Fahmi masih saja tidak hafal.


Fahmi mulai kesal, karna Fahmi tidak hafal dengan apa yang dibacanya sedari tadi. Fahmi pun memukul-mukulkan kepalanya dengan tangan.


Mamah Nina yang baru saja, menyelesaikan pekerjaan di dapur. Melihat Fahmi yang memukul-mukulkan kepalanya dengan tangan. Mamah Nina segera menghampiri Fahmi, dan membuat Fahmi tenang.


"Kenapa nak?" tanya mamah.


"Susah, gak hafal-hafal," ucap Fahmi dengan kesal dan masih memukul-mukulkan kepalanya dengan tangan.


Setelah sekian lama, mamah Nina tidak pernah melihat Fahmi emosi. Saat ini mamah Nina melihat Fahmi emosi, dan sedikit sulit terkendali kan..


"Jangan gitu nak, nanti kepala Fahmi sakit," ucap mamah yang berusaha untuk menghentikan pemukulan tangan ke kepala Fahmi.


Namun tenaga Fahmi terlalu kuat, tapi mamah berusaha untuk menghentikan semuanya.

__ADS_1


"Sini mamah bantu," ucap mamah.


Mamah Nina memakai teknik penghafalan untuk Fahmi, seperti Agil ajarkan untuk Fahmi. Akhirnya Fahmi pun bisa menghafal dengan baik, Fahmi pun merasa bahagia.


"Allhamdulilah, akhirnya bisa hafal," ucap Fahmi.


"Makanya jangan pake marah-marah dulu, bilang ke mamah! Nanti mamah bantu," ucap mamah.


Fahmi pun tersenyum, lalu memeluk sang mamah tersayang. Mamah Nina melihat kamar Agil masih menutup, dan belum ada tanda-tanda Agil keluar kamar.


"Sana Fahmi mandi sore, mamah mau liat kaka," ucap mamah.


Fahmi pun dengan segera mengambil handuk di kamarnya, dan pergi ke kamar mandi. Mamah Nina pergi ke kamar Agil, dan melihat Agil yang tertidur dengan selimut menutupi tubuhnya.


Mamah Nina pun memeriksa kondisi Agil, dan ternyata Agil demam. Seluruh badannya panas, mamah Nina segera menelepon suaminya untuk memberitahukan kalau Agil sakit.


Mamah Nina segera memberikan obat penurun panas, dan mengompres kening Agil.


"Ya Allah nak, kamu kenapa," gumam mamah Nina dalam hati.


Akhirnya ayah Hendra pulang ke rumah dengan panik, karna mendapat kabar kalau Agil demam.


"Assalamu'alaikum mah, gimana keadaan Agil?" tanya ayah Hendra.


"Tadi sih udah di kasih obat penurun panas sejam yang lalu, tapi panasnya tidak kunjung turun. Melainkan makin panas," ucap mamah Nina.


"Ya sudah kita bawa ke dokter saja," ucap ayah.


Ayah Hendra pun menggendong anak sulungnya, dan akan di bawa ke dokter. Fahmi yang melihat Agil di gendong sang ayah.


"Mah, kaka kenapa?" tanya Fahmi.


"Kaka sakit, mamah sama ayah mau ke rumah sakit dulu. Fahmi disini sama mbak ya," ucap mamah.


"Gak mau, Fahmi mau ikut," ucap Fahmi dengan nada tinggi.


"Ya udah Fahmi boleh ikut," ucap mamah.


Akhirnya Fahmi ikut mengantar Agil ke dokter Felisya di rumah sakit Borromeus.


"Kaka cepet sembuh, jangan sakit. Nanti siapa yang bantu Fahmi belajar," ucap Fahmi sambil menangis.


Yang di dalam mobil mendengar ucapan Fahmi, merasa terharu dan tersayat hatinya. Karna Agil memang bukan anak yang sering sakit, bisa di hitung jari kalau Agil sakit.


"Doakan buat kaka ya, semoga kaka gak kenapa-kenapa," ucap ayah.


"Ya Allah sembuhkanlah kaka Agil, jangan kasih sakit parah untuk kaka Agil. Kalau kaka Agil, gak ada yang bantu Fahmi belajar, dan Fahmi gak ada temen. Kabulkan doa Fahmi ya Allah," ucap Fahmi dalam doa.

__ADS_1


Akhirnya Agil sedang di periksa oleh dokter Felisya, ternyata Agil hanya butuh istirahat. Agil kurang asupan makanan buah dan sayuran, di tambah Agil suka jajan disekolah.


__ADS_2