
Akhirnya Fahmi tiba di rumah, setelah pulang sekolah. Namun Fahmi tak menemukan Agil di rumah, Fahmi mendadak marah-marah gak jelas dan melempar semua barang kesembarang arah.
"Kaka," ucal Fahmi sambil melempar mainannya.
"Kaka belum pulang sekolah," ucap mamah.
Hendra yang baru saja masuk ke rumah, melihat dan mendengar Fahmi mengamuk. Hendra pun bergegas masuk ke ruang keluarga, melihat Fahmi sudah melemparkan semua mainannya.
"Kenapa mah?" tanya ayah.
"Gak tau, tadi lagi duduk. Tiba-tiba teriak kaka sambil lempar semua mainannya," ucap mamah.
Ayah Hendra pun bingung, kalau Fahmi mulai tantrum dan tidak bisa mengontrol emosinya.
"Kaka," teriak Fahmi.
"Kaka belum pulang, sekarang jangan nangis. Nanti kita jemput kaka pulang sekolah," ucap ayah.
"Sekarang," ucap Fahmi.
"Nanti, sekarang kaka masih sekolah," ucap ayah.
Mamah Nina pun membuatkan susu botol untuk Fahmi, mungkin Fahmi merasa lapar.
"Sama ayah di gendong yu," ucap ayah yang melihat Fahmi masih emosi.
Fahmi pun merentangkan tangan yang menandakan minta gendong. Ayah Hendra memberikan kenyaman untuk Fahmi, ayah Hendra memberikan susu botol untuk Fahmi. Ayah Hendra mengelus punggung Fahmi, dan tanpa terasa Fahmi mulai tertidur dalam pangkuan sang ayah.
"Akhirnya tidur juga," gumam ayah dalam hati.
"Fahmi tidur yah?" tanya mamah Nina.
"Iya akhirnya tidur juga, pagi-pagi gak ada drama. Malah sekarang ada drama, lusa bilang sama Anisa untuk melatih kesabaran dan mengontrol emosinya Fahmi," ucap ayah.
"Iya yah, kita juga harus mengatur agar Fahmi tidak mengganggu kaka. Kaka sudah mulai banyak tugas pelajaran dan tugas hafalan," ucap mamah Nina.
"Iya kita harus pintar mengatur dan mengalihkan Fahmi agar tidak terlalu mengganggu kaka," ucap ayah Hendra
"Untungnya anak itu gak pernah ngeluh, selalu baik-baik saja. Justru dia bisa tau harus melakukan apa saja untuk menjaga dan merawat Fahmi," ucap mamah Nina.
"Nanti deh kalau Fahmi udah masuk sekolah dasar. Ayah mau mewujudkan keinginan kaka yang mau punya kamar di atas pohon, jadi biar kaka fokus dalam belajar," ucap ayah Hendra.
"Iya yah, mamah suka kasian sama kaka. Kalau lagi belajar, keganggu sama Fahmi. Mana Hafalan kaka banyak sekali," ucap mamah Nina.
"Ya udah nanti ayah cari rumah yang luas halamannya, dan ayah mau baringkan Fahmi. Ayah mau ke kantor dan sekalian jemput kaka," ucap ayah Hendra.
__ADS_1
"Iya yah, semoga pulangnya sebelum Fahmi bangun ya. Biar dia gak ngamuk lagi," ucap mamah Nina.
"Ya udah ayah berangkat dulu ya mah, Assalamu'alaikum," ucap ayah Hendra.
"Walaikumsalam," ucap mamah Nina.
Ayah Hendra pergi ke depan rumah, mengajak mas Ferry untuk menjemput Agil ke sekolah.
"Mas kita berangkat jemput kaka," ucap Hendra.
"Baik tuan," ucap Ferry.
Akhirnya Hendra dan Ferry pergi untuk menjemput Agil sekolah, sepanjang perjalanan Hendra memainkan ponselnya dan mencari nama asisten di kantornya.
"Halo Dim, tolong carikan rumah yang halamannya luas, ada pohon-pohon besar. Karna saya mau membuat ruangan agar Agil bisa fokus belajar," ucap Hendra.
Dimas yang sebagai asisten Hendra di kantor pun, segera mencari apa yang boss nya minta. Akhirnya Hendra dan Ferry tiba di sekolah Agil, 10 menit lagi keluar sekolah. Hendra menunggu di gerbang sekolah, dan Agil pun sudah pulang.
"Assalamu'alaikum ayah," ucap Agil.
"Walaikumsalam kaka, kita pulang yu. Tadi adek tantrum lagi pas pulang sekolah," ucap ayah.
"Terus sekarang gimana?" tanya Agil.
"Sekarang lagi tidur, kaka nanti kita akan pindah rumah. Karna ayah akan buatkan rumah pohon untuk kaka, biar kaka bisa fokus belajar di siang hari sampe sore. Kalau maghrib pulang ke dalam rumah, okay," ucap Ayah.
"Sama-sama sayang, asalkan pertahankan ranking 1 nya ya," ucap ayah.
"Okay ayah," ucap Agil.
Setiba di rumah, ada tamu wanita berkerudung. Ternyata itu pembimbing Fahmi, mamah Nina menelepon Anisa untuk membantu mengajari Fahmi untuk tidak tantrum dan mengontrol emosi Fahmi.
"Assalamu'alaikum," ucap Agil.
"Walaikumsalam," ucap mamah Nina dan Anisa.
"Anisa kenalkan ini kaka Agil yang selalu mengajari Fahmi," ucap mamah Nina.
"Hai kaka Agil, aku kaka Anisa pembimbing Fahmi di sekolah," ucap Anisa.
Agil langsung mencium tangan Anisa dan lalu tersenyum.
"Hai kaka Anisa, kak aku permisi dulu ya. Mau ganti baju dan solat," ucap Agil.
Anisa bangga dan bahagia melihat Agil yang begitu dewasa, Anisa bisa melihat betapa sayangnya Agil sama Fahmi.
__ADS_1
"Kaka Agil kelas berapa?" tanya Anisa.
"Kelas 3 SD," ucap mamah Nina.
"Saya melihat kaka sangat menyayangi Fahmi," ucap Anisa.
"Iya kaka sangat menyanyangi Fahmi, oh iya nak tolong bantu ibu untuk mengajari kami cara mengahadapi Fahmi yang tantrum dan mengontrol emosi Fahmi," ucap Mamah Nina
"Baik bu, saya akan mengajari semua yang ada disini, ketika Fahmi tantrum dan mengajari Fahmi untuk mengontrol emosi," ucap Anisa.
Setelah semua berkumpul, Anisa menjelaskan bagaimana cara menghadapi Fahmi yang tantrum.
"Jadi, ketika Fahmi tantrum. Jangan di manja, jangan di tanya kenapa. Tapi biarkan dia tenang dulu, baru di tanya ada apa dan kenapa. Kalau saat tantrum di manja, nanti terbiasa seperti itu terus. Fahmi akan merasa ada yang membelanya, ketika tantrum langsung di manja," ucap Anisa
"Ooh jadi gak boleh di manja ya kak? jadi kalau tantrum diabaikan saja dulu," ucap Agil.
"Benar sekali kaka," ucap Anisa.
"Iya kak, nanti di coba ke Fahmi," ucap Agil.
Tiba-tiba Fahmi bangun dari tidurnya, dan melihat ada Agil. Fahmi teringat akan kata-kata ayahnya yang katanya akan mengajaknya untuk menjemput sang kaka. Fahmi mengambil mainan, lalu di lemparkan ke arah ayah.
Ayah Hendra menjauh dari Fahmi, ayah tau pasti Fahmi kecewa karna tidak di ajak menjemput Agil ke sekolah.
"Fahmi kenapa bu?" tanya Anisa.
"Tadi ayahnya berjanji akan mengajaknya untuk menjemput kakanya sekolah, taunya kakanya sudah ada di rumah," ucap mamah Nina.
"Kalau bisa jangan pernah menjanjikan sesuatu, karna itu menjadi harapan Fahmi," ucap Anisa.
Agil yang mendengarkan, langsung mendekati Fahmi.
"Adek gak boleh gitu sama ayah, tadi kan adek lagi bobo," ucap Agil.
Fahmi berjalan ke arah Agil, sambil memukul sang kaka dan menjambak rambut panjangnya.
"Adek... sakit tau," bentak Agil yang tidak sengaja.
Fahmi merasa sakit di bentak oleh sang kaka Fahmi mengambil mainannya dan melemparkan ke sembarang arah. Hingga memukulkan ke kepalanya
Ayah tau, kalau Agil tidak sengaja membentak seperti itu. Ayah memeluk Agil, sambil mengusap bagian yang di pukul dan di jambak rambutnya.
"Sudah kak jangan di bentak," ucap ayah.
"Astagfirullah yah, mah. Kaka gak sengaja," ucap Agil.
__ADS_1
Orang tuanya mengerti dengan refleks Agil yang tak sengaja membentak Fahmi.