My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 41 - Egonya Hendra


__ADS_3

Agil yang ingin bersalaman dengan Fahmi, namun Fahmi langsung pergi begitu saja meninggalkan semuanya.


"Sebenci itukah kamu sama aku," gumam Agil dalam hati.


Hendra yang melihat tingkah laku Fahmi Hendra langsung memarahi Fahmi.


"Kamu itu gak sopan, kaka kamu cuman mau salaman. Dan kamu mengabaikan begitu saja," ucap Hendra.


Plak


Hendra menampar pipinya Fahmi dengan secara refleks, mamah Nina dan eyang yang melihat itu hanya bisa terdiam.


Fahmi yang kaget, Fahmi berlari ke arah dapur untuk mengambil sebilah pisau.


"Tanggung yah kalau cuman tampar Fahmi, sekalian aja bunuh Fahmi," ucap Fahmi.


Hendra yang tidak sadar telah menampar Fahmi, akhirnya sadar telah menampar pipi anaknya.


"Simpan nak pisaunya, mamah tak ingin melihat Fahmi memegang benda itu," ucap mamah Nina sambil menangis.


"Biar saja mah, biar ayah tau! harusnya ayah tau, kenapa Fahmi tidak mau bersalaman dengan kaka. Apa Fahmi salah kalau Fahmi tidak mau bersalaman dengan kaka?" tanya Fahmi.


"Astagfirullah, ya Allah nak maafkan ayah. Ayah khilaf nak," ucap ayah sambil mengambil pisau dari tangan Fahmi.


Fahmi menonjokkan tangannya ke tembok berkali-kali dan berteriak. Agil ingin memeluk Fahmi, namun Agil takut Fahmi mengamuk lagi.


"Fahmi cucu eyang yang ganteng, udah ya. Eyang gak mau kalau Fahmi kaya gini, eyang gak marah kalau Fahmi gak mau salaman sama kaka," ucap eyang.


Fahmi berhenti memukul tembok, Fahmi langsung memeluk eyang.


"Makasih eyang, cuman eyang yang bisa mengerti Fahmi," ucap Fahmi.


Eyang membawa Fahmi ke kamarnya, untuk menenangkan hatinya.


"Papah tidak pernah mengajarkanmu untuk menampar anak, tapi kamu menamparnya! apa salah kalau Fahmi tidak ingin bersalaman dengan Agil? atau kamu lupa dengan apa yang terjadi pada Fahmi?" tanya papah.

__ADS_1


"Maaf pah, Hendra khilaf. Hendra refleks!" ucap Hendra.


"Sudahlah kamu jangan kemari dulu untuk beberapa hari, hingga emosi Fahmi mereda. Papah tidak mau terjadi sesuatu sama Fahmi," ucap papah.


Akhirnya Hendra berpamitan pulang, papahnya Hendra pun menjadi pusing memikirkan bagaimana cara menyembuhkan Fahmi.


🥰🥰🥰


Sepanjang perjalanan pulang, Hendra tak banyak berbicara. Karna Hendra merasa bersalah telah menampar anak kesayangannya, yang tak pernah iya lukai hatinya. Namun kali ini Hendra melukai Fahmi dengan tangannya.


Akhirnya semua tiba di rumah, Agil yang sedari tadi ingin bertanya.


"Yah...Fahmi sakit apa? kenapa ayah tidak pernah bilang sama Agil? mamah juga tidak pernah bercerita sama Agil!" ucap Agil.


"Nak, nanti ya di bahasnya," ucap mamah.


"Kenapa harus nanti? kenapa gak sekarang aja?" tanya Agil dengan nada tinggi.


Hendra sedang pusing dengan masalah Fahmi, sekarang Agil tidak bisa di beritahu.


"Kenapa harus tunggu besok? Agil mau tau sekarang," ucap Agil dengan memaksa.


"Ayah udah bilang besok ya besok, kenapa kamu jadi melawan begini?" tanya ayah dengan nada tinggi.


Agil yang kaget mendengar sang ayah marah, langsung tertunduk dan menangis.


"Kan mamah udah bilang, besok kita bahas. Kaka masih aja memaksa ingin tau sekarang, nah sekarang ayah marah. Tolong kaka mengerti, besok kita bahas ya," ucap mamah.


Agil pun hanya menganggukan kepala, lalu berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Agil merasa bersalah, karna memaksa ayahnya untuk bercerita malam ini.


"Ya Allah...sebenarnya apa yang terjadi sama Fahmi? kenapa Fahmi tak ingin disentuh olehku, kenapa Fahmi jadi beda," gumam Agil dalam hati.


Hari semakin malam, Agil yang masih memikirkan apa yang terjadi pada Fahmi. Lambat laun mata Agil semakin berat untuk terbuka dengan lebar, akhirnya Agil tidur di atas ranjang kesayangannya.


🥰🥰🥰

__ADS_1


"Eyang... kenapa sih ayah tidak mengerti juga dengan apa yang Fahmi lakukan? kenapa ayah hanya memikirkan Agil saja, tidak memikirkan Fahmi yang sedang berjuang untuk sembuh?" tanya Fahmi.


"Ayah hanya ingin kalian berbaikan dengan Agil! eyang tau, kalau kamu belum siap untuk berbaikan dengan Agil, karna kamu takut kalau Agil memintanya lagi," ucap eyang.


"Fahmi mengerti, Fahmi juga ingin bisa berbaikan lagi dengan kaka. Tapi Fahmi takut dan ragu untuk berdekatan lagi dengan kaka, Fahmi sih bisa menahan tapi Fahmi gak yakin sama kaka bisa tahan itu semua," ucap Fahmi.


Mamahnya Hendra sengaja menelepon Hendra, tanpa sepengetahuan Fahmi. Biar Hendra juga bisa mengetahui apa yang terjadi pada Fahmi, dan biar Hendra tidak memaksakan mereka untuk berbaikan.


Hendra yang mendengarnya hanya bisa terdiam sambil menghela nafas, dan bersedih karna Hendra mengikuti egonya bukan mengikuti keadaan Fahmi.


🥰🥰🥰


Nina yang sebagai istri sekaligus mamah untuk Agil dan Fahmi, Nina bingung harus berbuat apa. Nina hanya bisa mengikuti keadaan, bukan mengikuti ego.


"Yah...udah ya, jangan memaksakan Fahmi untuk berbaikan dengan Agil. Biarkan waktu yang menjawab semuanya, mamah takut terjadi sesuatu pada Fahmi. Karna Fahmi sulit di tebak dengan sikapnya. Bayangkan kalau itu pisau tidak di ambil, bisa saja Fahmi melukai dirinya, atau Fahmi melukai orang lain," ucap Nina.


"Aku hanya ingin mereka kembali berbaikan, aku tak ingin mereka bermusuhan seperti ini," ucap Hendra yang masih tetap dengan egonya.


"Apa ayah sudah siap, bila Fahmi berbaikan dengan Agil. Lalu Fahmi melakukan sesuatu pada Agil, dan Fahmi menghamili Agil. Apa ayah pikirkan ke situ?" tanya Nina dengan nada tinggi.


Hendra tidak memikirkan sejauh itu, namun istrinya menyadarkan dengan ucapan yang membuat Hendra tersadar.


"Astagfirullah, ayah tidak memikirkan sejauh itu. Maafkan ayah mah," ucap Hendra.


"Ayah tau penyakit Fahmi, tapi ayah tidak memikirkan bila mereka berbaikan. Dan saat ini Agil pun sedang pubertas, mamah yakin Agil akan ketagihan terus dengan apa yang pernah Fahmi lakukan," ucap Nina.


"Ayah harus bagaimana?" tanya Hendra.


"Masukan Agil ke sekolah pesantren atau ada asrama, biar dia belajar agama lagi lebih dalam. Biar Agil belajar dari kesalahannya juga, coba kalau dia menolak apa yang akan Fahmi lakukan. Semuanya tidak akan seperti ini," ucap Nina.


"Baiklah, besok akan ku urus semuanya," ucap Hendra.


"Fahmi sudah tau akan kesalahannya, Fahmi sudah mengakui kesalahannya. Bahkan dia ke dokter sendiri, hingga dia minta pindah rumah dan pindah sekolah. Karna dia ingin jauh dari Agil, tapi ayah yang punya ego untuk menyatukan mereka, hanya karna mereka adik-kaka. Apa ayah sudah memikirkan dampak buruknya?" tanya Nina.


Hendra bingung harus mengatakan apa lagi, karna semua ucapan yang di ucapkan istrinya benar semua, Hendra hanya memaksakan sebuah ego.

__ADS_1


__ADS_2