
1 Tahun kemudian
Hari ini Fahmi berusia 1 tahun, Agil yang selalu sigap menjaga adiknya itu.
"Dek Fahmi," ucap Agil.
Fahmi cuek saja, ketika Agil memanggil adiknya itu. Beberapa kali Agil memanggil Fahmi, namun Fahmi tak meresponnya.
"Mah... kenapa sih dedek kalau di panggil cuek-cuek aja," ucap Agil dengan kesal.
Nina pun merasa ada keanehan pada anaknya dari bayi, Fahmi jarang mau kontak mata dengan orang-orang yang menggendong Fahmi, Fahmi juga cuek kalau di panggil namanya.
Hendra yang mendengar ucapan Agil, langsung teringat dengan beberapa hari yang lalu. Hendra yang memanggil Fahmi pun tak ada responnya.
"Mah apa kita harus melakukan pengecekan sama Fahmi ke dokter," ucap Hendra.
"Iya yah, kita tanya sama dokter Felisya yang spesialis anak," ucap Nina.
"Ya udah kita ke rumah sakit sekarang aja yu," ucap Hendra.
Tiba-tiba terdengar suara Agil menangis, Nina dan Hendra bingung mendengar Agil menangis. Karna Agil itu bukan tipe gadis cilik yang suka nangis, Nina dan Hendra menghampiri Agil.
"Kenapa kak?" tanya mamah.
"Adek lempar mainan balok itu ke kepala kaka," ucap Agil yang menangis.
Hendra melihat sedikit ada benjolan di kening Agil, Hendra pun menenangkan gadis sulungnya itu. Hendra mengambil kotak P3K untuk mengobati keningnya Agil.
"Kaka jangan balas ya, adek gak sengaja," ucap Mamah.
"Gak mah, Agil gak bales," ucap Agil.
"Kaka ikut ayah sama mamah ke dokter yu, untuk periksa dedek ke dokter," ucap ayah.
"Iya yah, kaka akan ikut. Kan kaka sayang adek," ucap Agil.
Akhirnya semuanya pergi ke rumah sakit Borromeus, karna sudah janjian dengan dokter Felisya. Mereka semua telah tiba di rumah sakit, sekarang sedang menunggu panggilan dari dokter Felisya.
__ADS_1
"Selamat siang bu Nina, apa kabar?" tanya dokter Felisya.
"Baik dok," ucap Nina.
"Hai kaka Agil, apa kabar?" tanya dokter Felisya.
"Hai juga kaka dokter, kabar Agil allhamdulilah baik," ucap Agil.
"Hai Fahmi, apa kabar?" tanya Felisya untuk menganalisis lebih lanjut.
Fahmi tidak menatap wajah orang yang memanggil namanya, justru Fahmi lebih anteng dengan satu benda yang ada di dekatnya.
Felisya pun menganalisis Fahmi, mengajak Fahmi untuk berinteraksi. Namun tak ada respon dari Fahmi, dokter Felisya pun mengucapkan satu kata untuk memancing agar Fahmi mau mengeluarkan suara.
"Ibu Nina, pa Hendra. Saya perlu untuk menganalisis lebih lanjut. Takutnya Fahmi terkena autisme, yang biasa disebut autis," ucap dokter Felisya.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dok," ucap Hendra.
Felisya pun melakukan panggilan pada adiknya yang dokter ahli saraf, dokter Fauzi pun telah hadir di ruangan Felisya.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya," ucap Hendra.
Felisya dan Fauzi melakukan serangkaian tes, dari mengajak interaksi, mengajak melakukan sesuatu, hingga serangkaian tes melalui M.R.I dan EEG.
Akhirnya serangkaian tes hari ini sudah terlaksana kan, butuh waktu yang panjang. Selama Fahmi melakukan serangkaian tes, Hendra dan lainnya berjalan-jalan di sekitaran rumah sakit. Sampe akhirnya mereka mencari makan, selesai makan kembali lagi ke tempat Fahmi sedang menjalankan tes. Agil sudah tertidur dalam pelukan Hendra, Hendra pun menatap anaknya yang selalu menjadi sasaran dari Fahmi.
"Jadilah kaka yang kuat, yang baik, yang sayang sama Fahmi. Walaupun Fahmi banyak melakukan hal yang membuat kaka sakit, ayah yakin kaka mampu membuat Fahmi untuk selalu tenang," gumam Hendra dalam hati.
Nina yang menatap gadis kecilnya dengan banyak luka di tubuhnya, namun Agil tidak pernah membalas dari kenakalan Fahmi.
"Anak mamah yang cantik, jadilah kaka yang terbaik dan terhebat buat Fahmi ya. Mamah janji akan selalu menuruti apa yang kaka mau asalkan kaka mau menjaga Fahmi selalu," gumam Nina dalam hati.
Dokter Felisya yang menggendong Fahmi, keluar ruangan bersama dokter Fauzi.
"Pa, bu. Kami sudah melakukan serangkaian tes untuk Fahmi. Hasilnya akan keluar seminggu lagi, karna kami akan menganalisis dulu untuk menarik kesimpulan dari hasil yang nanti sudah keluar," ucap dokter Felisya.
"Baik dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya," ucap Hendra.
__ADS_1
"Baik pa, kami akan melakukan semaksimal mungkin," ucap Felisya.
"Kami pamit dulu dok, sepertinya Fahmi sudah mulai bosan, di tambah Agil sudah tidur," ucap Hendra.
Hendra pun pamit untuk pulang, membawa anak dan istrinya untuk pulang ke rumah. Karna hari ini sangat melelahkan, hingga Agil pun sudah tidur.
Fahmi masih saja belum tertidur, namun mengganggu sang kaka dalam tidurnya.
"Nak jangan ganggu kakanya," ucap mamah.
Fahmi merasa tak suka dengan ucapan sang mamah, lalu Fahmi menjambak rambut Agil. Hingga Agil terbangun dari tidurnya.
"Aww sakit dek," bentak Agil yang lagi tidur, tiba-tiba di jambak.
Fahmi yang kaget dengan kakanya berteriak, Fahmi langsung menangis keras. Padahal Fahmi tidak di apa-apakan, Hendra dan Nina yang melihat itu merasa bingung dengan kondisi Fahmi yang menangis secara histeris.
Agil yang belum sadar sepenuhnya, Agil merasa bingung melihat Fahmi yang menangis histeris.
"Mah... Fahmi kenapa?" tanya Agil.
Mamah Nina tau, kalau Agil tadi tidak sadar telah membentak Fahmi.
"Tadi saat kaka lagi tidur, Fahmi menjambak rambut kaka. Saat kaka terbangun karna rambut kaka di jambak, kaka membentak Fahmi," ucap mamah.
"Ayah, mamah maaf! kaka gak bermaksud membentak Fahmi, kaka kaget aja karna rambut kaka di jambak," ucap Agil.
"Iya tidak apa-apa nak, ayah mengerti kok," ucap ayah.
Agil yang mencoba untuk menenangkan Fahmi, namun Fahmi bukannya tenang. Justru Fahmi menjadi lebih histeris, Fahmi pun dengan tidak sadar memukul dan menjambak rambut Agil lagi.
Hendra yang melihat Fahmi histeris seperti itu, langsung menggendong Fahmi untuk di tenangkan. Nina juga bingung harus berbuat apa, karna baru kali ini Fahmi menangis histeris.
Nina mencoba menenangkan Agil sambil mengobati luka di tangan dan wajah yang di cubit Fahmi dan mendapat cakaran dari Fahmi.
Akhirnya mereka membiarkan Fahmi yang menangis histeris, karna mereka bingung harus bagaimana lagi. Di kasih makanan kesukaannya gak mau, di kasih susu gak mau, dan akhirnya mereka membiarkan Fahmi menangis.
Setelah lelah menangis, Fahmi diam dengan sendirinya. Fahmi pun kembali tenang dan main dengan mainannya. Semua yang melihat pun merasa tenang, karna Fahmi sudah tidak histeris lagi seperti tadi. Agil pun sudah bisa mendekati Fahmi dan bermain lagi bersama Fahmi.
__ADS_1