
1 bulan kemudian
Hari ini kandungan Nina memasuki usia 32 minggu, namun sedari pagi Nina merasakan kontraksi. Saat akan pergi ke kamar, Nina merasakan seperti ada air mengalir.
"Astagfirullah nyonya, itu ketubannya pecah," ucap mbak Entun.
Mbak Entun segera ke kamar, memanggil suami ibu Nina.
"Tuan... itu nyonya Nina sudah mau melahirkan, karna ketubannya pecah," ucap mbak Entun.
"Astagfirullah... kamu jaga Agil, saya mau bawa ibu ke rumah sakit," ucap Hendra.
"Baik tuan, saya akan jaga non Agil," ucap mbak Entun.
Hendra pun menggendong Nina ke dalam mobil, dan Hendra dengan segera membawa Nina ke rumah sakit. Hendra memberitahu pada dokter Feby, dokter Feby pun dengan sigap sudah menyiapkan segalanya.
Akhirnya Hendra tiba di rumah sakit, dokter Feby dan para suster sudah menyediakan brankar. Nina di angkat ke atas brankar,lalu di bawa ke IGD.
Dokter Feby memeriksa kondisi Nina dan bayinya, namun harus segera operasi caesar untuk mengeluarkan bayi. Karna ketuban sudah pecah banyak, takutnya keminum sama bayi.
"Sus... siapkan ruang operasi, kita harus operasi caesar untuk mengeluarkan bayinya," ucap dokter Feby.
"Ibu Nina, kami akan melakukan operasi carsar. Karna ketuban sudah pecah, takutnya bayi banyak meminum air ketuban ibu," ucap dokter Feby.
"Lakukan yang terbaik dok," ucap Nina.
"Bawa ibu Nina sekarang ke ruang operasi," ucap dokter Feby.
Para suster pun keluar dari ruang IGD, dan mendorong brankar ke ruang operasi.
"Pa Hendra, saya akan melakukan operasi caesar. Karna air ketuban ibu Nina pecah. Takutnya bayi banyak meminum air ketubannya pa," ucap dokter Feby.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya," ucap Hendra.
Hendra mengabari pada orang tuanya, mamihnya Nina. Kalau Nina harus operasi caesar, karena air ketuban pecah. Hendra menelepon mbak Entun.
"Assalamu'alaikum mbak," ucap Hendra.
"Walaikumsalam tuan, ini non Agil menangis," ucap mbak Entun.
"Berikan ponsel pada Agil," ucap Hendra.
"Non... ini ayah telepon," ucap mbak Entun.
"Ayah... mamah kemana?" tanya Agil sambil menangis.
"Anak cantik kesayangan ayah dan mamah, do'ain mamah ya. Sekarang mamah mau operasi, dedek bayinya udah minta keluar. Kaka do'ain buat mamah ya, biar operasinya lancar. Jadi kaka jangan nangis lagi ya, kaka di rumah sama mbak Entun dulu. Nanti kalau mamah udah melahirkan, ayah jemput kaka ke rumah. Sekarang ponselnya kasih ke mbak ya," ucap ayah.
"Iya yah, ini mbak ayah mau ngobrol," ucap Agil.
"Mbak tolong nanti siapkan tas bayi yang ada di kamar, siapkan bantal, guling, kasur lipat Agil, baju, peralatan mandinya untuk 3 hari. Karna Agil akan saya jemput nanti, dan akan menginap di rumah sakit," ucap Hendra.
"Baik tuan, akan saya siapkan segalanya," ucap Mbak Entun.
__ADS_1
Ponsel pun di matikan, dan mbak Entun menyiapkan semua perlengkapan yang tadi di bilang.
"Non Agil, kita mandi yu. Udah siang ini, nanti kita makan bareng," ucap mbak Entun.
"Iya mbak, kaka mau sekalian solat. Nanti mbak temenin kaka makan siang ya," ucap Agil.
"Iya non," ucap mbak Entun.
Agil pergi mandi dan mengambil air wudhu, karna sudah memasuki jam solat dzuhur. Mbak Entun sedang menyiapkan segalanya. Agil sudah selesai solat, sekarang sedang berdoa sama Allah.
"Ya Allah bantu lancarkan operasi mamah, biar dedek bayinya cepet keluar. Ya Allah jagain mamah juga ya, biar mamah juga sehat selalu. Ya Allah, titip ayah Agas dan nenek di surga ya," ucap Agil dalam doa.
Mbak Entun yang melihat Agil berdoa, merasa terharu. Tak terasa mbak Entun bekerja di rumah ini sudah mau 3 tahun, Agil pun sudah selesai solatnya. Agil melipat sejadah dan mukenanya, lalu di masukkan kedalam kantong. Agar nanti di rumah sakit masih bisa solat.
"Mbak... Kaka udah lapar," ucap Agil.
"Sini non, mbak udah siapin ayam goreng dan sayur bayam kesukaan non Agil," ucap mbak Entun.
"Makasih ya mbak, Agil makan dulu ya mbak," ucap Agil.
Mbak Entun pun melanjutkan pekerjaan rumah yang belum selesai, sambil mengawasi non Agil. Akhirnya makan siang pun telah selesai, Agil duduk di kursi sambil menonton kartun upin dan ipin. Tanpa terasa Agil sudah tertidur, mbak Entun memindahkan Agil dari kursi ke kamarnya, karna takut jatuh.
🥰🥰🥰
Hendra dan keluarganya sedang menanti kelahiran dari Nina, akhirnya terdengar suara bayi menangis.
"Allhamdulilah," ucap semua.
"Selamat jadi ayah ya nak, jadi ayah yang bijak untuk Agil dan bayi yang baru lahir," ucap mamahnya Hendra.
Tiba-tiba dokter Feby keluar dari ruang operasi.
"Pa Hendra, mari ikut saya ke dalam. Untuk mengadzani anak bapak," ucap dokter Feby.
Hendra pun di bantu suster untuk menggendong anaknya, lalu Hendra mengadzani anaknya. Nina pun di bawa ke ruang rawat inap kamar VIP.
"Mah... titip Nina sebentar ya," ucap Hendra.
"Kamu mau kemana?" tanya mamahnya.
"Mau jemput kaka Agil, tadi gak di ajak karna masih tidur. Semalam pulang renang bareng Ocha, langsung demam. Makanya tadi gak di ajak, taunya tadi nangis," ucap Hendra.
"Iya nak, mamah akan jaga Nina disini. Jemputlah kaka Agil. Mamah kangen sama cucu," ucap mamahnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Hendra.
Hendra pun pergi untuk mengambil perlengkapan bayi dan perlengkapan lainnya, karna 3 hari akan disana. Di tambah sekolah Agil pun harus ijin dulu, karna tidak ada yang mengantar dan menjemput sekolah.
Akhirnya Hendra tiba di rumah, dan melihat rumah sepi.
"Assalamu'alaikum," ucap Hendra.
"Walaikumsalam, tuan!" ucap mbak Entun.
__ADS_1
"Kaka mana?" tanya Hendra.
"Non Agil masih tidur, tadi udah makan dan minum obat. Gak lama tidur lagi," ucap mbak Entun.
Hendra pun pergi ke kamar Agil, untuk melihat kondisi Agil. Dan allhamdulilah nya, demamnya sudah mulai sembuh. Hendra pun ikut berbaring di samping Agil, mengecup gadis cilik yang pintar itu sambil membelai kepalanya.
Sepertinya Agil merasa terusik, ada yang mengganggu tidurnya. Agil pun sedikit rewel, Hendra memaklumi itu. Karna Agil sedang tidak enak badan, Hendra pun berusaha untuk membuat anaknya tidak rewel.
Agil pun mulai menggeliatkan badannya dan membuka matanya, lalu melihat sang ayah ada di sampingnya. Agil pun memeluk sang ayah.
"Kak... dedek bayinya udah lahir," ucap ayah.
Agil pun langsung berusaha untuk duduk, dan mengucek matanya.
"Dedek bayi udah lahir yah?" tanya Agil.
"Iya...adiknya kaka udah lahir," ucap ayah.
"Terus sekarang dimana dedek bayinya?" tanya Agil.
"Dedek bayinya masih di rumah sakit, kaka mau ikut ke rumah sakit?" tanya ayah.
"Mau yah... kaka mau liat dedek bayi ganteng," ucap Agil.
"Tapi kaka pake kerudung dan pake jaket ya, biar gak kena angin. Tadi pagi maaf ya, kalau ayah ninggalin kaka," ucap ayah.
"Iya gak apa-apa yah, yang penting dedek bayi dan mamah udah selamat," ucap Agil.
Hendra pun menggendong Agil, dan mendudukan Agil di car seat milik Agil. Karna Hendra masih was-was untuk membiarkan Agil duduk sendiri di kursi biasa.
Akhirnya Hendra dan Agil tiba di rumah sakit, Hendra membawa barang-barang yang di bawa dari rumah. Agil memegang tangan Hendra dan berjalan disamping ayahnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Agil.
"Walaikumsalam cucu kesayangan eyang," ucap mamahnya Hendra.
"Eyang," ucap Agil.
Nina yang sudah sadar, setelah operasi caesar tadi. Tiba-tiba suster membawa box bayi ke dalam ruang rawat.
"Permisi pa, bu. Saya mau mengantarkan bayinya untuk di kasih Asi," ucap Suster.
"Makasih sus," ucap Hendra.
Suster pun keluar dari ruang rawat, Agil berjalan melihat adik bayinya.
"Ayah... dedek siapa namanya?" tanya Agil.
"Namanya Fahmi Arkana," ucap Hendra.
"Artinya apa mas?" tanya Nina.
"Anak laki-laki yang cerdas dan berhati terang," ucap Hendra.
__ADS_1
"Dedek... ini kaka Agil, dedek sehat-sehat ya. Kaka akan jagain adek," ucap Agil.
Semua yang ada di dalam ruangan, terharu mendengar ucapan gadis cilik yang siap menjaga adiknya.