
2 Tahun kemudian
Hari ke hari, kini Agil sudah memasuki usia 8 tahun dan Fahmi berusia 4 tahun. Agil semakin di sibukkan dengan sekolah dan tugas sekolah, sehingga membuat Agil jadi fokus sama sekolah.
"Kaka main," ucap Fahmi
"Maaf ya dek, mainnya nanti ya. Kaka lagi banyak tugas sekolah," ucap Agil.
"Iya, kaka kolah," ucap Fahmi.
"Adek disini nonton dulu ya, kaka bikin tugas dulu ya," ucap Agil sambil memeluk Fahmi dari belakang.
Agil pun berlari ke kamar, lalu menutup pintunya. Karna besok Agil ada penilain hafalan doa-doa, jadi Agil sibuk menghafal.
Mamah Nina melihat Agil yang sedang punya tanggung jawab sendiri, sangat mengerti dengan kesibukan anak sulungnya dengan tugas sekolah.
Fahmi pun bermain sendiri di ruang keluarga, dengan segala macam mainan yang dimilikinya. Fahmi mulai merasakan bosan, karna sang kaka sibuk dengan tugas sekolah.
Fahmi mulai melempar-lemparkan semuanya mainannya, mamah Nina yang melihat itu sangat bingung. Satu sisi, mamah Nina tidak mau mengganggu anak sulungnya. Satu sisi lagi kasian dengan Fahmi yang mulai bosan, karna sang kaka tidak bisa bermain dengan Fahmi.
"Kenapa mainannya di lempar-lempar?" tanya mamah.
"Kaka main," ucap Fahmi dengan cemberut.
"Kakanya lagi ada tugas sekolah dulu, nanti kalau udah selesai, main lagi sama adek," ucap mamah.
Fahmi tidak menerima ucapan mamah, Fahmi kembali menjadi tantrum. Fahmi melemparkan semua barang, mamah Nina berusaha untuk menenangkan Fahmi yang sedang tantrum karna rasa bosan yang datang pada Fahmi.
Mbak Entun melihat Fahmi yang mengamuk, ingin memanggil Agil.
"Nyonya, saya panggil non Agil aja ya," ucap mbak Entun.
"Jangan mbak, Kaka lagi banyak tugas sekolah," ucap Nina.
Mamah Nina mencoba menggendong Fahmi, namun Fahmi mencoba untuk memberontak dari sang mamah. Fahmi memukul sang mamah, hingga menjenggut rambut sang mamah.
Mbak Entun yang tidak tega melihat majikannya, mbak Entun memanggil non Agil.
"Non... non Agil," mbak Entun memanggil Agil.
"Iya mbak ada apa?" tanya Agil yang masih memegang buku.
"Den Fahmi tantrum lagi di kamar sama mamah," ucap mbak Entun.
"Astagfirullah sebentar mbak, Agil simpan buku dulu," ucap Agil.
__ADS_1
Agil turun dari kamar, karna saat ini kamar Agil berada di lantai atas. Agil pun pergi ke kamar Fahmi, dan melihat mamah sedang di pukul karna Fahmi tantrum.
"Adek jangan gitu," ucap Agil yang mencoba untuk menggendong Fahmi.
Belum menggendong Agil, kening Agil sudah terpukul oleh mainan mobil-mobilan yang di pegang oleh Fahmi.
"Aduh," ucap Agil yang merasakan sakit di bagian kening, karna mainan Fahmi mendarat tepat di kening Fahmi.
Agil mencoba menggendong Fahmi, namun Fahmi masih saja mengamuk hingga menjambak rambut Agil.
Akhirnya Agil berhasil menggendong Fahmi, dan mendudukan Fahmi di kasur. Lalu Agil memeluk Fahmi dari belakang, Fahmi masih terus tantrum namun mulai berkurang tantrumnya.
Agil mulai bersolawat untuk menenangkan Fahmi, Fahmi pun mulai berhenti memukul dan menjambak rambut Agil ketika Fahmi tantrum.
"Dek... kan kaka udah bilang, nanti kaka main sama adek. Kalau tugas kaka sudah selesai, kaka akan main sama adek. Adek harus sabar!" ucap Agil.
Fahmi pun mendadak terdiam dan menangis, Agil dan mamah bingung melihat Fahmi menangis. Karna Fahmi tipe anak yang jarang sekali menangis, Fahmi lebih sering mengamuk daripada menangis.
"Adek kenapa menangis?" tanya Agil yang bingung melihat Fahmi menangis.
"Adek minta maaf," ucap Fahmi yang masih menangis.
Agil dan mamah terkejut ketika Fahmi mengucapkan kata maaf untuk Agil, karna Fahmi masih jarang untuk mengungkapkan kata.
Agil setelah mendengar ucapan kata maaf dari Fahmi, Agil langsung memeluk Fahmi. Fahmi pun tidak memberontak, karna pelukan Agil yang mampu menenangkan hati Fahmi.
"Kaka jangan nangis," ucap Fahmi.
Agil hanya bisa memeluk Fahmi, karna sedari tadi Agil terkejut dan terharu dengan gerakkan Fahmi.
"Mah, kaka darah," ucap Fahmi.
Mamah Nina yang mendengar ucapan Fahmi, langsung melihat Agil. Ternyata kening Agil berdarah, itu karena pukulan dari Fahmi dengan mobil-mobilannya saat Fahmi tadi tantrum.
"Astagfirullah nak, keningmu berdarah," ucap mamah.
"Aduh mah, sakit," ucap Agil yang sedari tadi menahan rasa sakit di keningnya.
"Mbak, tolong ambilkan handuk kecil dengan air hangat, lalu kotak P3K," ucap mamah Nina.
"Baik nyonya, sebentar," ucap mbak Entun.
Mbak Entun pun mengambil handuk kecil, basket berisi air hangat, dan kotak P3K.
"Ini nyonya," ucap mbak Entun.
__ADS_1
Mamah Nina menggendong Fahmi dari gendongan Agil, lalu mendudukan Fahmi disebelah sang kaka.
Mamah Nina mengobati luka di kening Agil, luka itu lumayan besar di kening Agil. Mamah Nina berusaha memberikan obat luka kebagian lukanya.
"Aduh mah, sakit," ucap Agil.
"Sabar ya nak, ini memang sedikit sakit," ucap mamah.
Mamah Nina memasangkan perban yang ada obat luka itu, lalu di tempelkan pada kening Agil, dan di rekatkan oleh plester.
"Makasih mah," ucap Agil.
"Sama-sama sayang," ucap mamah.
Fahmi memegang Mobil-mobilan yang tadi di timpukkan pada kening sang kaka, lalu Fahmi melempar mainan itu. Mamah Nina dan Agil bingung melihat pergerakan Fahmi yang tiba-tiba membuang mainannya.
Agil mencoba mengambil mainan yang tadi Fahmi lempar ke lantai, karna Agil tau itu mainan kesayangan Fahmi. Agil menyimpan mainan itu di hadapan Fahmi, namun Fahmi melemparkannya lagi ke lantai.
"Kenapa di buang? ini kan mainan kesayangan adek," ucap Agil.
"Karna mobil Fahmi, kaka luka," ucap Fahmi.
"Gak apa-apa dek, adek kan tidak sengaja," ucap Agil.
"Maaf," ucap Fahmi sambil menangis.
"Udah adek jangan nangis ya, lukanya besok juga sembuh," ucap Agil sambil memeluk Fahmi.
Tiba-tiba sang ayah pulang, melihat anak-anak dan istrinya ada di kamar.
"Assalamu'alaikum," ucap ayah.
"Walaikumsalam," ucap Agil dan mamah Nina.
"Nak, itu kenapa keningmu?" tanya ayah.
Akhirnya mamah Nina menjelaskan apa yang terjadi, ayah pun mengerti. Karna Agil yang sibuk dengan tugas sekolah, Fahmi jadi jarang bermain dengan Agil.
"Fahmi mau sekolah enggak?" tanya ayah.
"Sekolah kaya kaka," ucap Fahmi.
"Iya sekolah kaya kaka, nanti Fahmi bisa ketemu sama temen-temen baru, bisa ketemu bu guru," ucap ayah.
"Mau yah," ucap Fahmi.
__ADS_1
Hendra dan Nina sudah mendaftarkan Fahmi untuk sekolah, sekolah untuk Fahmi biar bisa menjaga kesabarannya, biar lebih banyak kosa kata lagi, belajar untuk fokus dan membuat Fahmi lebih baik.