
Fahmi bukan tipe anak yang mudah dekat dengan orang baru, namun sama Azahra membuat Fahmi jauh lebih tenang.
Teman satu kelas tak pernah ada yang membully Fahmi, meskipun mereka akhirnya tau kalau Fahmi itu anak autis. Justru dengan adanya Fahmi di kelas, semua teman yang tidak mengerti pelajaran. Fahmi menjelaskan sendiri, hingga semua mengerti.
"Mi, tolong jelaskan soal matematika ini dong. Kita belum mengerti!" ucap salah satu teman.
Akhirnya Fahmi menjelaskan pelan-pelan, dengan rumus yang lebih mudah. Dan mereka semua mengerti, setelah Fahmi menjelaskan lebih detail.
"Kamu tuh les dimana sih?" tanya Azahra.
"Aku gak les, tapi aku sering baca buku," ucap Fahmi.
"Eh...aku mau mengundang kamu, ke ulang tahun eyangnya aku. Kamu bisa datang sama orang tua," ucap Fahmi.
"Iya nanti aku datang, hari Sabtu atau Minggu? tapi aku datang sama papah ku aja," ucap Azahra.
"Hari Sabtu kalau gak salah, mamah mu kemana?" tanya Fahmi.
"Mamah udah di surga sama adekku," ucap Azahra.
"Innalillahi wa innaillahi rojiun, maaf aku gak tau," ucap Fahmi.
"Iya gak apa-apa," ucap Azahra.
"Woy pacaran mulu," ucap salah satu teman.
"Siapa yang pacaran Dika!?" ucap Fahmi.
"Habisnya ngobrol berdua mulu, yang lain di cuekin," ucap Dika.
Fahmi dan Azahra tertawa, dan bel jam masuk kelas sehabis istirahat sudah berbunyi. Tandanya mulai belajar lagi, dan berpusing lagi.
🥰🥰🥰
Nina dan Hendra sedang menyiapkan sebuah acara ulang tahun untuk mamahnya Hendra.
"Yah, jangan lupa undang Irwan. Biar sekalian, dia bawa anaknya," ucap Nina.
Hendra pun langsung menelepon Irwan.
"Assalamu'alaikum pa dokter," ucap Hendra.
"Walaikumsalam pa CEO," ucap Irwan.
"Bro, besok datang ya ke rumah mamahku. Besok ulang tahun, jangan lupa bawa anakmu," ucap Hendra.
__ADS_1
"Pastinya bro, aku juga ingin skalian liat perkembangan Fahmi. Nanti aku bawa putriku," ucap Irwan.
"Okay, besok di tunggu jam tujuh malam ya. Nanti aku sharelok," ucap Hendra.
"Okay, sampe ketemu besok ya," ucap Irwan.
Akhirnya panggilan pun telah selesai, Hendra sibuk menata untuk besok. Nina sibuk menelepon untuk memesan kuliner.
🥰🥰🥰
Akhirnya jam sekolah selesai, Azahra melupakan untuk menanyakan alamat rumah eyangnya Fahmi. Azahra pusing belajar Fisika, Fahmi sih lancar-lancar aja otaknya.
"Aku duluan ya Mi, supir udah datang," ucap Azahra.
"Okay, ati-ati di jalan ya," ucap Fahmi.
Tiba-tiba ponsel Fahmi berbunyi, dan tertera nama ayah.
"Assalamu'alaikum yah," ucap Fahmi.
"Walaikumsalam dek, ayah di depan gerbang," ucap ayah.
"Bentar yah," ucap Fahmi.
"Kita jemput kaka dulu ya," ucap ayah.
Hendra dan Nina berniat menyatukan persaudaraan mereka, yang selama ini bermusuhan.
"Udah yah, Fahmi naik ojek online aja," ucap Fahmi, sambil keluar dari mobil.
Hendra dan Nina masih bingung, cara menyatukan Fahmi dan Agil lagi. Karna Fahmi punya sifat, susah untuk memaafkan orang yang suka memaksa Fahmi.
Fahmi sedang memesan ojek online, dan ojek online pun datang ke hadapan Fahmi. Fahmi segera naik motor, dan pulang ke rumah eyang.
"Ya sudahlah yah, biarkan saja dulu mereka seperti itu. Dari pada nanti malah makin ribet, di tambah Fahmi juga belum sembuh total," ucap Nina.
"Besok kita liat ajalah, apa yang akan terjadi," ucap Hendra.
Nina hanya bisa menghela nafas, karna sifat Fahmi ntah dari siapa. Karna sifat itu tidak ada dari Hendra maupun Nina.
🥰🥰🥰
Fahmi yang baru saja tiba di rumah eyang, datang dengan muka cemberut dan rasa kesal. Eyang yang melihat itu merasa heran.
"Cucu eyang yang ganteng kenapa?" tanya eyang.
__ADS_1
"Fahmi sebel sama ayah dan mamah, ceritanya jemput Fahmi. Terus mau jemput kaka juga, Fahmi kan belum mau ketemu dan berdekatan dengan kaka. Eyang juga tau, kenapa Fahmi pindah kesini dan pindah sekolah," ucap Fahmi.
"Mungkin niat ayah dan mamah hanya ingin kalian bersama lagi, biar gak bermusuhan lagi," ucap Eyang.
"Tapi Fahmi takut khilaf, takut Fahmi belum mampu mengendalikan Libidonya Fahmi," ucap Fahmi.
"Ya udah nanti eyang ngobrol sama ayah dan mamah, biar mereka mengerti dengan kondisi cucu eyang yang ganteng ini," ucap eyang.
"Makasih ya eyang, udah mau bantu Fahmi," ucap Fahmi.
"Udah jangan kesel-kesel lagi! sekarang ganti baju, solat, nanti kita makan siang bareng. Eyang kakung juga baru pulang dari Manado," ucap Eyang.
Fahmi pun membuka sepatu dan kaos kaki, lalu di simpan di rak sepatu. Fahmi segera ke kamar untuk ganti baju dan solat.
Mamah nya Hendra menelepon Hendra, untuk menanyakan apa maksudnta mereka ingin menyatukan mereka lagi.
"Assalamu'alaikum Hendra," ucap mamah.
"Walaikumsalam mah, ada apa?" tanya Hendra.
"Kamu itu lupa, atau ingin membuat Fahmi sulit sembuh?" tanya mamah.
"Hendra hanya ingin mereka tidak musuhan lagi," ucap Hendra.
"Mamah mengerti nak, tapi sekarang biarkanlah Fahmi seperti ini sikapnya. Tadi Fahmi bilang, takut melukai dan menodai Agil dan keluarga. Mamah mohon, jangan berbuat yang aneh-aneh lagi, biarkan saja dulu Fahmi seperti ini," ucap mamah.
"Iya mah, Hendra tidak akan memaksa Fahmi untuk berdamai dengan Agil. Maaf ya mah, mamah jadi ikut mikirin masalah ini juga," ucap Hendra.
"Mamah tidak apa-apa, mamah hanya takut Fahmi tantrum lagi," ucap mamah.
"Iya mah! papah udah pulang?" tanya Hendra.
"Sudah, sekarang lagi main catur bersama Fahmi," ucap mamah.
"Ya udah besok kita dinner di rumah aja ya mah," ucap Hendra.
"Iya gimana kamu aja, yang penting bahagia semuanya," ucap mamah.
Akhirnya ponsel pun di matikan, mamah mengajak suami dan cucunya untuk makan siang.
Setelah makan siang, Fahmi bermain dengan Sesil si kucing muka judes. Eyang kakung kembali sibuk dengan pekerjaannya. Fahmi tertidur di atas kasur bersama Sesil, eyang geleng-geleng kepala melihat cucunya yang selalu sayang sama Sesil.
"Eyang akan selalu menjaga dan membelamu, kalau ayah dan mamah memaksa Fahmi untuk berbaikan sama Agil," gumam eyang dalam hati.
Eyang mengecup kening Fahmi, siang ini Fahmi tidur di ruang keluarga. Di sana selalu ada kasur kecil, untuk Fahmi tidur atau bermain bersama Sesil.
__ADS_1